Feminisme dalam Cerpen Bula Malino karya Waode Wulan Ratna

  1. 1.      PENDAHULUAN

Sastra merupakan pencermainan persoalan yang terjadi di masyarakat. Ia adalah pantulan fenomena sosial yang diangkat dalam suatu jalinan cerita dengan menggunakan bahasa sebagai media penyampaiannya. Di samping sebagai cermin, sastra juga dapat berfungsi sebagai penyampai suara pengarang sekaligus menjadi wahana kritik atas kemapanan dan kesenjangan sosial budaya.

Sejarah sastra cukup kuat memperlihatkan bahwa kesewenang-wenangan yang terjadi di masyarakat menjadi objek utama kritik dalam karya sastra. Mulai dari persoalan perang saudara, korupsi, pembunuhan, kawin paksa, kediktatoran negara, pembungkaman pers, sampai pada keterkungkungan perempuan di dalam budaya patriarki.

Banyak karya sastra yang lahir menyuarakan semangat pembebasan atas belenggu yang melilit perempuan. Semangat pembebasan ini sekaligus bermaksud mengembalikan perempuan ke posisi yang sebenarnya. Semangat ini disebut sebagai feminisme. Di dalam pemahaman kaum feminis, perempuan tidak hanya berkutat pada tugas domestik belaka di sepuatar dapur, kasur, dan sumur tetapi juga memiliki hak yang sama dengan pria untuk eksis di dunia luar yang lebih luas. Pemahaman tradisional atas posisi stereotip perempuan telah berlangsung lama, seiring dengan hegemoni kekuasaan pria atas berbagai hal.

Sebagaimana yang telah diketahui bahwa feminisme adalah gerakan wanita yang menuntut persamaan hak sepenuhnya antara kaun wanita dan pria (KBBI: 1999). Feminisme merupakan gerakan yang menyuarakan ketidakadilan dan ketidaksetaraan peran antara laki-laki dan perempuan. Teori feminis dimaksudkan untuk memahami ketidaksetaraan dan difokuskan pada politik gender, hubungan kekuasaan, dan seksualitas. Ide feminisme muncul dan berakar cukup lama dalam ideologi berkepanjangan yang didominasi dan berpusat pada (jenis kelamin) pria dengan segala sifat patriarkatnya. Pandangan patriarki diyakini sangat tidak adil karena hanya menggunakan pikirannya saja sebagai tolok ukur posisi perempuan. Kaum feminis berpendapat bahwa di dalam budaya patriarki perempuan dipersespsi dengan praduga dan prasangka dan sedikit pun tidak membiarkan perempuan untuk menilai, menata, dan mengaktualisasikan kepribadiannya atas lingkungan sosial. Pandangan tradisional inilah yang ingin dilawan kaum feminis melalui berbagai cara.

Sastra adalah sarana cukup ampuh untuk menyuarakan semangat feminisme. Lewat ide, amanat, alur, dan tokoh-tokohnya seorang pengarang memiliki keleluasaan untuk mengadakan pemberontakan atas kemapanan negatif yang berakar dalam suatu tatanan masyarakat. Feminisme tidak semata-mata berarti sebagai sebuah ide kesetaraan jender yang dapat ditulis oleh pengarang berjenis kelamin apa saja. Tetapi semangat feminisme lebih menitikberatkan perempuan pengarang untuk menuangkan gagasan besarnya. Melalui karya sastra perempuan pengarang dapat membongkar relasi sosial antara pria dan wanita yang timpang. Sastra sebagai karya fiksi dan imajinatif menjadi senjata ampuh untuk menghancurkan, apa yang disebut Simone de Beauvoir sebagai the second sex atau being for others (ada untuk orang lain).

Sistem patriarki yang paternalistik banyak mengakar di ranah masyarakat tradisional yang feodal. Masyarakat yang pernah mewarisi sistem kerajaan atau kesultanan masih memegang kuat adat ini. Dampaknya perempuan selalu berada pada posisi “di bawah” dan tidak memiliki kemungkinan untuk mengekspresiskan diri, sebagaimana pria.

Waode Wulan Ratna dalam cerpennya Bula Malino, dimuat di Harian Kendari Pos, Sabtu, 26 Januari 2008, hadir untuk mengkritisi budaya patriarki yang mengakar pada masyarakat Buton. Melalui tokoh utama cerpennya, Harima, pengarang melawan pandangan bahwa derajat seorang perempaun harus ditentukan oleh pria (bapaknya) sebagai perpanjangan tangan budaya patriarki.

  1. 2.      SINOPSIS BULA MALINO

Bula Malino bermuala pada ketertarikan Harima apda sosok La Sinuru, seorang lelaki suku Bajo. La Sinuru adalah pria budak yang membantu paman Harima dalam memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Pertemuan Harima dengan La Sinuru berawal ketika Harima dan sepupunya, Ida, menjemput pamannya di pelabuhan Buton. Namun cinta bersemi di hati Harima saat melihat sosok La Sinuru yang apa adanya. Keinginan Harima pun disambut baik oleh La Sinuru, walaupun disertai kegamangan akan statusnya. Akan tetapi niat Harima dan La Sinuru untuk bersama, terganjal oleh strata sosial mereka yang berbeda jauh. Harima berkasta kaomu sedangkan lelaki berkulit hitam, tanpa alas kaki itu berkasta batua. Kaomu adalah kasta yang tertinggi dalam struktur masyakarat Buton, sedangkan batua adalah lapisan masyarakat paling bawah.    Cinta mereka pun terganggu dengan sendirinya. Harima harus menikah dengan seorang pria berdarah kaomu yang dipilihkan ayahnya. Namun Harima tetap bersikeras hatinya untuk tidak menikah, dan lebih memilih La Sinuru. Ibu Harima telah memberi pelajaran bahwa dirinya dulu adalah golongan papara/batua, yang harus dinikahkan secara paksa dengan suaminya sekarang dari kalangan kaomu, meskipun tidak dicintainya. Hal ini ini dilakukan demi memperbaiki darah dan martabat keluarga. Di akhir cerita, Harima memilih lari dari rumah dan orang tuanya, pergi menemui kekasih yang benar-benar dicintainya. Sebagai tanda ketidaksetujuan atas pertunangannya dengan pria kaomu dan wujud cintanya pada La Sinuru, Harima rela memberikan keperawanannya kepada sang kekasih. Dia pun hamil. Di bawah guyuran sinar bulan purnama, Harima menikmati kebebasannya untuk melakoni hidup yang dipilihnya.

