Penyebaran Orang Pitu Ulunna Salu (PUS) di Kendari

Standar

Oleh: Syaifuddin Gani

Buletin PituUlunna Salu
Kendari, Sulawesi Tenggara
Edisi #1, April 2015

10488755_10204377701832898_4171331659895393882_o

Syaifuddin Gani (Foto: Adhy Rical, 2014)

Pitu Ulunna Salu (PUS) adalah segugusan wilayah yang berada di daerah pegunungan Kabupaten Polewali Mamasa (dulu) kini menjadi bagian dari Kabupaten Mamasa. Pitu Ulunna Salu secara harfiah berarti Tujuh Hulu Sungai. Ketujuh wilayah tersebut adalah penanda adanya tujuh kerajaan di wilayah pegunungan, ada juga yang mengatakan sebagai tujuh kesatuan hada’ atau wilayah kuasa adat. Tujuh wilayah tersebut tersebar di antara gunung, bukit, lembah, sawah, ladang, dan sungai-sungai yang merupakan menyediakan iklim dingin di seluruh kawasan.

Adapun ketujuh wilayah adat atau kerajaan tersebut adalah Tabulahan, Bambang, Mambi, Aralle, Rantebulahan, Matanga, danTabang. Masing-masing wilayah tersebut memiliki gelar yang tersemat sebagai penanda fungsi sosial, kemasyarakatan, spiritual, dan adat. Adapun Tabulahan mendapat gelar sebagai IndoLembang, Aralle sebagai IndoKadaneneq, Tabulahan sebagai Talao Rapanna Kadaneneq dan Indo Litaq Petaha Manaq Pabisaq Parandangang, Mambi sebagai Lantang Kadanene, Matangnga sebagai Andiriq Tangtempoqna Kadanene, Tabang sebagai Bubunganna Kadaneneq, dan Bambang sebagai Suqbuanna Adaq atau Suqbuanna Kadaneneq.

Diaspora atau penyebaran masyarakat PUS, terjadi dalam waktu yang sudah lama. Penulis belum menemukan data yang pasti, kapan mulanya penyebaranitu dilakukan. Penyebaran tersebut berlangsung ke berbagai wilayah di Indonesia. Salah satu daerah yang menjadi tempat “favorit” adalah Kendari,Sulawesi Tenggara. Mengapa Kendari, Sulawesi Tenggara, menjadi salah satu wilayah favorit bagi warga PUS untuk berdiaspora, menarik untuk diketahui. Setidaknya, menurut hasil wawancara, di bawah tahun 70-an, permulaan kedatangan orang PUS di Kendari dimulai. Saat itu, Kendari dan Sulawesi Tenggara masih merupakan daerah yang terbuka dan “perawan” sehingga butuh tangan-tangan kreatif dan ide-ide cerdas untuk menjadi bagian dari upaya membuka lapangan pekerjaan.

MAMBI, LOKA, SLB

Foto sebagian wilayah Pitu Ulunna Salu (PUS) yakni Mambi, Loka, Salubulung, Pada, Pepana, Tapalinna, Bambang, Maerang, Lombongang, Saluassing, Salukepopo, Timbaang, dan Sendana. (Diunggah dari Google Earth oleh Syaifuddin Gani, 2015)

Apakah penyebaran Orang PUS ke Kendari sudah pernah ditulis pengamat? Salah seorang budayawan Mandar, Muhammad Ridwan, dalam perjalanannya ke Kendari tahun 2014 lalu, menulis mengenai “Diaspora Orang Mandar ke Sulawesi Tenggara”. Dalam tulisannya yang berjudul ““Orang PUS yang Paling Banyak Merantau ke Sini” tanggal 13 November 2014, ia menulis bahwa “salah satu putra Mambi yang mengadu nasib di Kendari adalah Syaifuddin Gani. Tamat SMA 1 Polewali tahun 1997melanjutkan kuliah di Universitas Haluoleo. Tamat, tetap tinggal di Kendari.Sekarang bekerja di Balai Bahasa setempat dan dikenal sebagai salah seorang sastrawan muda Sulawesi Tenggara. Ada beberapa saudara Syaifuddin Gani yangjuga tinggal di Kendari, demikian juga kerabat jauhnya”. Ridwan juga menulis tentang Anwar Adnan Saleh. Dikatakannya bahwa “Dan yang tak asing adalah Anwar Adnan Shaleh, Gubernur Sulawesi Barat. Sebelum menjabat sebagai gubernur, adalah birokrat, pengusaha sukses Sulawesi Tenggara. Selain mengawali karir di sana, juga pernah menjadi anggota DPR RI mewakili provinsi tersebut dan mencalonkan diri sebagai pemimpin di Sulawesi Tenggara” (Sumber: http://ridwanmandar.blogspot.com/2014/11/orang-pus-yang-paling-banyak-merantau.html).

