Agama, Islam, Arab, Budaya, dan Nusantara

Standar

ali-musthafa-yakub_20150621_034427Merdeka.com – Polemik istilah Islam Nusantara muncul saat Presiden Joko Widodo memberi penyataan soal kontroversi tilawah langgam Jawa. Jagad media sosial pun ramai akhir bulan lalu dengan istilah Islam Nusantara. Banyak yang mengatakan, muncul nama Islam Nusantara untuk menghapus istilah Islam Arab.

Lalu bagaimana pandangan Imam Besar Majid Istiqlal, Ali Mustafa Yaqub. Kepada merdeka.com, Kiai Ali menjelaskan pandangannya sebagai salah satu ulama di Indonesia. Dia mengatakan jika sejatinya, istilah Islam Arab dan Islam Nusantara itu tidak ada.

“Tidak ada Islam Arab, tidak ada Islam Nusantara,” katanya saat berbincang dengan merdeka.com di Kantor Bank Bukopin Syariah, Jalan Melawai Raya, Blok M, Jakarta Selatan, kemarin.

Namun dia menegaskan jika agama dan budaya tidak bisa dipisahkan. “Budaya Indonesia tidak perlu kita lawan sepanjang itu tidak bertentangan dengan Islam,” ujarnya.

Berikut ini kutipan penuturan Ali Mustafa Yaqub soal Islam Nusantara kepada Arbi Sumandoyo di sela waktu sibuknya.

Apa pandangan anda soal Islam Nusantara?

Kalau seperti apa, saya tidak tahu persis. Saya bukan yang melontarkan ide itu ya. Tapi begini, Islam itu adalah agama, lalu Nusantara adalah budaya. Budaya atau geografi, jadi kalau yang dimaksud Islam Nusantara itu adalah Islam yang diwarnai dengan corak budaya nusantara, seperti saya ini pakai peci, kan nusantara. Kalau seperti itu saya mendukung sekali. Tapi kalau itu bersumber dari ajaran-ajaran yang berkembang di nusantara, itu saya tolak.

Ajaran yang berkembang di nusantara sebelum Islam apa? Kan klenik dan sebagainya, tahayul itu mau dijadikan, saya menentang keras. Tapi kalau yang dimaksud adalah Islam yang diwarnai dengan corak budaya nusantara itu engak ada masalah.

Cuma saya melihat kenapa ada ide seperti itu, orang seperti itu sebab belakangan berkembang dari segala apa yang dari Arab, bahkan yang dari nabi itu bakal dijadikan agama. Artinya apa yang berasal dari nabi mesti diikuti. Padahal yang dari nabi ada dua macam. Yang agama dan budaya. Nabi sendiri mengatakan begini,” kalau aku memerintahkan kepada kamu dan itu merupakan agama, maka kamu wajib mengikuti. Tapi kalau yang saya perintahkan itu adalah pendapat saya, maka saya adalah manusia biasa.”

Nah apa yang datang dari nabi itu ada tiga hal. Pertama aqidah, ibadah, ada yang bidangnya muamalah. Nah ini masuknya budaya. Kalau bidang agama, aqidah dan ibadah harus kita ambil. Gamis yang dikalungkan. Itu adalah budaya orang Arab pada masa nabi seperti itu. Apa yang pakai sorban itu bukan cuma Rasullullah, abu jahal juga pakai sorban. Nabi sendiri mengatakan perbedaan sorban kami dengan sorban orang-orang musryikin adalah memakai peci kemudian memakai sorban.telokmanokmosque02dy7

Cuma kalau orang Islam kalau pakai peci dulu kemudian pakai sorban, sorbannya akan lebih srot. Karena dipakai untuk ruku dan sujud. Pada musyrikin itu kan enggak ada srot-srotan, yang penting ada ubel-ubel begitu. Jadi itu kata para ulama bukan agama, itu budaya. Nah artinya apa, budaya orang arab tidak harus kita ambil. Kalau itu baik ya tidak apa-apa. Kalau sorban saja. Tapi jangan mengatakan kalau tidak memakai sorban tidak mengikuti nabi. Itu akan saya lawan duluan dan itu bertentangan dengan ajaran nabi sendiri.