  1. 3.      BIOGRAFI PENGARANG

Waode Wulan Ratna lahir di Jakarta, 23 Agustus 1984. Sekarang ia menempuh pendidikan di Jurusan Sastra Indonesia, Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Penulis berdarah Buton ini menekuni dunia sastra sejak awal tahun 2003. Cerpen-cerpennya pernah diumumkan di Harian Lampung Post, Harian Republika, Majalah Sastra Horison, Harian Kendari Pos, dan lain-lain. Dia menjadi pemenang beberapa lomba menulis karya sastra. Cerpennya “Cari Aku di Canti” masuk nominasi pertama Lomba Cipta Cerpen Krakatau Award, Agustus 2005, yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Lampung (DKL). Dia adalah pemenang pertama Lomba Cipta Cerpen tingkat nasional yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Riau (DKR), September 2005. Cerpennya “Peluru-peluru” menjadi pemenang ketiga Lomba Cipta Cerpen bertema Hak Asasi Manusia (HAM) yang diselenggarakan oleh Kedutaan Swiss bekerja sama dengan Forum Lingkar Pena (FLP) sekaligus mendapat penghargaan HAM pada November 2005. Cerpennya “La Runduma” menjadi pemenang pertama sayembara cerpen tingkat nasional yang diselenggarakan oleh Creative Writing Institute (CWI) bekerja sama dengan Deputi Pengembangan Wawasan dan Kreativitas, Deputi Bidang Pemberdayaan Pemuda dan Olahraga. Cerpen tersebut dimuat dalam antologi cerpen berjudul La Runduma yang diterbitkan oleh CWI di Jakarta tahun 2005. Cerpen La Runduma menjadi pembahasan menarik di berbagai koran di tanah air. Cerpen tersebut dinilai memiliki ide feminisme yang kuat, sehingga penulis muda ini sering dihubungkan dengan sastrawan feminis asal Mesir, Nawal el Sadawi. Selain menulis cerpen ia juga menulis puisi dan esai sastra & budaya. Sekarang ia mempersiapkan sebuah novelnya yang masih mengangkat tema lokal di Buton.

  1. 4.      UNSUR PEMBANGUN BULA MALINO

Menganalisis sebuah karya sastra, perlu ditunjang dengan pemahaman terhadap unsur-unsur pembangun karya tersebut. Teeuw (1994: 56) mengemukakan bahwa karya sastra terjaring dalam struktur mikro dan makro. Struktur mikro adalah unsur pembangaun sebuah karya sastra, sedangkan struktur makro adalah tataran yang lebih luas yang melibatkan pembaca, pengarang, kenyataan, dan sosial budaya masyarakat.

Berdasarkan pemahaman di atas, telah ditentukan empat unsur pembangun Bula Malino yaitu alur, tokoh, latar, dan tema & amanat. Alur adalah jalinan peristiwa dalam karya sastra untuk mencapai efek tertentu (pautannya dapat diwujudkan oleh hubungan temporal atau waktu dan oleh hubungan kausal atau sebab-akibat. Alur juga dapat dipahami sebagai rangkaian peristiwa yang direka dan dijalin dengan saksama dan menggerakkan jalan cerita melalui kerumitan ke arah klimaks dan penyelesaian. Tokoh adalah pemegang peran dalam suatu cerita. Tokoh digambarkan pengarang dalam berbagai watak atau karakter. Melalui tokohlah alur cerita berjalan. Melalui peranan tokoh pula gagasan dan amanat cerita disampaikan. Latar adalah keterangan mengenai waktu, ruang, dan suasana terjadinya lakuan dalam karya sastra. Latar cerita memegang peran yang penting untuk menggambarkan lokasi atau tempat kejadian. Latar tempat bisa terjadi di masa lalu, kini, dan akan datang. Tema adalah dasar pikiran atau ide pokok yang melandasi suatu cerita. Sebuah karya sastra senantiasa memiliki tema yang dijabarkan melalui dialog dan karakter tokoh-tokohnya. Sedangkan amanat adalah pesan yang ingin disampikan pengarang kepada pembaca. Kehadiran amanat dalam suatu cerita dapat bersifat tersurat maupun tersirat. Unsur-unsur pembangun cerita di atas sangat penting artinya dalam memperkokoh keberadaan karya sastra.

4.1 ALUR

Cerita ini dimulai dari curahan hati Harima “Aku kini perempuan analalaki, tapi bukan karena itu aku menepi. Tanah ini masih tetap tanahku yang baunya melebihi sedap darahku. Dan pelarian selalu akan membuat kita rindu untuk kembali”. Ucapan yang lahir dari mulut Harima ini, merupakan benang merah keseluruhan cerita. Bagian ini merupakan penanda perlawanan Harima atas tradisi yang mengungkungnya. Ia rela turun derajat kebangsawanannya menjadi analalaki akibat memilih hidup bersama La Sinuru, lelaki berkasta rendah yang dipungut di teluk-teluk kecil Bone, Sulawesi Selatan.

Bula Malino dikemas dalam alur maju dengan teknik penceritaan konvensional. Tokoh Harima dipertemukan dengan La Sinuru di pelabuhan Murhum. Di sinilah pijakan cerita bermula. Dalam perjalanan nasib kedua tokohnya, mereka akhirnya memilih ”kabur” dari kekangan budaya patriarki yang kolot dan memilih hidup bersama atas nama cinta sejati tak berkasta. Cerpen ini mengalami klimaks saat Harima bertemu ibunya di dalam kamarnya. Di sinilah pembangkangan tradisional dilakukan Harima atas ibunya. Disertai tetesan air mata, Ibunya masih berupaya menyadarkan anak perempaunnya itu untuk tidak melawan ”kodrat” keperempuanannya. Namun Harima melawan dengan jawaban ”Mama, apakah itu masih berlaku? Dengan siapapun aku menikah, darah itu tetap saja mengalir di urat tangan dan leherku”.  Klimaks ini sekaligus menguatkan ide feminisme yang disuarakan dalam cerita pendek ini. Pada bagian ini sekaligus penyambung ke akhir cerita.