Tentunya,tulisan Ridwan tersebut dapat dijadikan bahan untuk melihat bagaimana penyebaran Orang PUS di Kendari. Akan tetapi tulisan tersebut belum melihat secara keseluruhan Orang PUS lainnya yang bermukim di Kendari. Tulisan sederhana ini, tentu tidak pula bermaksud mendedahkan secara keseluruhan dan detail mengenai proses diaspora dan Orang PUS secara paripurna, karena untuk melakukan hal itu, butuh penelitian yang serius dan mendalam.

Pada mulanya, motif utama masyarakat PUS ke Kendari adalah mencari dan membuka lapangan kerja sekaligus. Pekerjaan di sini bermuara pada dua hal yaitu sebagai pegawai pemerintah (PNS) dan sebagai pekerja swasta. Sebagai PNS artinya menjadi bagian dari sebuah pemerintahan untuk membangun Kendari sebagai abdi negara. Sebagai pelaku swasta, tantangannya lebih besar karena harus mampu menciptakan dan membuka lapangan pekerjaan sendiri, di tengah keadaan struktur perekonomian Sulawesi Tenggara yang belum mapan.

Menurur Amiruddin Ramly, salah seorang warga PUS dari Mambi yang kini menjadi salah seorang sesepuh PUS di Kendari, ia tiba di Kendari pada tanggal 18 April 1973. Ia seorang pegawai yang dipekerjakan oleh Segneg di Kendari, lalu ia pindah ke Palang Merah Indonesia, Cabang Sulawesi Tenggara. Saat tiba di Kendari, ia bertemu dengan tiga orang PUS yang lebih dahulu bermukim di sini—sehingga diperkirakan kedatangan mereka sejak tahun 1960-an ke atas—yaitu adiknya Parengnge’ Rantebulahan, yang bekerja sebagai seorang perawat dan bersuamikan seorang pejabat teras Sultra, yaitu Drs. Lantemona, Wakil Bupati Kab. Kendari. Seorang lagi yaitu guru SPG Kendari, Ny. Saronsong dari Tabulahan, dan kemudian Arsyad Tumpang.

Selain ketiga orang tersebut, terdapat pula orang PUS lainnya yaitu Pendeta Makkatonang dari Salutambun. Amiruddin Ramly merupakan salah satu sosok yang dihormati di kalangan orang PUS perantauan di Kendari. Banyak orang PUS yang ke Kendari karena jasanya untuk bekerja di sini dan kemudian tinggal di rumahnya pada sebuah lokasi yang luas di seputaran Kemaraya, Jalan Bunga Kamboja.

Tahun 1975 telah tiba pula seorang PUS bernama Salimdari Aralle, yang merupakan sepupu sekali dari Amiruddin Ramly. Tidak lama kemudian, dua bersaudara, Abdul Rauf Latief dan Abdul Wabab Latief, sekitar tahun 1976. Juga datang Rosdiana Sumaila, mendaftar dan sekolah di SPK Depkes Kendari, dan Husnah yg mendaftar dan sekolah di SPG Negeri Kendari. Mereka ini semua adalah kerabat dari Salubulung. Di Kendari, mereka tinggal di rumah Papa Aci—panggilan buat Amiruddin Ramly—. Rosdiana dan Husnah tetap tinggal di Pak Amiruddin Ramly hingga tamat. Sedangkan Wahab dan Rauf awalnya pindah ke rumah sekitar 20 meter dari rumah pak Ramly untuk beberepa tahun lamanya dan kemudian pindah ke Puunggaluku. Di kemduain hari, Rauf pulang kampung, beristri dan menetap di sana sampai sekarang. Adapun Wahab, setelah sempat pulang kampung, tinggal, dan bekerja di Mamuju dan Mamasa, kini ia kembali ke Kendari bersama istri di Konawe Selatan.