Memang Al-quran mengatakan apa yang berasal dari nabi ambil, apa yang dilarang tinggalkan. Itukan sifatnya umum. Nah sekarang banyak orang menginginkan apa yang dilakukan nabi itu harus kita lakukan. Seperti pakai sorban, itu silakan. Tapi jangan ambil sorbannya saja, nabi tidak pernah makan nasi. Kamu jangan makan nasi. Itukan budaya. Pakaian misalnya, Islam itu tidak pernah membatasi tentang bentuk pakaian. Pakaian itu secara kriteria P4, pertama tutup aurat, tidak transfaran, tidak menyerupai lawan jenis.mesjid-kuno-bayan-beleq

Kemudian ditambah lagi adabnya misalnya, bukan pakaian zuhroh, pakaian popularitas. Berarti pakaian berbeda dari apa yang digunakan orang-orang di sekitar kita. Kemudian bahannya yang tidak diharamkan, sutra bagi laki-laki misalnya. Kalau itu terpenuhi semuanya, mau model apa silakan. Orang Amerika pakai dasi silakan, siapa mau larang. Orang China mau pakai baju China silakan.

Sekarang kalau orang Indonesia pakai sarung, pakai peci, itukan nusantara. Nah kalau itu yang dimaksud saya dukung betul.214854_masjid-agung-djenne_663_498

Bagaimana cara memposisikan Islam di tengah budaya Indonesia ini?

Budaya Indonesia tidak perlu kita lawan sepanjang itu tidak bertentangan dengan Islam. Tapi kalau budaya nusantara itu berjudi ya jangan.

Contoh konkretnya?

Anda pakai baju ini budaya enggak? Yang pakai peci ini budaya enggak, berlawan dengan Islam? Orang-orang pakai baju batik budaya mana itu, sarung budaya mana itu, kan bisa menjadi budaya nusantara, ya kan? Dan itu tidak bertentangan dengan Islam. Tapi kalau budayanya itu harus pakai koteka, itu tidak boleh. Jadi jangan terlalu kaku lah. Tapi ada sekarang ini yang ingin mengamankan budaya, nah itu yang saya tidak sependapat. Budaya Arab itu wajib kita kerjakan sama seperti agama, itu tidak benar seperti itu.

Bagaimana Islam melihat tahlilan dalam tradisi nusantara, misalnya peringatan tujuh hari atau empat puluh hari kematian?

PADANG, 4/11 - BELUM RAMPUNG. Masjid Raya Sumbar terlihat masih dalam proses pengerjaan di Jalan Khatib Sulaiman, Padang, Sumbar, Minggu (4/11). Masjid yang akan disebut sebagai masjid termegah di Asia Tenggara dengan daya tampung 12 ribu jemaah dan biaya pembangunan mencapai Rp332 miliar itu masih belum rampung, kini dilakukan pembangunan shelter, pembangunan menara sebanyak 5 tiang dan pelataran parkir. FOTO ANTARA/Iggoy el Fitra/12

PADANG, 4/11 – BELUM RAMPUNG. Masjid Raya Sumbar terlihat masih dalam proses pengerjaan di Jalan Khatib Sulaiman, Padang, Sumbar, Minggu (4/11). Masjid yang akan disebut sebagai masjid termegah di Asia Tenggara dengan daya tampung 12 ribu jemaah dan biaya pembangunan mencapai Rp332 miliar itu masih belum rampung, kini dilakukan pembangunan shelter, pembangunan menara sebanyak 5 tiang dan pelataran parkir. FOTO ANTARA/Iggoy el Fitra/12

Tahlilan itu, jangankan tahlilan, sembahyang aja budaya dengan agama. Ritualnya kan agama, ibadah. Tapi pakai bajunya gimana, kan budaya, itukan menyatu, makanya tidak bisa mau memisahkan ibadah tidak bersinggungan dengan budaya tidak mungkin. Apa kita mau sembahyang telanjang, coba bagaimana. Kalau kita pakai jas itukan budaya barat. Berartikan ada agama bersinggungan dengan budaya.

