Iwan Konawe, Penyair Tolaki Masa Kini

Standar

Oleh: Syaifuddin Gani

Dunia kepenyairan di Sulawesi Tenggara semakin menampakkan gerak maju, tumbuh, dan progresivitas yang penuh daya tarik. Gerak maju, tumbuh, dan progresivitas ini ditandai dengan lahirnya karya sastra dari tangan para sastrawannya. Setidaknya terdapat dua genre sastra yang kini digeluti para sastrawan Sulawesi Tenggara yakni cerpen dan puisi. Para sastarwannya pun masih berusia muda, antara 20-35 tahun. Hal ini menandakan bahwa usia sastra modern di Sulawesi Tenggara masih relatif muda dibanding provinsi lain di Sulawesi, apalagi dibanding Jawa, Bali, dan Sumatera. Di antara penyair yang kini memperlihatkan gairah menulis yang cukup menggembirakan adalah Iwan Konawe.

Lahir di Tanah Tolaki, tepatnya di Unaaha, Kabupaten Konawe, Iwan Konawe, menjadi seorang penyair yang amat fasih membaca dan mengucapkan kembali hal-ihwal yang berkenaan dengan dunia Tolaki. Di tangannya, Tolaki sebagai kampung antropologis dan sosiologis yang melahirkannya, tidak semata hadir secara sentimentil dan romantis, tetapi lebih dalam dari itu semua, ia mampu menimbang ulang, mempertanyakan yang sudah mapan, bahkan mengkritisi tradisi yang sudah berurat-berakar di dunia Tolaki. Kumpun puisi tunggalnya, Ritus Konawe yang diterbitkan oleh Frame Publishing pada bulan Oktober 2014 lalu, mengetengahkan kegelisahan itu dengan sangat apik.

Posisi Iwan Konawe yang memiliki nama lain Irawan Tinggoa, berbeda dengan penyair muda lain di Sulawesi Tenggara yang menulis puisi. Meskipun penyair lain menulis puisi dengan beragam tema, tetapi etnisitas dan kompleksitasnya bukan menjadi spirit utama penciptaan puisinya. Berbeda dengan Iwan Comcom, nama lain lagi Iwan Konawe, yang menjadikan Tolaki dalam pengertian yang luas, sebagai sumur utama kelahiran puisi-puisinya.
Meskipun demikian, sebagaimana yang saya katakan sebelumnya bahwa dunia sastra modern di Sultra masih berusia muda, diperlukan waktu yang panjang pula untuk mengetahui arah perkembangan sastra di daerah ini, baik dari segi tematik maupun estetiknya. Di tengah posisi sastra Sultra yang baru memperlihatkan “wajah” ini, Iwan Konawe hadir dengan menggunakan Tolaki sebagai “isu” utama puisinya. Puisinya yang berjudul “Tabere” memeprlihatkan kegelisahan sekaligus kritik betapa simbol Tolaki tersebut berada dalam ambang kehilangan tempat di haribaan Tolaki modern, berikut ini:

Buku Puisi Iwan Konawe

Buku Puisi Iwan Konawe

Masih saja kamu di sana, Tabere
Berwajah duka dan tak berpendar cahaya
Berharap seorang ina, selekasnya memoles ragam rupa kain
Menjahit barisan silsilah yang hampir putus

Iwan Konawe melihat Tabere sebagai simbol yang berwajah duka dan kehilangan cahaya. Padahal ia adalah warisan “silsilah yang hampir putus”. Di sini, penyair mengatakan bahwa Ina adalah sosok yang menjadi penentu keberlangsungan silsilah yang hampir putus itu. Jika generasi muda tidak peduli dengan Tabere, penyair mengatakan bahwa jatidiri Tolaki juga ikut terancam keeradaannya.

Rasa rindu dan panggilan dari masa silam di dalam sajak-sajak Iwan Konawe teras kuat bahkan akut. Akan tetapi ia masih mampu menjaga jarak, sehingga Tolaki, muasal etnisitas sang penyair sendiri mampu ia pandang dengan mata, dengan kata yang sangat awas. Demikianlah, bukan puja-puji yang diketemukan di dalamnya, tetapi sebentuk kesadaran ontologis dan kesadaran kritis mengenai kenyataan yang kini membetot rumah kebudayaannya itu. Lulo adalah seni tradisi yang lahir dari dunia antropologis Tolaki. Sebagai seni tradisi yang telah berurat dan berakar di kehidupan masyarakatnya, Iwan Konawe hadir di sana sebagai aku lirik yang mewakili generasi muda. Bagaimana pandangan penyair mengenai Lulo tersebut? Berikut kutipannya salah satu baik puisinya yang berjudul “Kau Ingatkah Pesta Kita”:

Tonomotuo terus menitir tiga gong
Hanyut ke dalam sungai bunyi
Remaja pun tetua menarikan Lulo
Kita sendiri timpuh
Di riang-riang yang rantak
Di lingkaran persaudaraan yang balau

Penyair melihat bahwa di tengah “sungai bunyi” para “remaja dan tetua menarikan Lulo”. Akan tetapi, “kita sendiri timpuh/ di riang-riang yang rantak/ di lingkaran persaudaraan yang balau”. Artinya, di tengah tradisi yang dianggap menjadi lingkaran pemersatu itu, ternyata terdapat keriangan semu yang rantak (berantakan) “di lingkaran persaudaraan yang balau”. Penyair melihat di balik gejala normal dan wajar itu terdapat kesemuan persaudaraan. Lulo, dalam tafsir penyair, harus diberi pemaknaan ulang agar secara hakiki selain sebagai simbol juga sekaligus menjadi gerak pemersatu di dalam lingkungan masyarakat yang sebenenarnya.

