Sepak Bola, Bukti Jahil, dan Kesejatian

Standar

Minggu, 26 Desember 2010, Stadion Bukit Jalil, Malaysia, membahana. Ia jadi saksi, bagaimana Indonesia ditekuk 3-0 oleh Malaysia. Harapan kolektif bangsa Indonesia, untuk mengangkat Piala AFF seakan-akan hanya mimpi belaka. Buyar. Gol demo gol yang tercipta di babak kedua, seakan-akan adalah penalti demi penalti terhadap jantung pemartabatan bangsa. Betapa tidak, lima kali berturut-turut kuku-kuku Garuda mengoyak jala gawang lawan sebelumnya, harus takluk secara telak dalam kali satu permainan. Cahaya kemenangan yang telanjur menghiasi cakrawala harapan kita, tiba-tiba redup.

 

Sepak Bola, Bangsa Bermarwah, dan Korupsi

Indonesia telah lama kehilangan kebanggaan sebagai sebuah bangsa yang bermarwah. Hampir-hampir tidak ada alasan untuk berbangga bagi anak-anak negeri yang pekikan kemerdekaannya dikobarkan ke seluruh penjuru dunia sejak  tahun 1945 silam. Sebaliknya, rongrongan demi rongrongan yang lahir dari tubuh bangsa sendiri, membetot dan menggerogoti martabat negeri “rayuan pulau kelapa” ini. Kebangkitan korupsi, markus, dan permainan cantik pelakunya adalah fenomena menyakitkan. Kolusi, nepotisme, teror, pornoaksi, pornografi, politik pencitraan, dan pelesiran wakil rakyat ke luar negeri yang menuai polemik adalah sederatan kenyataan pahit yang ikut meruntuhkan harga diri bangsa.

Sepak bola, tiba-tiba menjadi seakan-akan harapan satu-satunya untuk mengembalikan kedigdayaan bangsa. Jika timnas dapat meraih piala bergengsi di kawasan Asia Tenggara ini, dukalara yang membalut tubuh bangsa, seakan-akan raib. Sebagai bangsa, kita dapat berdiri tegak di hadapan kedigdayaan bangsa lain. Tak heran, puji-pujian terhadap Oktovianus dkk menjadi pembicaraan seantero nusantara. Euforia tumbuh jadi bunga-bunga di langit Indonesia. Sosok para pemain diekspos sedemikian rupa.

 

Bukit Jalil dan Bukti Jahil

Awalnya, gara-gara sinar laser yang disenterkan kepada wajah pemain Indonesia. Kiper Markus kemudian mengajak kawan-kawannya untuk menghentikan permainan. Keadaan sedikit tegang. Sepak bola ternoda. Sinar laser adalah “cahaya hitam” bagi sepak bola dan apa boleh buat, wajah Malaysia tercoreng dengan tindakan brutal ini. Pelakunya adalah contoh manusia yang menciderai dan menghalalkan kemenangan dengan cara yang tak fair. Indonesia punya alasan, dari peristiwa cahaya berwarna kolor ijo inilah, kekalahan mendapatkan pintunya, meskipun bukan faktor satu-satunya.

Seorang suporter fanatik yang duduk di kursi samping saya di sebuah kafe di kawasan ruko Wua-Wua, Kendari, saat menonton, tak henti nyerocos sejak lagu Indonesia Raya dikumandangkan. Sepanjang pertandingan, ia terus mendukung pemain Indonesia dan menghardik pemain lawan. Akan tetapi, semangatnya perlahan lunglai, ketika gol demi gol mengoyak jala suami Kiki Amalia. Ia pun memvonis pelaku penyenteran sinar laser itu sebagai biang. Ia, seperti juga seorang musisi kawakan tanah air di atas, mengatakan bahwa tindakan itu adalah hal kecil dan dapat pula dilakukan kelak di Gelora Bung Karno.

