Bermula dari Tuhan Maha Romantis

Standar

Oleh: Syaifuddin Gani

 

Ya Tuhan yang Maha Romantis,
jadikanlah
aku puisinya
dan
dia puisiku
Terimakasih banyak
(2011)

           

Keromantisan dan Hasrat Seksual

Sajak di atas mendapat tanggapan yang cukup kritis dari Patta Nasrah, salah seorang pembahas sajak-sajak Deasy Tirayoh yang terhimpun di dalam buku puisi 9 Pengakuan, Seuntai Kidung Mahila, dieditori Shinta Febriany, dan diterbitkan Mahila Press, Januari 2012.  Menurut Patta Nasrah, penyebutan “Tuhan yang Maha Romantis” seakan-akan sebuah penegasan bahwa Tuhan itu memiliki hasrat seksual, karena romantis itu sendiri adalah sebuah perwujudan akan adanya hasrat seksual.

Demikianlah pandangan Patta Nasrah, ketika membahas sajak-sajak Deasy pada kegiatan diskusi puisi bertajuk Pengakuan Deasy Tirayoh yang diselenggarakan Komunitas Settung berkerja sama dengan Kloter-B (Kelompok Teras Budaya) di Taman Budaya Sultra, Kamis, 22 Maret 2012. Lanjutnya, Tuhan itu tidak berkelamin, tidak beranak, dan tidak pula diperanakkan. Adanya 99 Asmaul Husna, yang menegaskan sifat-sifat Tuhan, tidak satu pun menyatakan Maha Romantis di dalamnya.  Menurutnya, sebagai penyair Deasy Tirayoh berani sekali berpandangan absurd serta menyiratkan adanya keangkuhan teologis.

Patta Nasrah kemudian mengutip salah satu lagi larik “kuampuni diriku/sebelum mengubur dirimu” adalah wujud keangkuhan teologis. Padahal, yang seharusnya mengampuni adalah Tuhan yang Maha Pengampun. Sehingga larik yang sesuai adalah “kumaafkan diriku” sebagai sikap momosisikan diri sebagai sang hamba. Akan tetapi, pendapat berbeda disampaikan Achmad Zain dan Galih Al Qandari, bahwa penyebutan “Tuhan yang Maha Romantis” adalah wujud ekspresi si penyair dengan Tuhannya, dalam media bahasa yang dianggapnya paling sesuai saat ia memetik momen puitik yang “spiritual” itu. Bahkan, Stone, sapaan karib Achmad Zain, menganggap sajak itu akan terasa lebih “sempurna” jika larik terakhir yaitu “Terima kasih banyak” dihilangkan saja. Atau jika tetap harus dipertahankan, sekalian ditambah dengan kata sapaan “nah” menjadi “Terima kasih banyak nah” sebagai wujud kedekatan atau ketiadaan jarak antara si aku lirik dengan Tuhannya.

Diskusi ini tambah menarik karena diawali pembacaan sajak-sajak Deasy oleh tiga Mahila (perempuan) yang juga penulis puisi Kendari: Sulprina Rahmin Putri, Kiki Reskyana Ilyas, dan Wa Ode Nur Iman.

Pembahasan tekstual, sebagaimana yang dikatakan salah seorang pendiri Sanggar Merah Putih di Makassar tersebut, bahwa ada benang merah “keremajaan” di dalam sajak-sajak Deasy Tirayoh, karena tema-tema masa muda banyak menghiasi sajak-sajaknya. Sajak “Nisan Itu Bernama November” adalah ikon keremajaan tematik yang bernada romantik. Inilah kutipan sajak tersebut:

 

Kuampuni diriku melalui puisi
Semua wajah
pada siang malam saat mengenalimu

Seperti ini

Telah kuampuni diriku
Jadi waktu
jadi bayangan

Riwayat yang memuara
ke laut
ke kuntum bunga
ke halaman buku
ke keabadian surga

Haruskah kecewa?
Demikianlah
November akan berganti
seperti es lalu cair kembali

Kuampuni diriku
sebelum menguburmu

 

Masa Muda dan Keangkuhan Teologis

Dari segi tekstual, sajak di atas menegasikan persoalan masa silam ‘kawin muda’ antara si aku lirik dan “sang kekasih”. Lanjut Patta, romantisme seperti ini banyak terdapat di dalam sajak Deasy Tirayoh sebagai sumber inspirasi penciptaan sajak-sajaknya. Bahkan sajak yang dikutip paling awal di atas, yang menyebut “Tuhan yang Maha Romantis” adalah bentuk permohonan kepada Tuhan agar sang aku lirik dan kekasihnya menjadi “aku puisinya/dan dia puisiku”. Sebuah permohonan romantis demi keromantisan hubungan kedua pasangan kekasih itu.