Sebagai penyair, Iwan Konawe yang mulai menimba pengalaman sastra dan teaternya di Teater Sendiri tersebut, tetap sadar bahwa seberat apapun tema yang diusung sebuah puisi, harus tetap dibangun oleh pengucapan yang estetis. Itulah sebabnya di dalam larik-larik puisinya, terdapat frase yang unik dan khas seperti “sungai bunyi” untuk menyimbolkan arus bunyi dari gong yang dipukul saat tari Lulo. Frase “riang-riang yang rantak” adalah sebuah larik yang cukup indah dengan mengunakan gaya bahasa ironis “riang tetapi rantak” (kacau) demi menjaga bahasa puisi yang diciptakannya.

Di etnis Tolaki mengenal berbagai ritual dan tradisi yang terus hidup sampai kini seperti tari Lulo, tolak bala Mosehe Wonua, minuman lokal Pongasih, kain Tabere, dan mitos yang saling menyatu dengan laku hidup kekiniannya. Iwan Konawe memandang warisan tersebut tidak sebagai sesuatu yang perlu dipertahankan, tetapi justru diolok-olok dengan bahasa yang halus dan liris, dijadikan sumur penciptaan puisinya yang tiada kunjung habis. Lokalitas, di tangan Iwan Konawe tidak meluluh bersangkut-paut dengan kearifan, tetapi juga dengan feodalisme sebagai warisan kesilaman yang kadang hidup“rukun” dan “bahagia” bersama dengan kekinian. Lokalitas dan feodalitas ibarat “jodoh” kebudayaan yang kadang dianggap sebagai keniscayaan, tetapi justru harus diurai dan dikritisi.

Puisi Iwan Konawe yang lain adalah “Aroma Pesta”. Kembali ia menjadikan Lulo sebagai tema sekaligus pesan puisinya. Bahwa di sana, selain menjadi ritus tradisional yang menjadikan Tolaki tetap bersatu, tetapi sekaligus menyimpan “kebiasaan” lain yang susah dihilangkan dan dikritik oleh penyair. Bacalah kutipan berikut:

Menggelitar ikuti tabuhan gong
Yang akan benam sebelum pagi datang
Yang akan berdiam sebelum perang
Orang mabuk memberang

Iwan Konawe adalah seorang pengelana, sehingga sajak-sajaknya memperlihatkan jejak pengembaraan yang mengasikkan. Wilayah luas yang dikembarai terutama adalah wilayah daratan Sulawesi Tenggara yang masih masuk di dalam etno-budaya Tolaki. Sebagaimana yang kita tahu, Tolaki adalah etnis yang mendiami sebagian besar wilayah daratan Sulawesi Tenggara. Iwan Konawe berupaya memasuki dunia batin, dunia spiritual, dunia tradisional Tolaki sedalam mungkin. Di sini, sebagai anak kandung kebudayaan yang melahirkannya, penyair pun kadang berada dalam tegangan antara larut dalam arus tradisionalitas dan arus modernitas Tolaki. Aku lirik dalam sajak-sajaknya berada dalam tarikan keluar dan masuk rengkuhan tradisional atau betotan modernitas. Meskipun menulis tidak dalam bahasa Tolaki, tetapi ia menjadikan Tolaki sebagai sentrum utama ruh puisinya. Selain itu, kita akan menemukan juga beberapa istilah yang berbahasa Tolaki. Tolaki sebagai masa silam dan masa kini, bertemu dalam puisinya yang liris dan kritis. Dengan upaya menjadikan Tolaki sebagai muasal penciptaan sebagian besar puisinya, Iwan Konawe layak dianggap sebagai penyair Tolaki masa kini.

Puisinya, secara sintaksis memperlihatkan kesederhanaan tetapi secara semantis mengetengahkan makna yang kaya akan tafsir dan sudut pandang. Secara lebih spesifik, ritus mendapat tempat tersendiri di dalam sajak Iwan Konawe. Ritus dalam banyak laku dan bentuk dalam dunia Tolaki mengalami penghikmatan dan penafsiran pada sajak-sajak Iwan. Ia dapat bermula dari ritus Lulo, ritus pongasih, ritus mosehe, dan ritus upacara adat menjelma ritus luka, dan ritus tikai yang menjadi “panggilan” utama bagi penyair untuk mengabadikannya dalam puisi-puisinya.

About syaifuddingani

SYAIFUDDIN GANI lahir di Kampung Salubulung, Mambi, Kabupaten Polewali Mandar, Provinsi Sulawesi Barat, September 1978. Bergiat di Teater Sendiri Kendari. Sajak-sajaknya dimuat diberbagai majalah sastra, Koran, dan antologi bersama. Bulan Agustus 2009, mengikuti Perogram Penulisan Majelis Sastra Asia Tenggara (Mastera) bidang Esai. Bekerja di Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara. Memiliki istri dan satu anak yang dicintai. Email: om_puding@yahoo.com dan HP 081341677013.Kumpulan sajak tunggalnya Surat dari Matahari (Komodo Books) terbit April 2011.

3 responses »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s