Muncul kekhawatiran, jangan-jangan keinginan tersebut, mewakili ribuan pendukung fanatik sepak bola kita. Katanya, sebagaimana kita saksikan di layar kaca, ia juga mampu melakukan hal kecil itu. Inilah kekhawatiran utama kita, seandainya Indonesia menang tapi tetap kalah di GBK 29 Desember mendatang, akan berubah jadi bencana yang lain. Malaysia telah tercoreng dengan cahaya laser yang seperti siluman saja di tengah puluhan ribu pendukung yang memenuhi Bukit Jalil. Akan tetapi, jika kekecawaan karena gagal meraih mimpi itu misalnya, diaksentuasikan melalui tindakan yang tidak fair pula, wajah Indonesia pun akan tercoreng, malah mungkin akan lebih bopeng dan moreng. Karena, ada alasan untuk melakukan itu: sinar laser Bukit Jalil. Yah, sinar laser di Bukit Jalil adalah bukti jahil yang akan dikenang dalam waktu yang amat panjang!

 

Kesejatian, dan Gol Bunuh Diri

Penjarahan sekitar 2.500 tiket final Piala AFF oleh orang-orang tak bertanggung jawab di Stadion GBK beberapa saat lalu, adalah salah satu kenyataan tak indah. Sebuah alamat tak sedap. Sementara itu, penonton di luar Stadion GBK nantinya tetap akan banyak, bisa menjadi ancaman tersendiri bagi persepakbolaan kita. Terbatasnya kursi penonton bisa melahirkan “permainan sepak bola” yang lain di luar stadion. Jika tidak terkontrol, kengerian akan membayang-bayangi. Fanatisme berlebihan bisa berdampak penyesalan. Sejarah membuktikan, pencinta “sejati” sepak bola, bisa melakukan apa saja. Akan tetapi, saya bangga dengan pernyataan seorang suporter Indonesia di salah satu stasiun televisi bahwa kita bisa melakukan kejahilan serupa dengan apa yang dilakukan suporter di Bukit Jalil, bahkan bisa jauh lebih jahil lagi. Namun, kita masih menjunjung tinggi sportivitas dan mencintai timnas ini. Kita tidak ingin tindakan jahil itu bisa berbuah hukuman bagi tim Merah Putih oleh FIFA, tandasnya. Sebuah sikap yang jujur, dewasa, dan sejati!

Meraih kesejatian butuh kejujuran dan keluhuran. Itulah sebabnya, sikap yang dipertunjukkan pihak tertentu, sebagaimana yang banyak diungkit sekarang ini, yang memancing “ikan” di lubuk kesuksesan timnas kita, layak dikritisi. Tiba-tiba Alfred Riedl seakan-akan bukan penguasa tunggal atas tim asuhannya. Ada “kaki” lain yang ikut memainkan bola kekuasaannya. Timnas menjadi pembicaraan publik, maka ia dipandang bisa melahirkan manfaat bagi kepentingan yang lain. Jika keberhasilan itu dianggap buah dari usaha kelompok tertentu, maka logikanya, sang pengusaha itu pun meraih kesuksesan di mata publik.

Kenyataan ini bisa menjadi “gol bunuh diri” terhadap persepakbolaan kita. Akan tetapi logika itu tidak selalu berhasil di lapangan. Mungkin, karena Tuhan melihat gelagat ini dan ingin membersihkan tubuh sepak bola kita dengan jernih, maka Ia memperlihatkan kepada kita kebenaran yang lebih bisa diterima. Bahwa niat baik dan sejati itu harus disertai ketulusan dan keluhuran.

Terlepas dari berbagai persoalan di atas, sebagai anak bangsa, saya berharap, di leg terakhir nanti, Indonesia bisa menang dengan selisih empat gol ke atas. Dengan demikian, Tim Garuda dapat mengangkat Piala Kesejatian itu ke langit ke cakrawala udara tanah air. Dan ajang Piala AFF dapat menjadi momentum kelahiran kembali. Kembali kepada kesejatian, kejujuran, atau sportivitas. Sebab sejarah selalu mencatatnya!

About syaifuddingani

SYAIFUDDIN GANI lahir di Kampung Salubulung, Mambi, Kabupaten Polewali Mandar, Provinsi Sulawesi Barat, September 1978. Bergiat di Teater Sendiri Kendari. Sajak-sajaknya dimuat diberbagai majalah sastra, Koran, dan antologi bersama. Bulan Agustus 2009, mengikuti Perogram Penulisan Majelis Sastra Asia Tenggara (Mastera) bidang Esai. Bekerja di Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara. Memiliki istri dan satu anak yang dicintai. Email: om_puding@yahoo.com dan HP 081341677013.Kumpulan sajak tunggalnya Surat dari Matahari (Komodo Books) terbit April 2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s