Tapi banyak yang mengatakan jika tahlilan seperti itu tidak dilakukan oleh nabi?

Tidak semua yang tidak dilakukan oleh nabi itu tidak boleh dilakukan. Rasulullah tidak pernah haji dua kali, Rasulullah tidak pernah umroh pada bulan Ramadhan. Kenapa orang lakukan itu. Tahlilan itu budayanya apa? Kumpul-kumpulnya itu budaya, tapi bacaan Al-quran itu bukan budaya, tapi ibadah. Baca salawat itu ibadah. Baca tahlil, tasbih itu semuanya ibadah. Kumpul-kumpulnya itu budaya. Sulit beribadah tanpa mencampuri budaya.

Lalu bagaimana dengan Maulid Nabi?

20111008122438Maulid Nabi itu budaya. Tapi membaca Alqurannya ibadah, baca shalawatnya ibadah. Menyantuni anak yatimnya ibadah, berdoanya ibadah, ceramahnya ibadah. Tapi itu dikemas dalam bentuk budaya. Coba sekarang anda sembahyang tanpa budaya sama sekali. Coba bayangkan sembahyangnya bagaimana? Apa telanjang?

Kita pakai sarung, pakai peci itu budaya kita. Islam kan tidak menentukan sarung. Kan tutup aurat, lalu kalau pakai daun pisang boleh?

Bagaimana menurut anda cara Islam masuk ke Indonesia dan perkambangannya sekarang?

Islam melalui perdagangan hanya penyebarannya saja, tidak ada masalah itu. Mau perdagangan, yang jelas begini, yang saya ketahui kalau dibanding penyebaran Islam di seputaran Arab ini, Islam masuk di Indonesia tanpa ada peperangan sama sekali. Jadi masuknya itu dengan jalan damai. Tapi harus diketahui pada saat itu ada dua imperium, Romawi dan Spartly, yang dalam situasi perang terus. Ketika menyebarkan Islam pun dalam faktor perang juga dan di Indonesia itu tidak ada. Itu yang saya ketahui begitu. Jadi dalam penyebaran Islam di Indonesia tidak ada perang.

Dan itu yang menjadikan Islam Indonesia lebih dikenal dengan budayanya?

Yah betul. Jadi begini juga. Yang kedua, ada upaya gerakan untuk menjadikan budaya Arab itu sebuah agama. Itu sebuah kewajiban, apa yang datang dari nabi tanpa dipilah-pilah harus diikuti termasuk pakainnya harus diikuti, makannya harus begini. Dan makan pun itu antara Agama dan budaya. Kalau kita makan dengan tangan kanan, diawali Bismillah dan diakhiri dengan hamdalah, itukan agama. Bahkan saya tidak tahu budaya itu masuk wilayah hewan misalnya? Ada memang hewan berbudaya?

Untuk membedakan agama dengan budaya, perbedaannya begini. Kalau perbuatan itu dilakukan oleh umat Islam saja, tandanya itu apa. Kalau perbuatan itu dilakukan oleh orang Islam dan non Islam, itu budaya. Contohnya begini, pakai baju itu budaya, non muslim juga memakai baju. Tapi memakai baju dengan kriteria yang saya sebutkan tadi, itu hanya diperuntukan untuk orang Islam. Makan pun budaya, yang dilakukan oleh orang non muslim dan muslim. Tapi ketika makan dengan tangan kanan diawali dengan bismilah dan diakhiri dengan hamdalah itu adalah agama.

7655f-mosque_shah_faisal_masjid_sJadi harus bedakan mana budaya, mana agama. Yang datang dari nabi itu merupakan agama, kata Rasulullah wajib menaati. Tapi yang bukan merupakan agama, pendapat Rasulullah sendiri tidak harus dianjurkan. Sekarang kan anda tahu, sampai pengobatan Arab saja mau dijadikan agama. Kemudian bekam begitu, saya itu pernah mencoba untuk bekam. Apa ilmu yang saya dapat, saya tanya tukangnya itu “ini alat-alat bekamnya beli dimana? Ini buatan china,”. Pengobatan nabi, ini buatan China. Berarti orang China punya budaya berbekam itu. Mungkin bekam itu bukan agama, tapi budaya.

