Sejumlah Sajak Ima Lawaru

Standar

10801603_1528045574117238_5631170401792679321_n

Ima Lawaru

PADA SEBUAH JALAN

:mengenang Ambon 1999

ayah

untukmu

aku kembali

ke sini

ke sebuah jalan

yang masih enggan

ditinggalkan

oleh ingatanmu

ingatanku

bibirku

bibirmu

ayah,
pada sebuah jalan penuh liku
rinduku terus berlari menujumu
pada sebuah jalan penuh luka
yang pernah ditinggalkan tubuh pada jiwa
aku merapal doa-doa pada ruh tanpa nisan

sebuah jalan itu

pernah katamu

akan menjelma mimpi

menjelma peri

menjelma perih

tiap kali aku bangun tidur

dan tidur kembali

sepanjang tahun-tahun kesunyianku

kesendirianmu…

sebuah jalan
yang tanpa kusadari saat aku menitinya
seperti aku meniti kembali gurat wajah mama
yang tersenyum pilu di ujung jalan
ujung kenangan
ujung kisah
yang masih pekat
di ingatan

ayah
setiap inci dari jalan yang kulewati kini telah berubah
aromanya
warnanya
wajahnya
bahkan namanya
tapi
jangan khawatir yah
kenangan kita di jalan itu
masih setia ada
masih setia ada
masih setia ada
tentang
tangisan mama terakhir kali sebelum ditelan oleh jalangnya jalan ini
tetangga-tetangga yang berlarian tak tentu arah melewati jalan ini
bayi-bayi yang dilupakan dari ayunan
seorang adik yang dipaksa bercerai dari saudaranya
dua sahabat yang saling membunuh atas nama Tuhan
perempuan-perempuan yang mati diperkosa
seorang ibu menjadi gila ketika belahan jiwanya raib dari susuannya
mereka berakhir dan tergeletak di sepanjang jalan ini

semua kisah itu masih setia ada dalam ingatan jalan
seperti kesetiaannya yang hangat dalam ingatan kita
meski lembaran-lembaran waktu telah berganti kisah pada jalan yang sama
meski jalan tak pernah bisa bicara
meski sajakku kelak kehabisan kata
yakinlah ayah
kisah kita masih setia ada

ayah
percayalah
aku akan mengabarimu
tiap kali menjumpai jalan yang masih setia menimang kisah kita
mengingat langkah-langkah terakhir kita
saat napas menjadi satu-satunya harta
yang kita seret di jalan itu

kelak

kalau

anakmu tak pulang yah

jangan cari aku

jangan tunggu aku

karena jalan ini

menolak untuk kutinggalkan

lagi

North Maluku, 05 Januari 2015

LELAKI KARANG
:untuk sahabatku laode wahid

di persimpangan musim
kau menjelajahi luka lukamu
dari mimpi ibu pertiwi yang telah lama karat di bawah bantal

darah dan nafasmu melebur di tengah belantara
di antara ladang-ladang gadi dan hutan kaindea
membeku di kedalaman dua ratus meter laut waha
menjumpai kekasihmu yang dirundung duka

dunia begitu kejam katamu
pada kekasihmu yang baru saja kau kecup keningnya kemarin sore
sebelum ia meregang nyawa tanpa menitip kata dan air mata
selain meninggalkan aroma racun tanpa nama

di persimpangan abad pun
tubuhmu masih mencari diantara tumpukkan bangkai pembunuh kekasihmu
hanya luka, hanya marah, hanya tanya yang datang
segalanya menjadi hampa, sia-sia

di persimpangan jalan
alam membalut lukadukamu
sebelum akhirnya kau pulang ke pangkuan ibu

tomia-wakatobi, 06 januari 2013

catatan:
Gadi: padang rumput yang luas di tomia. Kaindea: hutan hijau yang dilindungi pemda dan adat di Wangi-Wangi. Rata-rata hutan di Pulau Wangi-Wangi dan Wakatobi umumnya mulai habis dibalak masyarakat secara liar. Sementara untuk menghijaukan hutan kembali memakan waktu sangat lama. Sebab tanah-tanah di Wakatobi umumnya gersang dan berkarang. Kaindea diadakan untuk menjaga hutan tetap asri. Waha: salah satu kecamatan di Tomia. Laut Waha adalah laut yang paling parah kerusakan terumbu karangnya di Pulau Tomia.

