Pagi yang Mendaki Langit

Standar

Oleh: Syaifuddin Gani

DDD

Syaifuddin Gani (Foto: Arif Relano Oba)

Betapa berbahagianya mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, Universitas Haluoleo. Betapa tidak, mereka yang memprogramkan matakuliah Menulis Kreatif, puisi – puisinya dikumpulkan dalam sebuah buku puisi Pagi yang Mendaki Langit. Tiba-tiba saya harus mengenang kembali ke masa silam ketika saya masih kuliah di universitas ini, juga di program studi yang sama. Saya memulai perkuliahan tahun 1997 dan menyelesaikannya tahun 2002. Pada kurun waktu itu, yang semarak adalah kegiatan-kegiatan sastra seperti lomba baca puisi dan seminar sastra yang dilaksanakan “dalam rangka” memperingati hari kematian Chairil Anwar dan Bulan Bahasa. Saat itu, sastra lebih banyak dipahami dan diapresiasi dalam bentuk kelisanan. Kegiatan yang berbasis keberaksaraan belum mendapat tempat yang maksimal. Akan tetapi saya dan beberapa kawan sesama angkatan 1997 atau angkatan 1996 yang selain terlibat di program studi (baca: kampus), lebih beruntung karena juga terlibat dalam proses di Teater Sendiri yang memberikan penekanan pada ekspresi keberaksaraan. Kegiatan sastra yang saya alami di Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia dan juga di Teater Sendiri memberikan pengaruh yang cukup mendalam bagi proses berkesenian saya, khususnya menulis puisi ke depannya sampai saat ini.

Maka, sekali lagi, beruntunglah mahasiswa yang sajak-sajaknya dimuat dalam buku ini, karena berada pada suatu masa ketika kreativitas begitu diperhatikan dan budaya keberaksaraan dipandang sebagai suatu keniscayaan dalam membangun peradaban. Mahasiswa harus didorong bahkan “dipaksakan” untuk memulai menulis. Kadang ketika mahasiswa dijejali dengan teori sastra yang formal, justru mengalami kemadekan dan kebingungan untuk menulis puisi yang bagus. Sebuah pepatah mengatakan bahwa cara terbaik untuk memulai menulis adalah menulis itu sendiri! Maka ketika Ahid Hidayat, dosen matakuliah Menulis Kreatif meminta kepada saya untuk terlibat dalam penyuntingan dan memberikan kata penutup untuk kumpulan puisi ini, saya pun tak kuasa menolaknya. Bagaimana mungkin saya menolak untuk dunia yang saya geluti dan cintai sendiri?

Puisi adalah bentuk penghayatan manusia yang paling sublim dan subtil. Ia lahir dari perenungan penyair atas dunia, yang diaktualisasikan melalui kata-kata yang terpilih dan paling mewakili sesuatu pesan. Karena kata-katanya terpilih dan tersaring, sehingga bahasa puisi menjadi khas dan unik. Di sinilah pokok yang membedakan antara bahasa puisi dengan bahasa ilmiah, bahasa jurnalistik, dan bahasa sehari-hari di dalam masyarakat. Konon, Chairil Anwar membutuhkan waktu berminggu-minggu untuk menghasilkan satu puisi. Sang penyair harus memilih, mengumpulsatukan, dan membuang kata-kata yang dinilai tidak perlu dan tidak pantas masuk di dalam puisinya. Setelah melewati proses yang ketat seperti itu, barulah kemudian tercipta sebuah sajak yang “menjadi sebuah dunia”. Di sini pulalah sebuah ajaran Chairil Anwar dapat kita praktikkan bahwa puisi yang bagus adalah puisi yang menjadi sebuah dunia, artinya puisi yang harus bisa menawarkan sebuah “dunia” yang baru, sebagaimana dikutip oleh Goenawan Mohamad di dalam Setelah Revolusi Tak Ada Lagi(2005:361). Dunia yang baru itu adalah dunia yang diciptakan penyair di dalam sajak-sajaknya yang berasal dari benda (materi) dan rohani, keadaan alam dan penghidupan sekelilingnya dan hal-hal ian yang berhubungan jiwa dengan dia. Dunia yang lahir dari metafora dan citraan-citraan yang segar, unik, baru, serta nilai dan pesan yang mampu menggetarkan hati pembaca. Pengalaman batin yang dirasakan pembaca belum pernah dirasakan ketika membaca teks-teks lain. Dengan demikian, pengalaman yang dirasakan pembaca harus mampu mencerahkan secara lahir, batin, dan spritual. Sebagai sebuah sajak yang “menjadi”, lanjut Goenawan, ia senantiasa bergerak, hadir, menyelinap, setengah sembunyi, tampil kembali dengan isyarat-isyarat baru, mencipta tak henti-hentinya, berubah, dan menangguhkan konklusi.