Sekarang sedang ramai orang pakai batu cincin. Nabi pakai cincin, orang yang non muslim juga pakai cincin. Apakah orang yang pakai cincin itu merupakan pengikut Rasulullah? Itu budaya, karena orang non muslim juga pakai. Makanya yang budaya itu, anda mau pakai silakan tidak pakai juga silakan. Tapi dengan catatan, kalau anda mengambil budaya Arab atau budaya Nabi, apakah bercincin atau sorbanan, jangan mengatakan orang yang tidak memakai cincin, bukan pengikut nabi. Itu nanti yang akan saya lawan.

Dan sekarang itu terjadi?

Terjadi.

Banyak yang tidak dilakukan oleh nabi lalu dilakukan dan berujung pada pengkafiran?

Nah itu yang saya tidak setuju. Saya dulu pernah, 20 tahun yang lalu di kawasan Tomang ada pengajian, penghuninya anak dan bapak pakai sorban, pakai jubah. Anak kecilnya itu umurnya mungkin 8 tahun. Sorbannya itu sampai tengkleng. Namanya anak lucu kalau dipakaikan itu. Lalu bapaknya ngomong apa? “Iya mulai menjalankan sunnah nabi itu harus sejak kecil”. Jadi dia mengatakan pakai sorban itu sunnahnya nabi. Kata para ulama, sorban itu bukan ibadah tapi tradisi. Nah kita kadang tidak membedakan mana yang agama dan budaya. Sehingga kita akan mengagamakan budaya. Nah yang perlu dipertimbangkan bagus mungkin membudayakan agama.

Yang dimaksud membudayakan agama ini adalah membiasakan mengamalkan sebuah rutinitas ajaran agama. Itu yang menjadikan membudayakan agama, itu bagus. Tapi kalau mengagamakan budaya, budaya itu setiap bangsa itu berbeda, setiap daerah berbeda. Islam itukan universal. Silakan saja.

dkaSAArtinya Islam itu bukan Islam Arab atau Islam Nusantara?

Tidak ada Islam Arab, tidak ada Islam Nusantara. Makanya saya katakan sebenarnya tidak usah bikin-bikin istilah Islam Nusantara. Islam ini cukup sumbernya Al-quran. Tapi tadi Islam yang diwarnai budaya nusantara, tidak apa-apa. Sekarang begini, misalnya lebaran. Lebaran itu agama atau budaya? Sembahyangnya agama, ketupatnya budaya. Ketupatnya saja hanya sebagian daerah kok. Ada yang pakai lepet. Itu simbol-simbol budaya.

Ketupat itu rapet, lepet itu erat, itu simbol-simbol hari raya. Yang menurut saya tidak benar adalah yang itu tadi, semua yang bersumber dari nabi itu agama. Pakai sorban, nanti pakai cincin, dan sebagainya dan itu yang akan merusak Islam itu sendiri.

Sumber: http://www.merdeka.com/khas/tidak-ada-islam-arab-dan-islam-nusantara-wawancara-ali-mustafa-yacub-1.html

Pengakuan Internasional Laskar Pelangi: Antara Klaim Andrea Hirata dan Faktanya

Standar

Oleh Damar Juniarto*

Andrea-Hirata-001

Andrea Hirata (Sumber: wizzamcustoms.blogspot.com)

DELAPAN tahun setelah terbitnya Laskar Pelangi melalui penerbit Bentang Pustaka dilansir kabar yang sangat menyenangkan untuk didengar. Andrea Hirata, penulis kelahiran Belitung yang menulis seri kisah anak lelaki bernama Ikal dari pulau Belitung yang miskin tetapi akhirnya sukses, aktif mengabarkannya lewat beragam media, baik mainstream maupun akun media sosialnya. Pertama, ‪Farrar, Straus and Giroux‬ (selanjutnya disingkat FSG) akan mencetak Laskar Pelangi di bulan Februari 2013. Andrea Hirata adalah penulis pertama dari Indonesia yang mendapat kesempatan dari penerbit yang terbiasa mencetak karya-karya sastrawan dunia. Kedua, Laskar Pelangi mendapat pengakuan sebagai “International Best Seller”. Ini didasarkan atas pencantuman label di bagian atas sampul Laskar Pelangi terbitan dari negara Turki.