Waode Wulan Ratna, mengakhiri cerpennya dengan happy ending. Tokoh Harima kabur dari rumah saat bulan purnama terang benderang. Ia berlari menuju laut sebagai simbol kebebasan, sambil menanti pujaan hatinya, La Sinuru, pulang dari laut. Ibunya hanya dapat melolong dari jendela. Namun ia tak sanggup mengembalikan anaknya kembali ke rumah.

 

4.2 TOKOH

Cerpen Bula Malino memperkenalkan Harima sebagai tokoh utama. Harima hadir sebagai pengemban semangat/ide feminisme melalui pembangkangannya terhadap pandangan stereotip atas perempuan di tanah Buton. Tokoh Harima, sebagaimana layaknya perempuan lainnya, dianugerahi rasa cinta terhadap lawan jenisnya. Ia jatuh cinta kepada La Sinuru, seorang maradika, atau hamba yang dimerdekakan oleh keluarga Harima sendiri. Status La Sinuru sebagai golongam batua, kasta terendah dalam lapisan sosial Buton, mengakibatkan hubungan mereka mengalami tantangan hebat dari orang tua Harima, sebagai pewaris adat Buton. Akan tetapi Harima memiliki ketegasan pandangan dan sikap mengenai “derajat” sesunguhnya manusia. Ia pun menolak pandangan itu dan memilih hidup bersama dengan La Sinuru. Sebagai konsekwensi atas sikapnya itu, Harima rela menerima “kutukan” sebagai analalaki atau posisi seorang yang turun derajatnya akibat mengawini lelaki lain yang berkasta rendah. Pada sisi lain, Harima masih dihantui “dosa” akan pilihannya itu. Ia juga masih merindukan arakan panjang, nyenyanyian, tabuhan gendang, dan doa-doa yang mengiringi perjalanan pernikahan sepasang pengantin dalam tradisi Buton.

La Sinuru adalah tokoh lelaki yang dicintai Harima. Ia tidak memiliki sikap yang tegas sebagai manusia. Hal ini terkait dengan posisinya yang hanya sebagai pembantu atau “budak” dalam keluarga Paman Hadi dan Tante Yeti, saudara ayah Harima. Sebagai lelaki normal ia pun mencintai Harima, tetapi diliputi rasa ketakutan. Katanya, aku tetap seorang batua, sekeras apapun aku bekerja. Ya, dan cintamu tak akan sanggup membayar maharku”. Bukankah ini sebuah sikap yang lahir dari pengaruh cengkeraman budaya patriarki dan bias strata sosial dalam kehidupan masyarakat di Buton, dalam konteks cerpen ini?

Tokoh lain yang hadir dalam cerpen ini adalah Ibu Harima. Keberadaannya sebagai tokoh dalam Bula Malino untuk mewakili sebuah pandangan konvensional atas derajat kemanusiaan dalam perspektif budaya patriarki. Ia berpandangan bahwa cinta dan limpahan harta bukan penjaga derajat seseorang. Itulah sebabnya ia memilih lelaki yang menjadi suaminya sekarang untuk dinikahi daripada menikahi lelaki lain yang sekasta dengannya. Suaminya berkasta kaomu, sedangkan ia sendiri dari kalangan papara. Pilihan untuk menikah dengan lelaki yang dicintainya itu sebagai upaya mengangkat derajat ke tingkat yang lebih terhormat. Atas pandangan inilah ia kemudian memaksa Harima untuk menikahi pria dari golongan kaomu. Ia berpesan pada anaknya bahwa perkawinan selalu mencegah kita (perempuan) untuk turun derajat. Selain itu, meskipun kau kenyang makan nasi atau sagu, kau akan terus merasa kelaparan bersama mereka. Derajat atau strata sosial yang tinggilah, sebagai penawar semua itu. Pandangan ini memang lahir dalam pengaruh budaya patriarki yang sangat dalam, sehingga ibu Harima mengucapkan itu apa adanya. Perempuan harus selalu dalam posisi objek, dan pria adalah subjek.

Tokoh Ayah juga diceritakan dalam cerpen ini. Namun ia tak pernah hadir sebagaimana tokoh lainnya. Tak ada dialog dari tokoh ini, juga tidak muncul dalam setiap peristiwa tokoh-tokohnya. Namun sosoknya yang juga mewakili budaya patriarki sangat kuat. Keberadaannya sebagai kepala rumah tangga, selalu mengganggu Harima dalam membuat keputusan. Selain itu, juga diperkenalkan tokoh Ida, sepupu Harima. Ida adalah tokoh pembantu yang setia melayani Harima. Ia menjadi tempat curahan hati Harima, jika ia mengalami persoalan yang harus dibagi.

4.3 LATAR

Cerpen Bula Malino dengan sangat gamblang menuliskan “Buton” sebagai latar tempat kejadian atau peristiwa. Bula Malino sendiri terdiri atas dua kata, bula berarti bulan dan malino yang berarti tenang. Bula Malino dapat diartikan bahwa suatu keadaan atau suasana ketika bulan purnama hadir dalam bentuknya yang paling sempurna. Saat kehadirannya, suasana menjadi sangat tenang, damai, dan melahirkan kesan magis serta religius. Bula Malino sebagai judul cerpen ini terilhami dari Bula Malino karya prosa liris La Ode Idrus Kaimuddin salah seorang Sultan Buton, yang berisi petuh-petuah agama, sufistik, untuk memperbaiki diri menjadi manusia sempurna, sehingga tiap pribadi bisa menerangi kegelapan, bagai bulan menerangi malam. Dengan demikian, Buton tidak hanya sekadar latar tempat saja, tetapi sekaligus menjadi latar budaya cerita tersebut.