Ketika mengawali pembicaraannya, Patta Nasrah menegaskan bahwa ia selalu tergoda untuk mengetahui perjuangan ideologis sang penyair. Perjuangan ideologis seperti apa, yang sadar atau tidak sadar, termaktub di dalam sajak-sajak penyair. Dari pertanyaan awal hingga proses pembacaan itulah, Patta Nasrah kemudian menemukan adanya semacam keangkuhan teologis/idelogis di dalam sajak-sajak tersebut yang merupakan representasi penyairnya. Selain itu, Pattah Nasrah juga melihat adanya benih-benih eksistensialisme dan sekularisme di dalamnya. Hanya sayang, saat itu, sang pemateri tidak sempat mengutip larik-larik sajak yang mengindikasikan adanya benih-benih yang dimaksud. Dari penemuan ideologis itu, Pattah Nasrah menegaskan bahwa sebagai penyair Deasy Tirayoh tergolong sosok yang berani di dalam menuangkan ide-idenya, meskipun masih menyiratkan adanya ketidakstabilan emosi di dalamnya. Bahkan, atas pembacaan kritisnya itu, Patta Nasrah juga “berani” menyimpulkan bahwa sebagai penyair, Deasy Tirayoh “tidak terlalu” beragama.

Akan tetapi, pandangan seperti ini terasa tidak “adil” jika klaim keberagamaan seseorang hanya berdasar pada teks puisinya. Apalagi “hanya” ada sepuluh teks puisi dan cuma  tiga puisi yang berbicara soal Tuhan. Padahal, religiusitas seseorang lahir dari perpaduan teks-teks kehidupannya yang tak terhingga. Pandangan Patta Nasrah sebagai pembaca dan pembahas sajak-sajak Deasy tersebut, mengingatkan kita pada analisis teks-teks puisi Chairil Anwar oleh Arief Budiman dengan menggunakan pembacaan eksistensialisme yang terhimpun di dalam buku Chairil Anwar Sebuah Pertemuan (Penerbit Wacana Bangsa, 2007).

Di sisi lain, hasil pembacaan dengan pendekatan tekstual, membawa Patta Nasrah pada suatu penemuan bahwa sebagai penyair, Deasy Tirayoh telah berhasil menemukan dan memanfaatkan bahasa semaksimal mungkin sebagai sarana pengungkapan ide-idenya. Deasy mampu mengoptimalkan keterbatasan sekaligus kemampuan kata untuk hadir menjadi metafora yang kuat. Larik “Jemarimu kau simpan pada jantungku yang berdebar hingga pagi pecah” menujukkan kekuatan kata itu. Kata “pecah” adalah pengoptimalan kata dasar untuk hadir bersama kata yang lain, membentuk bangunan larik yang utuh dan kuat. Menurut Patta, seandainya kata “pecah” diawali imbuhan “me” sehingga “memecah” maka ia akan terasa lemah. Lanjut Patta, “pagi pecah” adalah bahasa laki-laki. Istilah “bahasa laki-laki” ini sebetulnya masih harus mendapat pendapat penjelasan lebih lanjut. Karena apakah “pagi memecah” misalnya adalah bahasa perempuan? Bahasa yang dianggap tidak kuat atau lemah?

Ruangan di Rumah Seni Kloter-B, tempat pelaksanaan diskusi ini terasa pengap, karena disesaki sekitar empat puluh orang peserta dari berbagai komunitas sastra dan teater, serta mahasiswa. Tidak terasa dua jumbo kopi, plus satu jumbo teh yang disiapkan panitia, hampir habis. Matahari semakin tenggelam saja. Warna kirmizinya menembus kisi-kisi jendela. Deasy Tirayoh menebar senyum romantis ke seluruh peserta,juga pada pemateri. Ia selalu ceria ditemani anak semata wayangnya, Edelweis.

Patta Nasrah telah melakukan kajian tekstual dan ideologis dengan baik di dalam menganalisis sajak-sajak Deasy.