Masih di akhir tahun 70-an, telah tiba juga bersaudara, Oppo dan Agus dari Aralle. Belum ada informasi jelas mengenai pekerjaan keduanya di Kendari. Pada tahun 1979, sebuah rombongan dalam jumlah besar tiba di Kendari. Tiga di antaranya antara lain Nurman, Masri, Ali Munir dari Mambi. Pada mulanya, semuanya tinggal di rumah Amiruddin Ramly. Di kemudian hari, ketiga orang tersebut lalu berkeluarga dan masing-masing memiliki rumah dan pekerjaan sendiri. Masri kemudian bekerja sebagai pengusaha, Ali Munir menjadi pegawai negeri, dikaruniai banyak anak,dan Nurman berladang rambutan di Ranomeeto, Konawe Selatan, juga telah dikaruniai anak dan cucu. Dalam perjalanan hidupnya kemudian, Masri dan keluarga pindah kembali ke Mambi tahun1989. Satu-satunya yang tinggal di Kendari adalah anak sulungnya, Ferry Masri, yang kemudian kawin dengan perempuan Tolaki. Tahun 2011, Masri lalu berpulang (meninggal) di Mambi, menyusul kemudian Ali Munir berpulang pada tahun 2013. Nurman masih menetap di Kendari sampai saat ini bersama keluarga.

pusss

Sebagian warga PUS di Kendari

Rombongan berikutnya yang tiba adalah Arman dan serta beberapa orang dari Aralle dan Salurindu. Lalu tiba juga Nursalam Musa Syamta dari Salubulung, yang menempuh kuliah di JurusanSejarah, Universitas Haluoleo tahun 1991. Pada gelombang selanjutnya, tiba pula Syamsul Marif dari Loka dan menjadi pegawai di Dinas Perkebunan Prov. Sultra. Bebera tahun di Kendari, Syamsul Marif lalu pindah ke Pemprov. Sulawesi Barat.

Salah satu putra PUS yang yang kemudian menjadi tokoh, baik di Sultra maupun di Sulbar adalah Anwar Adnan Saleh. Beliau pertama kali ditugaskan di Kabupaten Buton yang saatitu dipimpin oleh Arifin Sugianto sebagai Bupati Buton. Di Buton, Anwar jadi ajudan Bupati, lalu jadi camat, dan tahun 1978 masuk program S1 di Ilmu Pemerintahan di Jakarta. Dua tahun di Jakarta kembali di Kendari tahun 1981 lalu menikah dengan anak Arifin Sugianto, Anggraeni Arifin Sugianto. Pada perjalanannya kemudian, ketika Alala jadi Gubernur Sultra, Anwar dijadikan Kepala Perwakilan Pemda Sultra di Jakarta. Selain bekerja di jalur birokrasi, Anwar juga jadi pengusaha dan sukses di Jakata lalu menjadi anggota DPR RI mewakili Sultra. Kini, Anwar Adnan Saleh menjadi Gubernur Provinsi Sulawesi Barat untuk periode kedua.

Tokoh PUS yang memiliki banyak jasa dan peran bagi kedatangan dan kesuksesan Orang PUS di Kendari adalah Drs. Abdul Jabbar. Beliau tiba di Kendri, 10 tahun setelah Amiruddin Ramly atau tahun 1983. Beliau pindah dari Makassar ke Kanwil Pendidikan dan Kebudayaan Sultra menjadi Kepala Bidang Dikmas, P & K Sultra. Dalam perjalanan karirnya, ketika hampir berusia 56 tahun, ia diangkat jadi Kormin di Kanwil P & K Sultra. Pada tahun 1993, Pak Jabbar kembali pindah ke Sulsel dan diangkat menjadi Kakanwil P dan K Sulawesi Selatan. Salah satu sumbangsih beliau kepada Pitu Ulunna Salu yang masih berdiri megah sampai saat ini adalah dibangunnya SMA Negeri 1 Mambi, tepat di sekitar 150 meter setelah jembatan Salu Uma.

Selanjutnya, ponakan Abdul Jabbar kemudian berdatangan di Kendari. Nurbiah ke Kendari tahun 1994, setelah tamat PGA Mambi, masuk di Sekolah Perawat Kesehatan Kendari dan tamat tahun1977. Tahun 1981 datang saudara Om Jabbar yaitu Haji Pallabuang (orang tua Amiruddin Ramly) bersama empat anaknya yang lain yaitu Nurbadri, M. Tasbi, Nurhayati,dan Nurhasbiah. Semuanya menuntut pendidikan di Kendari mulai dari SD, SMA, dan sebagian perguruan tinggi. Haji Pallabuang berada di Kendari selama tujuh tahun lamanya. Pada tahun 1988 beliau kembali ke Makassar.