Banyak ungkapan penulis dan dialog tokoh-tokohnya yang menyebut langsung latar tempat dan budaya itu. Misalnya “Dengan sempurna cahayanya melingkupi tanah Wolio”, “Pelabuhan Murhum seperti helaan nafas yang melelahkan  yang mengapung dari tahun ke tahun”, atau “Siapapun ia kalau aku punya kesempatan jalan-jalan di pantai Buton, tentu jejak kakinyalah yang terlebih dahulu kucari”. Selan itu, penyebutan istilah kaomu, batua, papara, maradika, dan analalaki merujuk langsung ke budaya/tradisi Buton. Bula Malino adalah cerita yang mengangkat fenomena dan persoalan lokal yang terjadi di masyarakat Buton. Sebagai wilayah bekas kerajaan dan kesultanan, Buton menyisakan persoalan tersendiri. Budaya feodalisme dan patriarki masih ada dan membudaya di kalangan masyarakat. Dengan pertimbangan ini, Waode Wulan Ratna, penulis berdarah Buton, memilih ide ini sebagai tema ceritanya.

4.4 TEMA DAN AMANAT

Sebagaiman judul tulisan ini, cerpen Bula Malino mengusung semangat feminisme sebagai tema ceritanya. Melalui dialog, karakter, serta pangadangan tokoh-tokohnya, Waode Wulan Ratna ingin menyuarakan semangat perlawanan atas kungkungan feodalisme, patriarki, dan paternalisme yang banyak mengorbankan perempaun. Harima sebagai tokoh utama merupakan corong besar penulis untuk menyampaikan semangat kesederajatan gender ini. Cinta sejati juga merupakan tema sekaligus amanat cerpen ini bahwa cinta yang lahir dari perasaan yang tulus akan melahirkan ikatan yang kuat pula.

Budaya patriarki harus “ditata ulang” dan direvitalisasiasi kembali karena hanya mengorbankan perempuan belaka. Padahal sebagai manusia, pada tataran tertentu perempuan memiliki hak sama dengan menusia bergender pria. Keyakinan bahwa menikah dengan sesama kasta akan mempertahakankan derajat kebangsawanan merupakan warisan kerajaan tradisional yang harus ditinggalkan. Dialog Harima sangat meneguhkan persoalan ini, ”Mama, apakah sekarang itu masih berlaku? Dengan siapapun aku menikah, darah itu tetap saja mengalir di urat tangan dan leherku”. Ia ingin menyampaikan bahwasanya darah hanya satu, merah! Adapun keberadaan darah biru dan semacamnya adalah konstruksi sosial budaya yang diwariskan secara turun temurun. Cerita ini pula memberikan pelajaran yang berharga bagi perempuan untuk berani mengambil sikap atas kekeliruan di lingkungan budayanya, lewat pencitraan tokoh Harima.

  1. 5.      FEMINISME DI DALAM BULA MALINO

Semangat perlawanan dan kesetaraan gender dalam Bula Malino sangat mendominasi setiap paragraf cerita. Bagian pembuka cerita ini ”Aku kini perempuan analalaki, tapi bukan karena itu aku menepi. Tanah ini masih tetap tanahku yang baunya melebihi sedap darahku. Dan pelarian selalu akan membuat kita rindu untuk kembali” langsung mengarahkan pembaca pada penafsiran bahwa seorang tokoh baru saja melalukan perlawanan atas sebuah kemapanan tradisi.  Budaya patriarki dan paternalisme senantiasa berurat berakar dalam masyararakat bekas kerajaan/kesultanan. Sistem pemerintahan dan hubungan antarperson, antarprofesi, dan antargender di dalam kerajaan mengakibatkan lahirnya budaya feodalisme yang banyak memarginalkan kaum perempuan.

Untuk kepentingan analisis ini, saya mengutip pendapat Adjikoesomo yang dimuat di Republika (30 Desember 2007) bahwa kenyataannya, diskriminasi gender, penempatan perempuan sebagai subordinasi lelaki, dan penempatan lelaki sebagai yang berkuasa, memang sangat kental di dunia Islam tradisional yang berbudaya patriarki. Budaya demikian sangat tampak di dunia Islam, sejak di kawasan Timur Tengah sampai Asia Tenggara, termasuk di Nusantara. Diduga budaya patriarki, yang menempatkan perempaun sebagai ”pelayan” lelaki itu merupakan pengaruh  bersama antara budaya Barat yang sekuler dan budaya feodal dari kaum bangsawan dan kerajaan-kerajaan Timur yang kemudian ”diadopsi” secara tersembunyi oleh kesultanan-kesultanan Islam yang mengalami degdradasi nilai. Suatu tradisi budaya yang sesungguhnya tidak sesuai dengan ajaran Islam yang sejati, yang sesungghuhnya memuliakan kaum perempaun sebagai ”ibu kehidupan”.

Pada paragraf ketiga Bula Malino, Ibu Harima telah memberi peringatan bernada ganjil, “Harima, anakku, bawalah keharuman bagi tanah gersang kita untuk sebuah kesuburan yang lain”. Petuah yang ditempatkan pada bagian awal ini, cukup srtategis untuk menyusupkan semangat feminisme pengarang. Peringatan dini orang tua tersebut sangat bermuatan feodal. Pesan ini seakan belenggu sejak dini bagi Harima untuk tidak meninggalkan tradisi turun temurun, hal yang justru dilawan Harima kemudian hari. Tetapi nasihat ini telah mulai mengabur seiring kedewasaan berpikir yang menjalari kehidupan Harima. Katanya, ”inilah suatu kali ketika aku melupakan nasihat Mama. Nafas hangat teluk dari pelabuhan-pelabuhan dan derak-derak langkah pendek dari kejauhan seperti sebuah mitos sunyi tentang rahasia kegelapan yang selalu ingin diteliti”.