AYAH

dari batu-batu cadas kau lahir
di tebing-tebing pampanga kau bersua kekasihmu
pada laut bergemuruh kau bercumbu
di musim gelap
tanpa gemintang saat semua terlelap
mengail setangkup cemas dan harap

paru dan jantungmu kau gadaikan pada dinginnya laut
tapi asap rokokmu masih menjanjikan segulung kehangatan
deru nafasmu di usia yang enam puluh
diintai tiap malam kelam oleh maut di penjuru lautan

ayah,
masa depanku adalah otot-otot lenganmu
adalah dayungmu
adalah perahu tuamu
yang tak memudakanmu lagi

kau sering batuk keras, tapi katamu itu biasa saja
ibu mengomel di dapur, tak ada ikan yang bisa dimakan hari ini
isi dompet tak pernah cukup untuk sekedar pohamba-hamba

ayah,
jeritan ibu kadang lebih kejam dari badai yang menghantam
bertahun-tahun kau sudah terbiasa menelannya sebelum aku datang
tapi kau menjadi gamang kala aku minta berhenti sekolah hanya karena persoalan uang

tomia-wakatobi, 28 desember 2013

catatan:
pampanga : tebing-tebing batu dekat pantai
pohamba hamba : tradisi memberi bantuan uang , tenaga, atau pangan pada keluarga yang sedang berkabung, menikah dan sunatan bagi masyarakat tomia.

60 JAM SINABUNG

Aku
Aku gadis pengembara dari pulau kesunyian
Keluar dari rahim ibu yang dingin
Sekedar memburu kata-kata
Untuk kembali pada dekapannya yang dingin
Wakatobi
Dari Wakatobi perjalanan ini kumulai
Siapa yang tidak kenal pulau ini
Surga nyata pelaut
Tempat maut, ikan, karang dan ombak bercinta tanpa batas
Tanpa akhir?
Laut
Laut dan angin mengantarku menuju Buton
Tempat kantong-kantong aspal yang menjanjikan kehidupan
Murhum tersenyum menyambutku
Buton adalah aspal, Keraton, Wolio, Cia-Cia, Kampung Korea dan aksara Hangeulnya yang sedang tenar
Siapa yang tidak kenal?
Malam
Pada malam pekat, aku di dekap La Murhum dalam keperkasaannya, dalam kesesakannya
Sambil menunggu seseorang di dermaga
Seseorang merapat di malam sesak
Aku dan ratusan orang menghambur ke pelukannya
Sinabung
Adalah seseorang itu
Dia seperti lelaki maskulin, memikatku pada bodinya, tapi tidak di dalamnya
Seperti Mark Feehily yang gagah, tapi ternyata seorang homo
Seprti Van Damme yang perkasa mengalahkan rival-rivalnya di ring
tapi menangis cengengesan di hadapan seorang pelacur miskin
Ah, tidak mengapa
Dia membawaku dari tenggara menuju timur Indonesia, membela Laut Banda
Kecoak, bau sampah, bau amis kencing adalah kawan-kawan tidur dalam kapal manula
Aku tak bisa berkelit mencari tempat nyaman
Semua kabin sama saja
Dimana petugas kebersihan?
Dimana sapu?
Oh Indonesiaku
Buru
Buru dalam gerimis
Transit dua jam terlalu cepat
Buruh-buruh Pulau Buru tergopoh-gopoh menerobos pintu masuk
Seperti singa-singa lapar
Suaranya keras dan menakutkan
Hidup memang keras kawan
Seperti fenomena Gunung Botak di negeri ini yang selalu menelan korban
Jadi memang harus bersuara besar bila ingin didengar
Apalagi untuk buruh, orang kecil yang selalu butuh penumpang tapi penumpang yang terkadang tak butuh buruh
Lewat jendela aku menikmati Dermaga Namlea di petang itu
Sungguh romantis dalam gerimis
Apalagi menengok lampu yang berkedap-kedip di kejauhan sana
Wuiiiih…
Seperti sepasang mata Leonardo Decaprio yang sedang menggodaku
Aku kelepak!
Seolah tak peduli perasaanku, kapal bastom memekik gendang telingaku, memecah khayalanku, meninggalkan Namlea dalam kegelisahannya
Di pagi gerimis, aku tiba pada jantung Pattimura, dada Christina
Sebuah kota cinta, waktu telah banyak merubah dermaganya tapi tidak kenangannya
Ambon yang mendebarkan, aku mencintaimu apapun kenanganmu
Tentang lelaki Flores kristiani yang pernah merelakan darahnya untukku agar
bisa hidup,
tentang om Barnabas yang memberi kami tanah untuk berkebun tanpa pajak
tentang guru-guruku di Sarihalawane,
tentang kawan-kawanku dan malam natal sekolah yang selalu kurindukan,
tentang tragedi 1999 yang menelan semua kenangan,
tentang lelakiku, nyong Laha-Ambon manisee…
yang mengembalikan dan menguatkanku pada tiap kenangan
terima kasih untuknya
1800 menit saja aku di sana
Lalu Sinabung menyeretku dengan tulang-tulangnya yang ringkih
Melewati Pulau Tiga dan Pulau Seram
Tiba-tiba air mataku pecah memandangnya
Rasanya aku ingin melompat dan berenang ke sana mama
Mengulang cerita di masa kanak-kanak
Entah
Selalu saja pagi dan gerimis kami tiba di sebuah pulau
Inilah Ternate, kota Kie Raha mempesona
Dan memang sungguh mempesona!
Gerimis meledak menjadi hujan lebat
Di pucuk mataku Gamalama dan Tidore berdiri tegak menusuk langit
Ah langit
Ia sedang berkabut, tapi tidak dengan hatiku saat itu
Dadaku berdebar menatap kedua gunung itu
Ada kabut putih di atasnya
Khayalku liar segera berlari ke sana
Benarkah gunung selalu membuat kita liar dan berkhayal?
Pulau Halmahera yang memanjang dan berkabut di sebelah sini seolah menggodaku juga
Aku dilema, aku gila!
Goodbye Sinabung
Aku mau ke Morotai
Kita berpisah di sini
Ok?
Moroland, 191114