Membaca 114 puisi yang ditulis oleh 110 mahasiswa ini, ibarat menyelami lautan luas yang dihuni beragam jenis ikan. Terkadang saya menemukan ikan yang kecil tapi menawan, ikan besar tapi tidak menarik bahkan menakutkan, ikan mungil dan unik, ikan panjang yang tenang dan berisi padat, atau ikan kecil-kecil yang hanya dipenuhi tulang belulang. Ada juga ikan yang setengah tubuhnya sangat memukau tapi setengah tubuhnya yang lain rusak. Bahkan ada ikan yang cukup manis tapi ternyata ia adalah jiplakan ikan manis yang lain. Akan tetapi saya cukup bahagia karena dapat menemukan beberapa ikan yang memilih menyendiri di bawah batu karang, jauh dari keramaian, serta warna tubuh yang unik serta memikat dan kalau disantap akan terasa lezat dan nikmat.

Secara umum, ada dua tema besar yang diangkat di dalam puisi ini yaitu mengenai kampung halaman dan hal ihwal yang berkesan dengan diri penulis. Banyak penulis yang mampu melukiskan kembali keindahan kampung halamannya dengan cukup baik, ada pula yang gagal dan terseret pada pengungkapan klise. Begitu pula dengan pengalaman pribadi , ada yang mampu digambarkan dengan bahasa yang segar, dan sebaliknya. Artinya, keberhasilan sebuah puisi tidak serta-merta ditentukan oleh tema, tetapi cara penyampaiannya yang lebih berperan.

Kadang sebuah puisi hanya ditolong oleh satu larik saja, misalnya “ini adalah kuburanku, terjal dan berliku” yang ditulis oleh Alriana dalam puisinya yang berjudul Kelam. Secara keseluruhan, ia belum mampu menjaga pengungkapan yang baik. Hal yang sama juga terjadi pada sajak Hujan Andi Firawati. Dua larik pada bait pertama cukup lumayan pengandaiannya seperti “setiap titik yang kau curahkan/selalu ciptakan beribu kenangan”, tetapi tidak berlanjut pada bait berikutnya. Menjaga bahasa yang tetap segar dan tidak terjebak pada keumuman, memang menjadi tantangan bagi setiap penulis. Sebuah puisi yang cukup bagus adalah Barangkali Kau Telah Lupa karya Ani Maharani Haliu. Tiga bait puisinya lahir dari perenungan yang dalam dan penyeleksian bahasa yang berhasil. Saya akan kutip bait ketiga puisinya yaitu “matahari di celah daun itu, katamu/mengajari kita tentang cahaya/dan kerelaan embun padanya/di pagi yang mendaki langit”. Imaji visualnya sangat bagus, seakan pembaca melihat langsung embun yang rela “habis” demi cahaya matahari di “pagi yang mendaki langit”. Larik “pagi yang mendaki langit” memiliki efek visual yang liar, mengingatkan kita pada sajak Aku Ingin karya Sapardi Djoko Damono. Kedua sajak ini memiliki kaitan intertekstual yang kuat.

Salah satu puisi kampung halaman yang cukup menyentuh adalah Labasa karya Asnah Wati. Seandainya ia bersabar dalam mempertimbangkan bahasa, mungkin puisi ini akan lebih bagus lagi. Bait pertama akan saya kuti secara penuh, “lebat hutan jati menyoraki bulan purnama/Labasa tenang terguyur pucat cahaya/ada untaian kabhanti/melunturkan sepi yang mengendap/pada malam-malam karia”. Ungkapan “sebuah gelas jatuh, pecah di hatiku” adalah simbol kegelapan hidup si aku lirik dalam puisi Malam yang Hitam Kelam karya Fitri Uli. Imajinya cukup liar. Dapatlah kita bayangkan akibatnya jika sebuah gelas pecah di dalam perut, persisnya di hati manusia. Akan tetapi hanya larik itu saja yang berhasil, selebihnya masih belum matang. Puisi Tanya Jawab karya Jumrawati bernada mbeling, kelakar, dan menyindir. Ia menertawai dan menyindir wanita penghibur, lelaki hidung belang, dan politikus. Mereka dianggap sebagai orang-orang yang tidak memakai nalar dalam berbuat. Kritik sosial yang tajam juga tampak pada Kampungku karya La Ode Alwan. Ia mengeritik masyarakat dan kepala desanya yang berotak batu, mencintai batu, dan meninggal dengan batu. Batu adalah simbol kebengalan, kebodohan, dan kesombongan. Kepala desa adalah lambang penguasa. Penulis menggambarkan “kebatuan” antara pemimpi n dan masyarakat yang dipimpin. Di dalam masyarakat yang serba “batu” ini, menurut Amien Rais akan berpotensi melahirkan sang tuna kuasa dan penguasa. Masyarakat merasa tidak berkuasa apa-apa, sedangkan pemimpin menjelma seorang penguasa yang otoriter. Kesewenang-wenangan merajalela, akal sehat mati, dan kemerdekaan dibungkam. Lewat ungkapan semisal “rupaku luntur dalam ritual”, Mariam Hidayat mencoba membangun puisinya Imamku dengan baik, meskipun belum menunjukkan keterjagaan bahasa yang ketat.

