Sejumlah Sajak Ima Lawaru

Standar

10801603_1528045574117238_5631170401792679321_n

Ima Lawaru

PADA SEBUAH JALAN

:mengenang Ambon 1999

ayah

untukmu

aku kembali

ke sini

ke sebuah jalan

yang masih enggan

ditinggalkan

oleh ingatanmu

ingatanku

bibirku

bibirmu

ayah,
pada sebuah jalan penuh liku
rinduku terus berlari menujumu
pada sebuah jalan penuh luka
yang pernah ditinggalkan tubuh pada jiwa
aku merapal doa-doa pada ruh tanpa nisan

sebuah jalan itu

pernah katamu

akan menjelma mimpi

menjelma peri

menjelma perih

tiap kali aku bangun tidur

dan tidur kembali

sepanjang tahun-tahun kesunyianku

kesendirianmu…

sebuah jalan
yang tanpa kusadari saat aku menitinya
seperti aku meniti kembali gurat wajah mama
yang tersenyum pilu di ujung jalan
ujung kenangan
ujung kisah
yang masih pekat
di ingatan

ayah
setiap inci dari jalan yang kulewati kini telah berubah
aromanya
warnanya
wajahnya
bahkan namanya
tapi
jangan khawatir yah
kenangan kita di jalan itu
masih setia ada
masih setia ada
masih setia ada
tentang
tangisan mama terakhir kali sebelum ditelan oleh jalangnya jalan ini
tetangga-tetangga yang berlarian tak tentu arah melewati jalan ini
bayi-bayi yang dilupakan dari ayunan
seorang adik yang dipaksa bercerai dari saudaranya
dua sahabat yang saling membunuh atas nama Tuhan
perempuan-perempuan yang mati diperkosa
seorang ibu menjadi gila ketika belahan jiwanya raib dari susuannya
mereka berakhir dan tergeletak di sepanjang jalan ini

semua kisah itu masih setia ada dalam ingatan jalan
seperti kesetiaannya yang hangat dalam ingatan kita
meski lembaran-lembaran waktu telah berganti kisah pada jalan yang sama
meski jalan tak pernah bisa bicara
meski sajakku kelak kehabisan kata
yakinlah ayah
kisah kita masih setia ada

ayah
percayalah
aku akan mengabarimu
tiap kali menjumpai jalan yang masih setia menimang kisah kita
mengingat langkah-langkah terakhir kita
saat napas menjadi satu-satunya harta
yang kita seret di jalan itu

kelak

kalau

anakmu tak pulang yah

jangan cari aku

jangan tunggu aku

karena jalan ini

menolak untuk kutinggalkan

lagi

North Maluku, 05 Januari 2015

LELAKI KARANG
:untuk sahabatku laode wahid

di persimpangan musim
kau menjelajahi luka lukamu
dari mimpi ibu pertiwi yang telah lama karat di bawah bantal

darah dan nafasmu melebur di tengah belantara
di antara ladang-ladang gadi dan hutan kaindea
membeku di kedalaman dua ratus meter laut waha
menjumpai kekasihmu yang dirundung duka

dunia begitu kejam katamu
pada kekasihmu yang baru saja kau kecup keningnya kemarin sore
sebelum ia meregang nyawa tanpa menitip kata dan air mata
selain meninggalkan aroma racun tanpa nama

di persimpangan abad pun
tubuhmu masih mencari diantara tumpukkan bangkai pembunuh kekasihmu
hanya luka, hanya marah, hanya tanya yang datang
segalanya menjadi hampa, sia-sia

di persimpangan jalan
alam membalut lukadukamu
sebelum akhirnya kau pulang ke pangkuan ibu

tomia-wakatobi, 06 januari 2013

catatan:
Gadi: padang rumput yang luas di tomia. Kaindea: hutan hijau yang dilindungi pemda dan adat di Wangi-Wangi. Rata-rata hutan di Pulau Wangi-Wangi dan Wakatobi umumnya mulai habis dibalak masyarakat secara liar. Sementara untuk menghijaukan hutan kembali memakan waktu sangat lama. Sebab tanah-tanah di Wakatobi umumnya gersang dan berkarang. Kaindea diadakan untuk menjaga hutan tetap asri. Waha: salah satu kecamatan di Tomia. Laut Waha adalah laut yang paling parah kerusakan terumbu karangnya di Pulau Tomia.