catatan: Hangeul : aksara Korea dalam Bahasa Cia-Cia yang umumnya digunakan oleh masyarakat Suku Cia-Cia Laporo di Desa Karya Baru, Kec. Sorawolio, Bau-Bau, Sulawesi Tenggara. La Murhum : “Murhum” merupakan nama pelabuhan utama di Kota Bau-Bau sedangkan “La” adalah nama panggilan untuk laki-laki pada Suku Buton umumnya. Gunung Botak: sebuah pegunungan yang dijadikan lokasi penambangan emas masyarakat Buru. Penambangan liar ini sudah banyak menelan korban karena longsornya tanah, tapi aktivitas mendulang emas belum terhenti juga. Pattimura dan Christina : nama pahlawan Ambon di zaman penjajahan. Tragedi 1999 : kerusuhan berbau SARA yang terjadi pada tahun itu yang melanda Provinsi Maluku dan Maluku Utara. Sarihalawane : sebuah nama sekolah dasar di Pulau Seram. Laha : kampung kecil di dekat Bandara Pattimura. Pulau Tiga dan Seram : pulau-pulau di Maluku. Kie Raha : nama lain Kota Ternate. Diambil dari kata “Kie” artinya lima dan “Raha” artinya gunung. Maksudnya di Ternate mempunyai lima buah gunung. Gamalama dan Tidore : dua nama gunung berapi aktif di Ternate

NYANYIAN BATU
nyanyian batu
meruntuhkan subuh
membawaku padamu

puisiku
kupungut kata-katanya dari batu
kupahat dengan batu
beraroma batu
aromanya menyebar ke penjuru kampung, ke jantung!

ratusan kaki yang pincang yang berdebu
bergerak menuju bukit batu
disana aroma dan nyanyian batu menyatu dalam batok kepalaku
lalu memecah dalam jiwa pemecah batu

sanggulahao meregang di jam 12 siang
kembang sanggula kering kerontang
panas terik memanggang
jangan dihalang!
kita masih melimba tuan

aroma dan nyanyian batu sungguh menghanyutkan
pada keluarga di rumah kami tuan
pada senyum istri dan anak, oma dan opa
yang menanti di tepi pembaringan
bersama sekantong luka ataukah harapan?