4489_1146573950582_1414555507_30388067_5850784_nPuisi lain yang cukup menjanjikan lahir dari La Ode Gusman, Wa Ode Rizki Adi Putri, dan Zainal Surianto. Dua buah puisi Gusman Grafiti kepada Siluet Malaikat (GkSM) dan Aroma Pesta Demokrasi a(APD) dalah pusi yang panjang tetapi terjaga pengucapannya. Puisi GkSM adalah sebuah kegeraman penulis terhadap perilaku bejat manusia yang mempermainkan hukum, seks bebas, dan liberalisasi kehidupan. Penulis memaparkan kembali kelakuan manusia berupa “gairah yang bersijingkat melompat menyodorkan laku amoral segala bejat yang dibungkus kebebasan tanpa batas” sehingga “dunia telah takluk pada kutuk yang lebih murka dari ibu Malin Kundang”. Sedangkan puisi APD adalah wujud daya kritik penulis atas janji-janji dan panji-panji yang dikobarkan dan dikibarkan para politisi yang ingin menjadi anggota legislatif. Puisi ini sangat kontekstual dengan kekonian Indonesia yang abru saja melakukan pesta demokrasi; pemilihan umum bagi calon anggota legislatif. Penulis dengan tegas mengatakan bahwa “kami tak akan kenyang dengan senyuman/anak-anak kami tak akan tertidur lelap dengan lantunan janji kosong/ kami tak lagi dungu dan mampu dikibuli dengan kekuasaan dan iming-iming”.
Wa Ode Rizki Adi Putri cukup berhasil menggambarkan panorama alam Lapulu melalui sajakknya Lapulu. Dengan citraan visual, ia menghadirkan Lapulu sebagai kampung yang penuh dengan kenangan lahir dan batin. Lapulu berada “di antara kirmizi getah jati/memancar airmu/yang berkecipak mimpi-mimpi/. Di sini penulis hadir sebagai pencerita dan kembali mengtakan bahwa “seraya memeluk Teluk kendari/kau bersandar pada gurauan sunyi Abeli/hanya pada wajahmu/waktu menenun pagi begitu putih/disesaki mitos tak berkesudahan/dari kompleks transmigran /. Bagi Wa Ode, Lapulu ibarat “senyum ibuku/ yang/ pada dangkal dermaga rentamu/kutemukan kedalaman puisiku. Lapulu tidak hanya tempat kelahiran, tempat orang tua dan nenek-kakek bersemayam, tetapi sekaligus sebagai inspirasi bagi kelahiran puisinya. Sajaknya yang lain adalah Yonif 725; Kisah menyampaikan suka dan duka yang dialami tentara dalam menjalankan tugasnya. Tentara, sebagaimana manusia biasa lainnya, juga “rindu pada sanak” dan “rengat di ulu hati”. Berperang bagi tentara adalah tugas yang mulia, mendapat empati dari penulis. Ia mengatakan bahwa “sebagaimana penyair menakar kata-kata/mereka bahagia menekuni granat, sangkur/peluru berbagai kaliber/dan horor revolver/. Di bait terakhir, penulis bertanya bagi dirinya dan bagi kita semua “dengan apa keakuanmu dikenangkan?/dengan sajak, atau/nisan di keheningan?

Zainal Surianto menggambarkan fenomena kehilangan akibat kematian melalui imaji-imaji yang muram. Senandung Kematian adalah sebuah puisi yang bercerita tentang kerinduan si aku lirik atas seseorang yang telah meninggal dunia dan kepada kampung halaman. Inilah “hamparan huruf-huruf gersang dalam namamu/menenggelamkanku pada rindu pusaran tanah kelahiran/juga wajah yang kau kenakan setiap pagi datang/. Penulis menggambarkan kerinduan dan kehilangan itu dalam larik-larik buram dan diungkapkan dengan bahasa yang cukup mewakili seperti ini, “kini waktu berhenti tepat semua musim menyatu/saat jerit dan tangis maut bernyanyi, mengalun/jauh menyelusup di kedalaman matamu/. Kerinduan dan rasa kehilangan memang sangat terasa pada sajak di atas.