Kedatangan berikutnya adalah ketika Burhanuddian Gani tiba di Kendari tanggal 5 Januari 1990. Awalnya tinggal di rumah Amiruddin Ramly hingga tahun 1993. Di Kendari, ia sempat mengajar di Fakultas Hukum, Universitas Sulawesi Tenggara selama beberapa waktu. Di universitas inilah kemudian dipertemuakan dengan dosen yang lain, yang merupakan aktivis dan pengacara yaitu Arbab Paproekka. Di kemudian hari, keduanya sepakat untuk mendirikan sebuah asosiasi di bidang hukum, lalu berdirilah A & B Assosiated. Pada perjalanannya, banyak kasus hukum yang ditangani dan asosiasi yang mereka dirikan cukup dikenal di Kota Kendari. Di kemudian hari, keduanya masing-masing menempuh jalan sendiri. Arbab memilih jalur politik dan sempat menjadi anggota DPR RI, sedangkan Burhanuddin Gani memilih jalur birokrasi. Pada mulanya beliau bekerja di Kandep Dikbud Kab. Kolaka tahun 1992 lalu pada tahun 1994 pindah ke Kancam Mandonga. Pada tahun 1996 ia kemudian pindah ke Kanwil D & K Sulawesi Tenggara.

Salah seorang putra PUS yang cukup lama di Kendari adalah Madras Bantoe. Setelah tamat SMA di Polmas, ia ke Kendari dan bekerja di Telkom sampai pensiun. Beliau dapat bekerja di telkom berkat bakat dan perannya sebagai atlet dan pemain tenis lapangan. Di kemudian hari, beliau setelah tidak menjadi atlet lagi, menjadi instruktur tenis.

Putra PUS lainnya yang ikut meramaikan diaspora PUS di Kendari adalah Rahmading Enang. Penempatan beliau pertama di Makassar lalu masuk di Kantor Balai Nikah Kendari. Sekarang bekerja di Pengadilan Tinggi Agama Kendari. Sebelumnya, putra PUS lainnya yang datang adalah Wempy Banga datang sekitar tahun 1977 atau 1978 dari Leko. Beliau datang bersama empat atau lima orang. Kini, Wempy Banya menjadi Guru Besar di Universitas Halu Oleo, Kendari.

Warga PUS lainnya yang kini bermukim di Kendari adalah Arman Pasli. Tamat SMA 1 Palu, ia kemudian menyelesaikan D3 Arsitek Unhas tahun 1993. Pada tahun 1996, ia menyelesaikan program S1 di Arsitek Universitas Brawijaya, Malang. Pertama kali tiba di Kendari tahun 1997 dan mulai bekerja sebagai konsultan di CV Teknik Tiga Dimensi sampai tahun 1999. Pada tahun 1999 itulah ia kemudian diangkat menjadi dosen di Universitas Haluoleo. Tahun 2001 mengakhiri masa lajangnya dan kemudian melanjutkan pendidikannya di studi S2 pada Jurusan Arsitek ITS mulai tahun 2002 sampai 2004. Saat ini, beliau menduduki posisi yang cukup strategis di Universitas Haluoleo sebagai Direktur Pendidikan Vokasi sampai tahun 2018.

Kehadiran dan keberadaan Amiruddin Ramly di Kendari sejak awal kemudian melahirkan ide untuk mendirikan Ikatan Keluarga Mandar(IKM), lalu di kemudian hari membuat Kerukunan Keluarga (KK) Kondo Sapata. Amiruddin Ramly sempat menjadi Ketua KK Kondo Sapata dan Ketua Koperasi Kondi Sapata, Kendari. Seiring dengan dialektika kebudayaan dan perubahan politik di Indonesia sejak tahun 1998, Mamasa kemudian menjadi daerah otonom sendiri, berpisah dari Kabupaten Polmas. Begitu juga dengan Sulawesi Barat yang memisahkan diri dari Sulsel.

Banyak warga PUS kemudian yang pindah ke Pemkab Mamasa dan Pemprov Sulbar. Ada tig alasan mendasar yang menjadi penyebab kepindahan tersebut yang mengubah lagi wajah diaspora Orang PUS diKendari. Pertama, ingin lebih dekat ke kampung halaman, sehingga dapat lebih mudah bertemu dan bersilaturrahmi dengan keluarga besar di sana. Kedua, ingin mendapatkan posisi lebih baik di birokrasi, baik itu di Pemkab Mamasa, maupun di Pemprov. Sulbar. Kini, Orang PUS di Kendari mulai berkurang jumlahnya dibanding beberapa tahun silam. Ketiga, ingin membangun kampung halaman. Perpindahan kembali ke kampung halaman dengan tiga faktor di atas (Mamasa dan Sulbar) menjadi penyebab utamanya.