kubungkus senyum anak-anak yang buta sekolah di pengolahan
kubungkus tangis seorang bocah yang mengais batu untuk bapaknya yang kesakitan
kubungkus wajah ibunya yang menghilang dan bapaknya bersama kepasrahan
kubungkus luka dan harapan mereka yang menanti di pinggiran
kubungkus saja sebab ujung penaku tak sanggup lagi menakar semuanya
membawanya ke kampus
menyodorkan ke pak doktor dan profesor pendidikan

inilah oleh-oleh dari anak-anak sanggula tuan
anak-anak yang dari ujung palunya bisa membuat jalan untukmu tuan

catatan:

Sanggulahao:nama jembatan di Desa Sanggula Kec. Moramo utara Kab. Konawe Selatan, Sultra. Dalam sejarahnya, nama Desa Sanggula diambil dari nama jembatan ini. Kembang sanggula:bunga khas yang tumbuh di Desa Sanggula. Dalam sejarahnya pula nama Desa Sanggula diambil dari nama bunga ini. Melimba:bekerja mencungkil batu gelondongan dari bukit batu pada masyarakat Sanggula. Melimba sangat beresiko kematian. Tercatat sepanjang tahun 2004, dua warga Sanggula tewas ditindis batu, dan satu orang patah tulang. Ironisnya melimba juga mulai dilakukan oleh anak-anak. Oma:panggilan kepada ibu pada Suku Tolaki. Opa :panggilan kepada bapak atau ayah pada Suku Tolaki. Pengolahan:lokasi pemecahan batu (stone crush area).

BIODATA

Nama : Ima Lawaru, S. Pd. I
Jenis Kelamin : Perempuan
Tempat, Tanggal Lahir : Ambon, 7 Juli 1987
Kebangsaan : Indonesia
Status : Belum Menikah
Tinggi/Berat : 158 cm / 42 kg
Agama : Islam
Alamat : Desa Timu, Kec.Tomia Timur, Kab.Wakatobi, Sulawesi Tenggara.
No. Ponsel : 085241986499/085756526599
E-mail : hardinlinsfc@gmail.com
: noorwaty78@yahoo.com
Pendidikan
1993 – 1999 : Sekolah Dasar
1999 – 2003 : Sekolah Menengah Pertama
2003 – 2006 : Sekolah Menengah Umum
2008 – 2012 : Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Sultan Qaimuddin Kendari( jurusan Tarbiyah/ PAI)
Kursus, Pelatihan dan Prestasi
Kursus Bahasa Inggris selama 1 bulan (tahun 2012)
Pelatihan Forum Lingkar Pena Sultra (tahun 2008)
Basic Training/ Latihan Kader 1 HMI( tahun 2010)
Juara II Lomba pidato Bahasa Inggris tingkat jurusan STAIN Sultan Qaimuddin Kendari(tahun 2008)
Pemindai aksara dalam buku Calon Kandidat Pemimpin Kabupaten Wakatobi tahun 2011
Ikut seleksi dalam International Youth Exchange Program untuk Sultra kerjasama Menpora dan BI ( tahun 2011)
Ikut seleksi pemilihan Duta Biosfer Wakatobi 2014(September —Desember 2013) dengan proyek penelitian Abon Ikan Kembar Bulan sebagai Usaha Pelestarian Lingkungan dalam Mengahdapi Perubahan Iklim di Cagar Biosfer Wakatobi-Indonesia.
Juara harapan II dalam Sayembara Penulisan Puisi se-Sulawesi Tenggara tahun 2013 dan Juara harapan III dalam Sayembara Penulisan Puisi se-Sulawesi Tenggara tahun 2014 yang dilaksanakan Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara. Saat ini telah merampungkan sebuah novelnya berlatar “perang saudara di Ambon”.

Sajak Deasy Tirayoh

Standar

DT

Deasy Tirayoh

KAGHATI KOLOPE

Angin terhuyung menarikan kaghati kolope
Kaki-kaki menapak setumbuh lapang serta raut sedu sedan
Ada wangi serat nanas hutan ditarik ulur genggaman
Bilah bamboo menisik kelindan dedaun gadung
Berlembar-lembar serupa Tuhan menitip kisah
Riwayat yang bersekutu dengan kelana waktu

Sementara sendu angin mondar-mandir di dinding gua Liang Kobori
Salinlah dengan mata
Sebentuk lukisan layang-layang purbakala sedang mencatat kitabnya sendiri

Maka, biarkalang jatuh tersungkur
Oleh angin yang lunglai atau temali yang lalai
Ia telah melanglang menantang umur
Sedemikian panggung alam bijak membumi

Sebab sejarah dan musim angin di desa
Sama bersahaja

Sultra, 2014
Kaghati Kolope: layang-layang berbahan daun kolope (gadung) dari pulau Muna yang disinyalir sebagai layang-layang tertua di dunia.