Kedua kabar ini tidak secara serentak diberitakan, melainkan bertahap disampaikan. Semua mulai bergulir sejak terjemahan Laskar Pelangi lebih dulu dicetak oleh penerbit-penerbit di luar Indonesia, seperti Penguin Books dan Random House dan kemudian dipasarkan ke lebih dari 20 negara. Siapapun orang Indonesia pastilah bangga mendengarnya. Jarang sekali, bukan berarti tidak ada, penulis Indonesia menorehkan prestasi demikian.

original_164088_A72XqNbr4QZx3zhLkQ_pPJoAH

The Rainbow Troops (Sumber: http://www.coroflot.com)

Malahan, sebagai publisis yang bergerak di bidang buku dan film, saya nyatakan terbitnya Laskar Pelangi telah mengubah lanskap sejarah penerbitan dan perfilman. Di penerbitan, Laskar Pelangi telah tercetak lebih dari 5 juta eksemplar lewat ritel resmi dan di pasar gelap mencapai 15 juta eksemplar. Itu artinya, dalam kurun waktu kurang dari satu dekade, 20 juta eksemplar dimiliki oleh pembaca. Booming karya Laskar Pelangi melahirkan genre yang dinamakan Novel Otobiografis atau biasanya saya sederhanakan artinya menjadi “novelisasi kisah hidup sendiri”. Sontak, penerbit berlomba mencari penulis yang mampu mengangkat kisah hidupnya dan sedapat mungkin dijadikan novel, hanya untuk mengikuti tren yang muncul karena Laskar Pelangi. Di film, kisahnya kurang lebih sama. Lewat tangan kreatif Mira Lesmana, Riri Riza, dan Salman Aristo sebagai penulis adaptasinya, film Laskar Pelangi mencetak angka penonton yang masih tercatat sebagai angka paling tinggi: 4.606.785 (Catatan Filmindonesia.or.id dari laporan jaringan 21 Cineplex). Sampai tahun 2013 ini, angka penonton ini hampir saja dilampaui oleh film Habibie & Ainun dengan jumlah penonton sebanyak 4.207.864. Sama halnya seperti di penerbitan, booming Laskar Pelangi menderaskan pengadaptasian buku-buku bestseller lain di Indonesia, bahkan bisa dikatakan “film adaptasi” adalah pilihan yang dipertimbangkan produser bahkan melampaui film horor.

Kalau tidak karena pernyataan sensasional yang disampaikan Andrea Hirata pada Selasa, 12 Februari 2013 dan dimuat di sejumlah media nasional, saya masih dalam kerangka berpikir yang sama. Karena pernyataan itu juga saya kemudian melakukan pengecekan ulang atas semua yang pernah dinyatakan Andrea Hirata mengenai pengakuan internasional atas karya Laskar Pelangi.

Klaim Penulis?
September 2012, Andrea Hirata memberitakan dirinya telah ditandatanganinya kontrak perjanjian dengan pihak penerbit FSG. FSG adalah sebuah penerbit yang dianggap sebagai penerbit terakhir yang hanya menerbitkan karya sastra dan terkenal karena daftar para penulis yang diterbitkan melaluinya, mulai dari karya fiksi sastra, narasi non-fiksi, puisi, hingga sastra anak. Nama-nama pemenang Nobel Sastra seperti Hermann Hesse, T. S. Eliot, Yasunari Kawabata, Aleksandr Solzhenitsyn, Pablo Neruda, Camilo José Cela, Nadine Gordimer, Mario Vargas Llosa. Begitu juga pemenang Nobel Perdamaian, tetapi yang pasti adalah para penulis pemenang anugerah sastra bergengsi Amerika Serikat Pulitzer. Nama-nama mulai Oscar Hijuelos, Michael Cunningham, Jeffrey Eugenides, hingga Marilynne Robinson ada di antara nama-nama penulis lain. Ini berarti Andrea Hirata adalah penulis pertama dari Indonesia yang bekerjasama dengan FSG.