 

 

Antara “Sinkretisme” Hanna Fransiska & Dorothea Rosa Herliany

Pembicara yang lain, Ilham Q. Moehiddin memiliki pendapat yang lain lagi mengenai sajak-sajak Deasy Tirayoh. Menurutnya, daya ungkap Deasy mengapungkan makna puisinya, menjadi luar biasa. Membaca sajak-sajak Deasy, lanjutnya, seolah-olah kita membaca “sinkretisme” antara Hanna Fransisca dan Dorothea Rosa Herliany dalam pengertian yang sederhana. Kemiripan dengan Hanna, kata spesialis penelisik sastra ini, Deasy lihai di dalam mengoptimalkan keseharian dan lingkungan terdekatnya menjadi sebuah sajak. Sajak “Kangen, Balada Hati, Catatan di Tepi Bulan, Layang-layang, dan Di Teras dengan Bunga-bunga” adalah sederet sajak yang lahir dari lingkungan keseharian penyair. Menurutnya, kelebihan Hanna Fransisca, penyair yang telah melahirkan buku puisi Konde Penyair Han, adalah kemampuannya menangkap momen-monen keseharian menjadi sebuah sajak, misalnya tentang pepaya, memasak di dapur, puisi kacang hijau, pohon jambu, dan sebagainya.

Sedangkan kemiripannya dengan Dorothea adalah daya ungkap Deasy yang liar serta kepiawaiannya mengakhiri sajaknya dengan baik. Sajak “Secangkir Purnama” adalah salah satu sajak  Deasy yang seperti itu, lanjutnya. Inilah kutipannya:

 

Senja beranjak buram menuju malam
Ruang bergerak hitam di minus retina
Kau: serupa halaman bertumbuh
bijibiji kopi
dan rimbun janji menganakpinak

Tungkai lupa harus menempuh berapa
setelah jarak sebait tanggal

Perayu,
malam di mana sama sajalah
tetapi
saat kehilangan rasa
tanpa kau sadari
purnama kelam mengapung
di cangkirmu

Akan tetapi, lanjut Ilham, karena terlalu terobsesi dengan ungkapan yang liar, sebagian sajak Deasy menjadi gelap, seperti larik berikut ini, “Tungkai lupa harus menempuh berapa/setelah jarak sebait tanggal”. Pertanyaan yang kemudian diajukan Ilham adalah, apa makna dari larik “tungkai lupa harus menempuh berapa”? Bukankah ada kesan terjadinya kegelapan bahasa dan metafora? Meskipun demikian, Ilham tetap memuji kerja kepenyairan Deasy yang mencoba mengoptimalkan penggunaan diksi yang maksimal di dalam sajaknya. Katanya, “Jarang kita temukan diksi yang ditautkan dengan diksi yang lain ut membentuk daya ungkap”!

 

Enjambemen yang “Lain”

Salah satu hal yang sangat menarik perhatian Ilham yang juga salah seorang pendiri Komunitas Settung ini adalah penggunaan enjambemen yang sangat khas dan unik di dalam sajak Deasy. Sajak “Di Teras dengan Bunga-bunga” adalah sajak yang enjambemennya “lain”. Inilah sajak tersebut secara utuh:
Seperti apa wajahmu sekarang,
Nay?
Masihkah matamu tanpa
Jiwa?

Kapan pulang?
Kita timbun lagi bijibiji
dengan cangkul kaca

Ke mana
Sobekan rok merahmu kau bawa?
Benangnya masih menggelayut di bunhbunga

Nay,
datanglah sesekali
kita tidur siang lagi
Aku tunggu di teras

2010

 

Ilham kemudian melahirkan pertanyaan, “Kenapa “Nay,” harus ke larik berikut, sementara ada “koma” di belakangnya?  Mengapa kata “Jiwa” pada larik ke empat mesti turun ke bawah, tidak menjadi bagian dari larik ke tiga? Mengapa larik “Ke mana” tidak bersambung saja menjadi satu larik dengan “Sobekan rok merahmu kau bawa”? Untuk jawaban ini, Ilham berjanji akan membuat tulisan tersendiri mengenai enjambemen sajak-sajak Deasy.