Ungkapan-ungkapan segar dapat juga ditemukan pada puisi Burung Kecil karya Muh. Zulkifli. Konon ada seekor burung kecil di dahan lalu “aku melihat burung kecil iru/melompat ke dalam kelopak mataku/ merangkai rerumputan menjadi rumah/. Begitu pula dengan puisi Cerita Hati pada Pagi karya Munawwara, ia “duduk dengan secangkir pagi berwarna jingga/kabut sempat mampir di pangkal hari. Bahasa-bahasa seperti inilah yang seyogyanya digunakan penulis di dalam karya puisinya.

Meminjam pendapat Hasif Amini di dalam buku Bahasa!(2008:201) bahwa banyak ungkapan yang begitu jamak digunakan oleh masayarakat, termasuk dalam kategori metafora mati. Salah satu contohnya adalah “bintang radio”, “bintang televisi” ataupun “bintang film”. Sehubungan dengan itu, banyak pula metafora turunan lainnya yang sudah mati misalnya “bintang hatiku”, “bintang kehidupan”, “bintang kejoraku”, dan sejenisnya. Puisi yang termaktub di dalam Pagi yang Mendaki Langit ini pun banyak diwarnai oleh metafora mati misalnya “sepotong nasihat”, “lukisan hati”, “sungai kerontang dimakan usia”, “keringat menganak sungai”, “wajah bagai kertas putih”, “matahari di peraduan”, “meniti harapan”, “cinta dalam buaian”, “padi menguning”, “melempar senyum”, “wajah buram negeri”, “sejuta asa”, “saksi bisu”, “menumpahkan darah”, “ombak memecah malam”, dan sederet metafora yang sudah klise. Jika sebuah ungkapan atau metafora sudah menjadi milik masyarakat umum, maka ia telah menjadi basi untuk menopang sebuah puisi.

Mengharapkan karya yang benar-benar bermutu dan berkarakter atas 114 puisi yang ditulis oleh 110 mahasiswa ini saya kira terlampau berlebihan. Saya dan pembaca semua harus menyadari bahwa puisi-puisi ini ditulis oleh mahasiswa yang memprogramkan matakuliah Menulis Kreatif sebagai “kewajiban” untuk menguji kemampuan mahasiswa di dalam “bermain-main” dengan bahasa. Hasilnya sangat memuaskan bagi saya. Sebagian mahasiswa masih memperlihatkan kemampuan berbahasanya yang belum terolah, sebagian yang lain cukup menjanjikan. Antara mahasiswa yang belum menghasilkan karya yang matang dan yang sudah cukup maksimal dalam mengolah bahasa, keduanya masih mungkin dan sangat menjanjikan untuk menjadi penyair ke depannya. Penyair yang lahir dari gemblengan proses perkuliahan di kampus. Di sinilah pentingnya posisi dosen yang bersangkutan, dalam hal ini Ahid Hidayat, dalam memotivasi mahasiswanya untuk menulis. Penyair hanya lahir dari iklim keberaksaraan yang sengaja diciptakan oleh orang yang kreatif. Tradisi menulis, membaca, diskusi, dan debat memang perlu disemarakkan. Tentunya harapan agar ke-114 mahasiswa ini tidak berhenti menulis ketika matakuliahnya sudah selesai atau pada saat ia menjadi alumni. Proses menulis puisi harus terus dilanjutkan ketika kembali bersatu dengan masyarakat, sebuah lingkungan kebudayaan yang justru arena inspirasi bagi kreativitas. Pagi yang Mendaki Langit adalah metafora yang begitu sesuai dengan kiprah yang dilakukan oleh mahasiswa ini. “Pagi” menyimbolkan usia yang masih muda serta proses mereka yang baru saja dimulai. Sedangkan “langit” adalah simbol dunia kreativitas yang harus mereka rengkuh dan lalui menuju cakrawala sastra yang terbentang luas dan menantang. Semoga buku Pagi yang Mendaki Langit ini menjadi pendakian awal untuk rencana pendakian kreativitas yang lain di Universitas Haluoleo.

Kendari, 14–15 April 2009

About syaifuddingani

SYAIFUDDIN GANI lahir di Kampung Salubulung, Mambi, Kabupaten Polewali Mandar, Provinsi Sulawesi Barat, September 1978. Bergiat di Teater Sendiri Kendari. Sajak-sajaknya dimuat diberbagai majalah sastra, Koran, dan antologi bersama. Bulan Agustus 2009, mengikuti Perogram Penulisan Majelis Sastra Asia Tenggara (Mastera) bidang Esai. Bekerja di Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara. Memiliki istri dan satu anak yang dicintai. Email: om_puding@yahoo.com dan HP 081341677013.Kumpulan sajak tunggalnya Surat dari Matahari (Komodo Books) terbit April 2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s