Sejumlah Sajak Henrik Ras, Penyair Berbakat dari Kolaka, Sulawesi Tenggara

Standar

11201160_1060617447287107_111828573208036429_o

Penyair Henrik Ras (di tengah) diapit dua penyair lainnya, Wa Ode Rizki Adi Putri dan Isno Nhois, saat Pertemuan Penyair Muda Sulawesi Tenggara, Kantor Bahasa Prov. Sulawesi Tenggara, tahun 2015.

DEBU TANAH MERAH

Jasadnya menangis lagi
Saat hujan membelah-belah tubuhnya
Telah berceceran tumbal membayangi kota
Di perairan
Di dermaga
Di terminal
Bahkan di atap rumahmu ia termenung mencari kubur

Jasadnya kini mengendapi kota
Mengembarai cuaca
Tugu pemanggul pacul berdoa
Merasa dirinya dianggap boneka

Ia tumbal dari orang orang
Pewaris tahta yang salah

Jangan kau cari kuburan kita
Sebab ia telah terjual
Bahkan karena doa orang mati
Kita masih hidup hari ini

Kolaka, 2014

SELAMAT DATANG

Para tamu masuk tanpa menyelundup
Menyapu sampe gubuk-gubuk
Melotot melihat pulau-pulau
Hingga berani menawar perkilo
Perkantong, perkarung, permeter
Bahkan pertelunjuk, katanya menjadi sampel

Sampel di iring-iringan truk?

Sementara tuan rumah mendadak haji
Tapi mereka yang tak sekamar
Masih mengayuh roda tiga menjajal malam
Mereka terpaku menopang dagu
Melihat truk gandeng terbungkus
Saling mengandeng, gandeng menuju dermaga Kolaka

Seketika aku menjelma
Pusaran angin di perkumpulan debu cerobong
Ingin kubanjiri kota dengan tanah merah
Agar abadi darah Kongga

Kolaka, 2015

KENANG AKU

Kau menyamar gelap ke ruang kosong
Dalam sukmaku
Duka yang kau hidang telah mendidih
Dalam dadaku
Senandung itu telah hilang menerka
Senyuman itu
Manis lidahmu menyapa
Namun lidahmu berkata-kata

Setiap celah lidah menikam langkah
Hingga tubuhku membusuki pasar
Tersiar kematianku sampai ke pelosok
Telah merangkai sebuah lagu

Saat kurindukan masa
Di mana tawa tak ditawar
Semakin saja cabikan mencari gumpalan sisa
Kukerkah ingatan saat rasa wajar bertanya

Sengaja aku berdiri meski jasadku telah kau bagi
Pintaku hanya kuburan suci dalam catatan kecilmu

Kendari, 2015

TERIMA KASIH PAGI
: untuk Wa Ode saja

Terima kasih pagi
Ia telah datang menyapa sepi
Membungkam resahku pada gerimis
Kerudungnya melekat di embun waktu yang sejuk
Pukul enam Kendari

Berdetak kembali palung bisu
Setelah tiga putaran Februari
Ingin kubermuka-muka
Bersandar sebelum pamit

Tapi
Jika hanya menjadi abu
Dari arang matamu yang menyala

Kembalikan saja sukmaku
Yang terkait senyummu
Karena malam akan membantaiku
Saat wajahmu menggeliuk-liuk di bawah bantal

Para nelayan akan mencarimu
Saat pasang surut
Karena pesanku dalam kaleng susu
Akan mencemari Teluk Kendari

Kendari 2015

Hendrik Ras, lahir pada tanggal 14 Februari 1996. Saat ini masih menjadi pelajar di SMK Negeri 1 Kolaka. Ia merupakan merupakan anggota Sanggar Lentera Kolaka yang didirikan oleh Dedy Swandi. Selain itu, ia juga aktif di sanggar Teko (Teater Kolaka) yang didirikan oleh Iwan Konawe. Kini, lelaki yang hobbi membaca, tidur, dan menghayal ini, tinggal di Balandete, No.33, Lorong Bendungan, Kab.Kolaka, Sulawesi Tenggara.

About syaifuddingani

SYAIFUDDIN GANI lahir di Kampung Salubulung, Mambi, Kabupaten Polewali Mandar, Provinsi Sulawesi Barat, September 1978. Bergiat di Teater Sendiri Kendari. Sajak-sajaknya dimuat diberbagai majalah sastra, Koran, dan antologi bersama. Bulan Agustus 2009, mengikuti Perogram Penulisan Majelis Sastra Asia Tenggara (Mastera) bidang Esai. Bekerja di Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara. Memiliki istri dan satu anak yang dicintai. Email: om_puding@yahoo.com dan HP 081341677013.Kumpulan sajak tunggalnya Surat dari Matahari (Komodo Books) terbit April 2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s