Sebagai publisis, beruntung bahwa saya memiliki informasi yang membuat saya mampu melakukan pengecekan ke pihak penerbit. Saya melakukan pengecekan ke FSG dan Bentang Pustaka. Fakta yang menarik adalah Laskar Pelangi yang kemudian diterjemahkan menjadi The Rainbow Troops ternyata dicetak oleh Sarah Crichton Books, imprint dari FSG, yang menerbitkan beragam karya sastra dan fiksi dan non-fiksi komersil. Sarah Crichton Books menekankan pada sisi komersil. Imprint ini mencetak The God Factor karya Cathleen Falsani tahun 2006 dan karya Ishmael Beah berjudul A Long Way Gone bestseller dan buku pilihan Starbucks tahun 2007.

HirataDari informasi ini, saya melihat ada perbedaan besar antara FSG dan imprint Sarah Crichton Books. Sederhana saja, nama-nama penulis yang bekerjasama dengan Sarah Crichton Books nyaris nama-nama penulis yang asing terdengar dan di luar dari nama pemenang penghargaan Nobel/Pulitzer. Daftar penulisnya bisa dicek di: http://www.boomerangbooks.com.au/publisher/Sarah-Crichton-Books

Ketika hal ini saya tanyakan kepada CEO Bentang Pustaka Salman Faridi lewat wawancara telepon, secara mengejutkan, penerbit tidak mengetahui perihal ini. Salman tetap menyebutkan bahwa Laskar Pelangi dicetak oleh FSG dan bukan oleh imprint, dan bukan didasar atas pertimbangan komersil.

Berdasarkan fakta ini, ada detil kecil yang tidak disampaikan kepada kita sebagai pembaca/publik oleh Andrea Hirata. Informasi mengenai imprint dipotong dan diklaim bagian FSG hanya untuk kepentingan pencitraan (marketing), seolah-olah benar ada seorang penulis dari Indonesia yang telah kontrak dengan FSG.

Tetapi klaim ini kalah apabila dibandingkan dengan pernyataan Andrea Hirata berikut ini. Dalam konferensi pers Selasa, 12 Februari 2013 mengenai pengakuan “International Best Seller” dari Turki, yang dihadiri oleh media-media nasional, dilansir ucapan: “Hampir seratus tahun kita menanti adanya karya anak bangsa mendunia, tapi Alhamdullilah hari ini semua terbukti setelah buku saya menjadi bestseller dunia.” (Metronews.com)

Pengakuan Internasional?
Penerbit Turki bernama Butik Yayinlari menerbitkan Gokkusagi Askerleri dengan mencantumkan label “International Best Seller” di bagian atas sampul. “Untuk meraih predikat ‘International Best Seller’ di luar negeri tidak mudah. Paling tidak penjualan buku tersebut mencapai 70 persen di setiap negara yang menerbitkannya,” demikian disampaikan Andrea Hirata kepada pers (Antaranews.com). Tentu saja, saya langsung mencoba mencari data yang diperlukan atas apa yang disampaikan oleh penulis ini. Bagaimana faktanya?

Ketika Andrea Hirata menyatakan bahwa hampir seratus tahun tidak ada pembuktian ada karya anak bangsa mendunia, dengan mudah saya kategorikan Andrea Hirata lagi-lagi sedang melakukan klaim. Karena faktanya tidak benar demikian. Pengakuan internasional untuk karya sastra dari Indonesia tak terbilang banyaknya. Pramoedya Ananta Toer pernah mendapatkannya, bahkan sampai hari ini baru dirinyalah sastrawan dari Indonesia yang dinobatkan sebagai kandidat peraih Nobel Sastra. YB Mangunwijaya juga mendapatkan pengakuan internasional. NH Dini, yang hampir menjadi kandidat Nobel juga termasuk. Jadi klaim Andrea Hirata ini terdengar sangat mengolok-olok dirinya sendiri. Andrea Hirata telah mencederai sejarah dunia sastra Indonesia dengan menyebutkan tidak ada karya anak bangsa mendunia dalam kurun waktu hampir seratus tahun.

