Lakon Wandiu-Ndiu, Pantun Politik, dan Sekali Lagi untuk Satu Sultra

Standar

Wahai pemuda desa, kota kami Kota Bertakwa. Mesjid-mesjid dibangun di gunung dan di teluk. Hanya saja, semakin hari, semakin banyak anak remaja terkena sipilis.

            Itulah salah satu “pantun” balasan yang dilontarkan para gadis kota di atas dermaga kepada sekumpulan pemuda Bajo, di atas sebuah perahu pada pentas teater Wandiu-Ndiu oleh Kelompok Teras Budaya (Kloter-B) Kendari. Bertindak sebagai sutradara adalah Al-Galih sekaligus sebagai penulis naskahnya, mencoba menampilkan suguhan pertunjukan yang multidimensional. Selain mengandalkan kemampuan para aktor, juga menyuguhkan tontonan audiovisual melalui layar putih sebagai latar pertunjukan. Di layar putih yang membentang sepanjang panggung itulah, kelebat permainan latar/setting, warna, dan gambar menyedot perhatian ratusan penonton yang memenuhi aula gedung kesenian Taman Budaya Sulawesi Tenggara, selama tiga malam berturut-turut.

            Permainan pantun di awal adegan seperti yang saya kutip di atas, juga memuat cermin sosial (perilaku seks remaja kota). Ketika membalas pantun pemuda Bajo, wanita kota membalas bahwa cinta adalah mempertemukan empat lutut yang gemetaran. Frase “mempertemukan empat lutut yang gemetaran” adalah sebuah tanda bahwa wanita kota hanya memaknai seks sebagai kepuasan badaniah belaka. Tubuh menjadi objek dan ikon utama seks. Dan kepuasan seks itu ditandai dengan gemetarannya empat lutut dari sepasang manusia berlainan jenis. Padahal, tubuh tidak terhenti sebagai tubuh seksual semata. Ada tubuh sosial, tubuh eksistensial, sampai tubuh spiritual.

            Dialog yang meminjam puitika pantun di atas adalah sebuah cermin sekaligus kritik sosial terhadap fenomena keberagamaan dan kehidupan sosial-budaya masyarakat Kota Bertakwa, dan terutama para pemimpinnya. Di sini, Galih, melalui pertunjukan yang digarapnya ingin mengatakan bahwa pembangunan rumah ibadah tidak selalu mencerminkan atau berbanding lurus dengan religiusitas suatu kelompok masyarakat. Bahkan, masyarakat modernis yang cenderung profan dan hedonis hidup di antara megahnya rumah ibadah, sambil melakukan aktivitas yang bertentangan khittah atau hakikat berdirinya rumah Tuhan itu.

            Kritik terhadap pemerintah yang terdapat pada dialog di atas adalah pembangunan rumah ibadah kadang tidak murni lahir untuk meningkatkan religiusitas dan kemaslahatan umat. Rumah ibadah didirikan kadang dan terutama karena pertimbangan politis dan sebagai “ikon” penguasa yang sementara bertahta! Sebuah misi yang justru jauh dari tercapainya Masyarakat Madani yang religius dan berkearifan. Sementara, kata “sipilis” dapat merepresentasikan penyakit kelamin dan sosial akibat budaya seks bebas yang mengemuka di Kota Bertakwa itu. Siapakah Kota Bertakwa itu? Jika kita merujuk ke makna referensial, maka Kendari-lah yang dimaksud, karena “Bertakwa” adalah slogan bagi ibukota Provinsi Sulawesi Tenggara tersebut. Akan tetapi, benarkah remaja Kota Kendari—meminjam dialog dalam naskah ini—banyak mengidap sipilis yang budiman? Ini adalah ihwal lain lagi. Sebuah karya sastra (drama) dapat hadir dengan gaya eufemistis, metaforis, dan dapat pula sarkastis dan hiperbolis.

            Sepertinya, ekspektasi penonton untuk menyaksikan dongeng Wandiu-Ndiu sebagaimana yang ada di ranah kelisanan Buton, tidak terpenuhi. Banyak yang menantikan lagu sedih nan pilu “Waina Wandiu-Ndiu” mengalun di atas panggung, tapi tidak terjadi. Ada pula yang berharap akan hadir silat khas Buton, serta sentuhan musik lokal Buton. Bukankah judulnya adalah Wandiu-Ndiu? Begitu kira-kira pertanyaan di benak penonton. Akan tetapi, Galih mengatakan bahwa kualitas sebuah pentas teater tidak selalu ditentukan oleh hadir tidaknya lokalitas di dalamnya. Menurutnya, nilai-nilai yang ditawarkan, menjadi salah satu faktor mendasar untuk menunjang kualitas teater. Sampai pada titik ini saya sepakat! Akan tetapi, segera harus dilanjutkan bahwa sebuah suguhan teater selain dibangun oleh nilai (pesan, makna, gagasan), juga ditopang oleh ke(aktor)an dan penyutradaraan. Artinya, kualitas sebuah pementasan dibangun bukan semata-mata oleh nilai, tetapi beberapa faktor di atas, selain banyak faktor lainnya.