Ungkapan ”mitos sunyi tentang rahasia kegelapan” merupakan pertanyaan mendasar dan filosofis tentang sebuah konstruksi budaya patriarki yang mentradisi dalam masyarakat Buton. Ungkapan tokoh Harima tersebut sekaligus memberikan pemahaman pada pembaca bahwa ia sebagai sosok yang tersubordinasi akan melakukan perlawanan terhadap penindasan yang terjadi pada dirinya. Sifat pemberontakan dalam diri Harima pun terasa dalam dialognya dengan Ida, sepupunya. Ida mengatakan, “Ima, malam hampir pekat sekali. Cepat pakai kerudungmu.” Ida, sepupuku, meraih tanganku”. Harima merasa tidak perlu memakai penutup kepala itu karena hanya akan membuat dirinya tidak bebas bergerak.

Jika kita hubungkan pemahaman kaum feminis mengenai posisi perempuan dalam budaya patriarki, sifat khas Harima dalam cerpen ini sesuai dengan ide yang dipaparkan oleh Simone de Beauvoir (dalam Apsanti, 2003: 128) bahwa sebenarnya kedudukan perempuan tidak dihilangkan, tetapi dengan posisinya sebagai other (yang lain) maka secara samar ia ditempatkan pada posisi inferior. Dalam hal ini sistemlah yang secara instrinsik menempatkannya pada posisi tersebut dalam tatanan budaya patriarki. Jadi, perempuan direndahkan kedudukannya oleh budaya dan diakulturasikan pada inferioritas. Laki-laki dikondisikan  untuk menjadi ”pengambil inisiatif”, ”pengambil keputusan”, ”bertanggung jawab”, dan ”berkuasa”.

Membaca cerpen Bula Malino pengalaman pembaca sama dengan membaca pandangan feminis dari Perancis tersebut. Harima pun melakukan pemberontakan untuk melawan inferioritas dan posisi subordinat atas dirinya di dalam keluarga yang berbasis budaya patriarki Buton. Keputusannya untuk menjalin hubungan ”gelap” lelaki maradika, hamba yang dimerdekakan oleh keluarganya sendiri adalah cetusan hati nurani yang dia ikuti. Pilihan ini sekaligus menolak pria pilihan ayah dan ibunya dari kalangan kaomu, untuk menikah. Ia tahu bahwa La Sinuru, pria Bajo yang dicintainya itu, adalah seorang yang dipungut di teluk-teluk kecil Bone. Ia kemudian dibebaskan untuk tinggal di mana saja tetapi sedapat mungkin membantu Om Hadi, suami Tante Yati yang merupakan saudara ayah Harima. Pandangan ayah dan ibu Harima sebagai representasi pandangan budaya masyrakat Buton yang patriarkat, bahwa menjalin hubungan apalagi menikah dengan La Sinuru yang berdarah batua, merupakan aib bagi kebangsawanan keluarga.

Ibu Harima berulangkali memperingatkan anaknya, seperti dialog dengan anaknya berikut ini,  “Kita bukan orang dari kota-kota seribu cahaya itu, Ima. Dan mengapa prilakumu harus berkiblat ke sana?” Suaranya serak, sesuatu tersangkut di tenggorokannya. “Ada hal yang tidak bisa diperbaiki, Ima.” Katanya kemudian dengan serendah-rendahnya suara yang ia miliki. “Aku akan beri tahu Ayahmu.”  “Apakah sedikit saja tak mau membelaku?” “Tak ada yang patut dibela darimu, Ima. Ini aib, bukan semata hilangnya kehormatan dan hakmu untuk dihormati.” Ia menahan isaknya. “Maafkan aku Mama, aku telah merusak apa yang kau perjuangkan. Aku kira itu sudah tak berlaku lagi kini. Dan sudah cukup usaha Mama sampai pada diri Mama saja.” “Kenapa kau tak cari laki-laki yang lebih baik, anakku? Ah, pergi sajalah kau jauh-jauh!” Katanya gemetar. Aku pun dapat melihat tubuhnya berguncang. Inilah dosa yang paling jelas kurasakan, ketika aku menghilangkan senyuman pada wajahnya. Apakah aku telah mengerti apa yang aku lakukan?

Metafora ”negeri seribu cahaya”  yang dilontarkan ibu Harima merujuk kepada negeri-negeri maju yang warganya memiliki kebebasan berpikir dan bertindak. Ia menegaskan bahwa seharusnya Harima mencari laki-laki yang lebih baik dibanding harus memilih La Sinuru, pria dari kasta rendah. Rupanya, ibunya yang juga berasal dari strata papara, sudah kehilangan akal sehat. Padahal dulu ia pun melakukan pilihan dan memilih suaminya sekarang ini menjadi pendamping hidupnya meskipun tidak dicintai. Motifnya adalah mengangkat derajat sosial dan kebangsawanannya, karena suaminya berasal dari kalangan kaomu. Pikiran dan pemahaman patriarkat yang kuat ini ditentang habis harima dengan jawaban bahwa, masa itu sudah berlalu dan tidak lagi berlaku di masa kini. Sebuah ide feminisme yang sangat kuat dan teguh. Upaya untuk keluar dari mainstream ideologi patriarki ini, tidak semata-mata untuk melawan nasihat ibunya, tetapi sekaligus menegaskan bahwa dirinya sebagai perempuan dapat menentukan pilihan dan membuat keputusan. Perempuan tidak harus selalu berada dalam hegemoni kuasa pria yang menyebabkan dirinya tidak bisa berkembang.

Keteguhan sikap Harima merupakan upaya keluar dari diskriminasi terhadap perempuan. Ia sadar betul bahwa rayuan sang ibu dan ayah adalah bagian dari diskriminasi terselubung yang mematikan haknya sebagai manusia. Kartika dalam Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan (1999:4) menjelaskan bahwa diskriminasi terhadap perempuan adalah setiap pembedaan, pengesampingan, atau pembatasan apapun yang dibuat atas dasar jenis kelamin yang mempunyai pengaruh atau tujuan untuk mengurangi atau menghapuskan pengakuan, penikmatan, atau penggunaan hak-hak asasi manusia dan kebebasan pokok di bidang politik, ekonomi, sosial, budaya, sipil, atau bidang apapun lainnya oleh kaum perempuan, terlepas dari status perkawinan mereka, atas dasar persamaan antara lelaki dan perempuan. Waode Wulan Ratna sebagai pengarang pun, hadir dengan ide pembebasan diskriminasi hak perempuan, yang diangkat dalam semangat tokoh Harima. Dari pemaparan sekilas di atas, tampak dengan nyata bahwa ide feminisme begitu kuat hadir di dalam cerpen Bula Malino.