Satu-satunya klaim yang mendekati kebenaran adalah soal “International Best Seller”. Paling tidak, menurut saya, Andrea Hirata membawa bukti berupa sampul Laskar Pelangi versi Turki. Maksudnya mendekati kebenaran, menurut Salman Faridi, ada kemungkinan pencantuman “International Best Seller” di sampul versi Turki berdasarkan keterangan dari Kathleen Anderson dari Kathleen Anderson Literary Management, agen yang berhasil menjual Laskar Pelangi. Kemungkinan besar karena Laskar Pelangi berhasil dijual Kathleen ke beberapa negara dan ada beberapa negara yang cetak ulang. Tetapi Salman tidak bisa merinci negara mana saja. Dari berita, hanya Vietnam saja yang mencetak ulang. Lalu mana daftar negara lainnya?978-3-446-24791-8_214112515822-82-261x400

Tetapi masih terlalu cepat menyimpulkan kalau ini juga klaim. Maka saya mencari informasi mengenai kriteria “International Best Seller” dari penulis Maggie Tiojakin, yang akrab menggeluti karya-karya sastra internasional. Maggie menjelaskan kriterianya adalah cetak ulang di beberapa negara, biasanya di atas 10 negara. Setelah mendengar keterangan ini, saya menghentikan kegiatan saya untuk mencari informasi lebih lanjut. Saya tidak setuju label “International Best Seller” yang dasar penetapannya tidak jelas ini kemudian dipergunakan Andrea Hirata untuk mengolok-olok sejarah sastra Indonesia, ini jelas memprihatinkan.

Kedepankan Kejujuran
Berhadapan dengan media, memang membutuhkan news peg yang menarik. Sebagai publisis, saya paham betul apa yang dilakukan Andrea Hirata tidak lebih dari strategi marketing untuk mencitrakan dirinya sebagai penulis Indonesia berkelas dunia. Personal branding dibangun dengan membalut diri dengan informasi-informasi yang fantastis, sama seperti kisah Ikal yang ditulisnya.

Tetapi sebagai publisis, saya berpikir strategi marketing bagi penulis Andrea Hirata dengan segala klaim yang dikatakannya selama ini beresiko. Resiko yang tak seharusnya terjadi bilamana mencuat kebenaran yang sesungguhnya. Resiko yang tak perlu muncul juga seandainya Andrea Hirata lebih bijak menempatkan dirinya. Resiko ini bukan hanya berlaku bagi penulis sendiri, tetapi juga akan mengikutsertakan penerbit, juga seantero industri penerbitan dan perfilman. Pasti kita semua tidak ingin ini terjadi bukan? Maka kedepankan kejujuran, wahai Andrea Hirata.***

*Publisis buku di Tanam Ide Kreasi (@scriptozoid), Moderator komunitas Goodreads Indonesia 2008-2010, pembaca aktif

Tulisan terkait/update:
1. Bantahan Andrea Hirata di Media Online: http://www.tempo.co/read/news/2013/02/15/219461465/Andrea-Indonesia-Butuh-Kritikus-yang-Kompeten
2. Penulis Laskar Pelangi Berencana Perkarakan Blogger – Hukum Online http://www.hukumonline.com/berita/baca/lt51239affba5e9/penulis-laskar-pelangi-berencana-perkarakan-blogger
3. Email Andrea lewat kompasioner Agus Hermawan: http://media.kompasiana.com/mainstream-media/2013/02/20/andrea-hirata-menjawab-penulis-indonesia-mencari-keadilan-536494.html
4. Yusril Ihza Mahendra: http://www.tempo.co/read/news/2013/02/20/114462541/Yusril-Andrea-Hirata-Dipojokkan
5. Kontroversi Andrea Hirata, Pelajaran bagi Blogger dan Penulis – Marintan Omposungu http://media.kompasiana.com/new-media/2013/02/20/hirata-gate-dan-kebebasan-530321.html
6. Menggugat Kepenulisan Andrea Hirata – Carolus Putranto http://sosbud.kompasiana.com/2013/02/20/menggugat-kepenulisan-andrea-hirata-535582.html
7. Andrea Hirata dan Saatnya Balas Tulisan dengan Tulisan – Hazmi Srondol http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2013/02/23/andrea-hirata-dan-saatnya-balas-tulisan-dengan-tulisan-531356.html
8. 10 Kritikus Sastra bicara tentang Andrea Hirata dan Laskar Pelangi http://sosbud.kompasiana.com/2013/02/21/10-kritikus-sastra-bicara-tentang-andrea-hirata-dan-laskar-pelangi-535723.html
9. Benarkah ada saran dari Buya Syafii Maarif http://media.kompasiana.com/buku/2013/02/22/benarkah-ada-saran-buya-syafii-maarif-agar-andrea-hirata-menempuh-jalur-hukum-536140.html