AYAH

dari batu-batu cadas kau lahir
di tebing-tebing pampanga kau bersua kekasihmu
pada laut bergemuruh kau bercumbu
di musim gelap
tanpa gemintang saat semua terlelap
mengail setangkup cemas dan harap

paru dan jantungmu kau gadaikan pada dinginnya laut
tapi asap rokokmu masih menjanjikan segulung kehangatan
deru nafasmu di usia yang enam puluh
diintai tiap malam kelam oleh maut di penjuru lautan

ayah,
masa depanku adalah otot-otot lenganmu
adalah dayungmu
adalah perahu tuamu
yang tak memudakanmu lagi

kau sering batuk keras, tapi katamu itu biasa saja
ibu mengomel di dapur, tak ada ikan yang bisa dimakan hari ini
isi dompet tak pernah cukup untuk sekedar pohamba-hamba

ayah,
jeritan ibu kadang lebih kejam dari badai yang menghantam
bertahun-tahun kau sudah terbiasa menelannya sebelum aku datang
tapi kau menjadi gamang kala aku minta berhenti sekolah hanya karena persoalan uang

tomia-wakatobi, 28 desember 2013

catatan:
pampanga : tebing-tebing batu dekat pantai
pohamba hamba : tradisi memberi bantuan uang , tenaga, atau pangan pada keluarga yang sedang berkabung, menikah dan sunatan bagi masyarakat tomia.

60 JAM SINABUNG

Aku
Aku gadis pengembara dari pulau kesunyian
Keluar dari rahim ibu yang dingin
Sekedar memburu kata-kata
Untuk kembali pada dekapannya yang dingin
Wakatobi
Dari Wakatobi perjalanan ini kumulai
Siapa yang tidak kenal pulau ini
Surga nyata pelaut
Tempat maut, ikan, karang dan ombak bercinta tanpa batas
Tanpa akhir?
Laut
Laut dan angin mengantarku menuju Buton
Tempat kantong-kantong aspal yang menjanjikan kehidupan
Murhum tersenyum menyambutku
Buton adalah aspal, Keraton, Wolio, Cia-Cia, Kampung Korea dan aksara Hangeulnya yang sedang tenar
Siapa yang tidak kenal?
Malam
Pada malam pekat, aku di dekap La Murhum dalam keperkasaannya, dalam kesesakannya
Sambil menunggu seseorang di dermaga
Seseorang merapat di malam sesak
Aku dan ratusan orang menghambur ke pelukannya
Sinabung
Adalah seseorang itu
Dia seperti lelaki maskulin, memikatku pada bodinya, tapi tidak di dalamnya
Seperti Mark Feehily yang gagah, tapi ternyata seorang homo
Seprti Van Damme yang perkasa mengalahkan rival-rivalnya di ring
tapi menangis cengengesan di hadapan seorang pelacur miskin
Ah, tidak mengapa
Dia membawaku dari tenggara menuju timur Indonesia, membela Laut Banda
Kecoak, bau sampah, bau amis kencing adalah kawan-kawan tidur dalam kapal manula
Aku tak bisa berkelit mencari tempat nyaman
Semua kabin sama saja
Dimana petugas kebersihan?
Dimana sapu?
Oh Indonesiaku
Buru
Buru dalam gerimis
Transit dua jam terlalu cepat
Buruh-buruh Pulau Buru tergopoh-gopoh menerobos pintu masuk
Seperti singa-singa lapar
Suaranya keras dan menakutkan
Hidup memang keras kawan
Seperti fenomena Gunung Botak di negeri ini yang selalu menelan korban
Jadi memang harus bersuara besar bila ingin didengar
Apalagi untuk buruh, orang kecil yang selalu butuh penumpang tapi penumpang yang terkadang tak butuh buruh
Lewat jendela aku menikmati Dermaga Namlea di petang itu
Sungguh romantis dalam gerimis
Apalagi menengok lampu yang berkedap-kedip di kejauhan sana
Wuiiiih…
Seperti sepasang mata Leonardo Decaprio yang sedang menggodaku
Aku kelepak!
Seolah tak peduli perasaanku, kapal bastom memekik gendang telingaku, memecah khayalanku, meninggalkan Namlea dalam kegelisahannya
Di pagi gerimis, aku tiba pada jantung Pattimura, dada Christina
Sebuah kota cinta, waktu telah banyak merubah dermaganya tapi tidak kenangannya
Ambon yang mendebarkan, aku mencintaimu apapun kenanganmu
Tentang lelaki Flores kristiani yang pernah merelakan darahnya untukku agar
bisa hidup,
tentang om Barnabas yang memberi kami tanah untuk berkebun tanpa pajak
tentang guru-guruku di Sarihalawane,
tentang kawan-kawanku dan malam natal sekolah yang selalu kurindukan,
tentang tragedi 1999 yang menelan semua kenangan,
tentang lelakiku, nyong Laha-Ambon manisee…
yang mengembalikan dan menguatkanku pada tiap kenangan
terima kasih untuknya
1800 menit saja aku di sana
Lalu Sinabung menyeretku dengan tulang-tulangnya yang ringkih
Melewati Pulau Tiga dan Pulau Seram
Tiba-tiba air mataku pecah memandangnya
Rasanya aku ingin melompat dan berenang ke sana mama
Mengulang cerita di masa kanak-kanak
Entah
Selalu saja pagi dan gerimis kami tiba di sebuah pulau
Inilah Ternate, kota Kie Raha mempesona
Dan memang sungguh mempesona!
Gerimis meledak menjadi hujan lebat
Di pucuk mataku Gamalama dan Tidore berdiri tegak menusuk langit
Ah langit
Ia sedang berkabut, tapi tidak dengan hatiku saat itu
Dadaku berdebar menatap kedua gunung itu
Ada kabut putih di atasnya
Khayalku liar segera berlari ke sana
Benarkah gunung selalu membuat kita liar dan berkhayal?
Pulau Halmahera yang memanjang dan berkabut di sebelah sini seolah menggodaku juga
Aku dilema, aku gila!
Goodbye Sinabung
Aku mau ke Morotai
Kita berpisah di sini
Ok?
Moroland, 191114