       Kalau diselidiki sikap dan dialog keseluruhan tokoh yang ada di dalam Bula Malino, hanya tokoh Harimalah yang mengemban semangat feminisme itu. Tokoh-tokoh lain ada yang menentang, apatis, dan tidak tahu-menahu. Tokoh La Sinuru misalnya, dia termasuk tipe tokoh yang apatis. Ia pun mencintai Harima, tetapi karena status sosialnya yang rendah membuat ia tidak optimis. Ia beranggapan bahwa hubungannya dengan Harima bakal berakhir begitu saja. Bukankah menikah dengan kalangan kaomu adalah suatu kemustahilan? Dialog La Sinuru berikut ini menggambarkan sikap pesimis dan apatisnya, “Kita hidup pada tanah yang sama tetapi dunia yang berbeda, Harima.” Perkataan ini didasari sebuah  keyakinan berakar bahwa perbedaan kasta antarkeduanya adalah pemisah tangguh untuk dapat hidup bersama. Mereka memang hidup di tanah yang sama, Buton, tetapi hidup di dunia yang berbeda, antara kaomu dan papara. Sebuah keyakinan yang bernada ironi dan sarkastis terlontar dari mulut La Sinuru yaitu, “Aku hanya seorang nelayan. Mungkin sama buruknya seperti budak, Ima. Itu yang mereka tahu. Bahkan ketika zaman telah sampai di situ.” Ia menunjuk ombak yang menepi di kaki pantai. Keyakinan ini, meskipun dinyatakan secara tegar, namun ia mengatakan dengan hati yang tersayat. Harima sebagai pengemban feminisme menjawab dengan tegas pula, “Kau masih percaya itu? Budak itu hanya masa lalu, Sin”. Tokoh La Sinuru tidak berubak pemikiran. Bahkan ia seakan mengutuk dirinya dengan jawaban apatis, “Aku tetap seorang batua. Sekeras apapun aku bekerja”, katanya tetap berkeras seperti ada seseorang dari masa lalunya yang pernah melemparinya dengan batu-batu. “Ya, dan cintamu tak akan sanggup membayar maharku.”  Dialog kedua tokoh ini adalah benang merah yang sangat kuat bahwa budaya paternalisme dan semangat feminisme adalah dua ideologi yang saling bertempur dalam cerpen Bula Malino.

Sementara tokoh Ida berada dalam posisi yang dilematis. Sepupu Harima tersebut mendukungnya untuk menentukan pilihan, tetapi di sisi lain ia juga dilanda rasa ketakutan akan akibat yang dialami Harima nantinya. Tokoh Ibu dan Ayah adalah pihak yang paling menentang ide Harima untuk menjalin hubungan dengan ”lelaki tanpa nama” tersebut. Keinginan Harima untuk memilih La Sinuru akan merusak martabat keluarga yang dibina sejak lama. Menurut Ibu Harima, pernikahan dengan lelaki dari kalangan kaomu, akan mempertahankan dan menaikkan citra kebangsawanan. Karena keteguhan sikap Harima untuk memilih La Sinuru, ibunya mengancam akan melaporkan kepada Ayahnya. Ia mengatakan, “Tak ada yang patut dibela darimu, Ima. Ini aib, bukan semata hilangnya kehormatan dan hakmu untuk dihormati”. Sudah jelas pandangan adat atas pilihan Harima ini bahwa hubungannya dengan La Sinuru adalah aib, baik bagi keluarga juga bagi kebangsawanan itu sendiri.

Tokoh Ayah, meskipun tidak hadir secara fisik dalam cerita, namun pencitraannya sebagai penjaga nilai kebangsawanan, sangat berpengaruh terhadap tindakan dan sikap Harima. Ibu Harima bahkan berulang-ulang menyebut tokoh Ayah, sebagai suaminya, sebagai pengambil sikap terakhir atas persoalan ini.

Sikap Harima tetap tidak mengalami perubahan. Bahkan ia secara terang-terangan menolak semua pendapat yang dianggapnya sudah ketinggalan zaman. Ia memang memiliki pandangan yang modern dan luas. Baginya, tidak ada suatu faktor yang dapat menghalangi hubungan seseorang, jika saling mencintai. Perbedaan kasta dan martabat telah terhapus dalam benaknya. Waode Wulan Ratna sebagai pengarang memberikan pencitraan yang cukup indah atas sikap Harima. Saya akan mengutip bagian itu, yaitu ”Ah, lelaki tanpa nama. Siapa pun ia, kalau aku punya kesempatan untuk berjalan-jalan di pantai Buton, tentu jejak kakinyalah yang terlebih dahulu kucari. Ida mengerti itu, meski berulang kali ia mengingatkan. Tapi aku tak bisa melupakan harum telapak kakinya yang telanjang dan baru saja menyentuh gosong pasir itu. Nampaknya, ia seperti orang-orang yang menjelajah pulau ke pulau dan transit pada pantai-pantai berpasir. Kuku-kuku kakinya yang sedikit menghitam itu merangkum kilatan pasir yang bersemayam di sana beberapa lama, seperti butiran mutiara kecil pada kantung-kantung cangkangnya”.

Jejak kaki merupakan penanda jati diri manusia yang paling asli dan kuat. Maka Harima hanya ingin melihat seseorang dari jejak kakinya saja. Ia menyebutnya, lelaki tanpa nama itu berjalan tanpa alas kaki di atas pantai berpasir. ”Jejak tanpa alas kaki” merupakan simbol kesetaraan derajat manusia. Jika semua manusia berjalan tanpa alas kaki, maka hanya akan meninggalkan jejak yang sama di atas pasir. Di sini tidak ada lagi pengaruh kasta, status sosial, pangkat, dan jabatan. Harima sangat mengagumi fenomena ini.