            Meskipun demikian, perlu dijelaskan bahwa lokalitas tidak hanya menyangkut soal dongeng, mitos, local and wisdom genius, tetapi juga menyangkut peristiwa kekinian (dalam pengertian yang luas) di suatu kelompok masyarakat. Dalam konteks lakon Wandiu-ndiu, lokalitasnya tidak hanya terkait dengan Wandiu-ndiu sebagai dongeng/mitos sebagai suatu ingatan kolektif masyarakat, tetapi juga persoalan kehidupan seks remaja Kota Kendari. Artinya, kehidupan seksual remaja Kendari adalah suau persoalan lokalitas atau peristiwa lokal.

            Sebuah pertunjukan teater kadang tidak mengambil seluruhnya sebuah dongeng lokal secara penuh. Seorang sutradara dapat saja meminjam idenya lalu membawa persoalan itu ke kekinian. Seperti itulah tangkapan saya atas garapan Galih, sebagai sutradara. Lakon Wandiu-Ndiu diawali dengan deskripsi melalui teks di layar bahwa sang Wandiu-ndiu sangat berharap suatu waktu dapat berkunjung ke darat untuk menemui anak-anak yang selalu hadir di dalam mimpinya. Mimpi itu menjadi kenyataan. Wandiu-ndiu akhirnya ke darat dan menemui anak-anak tak berayah-ibu, sebagai akibat dari perbuatan seks bebas yang dilakukan pemuda-pemudi kota.

Permaianan Visual dan Perjuangan Aktor

            Lakon Wandiu-Ndiu benar-benar menyuguhkan pergulatan antara permainan visual dan perjuangan aktor untuk “menjadi”. Tidak dapat dimungkiri, efek visual yang berlayar di screen menjadi pemikat utama tontonan ini. Ketika simbol lingga dan yoni berbentuk naga yang berwarna merah, hadir berpilin di layar lalu diiringi musik, penonton langsung tersugesti akan daya magisnya. Di sisi lain, para aktor berupaya tampil maksimal sesuai dengan peran masing-masing. Akan tetapi di sinilah tantangan sebuah pentas yang menggunakan perangkat multidimensi, sebagian aktor kadang “tenggelam” oleh gegap-gempitanya permainan di layar. Jadi seorang aktor tidak sekadar berjuang untuk tampil bagus, juga harus berusaha “sejajar” dengan suguhan audiovisual yang sementara bergerak. Sebagian aktor berhasil tampil bagus dan prima, sebagian lagi belum memuaskan. Keberhasilan sebagian aktor memang karena ditunjang kemampuan berakting dengan baik. Sementara, ketidakberhasilan aktor yang lain, karena kemampuan dan pengalaman berteaternya masih baru.

            Aktor Topan Megabayu yang memerankan tokoh Domeng tampil bagus di tiga malam pementasan. Ia mampu menjaga stamina suara/vokal dan improvisasi yang mendukung kemampuan aktingnya. Dialog, gestur, serta gerakan tangannya hadir wajar, tidak terkesan dibuat-buat. Meskipun kehadirannya di panggung cukup lama, tetapi ia bertahan dengan permainan yang patut diberi pujian. Hal ini berbeda dengan lawan mainnya, pemeran tokoh Halimun, anak Wandiu-Ndiu, yang gagap. Kegagapan Halimun terasa tidak alamiah dan oleh karena itu terkesan dibuat-buat. Pada adegan yang panjang ini, kedua tokoh tersebut, Domeng dan Halimun, di samping hadir sebagai pelakon, juga berjuang saling menutupi dan menghadirkan celah. Atau sebaliknya, yang satu membuat celah, yang lain menutupi.