catatan: Hangeul : aksara Korea dalam Bahasa Cia-Cia yang umumnya digunakan oleh masyarakat Suku Cia-Cia Laporo di Desa Karya Baru, Kec. Sorawolio, Bau-Bau, Sulawesi Tenggara. La Murhum : “Murhum” merupakan nama pelabuhan utama di Kota Bau-Bau sedangkan “La” adalah nama panggilan untuk laki-laki pada Suku Buton umumnya. Gunung Botak: sebuah pegunungan yang dijadikan lokasi penambangan emas masyarakat Buru. Penambangan liar ini sudah banyak menelan korban karena longsornya tanah, tapi aktivitas mendulang emas belum terhenti juga. Pattimura dan Christina : nama pahlawan Ambon di zaman penjajahan. Tragedi 1999 : kerusuhan berbau SARA yang terjadi pada tahun itu yang melanda Provinsi Maluku dan Maluku Utara. Sarihalawane : sebuah nama sekolah dasar di Pulau Seram. Laha : kampung kecil di dekat Bandara Pattimura. Pulau Tiga dan Seram : pulau-pulau di Maluku. Kie Raha : nama lain Kota Ternate. Diambil dari kata “Kie” artinya lima dan “Raha” artinya gunung. Maksudnya di Ternate mempunyai lima buah gunung. Gamalama dan Tidore : dua nama gunung berapi aktif di Ternate

NYANYIAN BATU
nyanyian batu
meruntuhkan subuh
membawaku padamu

puisiku
kupungut kata-katanya dari batu
kupahat dengan batu
beraroma batu
aromanya menyebar ke penjuru kampung, ke jantung!

ratusan kaki yang pincang yang berdebu
bergerak menuju bukit batu
disana aroma dan nyanyian batu menyatu dalam batok kepalaku
lalu memecah dalam jiwa pemecah batu

sanggulahao meregang di jam 12 siang
kembang sanggula kering kerontang
panas terik memanggang
jangan dihalang!
kita masih melimba tuan

aroma dan nyanyian batu sungguh menghanyutkan
pada keluarga di rumah kami tuan
pada senyum istri dan anak, oma dan opa
yang menanti di tepi pembaringan
bersama sekantong luka ataukah harapan?