Puncak atau klimaks cerita ini adalah ketika terjadi perdebatan antara Harima dan ibunya. Perdebatan ini bukan hanya sekadar perbedaan pendapat antara anak dan ibu, tetapi sekaligus pertempuran antara budaya patriarki dan feminisme. Perdebatan ini sangat memilukan karena terjadi antara ibu yang melahirkan dan anak yang dilahirkan. Kita simak bagian ini, ”Kenapa kau tak cari laki-laki yang lebih baik, anakku? Ah, pergi sajalah kau jauh-jauh!” Katanya gemetar. Aku pun dapat melihat tubuhnya berguncang. Inilah dosa yang paling jelas kurasakan, ketika aku menghilangkan senyuman pada wajahnya. Apakah aku telah mengerti apa yang aku lakukan?“Apa yang akan Mama lakukan?”“Aku tak akan memukulmu atau mencacimu lagi. Kau hanya anak perempuanku yang tidak akan pernah bisa pintar.” Ia melontarkan semua kerak yang ada dalam hatinya yang sekaligus melemparku jauh-jauh darinya. Bersujud saja di kakinya tak akan mampu mengembalikan hatinya kepadaku. Aku mungkin orang yang bingung menerjang cahaya, tapi kegentaran menyerangku dengan suara yang patah-patah. “Mama, mungkin air mataku tak ada artinya di hadapanmu. Meskipun kita hidup di zaman yang berbeda, aku tetap anakmu. Dan meskipun aku telah mendurhakaimu, aku tak mau menerima kutukmu.”

       Seperti apapun pembangkangan intelektual yang dilakukan seorang anak kepada orang tua, niscaya akan melahirkan rasa bersalah pada diri anak. Sebagai anak Harima tetap merasa bedosa pada ibunya. Demi keyakinan yang menancap dalam diri sang ibu, ia rela menyuruh anaknya untuk ”pergi jauh-jauh”. Sebaliknya, walaupun harus berpeda pandangan dan dibuang dari keluarga, Harima tetap berpendapat bahwa ”meskipun kita hidup di zaman yang berbeda, aku tetap anakmu”.

Sebenarnya, ibu Harima adalah korban budaya patriarki yang feodal. Hanya saja ia tidak menyadarinya. Ia pun juga tidak memiliki kekuatan untuk melakukan perlawanan. Di dalam cerpen ini, tidak ada bagian yang memperlihatkan bahwa ia mempertanyakan kembali, posisinya di dalam lingkungan adat Buton yang patriarkat. Memang, lingkaran budaya yang sudah mentradisi itu, susah untuk dilawan, apalagi kalau tidak memiliki kekuatan untuk melakukannya. Menurut Humam (2002:158) bahwa feminisme merupakan ideologi pembebasan perempuan karena yang melekat dalam semua pendekatannya adalah keyakinan bahwa perempuan mengalami ketidakadilan karena jenis kelaminnya. Sebagai perempuan, ibu Harima telah berada dalam lingkaran kebudayaan yang kuat, sedangkan Harima mencoba melawannya dengan caranya sendiri. Simone de Beauvoir dalam Djokosujatno (2003:130) menjelaskan bahwa mengingat pembedaan perlakuan terhadap perempuan disebabkan oleh situasi sosial, historis, budaya, dan pendidikan, yaitu suatu ”rekayasa”, maka perlakuan seperti itu dapat dihindari melalui kegiatan konstruktif. Dengan pendidikan yang tepat dan intelektualisme, perempuan akan mencapai kedudukan sebagai subjek, sebagai manusia yang utuh. Di dalam Bula Malino, pengarang tidak menjelaskan status pendidikan Harima, namun lewat penggambaran pemikirannya, pembaca dapat memaklumi bahwa Harima memiliki pengetahuan yang luas. Ia memiliki pengetahuan yang modern dan intelek, lewat argumentasi yang disampaikan kepada La Sinuru dan ibunya sendiri. Perkataan ibunya yang menyinggung ”negeri seribu cahaya” adalah simbol dari negara-negara modern di barat, sebagai rujukan sumber pengetahuan. ”Negeri seribu cahaya” juga adalah metafora lain dari era dan zaman pencerahan, memberikan tempat yang utama bagi logika, akal, dan tumbuh kembangnya ilmu pengetahuan.

Cerita Bula Malino diakhiri dengan pilihan yang cukup bagus untuk mendukung pembebasan perempuan dari kungkungan budaya. Harima memilih lari dari keluarga menuju laut, tempat La Sinuru bertualang dan mencari nafkah. Ibunya sendiri hanya bisa melolong dari gerbang jendela, menyesali pilihan anaknya. Harima membatin ”Sebuah lolongan yang panjang seperti srigala yang hampa melumat sunyi saat purnama. Hanya kesunyian yang dapat mengartikan teriakan jiwanya. Oh, hatiku melesat dengan cepat di antara pepohonan rindang ini. Menghindari sayatan-sayatan tipis yang memiriskan hati. Dan ia terus memanggil-manggil namaku yang tak pernah kembali lagi”. Bula Malino sebagai pemaknaan atas bulan purnama yang tenang dan tentram, hadir di langit dan membukakan jalan setapak untuk Harima menuju tempat di mana orang-orang ingin menghilang. Sebagaima kemunculan awal La Sinuru yang tidak beralas kaki, Harima pun lari tanpa alas kaki untuk menghikmati indahnya kebebasan manusia tanpa beban kasta yang memberatkan. Di dalam hatinya, ia mengatakan kepada La Sinuru, kepadamulah pelabuhan terakhirku. Dan hidup adalah pelarian yang sempurna dari tanah-tanah yang kita jejaki. Tanah ini, meski akan jauh aku pergi darinya adalah sejarah muasalku juga yang baunya tetap melebihi amis darahku.