Seiring dengan fenomena tersebut, lahirlah Kerukunan Keluarga (KK) PUS yang dimaksudkan untuk mewadahi Orang PUS yang masih tetap setia tinggal di Kendari sebagai daerah rantauan. Kepengurusan KK PUS tersebut disepakati dalam masa empat tahun. Periode pertama dipimpin oleh Burhanuddin Gani.

Dengan maksud kembali menjalintali silaturrahmi, KK PUS setiap bulannya mengadakan pertemuan yang digilir di setiap rumah warga kerukunan. Tujuan utamanya adalah berkumpulnya Orang PUS untuk berbagi kisah, pengalaman, informasi, baik berkenaan dengan pekerjaan maupun yang berkaitan dengan Pitu Ulunna Salu sebagai kampung halaman. Pada pertemuan tersebut digelar arisan bersama yang sifatnya tidak wajib bagi setiap warga kerukunan. Saat ini, sejak Desember 2013, pertemuan sudah terselenggara yang ke-15 kalinya. Tentunya bukan persoalan kuantitas belaka sebagai muatan pertemuan itu, tetapi kualitas silaturrahmi menjadi roh utamanya.

Tulisan ini belum mancakup banyak Orang PUS lainnya. Padahal masih banyak Orang PUS yang bermukim lama di Kendari, misalnya H. Abdul Hamid yang pernah menjadi Koramil Tinanggea dalam waktu yang cukup lama. Akan tetapi, karena informasi yang didapatkan masih sangat minim sehingga ulasan mengenai sosok-sosok tersebut kami akan lanjutkan pada edisi selanjutnya.

Masih banyak warga PUS yang kami belum ulas di sini. Selain itu, banyak sekali peristiwa mengenai Orang PUS di Kendari yang harusnya hadir di sini. Oleh karena keterbatasan waktu dan pengumpulan data jualah yang menjadi salah satu faktornya. Peristiwa yang paling layak dicatat adalah pertemuan bulanan warga PUS yang dirangkaikan dengan arisan. Akan tetapi, arisan hanyalah semacam “stimulus” saja karena yang paling penting di pertemuan itu adalah silaturrahmi, komunikasi, dan saling-silang memberi informasi terkini, baik mengenai kampung halaman masing-masing, maupun keadaan setiap rumah tangga dan pekerjaan di Kendari. Di forum inilah, ide pembuatan buletin hadir, dengan tujuan mengawetkan pertemuan yang berbasis kelisanan menjadi keberaksaraan. Bagaimanapun juga ini adalah sebuah peristiwa kebudayaan yang sadar atau tidak turut memberi nuansa positif dan muatan sosial yang kuat. Tidak jarang, di forum bulanan tersebut, hadir kritik terhadap kinerja pemerintah, baik di Kab. Mamasa maupun di Sulawesi Barat. Intinya, forum tersebut menjadi penguatan dan pemberdayaan ide-ide tulus dari warga PUS yang berada di Kendari dan sekitarnya. Tentunya di edisi selanjutnya akan kami lanjutkan. Semoga buletin ini memberi banyak faedah bagi kita semua, Orang PUS di Kendari dan sekitarnya. Ø

Kendari, Februari—Maret 2015

SUSUNAN REDAKSI
Buletin PituUlunna Salu
Kendari,Sulawesi Tenggara

PELINDUNG:
Tuhan Yang MahaEsa

PENASEHAT:
Amiruddin Ramly
H. Abdul Hamid
Junaid
Madras Bantoe
Alimuddin Daud

PEMBINA:
BurhanuddinGani
Rahmading Enang
Arman Pasli

PEMIMPIN REDAKSI:
Syaifuddin Gani

REDAKSI:
Bayanuddin A.Gani
Ferry Masri
Zulkifli Ruslan
Hasbi Alimunir

ALAMAT REDAKSI:
BTN Puri TawangAlun 2
RT 014 RW 004
Blok H Nomor 11
Kel. Padaleu,Kec. Kambu
Kendari,Sulawesi Tenggara
HP 081342769945
085247877676

About syaifuddingani

SYAIFUDDIN GANI lahir di Kampung Salubulung, Mambi, Kabupaten Polewali Mandar, Provinsi Sulawesi Barat, September 1978. Bergiat di Teater Sendiri Kendari. Sajak-sajaknya dimuat diberbagai majalah sastra, Koran, dan antologi bersama. Bulan Agustus 2009, mengikuti Perogram Penulisan Majelis Sastra Asia Tenggara (Mastera) bidang Esai. Bekerja di Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara. Memiliki istri dan satu anak yang dicintai. Email: om_puding@yahoo.com dan HP 081341677013.Kumpulan sajak tunggalnya Surat dari Matahari (Komodo Books) terbit April 2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s