Suara Salawat dari masjid yang tidak jauh dari Taman Budaya Sultra mulai terdengar samar ketika sesi tanya-jawab saya buka, selaku moderator. Achmad Zain, penanya pertama mengatakan bahwa selain suka puisi Deasy, ia juga sangat suka status-status Deasy di akun facebook. Katanya, kesederhanaan bahasa adalah salah satu kekuatan sajak Deasy, sebagaimana kesederhanaan bahasanya di facebook. Baginya, Deasy ibarat sebuah pohon yang telah berbuah dan kita telah menikmati buahnya. Seorang penyair tidak boleh terjerembab pada hutan diksi sehingga sajaknya menjadi susah dipahami. Lanjutnya, sajak “Catatan di Tepi Bulan” adalah sajak yang menyadarkan bahwa kita masih memiliki Tuhan.  Galih Al Qandari, penanya lain berpendpat bahwa Deasy Tirayoh akan bermazhab teologi apa, itu wajar dan sepenunnya menjadi bagian dari kebebasannya.

Abdul Razak Abadi yang memiliki nama maya Adhy Rical mengatakan bahwa jujur saya tidak tahu kalau Deasy Tirayoh sebagai penulis puisi. Saya hanya kenal sebagai penulis cerpen saja. Ia sering meng-tag cerpen-cerpennya kepada saya.  Adhy juga mengeritik sampul buku yang dinilainya tidak “konsisten”. Judulnya 9 Pengakuan tetapi gambar “sel telur” berjumlah sebelas.

Ilham, sambil mengutip sebuah firman, bahwa  Tuhan itu tergantung persangkaan umatnya. Bila aku buruk di matanya, buruklah aku. Jika aku baik di matanya, baiklah aku. Pengutipan ayat Alquran ini adalah “jawaban” Ilham atas kemultiinterpretasian sajak “Tuhan yang Maha Romantis” itu. Hal yang kurang lebih sama dikatakan Pattah bahwa sajak yang bagus adalah yang multiinterpretasi. Pendapatnya yang mengatakan bahwa sajak itu seakan-akan mengandaikan bahwa Tuhan itu punya hasrat seksual karena keromantisan itu bagian dari hasrat seksual, dan bahwa larik “kuampuni diriku” adalah wujud keangkuhan teologis, sementara Achmad Zain dan Galih mengatakan bahwa itu adalah wujud/kebebasan ekspresi sang penyair, kesemuanya menegaskan bahwa sajak itu multiinterpretasi dan “berhasil”.

Kembali ke soal sajak Deasy, Pattah mengatakan bahwa ia suka absurditas dan eksistensialisme asal penulisnya konsisten akan hal itu. Saya jengkel karena penulisnya tidak konsisten, katanya sambil tertawa. Selain itu, kepasrahan Deasy pada kodrat sebagai perempuan, Pattah juga tidak setuju. Apakah memang Deasy pasrah pada yang kodrati? Apa yang kodrati pada perempuan?

 

Senja Hampir Usai dan Deasy yang Pemalu

Senja hampir usai. Pasukan malam mulai berdatangan.

Saya harus segera memanggil Deasy Tirayoh ke depan untuk menyampaikan proses kreatif, ihwal penerbitan buku 9 Pengakuan, dan menjawab tanggapan kedua pemateri. Inilah sesi yang ditunggu-tunggu. Inilah jawaban Deasy yang saya berupaya tidak menambahkurangi.

Terima kasih atas kehadiran para peserta, kata Deasy. Terima kasih kepada Komunitas Settung dan Kloter-B, yang menyelenggarakan diskusi ini. Terima kasih kepada kedua pemateri yang sangat menyenangkan.

Saya duduk di tengah-tengah pemateri, dan kata pertama yang saya ucapkan adalah “Wow”!

Seharusnya saya duduk bersama ke delapan kawan saya. Tetapi ke delapan kawan saya bermukim di kota yang berbeda jadi tidak mungkin berada di ruangan ini. Lagi pula, diskusi ini menitikberatkan pada sajak-sajak saya saja. Tidak ada kata “kebetulan” saya masuk dalam antologi 9 Pengakuan. Ini adalah berkah facebook.

Saya tidak pernah bergabung dengan komunitas apa pun di Kendari, bahkan dosen-dosen saya keget ketika tahu saya menulis puisi.

Saya menulis di sebuah ruangan, kontemplasi, lahirlah beberapa karya.

Saya adalah seorang yang sesungguhnya pemalu. Bahkan jarak terjauh yang saya lalui adalah ketika keluarga pindah ke Kendari dan  ke Makassar untuk bedah dan lounching buku ini.

Teman-teman facebooker di Makassar melirik saya dan terlibat dengan proyek ini.

Kemudian saya terima sebagai momen untuk keluar dari kamar. Saya kirim karya yang saya simpan dari kamar rahasia di sebuah di folder yang saya  kunci.