KALAMBE
:Pingit

Perdu bersemak selagi mata mengisyaratkan dongeng leluhur
Saat tunas ranum menemani rintik-rintik kegadisan
Lantas gong bunyi
Tetabuh mengungsikan sepi ditarung hasrat
Menarilah dengan tungkai sekokoh akar jati
Sebab gong telah menandai

Bibir terkatup menimbun doa
Angka dimatangkan agar siap pada goda
Apa yang menganga?
Perawan tak baik bila berisik
Kuburkan deburan tubuhmu di kesenyapan
Hingga dahaga peziarah datang menimba
Di kala rintik-rintik kegadisan pecah dalam upacara
Deras menghujani gersang

Perdu bersemak selagi benakmu masih kuncup
Kalambe, engkau bukanlah perdu itu
Yang jamak terinjak dan tumbuh sembarang
Pupuklah sebilang kata paling menjaga
Jangan durhaka!
Bunga mawar mekar mengiring musim
Siapa yang sungguh tertusuk duri?

Sultra, 2014
Kalambe: sebutan untuk gadis dalam bahasa Muna

KANDAI

di teluk dengan riak airnya yang keruh aku bersitatap menjala sejarahmu. alkisah berdengung di keramaian seumpama denting lonceng kecil yang membangunkan penunggu batas berperisai dan destar di kepala. mereka berseru sebelum negeri ini menjadi petakpetak tanah atas namanama yang diumpet ke dalam gemeriuh pesta pembangunan. di ujung dermaga generasi masakini sudah amnesia tentang sauh dan dayung berhimpun memberi judul untuk perahu yang membawa satu judul klasik : kandai

aku terlahir dari zaman yang melupa tentang moyang berisalah dalam gurindam di bawah cahaya bulan ketilam. jika kau gerus alam tanpa perhitungan maka alam akan meminta bayaran dari arah yang menghancurkan. hutan sudah tipis. sungai jadi tepian beton yang dimonopoli arus kanal kapitalis. asin lautan getir menangis. rumah berlabel keringat rakyat terjungkir jadi rongga kaca raksasa tempat segenap piutang tercatat untuk sekadar eksis.

kandai…

lidahku menyelamimu dalam ngilu. sekarang banyak wajah generasiku yang latah dan gemar mengigau. lisan kehilangan nama sejati. raga kehilangan aroma adat. jiwa kehilangan rupa budaya. kami disuguhkan kotak layar kaca penampung mantra. kami disesaki jadwal kampanye para rajaraja kecil yang rajin mempecundangi hukum semesta. pidana perdata menjelma dagelan bagi pemilik rupiah.

kandai…

ingin kukabarkan pada moyangku. sejarah telah mengambang dan dikail sebagai huruf-huruf gerutu yang melarung tanpa kendali. terombangambing seperti zombie bermuka imbesil. karena bahkan kompas dan teropong kami ditumpas saat kitab dongeng leluhur digadaikan untuk kepentingan penguasa yang lebih faseh bersidang dalam kelambu ketimbang mengurusi pelestarian terumbu.