            Domeng dan Halimun adalah generasi Hip Hop. Keduanya hadir dengan pakaian ala Hip Hop yang didukung gaya bicara “anak gaul”. Domeng bahkan kadang menggunakan dialek Jakarta sebagai representasi kehiphopannya. Akan tetapi pertanyaannya, bukankah latar tempat kejadian ini adalah Kendari? Bukankah anak Hip Hop di Kendari tetap menggunakan bahasa berdialek Kendari bukan Jakarta? Selain itu, kegagapan Halimun harusnya dapat mengundang reaksi dalam bentuk tawa dan sejenisnya dari penonton, sebagaimana tokoh gagap dalam lakon Cina Moon garapan Sujiwo Tejo atau kegagapan Aziz Gagap di televisi yang langsung mengundang reaksi penonton dan pemirsa.

Pantun Politik dan Empat Lutut yang Gemetaran

Salah satu adegan panjang lainnya adalah ketika tokoh Bahlul hadir di panggung bersama Batata. Batata tertidur di atas sebuah kursi dan tiba-tiba Bahlul muncul sambil berteriak “Bulan di mulut naga”. Karena teriakannya tidak membangunkan Batata, Bahlul lalu memukul drum dan seng. Sang Batata bangun dan kembali diingatkankan bahwa sebentar lagi bulan ditelan naga. Di sinilah, kemudian Bahlul bermain pantun.

Gelap bulan gelap di kota

Sebab bulan ditelan naga

Penonton pun mengerutkan dahinya, siapakah naga itu? Dan bulan adalah simbol apa? Si Bahlul, tokoh abnormal itu, semakin menjadi-jadi. Ia memukul-mukul drum dan seng yang beradu dengan latar musik yang juga keras. Pada momen ini, telinga penonton jadi pekak karena suara musik dan pukulan Ikbal (pemeran Bahlul). Akibatnya, pantun yang diucapkan Bahlul menjadi samar karena tertimpa suara-suara tadi. Padahal, pantun inilah salah satu media penyampai pesan dan kritik sosial drama ini.

Dari mana datangnya lintah

Dari sawah turun ke kali

Dari mana datangnya cinta

Dari Jakarta ke Kendari

 

Dari segi tesktual, pantun ini bermakna bahwa cinta (baca: kebebasan seksual) yang ada di Kendari itu datang dari Jakarta. Penulis naskah drama melihat bahwa pengaruh “seks bebas” di Kendari banyak dipengaruhi oleh Jakarta. Media televisi, internet, dan telekomunikasi (Jakarta sebagai pusatnya) memungkinkan pengaruh itu masuk ke Kendari dengan leluasa. Akan tetapi, tesis sang sutradara ini tidak sepenuhnya benar, karena setiap wilayah (daerah), dari kampung, desa, dan kota memiliki warisan dan perilaku seksnya masing-masing, yang tidak selalu datang dari dan dipengaruhi oleh Jakarta. Bahlul lalu tertawa ngakak, menabuh drum, dan kembali melanjutkan pantunnya.

Gelap kota gelap di bulan

Ular naga haus hiburan

Artis dangdut diundangnya

La Batata turut gembira

 

La Batata berdendang ria

Setelah itu mati merana

            Rupanya, naga adalah simbol penguasa dan La Batata adalah simbol kaum jelata. Penonton harus berpikir ekstra untuk memaknai simbol naga dan bulan. Sedangkan bulan adalah simbol keindahan, kecantikan, atau kemolekan. Makna naga pun dapat saya artikan sebagai penguasa atau pemimpin karena di sana terdapat frase “haus hiburan”. Pemimpin yang haus hiburan. Pemimpin yang mengutamakan kepuasan profaniah dibanding kepuasan batiniah. La Batata sebagai simbol rakyat, tidak bisa tidak, merayakan kegembiraan atas datangnya artis itu. Ia menari, merana, lalu kemudian mati. Pesan yang ingin disampaikan melalui pantun ini adalah pemimpin tidak boleh hanya memenuhi kehausan dirinya dan rakyatnya pada hiburan, tetapi ia juga harus mendidik dan mencerahkan.

            Sebetulnya adegan ini sangat penting bagi pertunjukan yang digarap kurang lebih empat bulan ini. Hanya saja, vokal Ikbal sebagai pemeran Bahlul sangat serak di hari kedua dan ketiga. Ia pun tampak kelelahan di dua hari terakhir pementasan itu. Padahal, di hari pertama ia tampil sangat bagus, dengan permainan yang menawan. Seraknya vokal Bahlul, bunyi musik yang kuat, serta pukulan drum/seng yang keras, semakin memendekkan daya jangkau suaranya ke haribaan penonton yang memadati ruangan. Begitu pula pemeran Batata yang terkesan kurang improvisasi, sehingga kehadirannya kurang memberi greget.