Puisi adalah hal terdekat dan misteri paling jauh.

Puisi ini (maksudnya buku 9 Pengakuan) lahir karena kami bukan kebetulan perempuan tapi karena ingin menunjukkan aktualisasi di khazanah sastra Indonesia.

Harusnya memang saya banyak belajar.

Bapak saya calon pendeta mengawini ibu saya yang Islam. Kemudian bapak saya menjadi mualaf.

Apakah pengakuan Deasy tersebut dimaksudkan untuk menjawab klaim Patta Nasrah soal keberagamaan Deasy? Demikianlah serentetan pengakuan sekaligus pembelaan Deasy Tirayoh atas sajaknya dan atas pembahasan pemateri.

Sayang sekali, Magrib akan segera tiba, jadi sesi pertanyaan dari forum untuk Deasy sebagai penulisnya, saya tiadakan. Masih banyak peserta yang ingin bertanya. Sebaliknya, kedua pemateri dapat bertanya langsung kepada Deasy, tetapi juga harus ditiadakan, demi menyongsong panggilan Tuhan, menunaikan ibadah Salat Magrib.

Patta Nasrah dan Ilham Q. Moehiddin telah menggunakan haknya sebagai pembaca untuk menilai dan mengkritisi sajak-sajak Deasy. Tentunya, hasil pembacaan itu dilakukan oleh dua orang yang berperan sebagai pemateri diskusi saat itu. Artinya, masih akan banyak hasil pembacaan yang bisa saja berbeda yang dilakukan oleh pembaca-pembaca yang lain.

Tradisi kesusastraan yang sehat dan bernas hanya akan lahir dari proses kritisisme seperti ini. Ada karya, ada kritik, ada diskusi, ada dialektika.

Bagi saya, ada sajak Deasy yang sangat menantang untuk didiskusikan, yang terlewati pada diskusi ini. Saya tidak tahu, apakah kedua pemateri merasa tidak “tertarik” atas sajak itu atau sengaja melewatinya. Sajak itu menggukan kata “pintu” sebagai kata kunci utama yang di setiap bait, bisa saja memiliki makna yang berbeda-beda, atau makna yang sama sekali sama. Dengan kata lain, “pintu” yang dimaksudkan adalah sama. Sebagai moderator atau seorang pembaca, sajak ini mengandung “kontroversi” mengenai para penjaga pintu itu.

Mengakhiri tulisan ini, saya mengutip sajak Deasy Tirayoh yang saya maksudkan di atas:

 

Dongeng: Di Pintu Ibu

Pada zaman dahulu kala, pintu itu dijaga oleh raksasa. Matanya nyalang. Giginya panjang. Rambutnya berantakan

Pada zaman pascadahulu kala. Pintu itu dijaga nabi berjanggut panjang. Matanya penuh sabda. Bibirnya bergelantung mantramantra

Pada zaman setelah itu. Pintu itu tak lagi berpenjaga. Lama

Nak,
Di zaman sekarang, pintu kamu jaga baikbaik. Kelak kamu akan mengerti, rahim itu lebih suci dari air zamzam dan Sungai Gangga

 

Kampus Unhalu, 2007

 

Sebagai moderator, tentunya salah satu kewajiban saya adalah merangkum keseluruhan ide, pertanyaan, dan jawaban di dalam diskusi ini. Inilah semacam rangkuman saya atas pemikiran yang terserak dan saya coba mengumpulsatukan. Saya menutup tulisan ini, sambil mengutip sajak Chairil Anwar, Rumahku dari unggun-timbun sajak∕ Kaca jernih dari luar segala nampak!

 

                                                            Puri Tawang Alun 2,  26-27 Maret  2012

About syaifuddingani

SYAIFUDDIN GANI lahir di Kampung Salubulung, Mambi, Kabupaten Polewali Mandar, Provinsi Sulawesi Barat, September 1978. Bergiat di Teater Sendiri Kendari. Sajak-sajaknya dimuat diberbagai majalah sastra, Koran, dan antologi bersama. Bulan Agustus 2009, mengikuti Perogram Penulisan Majelis Sastra Asia Tenggara (Mastera) bidang Esai. Bekerja di Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara. Memiliki istri dan satu anak yang dicintai. Email: om_puding@yahoo.com dan HP 081341677013.Kumpulan sajak tunggalnya Surat dari Matahari (Komodo Books) terbit April 2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s