Sumber: https://boemipoetra.wordpress.com/2013/02/25/pengakuan-internasional-laskar-pelangi-antara-klaim-andrea-hirata-dan-faktanya/
Diunduh tanggal 4 Juli 2015

Halaman Bahasa

Standar

: Winda

pandangpandangan

Tarakan Mei 2008 (Foto: Suami Rusmini)

Winda, di halaman rumah engkau menanam bunga
di kedalaman tanah. Akarnya kau celup ke sumsum malam
Semoga bumi meniupkan nyawa ke urat kelopaknya, katamu.

Di kamar aku memetik kata dari bunga yang kau tanam
Halaman menjelma taman bahasa, kamar menjadi bunga kata-kata
Tidak setiap inci tanah kau gali, tidak semua batang bunga kau petik
Tidak semua bahasa aku raih, tidak semua kata-kata jadi puisi

Maka halaman dan kamar bersekutu
Bahasa tidak datang sendirian tetapi digali dari kedalaman makna
Bunga tidak mekar sendirian tetapi ditanam di kegemburan tanah
Halaman dan kamar rumah silih berganti menjadi bahasa
Kamar dan halaman rumah terlahir sebagai puisi

Taman merekahkan putik
Bahasa melahirkan puisi

Winda, bunga sudah kau tanam. Malam telah kau khatam
Kadang-kadang, kulirik kau dari celah kata, di pucuk bunga kau menjadi Mawar

Kendari, 7 Januari 2013

Wakatobi

Standar

Di pulau-pulau terjauh
Gemintang bergetaran
Perahu-perahu menjauh
Lampu-lampu bertangisan

Ombak membuih
Gugur jua di pangkuan karang
Pepasir memutih
Pudar dalam rongrongan malam

Batu-batu mendesis
Dirayapi angin kepulauan
Pantai menangis
Ditinggalkan jangkar nelayan

Pangkal laut merah dan memar
Dirongrong persenggamaan alam
Gadis-gadis berdaging samar
Lambaikan senyum tangiskan salam

Kutinggalkan dermaga Wangi-wangi
Angin gemetar merangkum nafasmu wangi
Tahun depan, angin timur mengarak kenangan
Aku datang mengepang rambutmu jadi delapan

Wangiwangi, 2008

Tepi Hayat

Standar

gaza1

Gaza, sumber: internasional.gemaislam.com

Jantungku angin mataku langit
Seribu taifun mortir aku sejuta pasir

Ledakan-ledakan kepala menyoraki Gaza
Aku seliat baja engkau sebetulnya busa
Dari mulutmu luka dirajah tuba

Di liang-liang pasir Tepi Barat
Meletus anyir sampai ke tepi hayat

Aku kembali ke tengah mayat
Dalam baiat dalam rakaat berpeluru safaat
Kusongsong engkau sampai tepi kiamat

Kau renggut tanah darah
Kau reguk kembali di cangkir-cangkir neraka

gaza03_2990450b

Merah di Gaza, sumber: internasional.gemaislam.com

Nyala yang tumbuh di Gaza
Nyawa yang subur di Palestina

Kendari, 23 Januari 2009