Pilihan yang beresiko ini menjadikan Harima harus ”turun” dari kasta kaomu menjadi analalaki. Ia sendiri merenung dan berpikir, ”Aku mungkin telah menjadi perempuan analalaki, bahkan mungkin lebih buruk dari seorang batua, Mama. Tapi apalah artinya itu kini, Tuhan? Tanah, hanyalah tanah. Darah hanya darah. Dan telah banyak orang tak berdaya di depan jendela kamarnya ketika ia memandang keluar”. Sebuah perlawanan yang cukup berhasil dilakukan oleh seorang perempuan atas tradisi patriarki. Feminisme yang merupakan cita-cita Harima pun dapat ia rengkuh.

Di bagian akhir cerita ini, penulis cerita membeberkan bahwa Harima sesungguhnya telah hamil, lewat bahasa yang sangat metaforis. Bagian kalimat yang menyiratkan kehamilan itu adalah, ”Aku mengelus perutku yang telah jatuh pada bulannya”. Kehamilan di luar nikah adalah pilihan perlawanan dan pembangkangan yang paling ”subversif” terhadap tradisi. Di cerpen tersebut pembaca tidak menemukan bagian tertentu yang menandakan bahwa Harima dan La Sinuru pernah menikah secara resmi. Berarti kehamilan Harima adalah akibat atas hubungan “ilegalnya” dengan kekasihnya itu. Dalam pandangan agama Islam (agama yang dianut Harima dan La Sinuru) dan adat Buton, hamil di luar nikah adalah sebuah pengingkaran besar atas nilai-nilai. Namun hal ini dilakukan oleh Harima sebagai wujud kebebasan dan perlawanannya atas belitan tradisi patriarki. Kalau ditinjau lebih jauh, pilihan ini agak ironis, karena di satu sisi ia melawan budaya patriarki yang mengungkung, di sisi lain ia sendiri telah melakukan pelanggaran atas nilai. Tetapi dalam pemahaman kaum feminis, kebebasan seksual adalah bagian dari perjuangan mereka. Hal disampaikan oleh Humm (2002:169) bahwa feminisme mendekripsikan tiga wilayah kebebasan: politik, ekonomi, dan seksual. Ia mengutip pendapat Ann Ferguson yang menyatakan bahwa kebebasan seksual adalah yang paling penting karena perempuan perlu mendefinisikan diri mereka sendiri sebagai subjek seksual, bukan objek seksual. Kehamilan di luar nikah adalah konsekwensi atas kebebasan seksual tersebut. Terlepas dari pandangan agama dan nilai-nilai dalam masyarakat, kehamilan dan kebebasan seksual ini dibolehkan oleh kaum feminis.

Waode Wulan Ratna memang tidak memberikan uraiannya tentang pendapat ibu, ayah, dan La Sinuru atas kehamilan Harima. Pembaca juga tidak mendapatkan pernyataan Harima atas kehamilan di luar nikah itu. Sebagai penulis, saya bisa menyimpulkan bahwa kehamilan di luar nikah adalah pilihan disengaja oleh Harima sebagai wujud kecintaannya pada La Sinuru. Selain karena alasan cinta, juga karena alasan pemberontakan dan perlawanan terhadap tradisi keluarga yang mengikat.

Meskipun demikian, di dunia yang bebas, Harima masih dihantui romentisme ketika masih bersama dengan keluarganya. Ia masih mengenang pakaian kebesaran dengan perada emas dan perak berhamburan pada kainnya yang mengilat. Arakan yang panjang, nyenyanyian, tabuhan gendang, dan doa-doa masih selalu menggairahkanku dan membangkitkan hasrat rinduku. Kenangan itu merupakan simbol budaya patriarki yang selama ini mengungkungnya, dan telah dilupakannya. Kemenangan Harima atas ibunya adalah kemenangan feminisme atas budaya patriarki.

  1. 6.      PENUTUP

Pemaparan di atas menunjukkan bahwa ide feminisme yang diusung pengarang lewat Bula Malino begitu kuat dan menggelegar. Tokoh Harima merupakan sosok yang dijadikan pengarang sebagai pengemban ide feminisme. Keteguhan sikap ibu Harima untuk tetap mempertahankan tradisi lama, dilawan Harima dengan sikap yang beralasan pula. Harima mengatakan bahwa zaman sudah berubah, budaya patriarki seharusnya juga sudah berubah. Pemikiran yang modern dengan cakrawala yang luas, merupakan jawaban logis yang ditawarkan Harima. Pertimbangan kasta dalam melakukan suatu sikap tidak lagi relevan. Lewat gagasan feminismenya, Waode Wulan Ratna ingin mengatakan bahwa pada dasarnya manusia adalah sama. Tuhan menciptakan seluruh manusia dalam keadaan yang sama tanpa ada diskriminasi. Manusia harus bekerja berdasarkan hak dan kewajiban masing-masing. Pilihan hidup untuk lari dari belitan tradisi dan menyatu bersama orang yang dicintai, adalah kemenangan kemanusiaan. Sebagai seorang perempuan yang berjuang, Harima telah memperkenalkan ide feminisme kepada khalayak pembaca, bahwa manusia dengan jenis kelamin apapun berhak menyuarakan aspirasinya.


                        DAFTAR PUSTAKA

 

 Alwi, Hasan. 1999. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Arivia, Gadis. 2003. Jurnal Perempuan. Jakarta: Yayasan Jurnal Perempuan.

Adjikoesomo, BSW. 2007. “Perspektif Jender dalam Sastra Islam” dalam Harian Republika, 30 Desember 2007. Jakarta: Republika.

Djokosujatno, Apsanti. 2003. Wanita dalam Kesusastraan Prancis. Magelang: Indonesia Tera.

Humm, Maggie. 2002. Ensiklopedia Feminisme. Yogyakarta: Fajar Pustaka Baru.

Kartika, Sandra. 1999. Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan. Panduan bagi Jurnalis. Jakarta: Lembaga Studi Pers dan Pembangunan

Ratna, Waode Wulan. 2008. “Bula Malino” dalam Harian Kendari Pos, 28 Januari            2008. Kendari: Kendari Pos.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s