Kedai pisang epe, Juli 2013

*Kandai adalah asal mula penamaan Kota Kendari

DEASY TIRAYOH adalah seorang cerpenis, penyair, dan penulis skenario yang berdomisili di Kendari. Lahir di Minahasa, Sulawesi Utara dan menyelesaikan studi S-1 di Universitas Haluoleo pada jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Cerpennya tersebar di media lokal dan nasional. “Mass In B Minor” adalah cerpennya yang bergaya tutur unik. “Metamorfosis Ligo” adalah cerpen yang menjadi pemenang lomba karya cipta cerpen kebudayaan di Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara. Puisi-puisinya dapat dibaca dalam kumpulan puisi 9 Pengakuan Mahila. “Kaghati Kolope” memenangkan sayembara cipta puisi Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara. Dalam sinematografi, Deasy menulis skenario untuk beberapa film bertema anak Indonesia diantaranya: Sahabat Merah Putih (Produksi TVRI 2013), Pelangi Menjuntai di Langit Muna (TVRI 2014), Sahabat Crayon (TVRI 2015) dan untuk film bertema keluarga Bersurat pada Matahari (TVRI 2014 dalam tayangan Hari Ibu). Film mini kolosal La Rumbalangi (Produksi Dinas Pariwisata Kolaka) dan sedang merampungkan sebuah skenario film pendek. Ia juga pernah diundang sebagai tamu undangan di MIWF 2015. Buku kumpulan cerita mininya adalah Tanda Seru di Tubuh, diterbitkan Settung Publishing, Mei 2015. 

Sejumlah Sajak Hafid Triatmo “Ungke Senja” dari Kolaka

Standar

ungke

Penyair Hafid Triatmo “Ungke Senja”

PERANG MALAM KATA

unggun api telah padam. bara berjuang digempur dingin, melepas luka dalam rupa asap menerpa wajahku yang masih membaca isyarat suasana. Di sekitarku suara jangkrik keras protes pada perbincangan mereka tentang perempuan yang ditelanjangi kata-kata dan juga tentang lelaki yang dimatikan prosesnya.

terasa tangan sajak memeluk cuaca namun aku gagal memahami makna dari sentuhannya hingga dia melepasku dalam gerutu lalu lebur dalam sengit pertempuran.

bara telah jadi abu dalam lembaran buku sehingga samar terbaca kekalahan dan keterasingan dari peperangan malam kata

Ungke, Auditorium USN, Kolaka, 2015

AKU DIMATIKAN

perjalanku akan sampai pada titik tertentu, di mana proses dan ilmu bukan lagi apa yang dipahami melainkan didekap dalam sunyi.

sayap malam telah mengepak prosesnya. demikian pula aku. namun mendung adalah niat yang tak terduga datangnya, melesatkan selaksa anak panah hingga sayap malam dan prosesku terluka parah, sementara kehidupan di sekitarku mengalir begitu saja.

adakah yang lebih abadi dari proses? malam menuju pagi adalah proses, rahim menuju nisan adalah proses, mengapa harus dimatikan, bukankah itu melanggar apa yang telah ditentukanNya?

hak tiap-tiap kita mencari proses tetapi bukan berarti kita berhak mematikan proses seseorang, biarkan prosesku mencari jalannya cukup menyingkir saja jika tak suka, bukan memanahnya.

Ungke, Kolaka 2015

KETIKA MENONTON BERITA

sapaan angin singgah sejenak menari di wajahku yang nyaris retak ditetak waktu klasik.

selalu tentang pengembaraan aksara tentang pembunuhan kata tentang pergulatan makna tentang bagaimana berbahasa.
di luar sana aksara telah jadi sengketa kata telah jadi armada makna telah jadi senjata dan berbahasa telah jadi keranda.

aku masih mengembara di alam pemikiran sementara waktu menguntit dengan seringai nisan.

Ungke, Kolaka, 2012

NASEHAT SEORANG COPET

Dik, Mari kita tertawai cita-cita tinggi. Yang hanya jadi beban dan tidak membuat kenyang perut hari ini. Malah utang numpuk sana-sini. Karena kita hanyalah tukang copet.

Tak usah perdulikan kata orang-orang tentang kita, yang nyaris jadi anjing liar di belantara kota. Sebab merekalah yang melantik kita jadi copet. Tidak usah malu, tetap tegakkan kepala dan kencangkan lari tentunya.

Mari dik, kita ejek saja bangku sekolah, yang banyak menciptakan copet berdasi saingan kita Jangan ragukan kemampuan mereka, sekali nyopet, negara gulung tikar. Kita juga mesti bersyukur dik karena mereka lebih tenar. Sehingga kamera dan tinta lebih memilih ketokohan mereka, hingga privasi kita tetap aman.

Sebelum catatan ini berakhir, saya ingin menekankan padamu sekali lagi dik. Setelah berbincang denganku, periksalah dompetmu sebelum berlalu.

Salam copet.