            Pipin sebagai pemeran Wandiu-Ndiu sebenarnya tampil bagus. Vokalnya jernih. Di ujung pertunjukan, ia muncul dengan langkah pelan sambil berkata “Saya diantar menemui anak-anakku. Anak-anak tak beribu. Nak, di mana kamu? Saya rindu. Kubawakan kamu sarung, biar kulitmu tak lebih dingin dari lukamu”. Adegan ini cukup menyentuh. Wandiu-Ndiu yang muncul dari kiri panggung lalu eksit di kanan panggung, diiringi pasukan berpayung: ikan-ikan lainnya. Musik yang sedih, langkah yang pelan, dialog yang pilu, memberikan suasana seakan-akan mereka adalah pengantar mayat. Suasana berkabung hadir di atas panggung. Sebagai penonton, saya masih penasaran ingin melihat Wandiu-Ndiu (Pipin) lebih lama di panggung. Saya ingin melihat potensi keaktorannya tereksplorasi dengan baik. Akan tetapi, Wandiu-Ndiu yang ia perankan hanya hadir di awal dan akhir pertunjukan, sehingga penonton tidak melihatnya lebih lama. Hal ini juga melahirkan pertanyaan, mengapa Wandiu-Ndiu tidak dominan peran dan kehadirannya di panggung? Mengapa justru Domeng, Halimun, dan Bahlul yang tampil dengan durasi waktu yang cukup lama? Bukankah Wandiu-Ndiu yang diproyeksikan sebagai tokoh utama?

Adegan sebagai Fragmen dan Penonton yang Mencari Sugesti

            Lakon Wandiu-ndiu banyak menyisakan tanya di haribaan penonton. Ada yang menyatakan kebingungannya, bahwa setiap adegan tidak nyambung dengan adegan selanjutnya. Adegan demi adegan yang hadir seakan-akan sebuah fragmen yang terpisah. Atau dengan lain kata, alur pertunjukan ini terfragmentaris ke adegan-adegan yang tidak utuh, dengan latar dan dialog yang tidak nyambung. Kadang adegan satu, terasa sebagai suguhan realis, adegan selanjutnya, nonrealis. Pada hari pertama, sebagai penonton saya pun mengalami hal ini. Di hari kedua dan ketiga saya berupaya mengikuti secara saksama dari awal sampai akhir. Saya lalu mencoba memetik benang merah, bahwa masih terdapat kesinambungan di dalamnya. Wandiu-Ndiu yang bermimpi ingin ke darat, lalu terpenuhi, ia mengetahui praktik sesksualitas pemuda-pemudi kota, anak-anak tak berayah dan tak beribu, penguasa haus hiburan dan rakyat yang jadi korban. Lalu di akhir, Wandiu-ndiu kembali mencari anak-anaknya untuk membasuh dan mengeringkan lukanya: luka kemanusiaan. Memang kesinambungan (keutuhan) lakon ini tidak terjalin dalam alur yang biasa, apalagi ia dilatari oleh setting yang multidimensi, sehingga melahirkan “kebingungan” di tataran penonton.

Lakon Wandiu-ndiu, memang terasa penjang dengan durasi (malam pertama 1.25.35, malam kedua 1.28.45, dan malam ketiga  01.27.54). Penonton yang dari kalangan siswa SMA, mahasiswa dan umum, setia duduk menghikmati pertunjukan ini. Akan tetapi, lakon ini belum maksimal memberi sugesti kepada penonton. Keterlibatan emosi dan perasaan penonton belum sepenuhnya terjadi. Dengan demikian, komunikasi lahir dan batin antara panggung dan penonton juga belum terjalin dengan baik.

 

Artistik, Pencahayaan, dan Manajemen

        Salah satu pilar penunjang utama lakon Wandiu-ndiu adalah penataan artistik yang patut diapresiasi. Jika selama ini, arena pentas adalah panggung yang lebih tinggi di hadapan area penonton, maka untuk kepentingan tata artistik, panggung dibawa ke bawah, sejajar dengan penonton. Di sisi kanan dan kiri ruang penonton, setengahnya diselimuti kain hitam. Penonton pun duduk melantai. Pusat kendali tata cahaya berada di belakang penonton.