kubungkus senyum anak-anak yang buta sekolah di pengolahan
kubungkus tangis seorang bocah yang mengais batu untuk bapaknya yang kesakitan
kubungkus wajah ibunya yang menghilang dan bapaknya bersama kepasrahan
kubungkus luka dan harapan mereka yang menanti di pinggiran
kubungkus saja sebab ujung penaku tak sanggup lagi menakar semuanya
membawanya ke kampus
menyodorkan ke pak doktor dan profesor pendidikan

inilah oleh-oleh dari anak-anak sanggula tuan
anak-anak yang dari ujung palunya bisa membuat jalan untukmu tuan

catatan:

Sanggulahao:nama jembatan di Desa Sanggula Kec. Moramo utara Kab. Konawe Selatan, Sultra. Dalam sejarahnya, nama Desa Sanggula diambil dari nama jembatan ini. Kembang sanggula:bunga khas yang tumbuh di Desa Sanggula. Dalam sejarahnya pula nama Desa Sanggula diambil dari nama bunga ini. Melimba:bekerja mencungkil batu gelondongan dari bukit batu pada masyarakat Sanggula. Melimba sangat beresiko kematian. Tercatat sepanjang tahun 2004, dua warga Sanggula tewas ditindis batu, dan satu orang patah tulang. Ironisnya melimba juga mulai dilakukan oleh anak-anak. Oma:panggilan kepada ibu pada Suku Tolaki. Opa :panggilan kepada bapak atau ayah pada Suku Tolaki. Pengolahan:lokasi pemecahan batu (stone crush area).

BIODATA

Nama : Ima Lawaru, S. Pd. I
Jenis Kelamin : Perempuan
Tempat, Tanggal Lahir : Ambon, 7 Juli 1987
Kebangsaan : Indonesia
Status : Belum Menikah
Tinggi/Berat : 158 cm / 42 kg
Agama : Islam
Alamat : Desa Timu, Kec.Tomia Timur, Kab.Wakatobi, Sulawesi Tenggara.
No. Ponsel : 085241986499/085756526599
E-mail : hardinlinsfc@gmail.com
: noorwaty78@yahoo.com
Pendidikan
1993 – 1999 : Sekolah Dasar
1999 – 2003 : Sekolah Menengah Pertama
2003 – 2006 : Sekolah Menengah Umum
2008 – 2012 : Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Sultan Qaimuddin Kendari( jurusan Tarbiyah/ PAI)
Kursus, Pelatihan dan Prestasi
Kursus Bahasa Inggris selama 1 bulan (tahun 2012)
Pelatihan Forum Lingkar Pena Sultra (tahun 2008)
Basic Training/ Latihan Kader 1 HMI( tahun 2010)
Juara II Lomba pidato Bahasa Inggris tingkat jurusan STAIN Sultan Qaimuddin Kendari(tahun 2008)
Pemindai aksara dalam buku Calon Kandidat Pemimpin Kabupaten Wakatobi tahun 2011
Ikut seleksi dalam International Youth Exchange Program untuk Sultra kerjasama Menpora dan BI ( tahun 2011)
Ikut seleksi pemilihan Duta Biosfer Wakatobi 2014(September —Desember 2013) dengan proyek penelitian Abon Ikan Kembar Bulan sebagai Usaha Pelestarian Lingkungan dalam Mengahdapi Perubahan Iklim di Cagar Biosfer Wakatobi-Indonesia.
Juara harapan II dalam Sayembara Penulisan Puisi se-Sulawesi Tenggara tahun 2013 dan Juara harapan III dalam Sayembara Penulisan Puisi se-Sulawesi Tenggara tahun 2014 yang dilaksanakan Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara. Saat ini telah merampungkan sebuah novelnya berlatar “perang saudara di Ambon”.

About syaifuddingani

SYAIFUDDIN GANI lahir di Kampung Salubulung, Mambi, Kabupaten Polewali Mandar, Provinsi Sulawesi Barat, September 1978. Bergiat di Teater Sendiri Kendari. Sajak-sajaknya dimuat diberbagai majalah sastra, Koran, dan antologi bersama. Bulan Agustus 2009, mengikuti Perogram Penulisan Majelis Sastra Asia Tenggara (Mastera) bidang Esai. Bekerja di Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara. Memiliki istri dan satu anak yang dicintai. Email: om_puding@yahoo.com dan HP 081341677013.Kumpulan sajak tunggalnya Surat dari Matahari (Komodo Books) terbit April 2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s