            Iwan Konawe adalah peñata artistiknya. Di sini, ia boleh dikatakan berhasil menerjemahkan ide sutradara menjadi bahasa visual melalui permainan warna, gambar, dan suara di layar. Bahkan garapan audiovisualnya (multidimensi) tampil kuat, sehingga di beberapa bagian lebih dominan daripada permainan aktor. Boleh dikatakan, kemasan multidimensi yang ia garap adalah kekuatan sekaligus kelemahan lakon Wandiu-ndiu. Di satu sisi, ia memberi sentuhan berbeda bagi lakon-lakon sebelumnya di Kendari, menambah kekuatan artistik Wandiu-ndiu, menawarkan keindahan visual, tetapi sekaligus meredam dialog sebagian aktor, di sisi lain.

            Di tengah pencahayaan yang bagus, terdapat kesalahan teknis yang sesungguhnya tidak perlu terjadi. Misalnya lampu yang berada di sisi kiri panggung beberapa kali menyala tiba-tiba lalu padam kembali, padahal belum dibutuhkan saat itu. Terdapat pula beberapa adegan, ketika para actor tidak mendapat siraman cahaya maksimal. Jadinya, ada aktor yang tampil samar-samar, tidak kelihatan karakternya.

Hal yang cukup berhasil dari proyek pertunjukan tersebut adalah sentuhan manajemennya. Ari Ashary menjadi pimpinan produksi memberikan pengalaman kerja manajemen kesenian yang baik. Demikianlah, sehingga lewat ilmu dan pengalamannya, menjadikan pentas Wa Ndiu-Ndiu dan Kloter-B menjadi lebih tertata dan terkendali. Ia menghubungi berbagai pihak untuk terlibat sebagai sponsor. Sehingga banyak lembaga swasta dan pemerintah menjadi sponsorship pada proyek ini. Sentuhan tangan dingin Ary juga ia perlihatkan melalui percetakan baliho dan pamplet pementasan, sehingga publikasi kegiatan ini diketahui oleh masyarakat luas. Bahkan pada malam pertama, Vice President PT Antam sebagai main sponsor datang langsung menyaksikan pertunjukan.

 

Proses dan Sekali Lagi untuk Satu Sultra

        Di belakang pertunjukan tiga malam berturut-turut itu, terdapat proses latihan kurang lebih empat bulan. Sebuah proses yang cukup ideal untuk sebuah garapan teater. Sutradara menggarap latihan keaktoran, peñata artistik mengolah rancangan artistik, pimpinan produksi mengelola manajemen proyek tersebut. Artinya, hasil yang disuguhkan di aula Taman Budaya Sulawesi Tenggara tersebut, diolah dalam waktu yang tidak singkat. Kedisiplanan dan integritas pemain dan seluruh kru, adalah dua hal yang tidak bisa ditawar. Untuk meraih sebuah kerja kolektif yang berhasil, kedua hal tersebut harus diinternalisasikan dan diejewantahkan dalam kerja nyata. Sebab jika tidak, akan berdampak pada hasil yang tidak memuaskan. Dengan segala kelebihan dan kekurangan lakon Wandiu-ndiu, kita tetap memberi dukungan dan pujian kepada Kloter-B karena mencoba memberi kita sebuah tontonan dan peristiwa teater. Semogalah peristiwa ini, dapat mendorong dan bersinergi dengan pihak lain untuk melahirkan peristiwa kebudayaan yang lainnya.

            Penonton teater Kendari, tentunya masih menunggu garapan Kloter-B berikutnya. garapan dari sutradara Al-Galih selanjutnya. Lakon Wandiu-Ndiu adalah garapan perdana Galih yang tentunya terdapat plus dan minus-nya. Penonton masih membutuhkan style garapan Galih dan kemudian menempatkannya sebagai salah seorang sutradara yang berbakat, di antara sutradara-sutradara muda lainnya di Kendari. Kloter-B dalam konteks ini, tidak sekadar menghadirkan tontonan teater, tetapi juga mengamalkan penataan manajemen sebuah produksi kesenian (teater).

            Yah, kita tidak berharap banyak. Penonton masih menanti pementasan, sekali lagi  untuk satu Sultra!

 

Gambar

About syaifuddingani

SYAIFUDDIN GANI lahir di Kampung Salubulung, Mambi, Kabupaten Polewali Mandar, Provinsi Sulawesi Barat, September 1978. Bergiat di Teater Sendiri Kendari. Sajak-sajaknya dimuat diberbagai majalah sastra, Koran, dan antologi bersama. Bulan Agustus 2009, mengikuti Perogram Penulisan Majelis Sastra Asia Tenggara (Mastera) bidang Esai. Bekerja di Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara. Memiliki istri dan satu anak yang dicintai. Email: om_puding@yahoo.com dan HP 081341677013.Kumpulan sajak tunggalnya Surat dari Matahari (Komodo Books) terbit April 2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s