MIEN

Mien. Setelah suara daun sakura menyapaku
Dalam guguran rindu, waktu pun jelma gerimis

Lalu wajahmu yang pagi
Mengekalkan perjalanan musim semi
Sehingga tubuh melupa sepi

Mien. Ketika sakura dan ageha tumbuh subur di hati Maka kucipta juga sajak ini untukmu

Kolaka, 2012

DI BERANDA NISAN

Kubayangkan dunia mengabur di mata: bulan, matahari tidur.
Kubayangkan hujan jatuh di beranda: riuh, gemuruh gempur.
Kubayangkan rumah digoda airmata: gigil, dia basah.
Dalam semua itu, kuajak kalian menyatu di perjamuan nisan terakhir.

Kolaka, 2012

HAFID TRIADMO “UNGKE SENJA” lahir tanggal 17 Juni 1985 adalah seorang penyair dan pengamen jalanan di Kolaka. Ia mengamen di banyak kawasan di Kolaka, sambil menjadi sumur inspirasi puisinya. Ia pernah bergiat di Teater Anakia Kolaka dan saat ini aktif di Teater Kolaka (Teko).

Tiga Sajak Masjaya “Emji Lastra”

Standar

10314459_832962623399567_1851540429107118785_n

Masjaya “Emji Lastra”

DIYA

Bukan jarak bentang pisah
Tapi hati

Bila pun di pelupuk mata
Bahkan pada jarak minus
Tetap terasa jauh

Ada kalanya
Apa yang tertulis di hati
Tak selamanya tercatat
Lauh Mahfuzh

Begitulah,
Cinta tak harus bersanding
Takdir yang bungkam
Terkadang lebih paham rencana Tuhan

Mei 2015

TEMPURUNG K MAHASISWA

Kampung
Ke Kota
Kendari
Koskosan
Kampus Kuning
Kuliah
Kantin
Kiriman

Kotek kotek

Keluruyan
Ke Kebi
Kamar
Kumpul Kebo

Kloset

Mei 2015

CINTA DAN SAJAK TAK BERNAMA (5)

Sebab aku hanyalah dada rapuh
Dan kau rusuk sebatangkara
Bertemu di peraduan ini
Bersama melindungi napas
Ke akhir sesak

Juli 2015

MASJAYA yang memiliki nama facebook Emji Lastra adalah seorang wartawan di Kendari Pos. Bergiat di Laskar Sastra (Lastra), FKIP, Universitas Halu Oleo (UHO). Kini ia tinggal di Kota Kendari bersama istri yang dicintainya.

Kendari dan Negoisasi Diri

Standar

Oleh: Wan Anwarwan-anwar

Perkenalan saya dengan hal ihwal Kendari masih amat terbatas. Dua kali menginjakkan kaki di Kendari (dan Raha) jelas tidak cukup untuk mengenal dan apalagi memahami Kendari (manusia, masyarakat, alam, sejarah, dan kebudayaannya). Meski demikian beberapa kenangan melekat dalam ingatan. Itu cukuplah membuat Kendari menjadi suatu tempat khusus dalam diri saya. Kenangan itu sebagian bersifat pribadi, sebagian lagi menyangkut kemasyarakatan dan kebudayaan.

Dua kali ke Kendari (sekali bersama rombongan Sastrawan Bicara Siswa Bertanya, sekali lagi bersama pelukis Herry Dim), masing-masing kurang lebih seminggu, telah mengenalkan saya pada banyak hal. Pengenalan yang paling menyenangkan tentu saja karena mendapati banyak kawan di Kendari yang intens menggeluti kesenian, khususnya teater dan sastra. Entah kenapa jika di suatu kota mendapati sejumlah orang menggeluti kesenian, hati ini sedikit tenteram. Selalu ada harapan, dengan adanya orang-orang berkesenian, maka “pembangunanisme”, modernisasi, dan gelegak globalisasi sedikit banyak akan “dikontrol”, dikritisi, dan bahkan dinegoisasi sehingga pembangunan tidak melulu berpijak pada percepatan ekonomi dan pembangunan fisik lainnya. Ini penting karena pembangunan seyogyanya mencakupi keutuhan dan keunikan manusia itu sendiri: darah-daging, lahir-batin manusia dan masyarakatnya.

Jika benar harapan di atas, berarti saya berpandangan bahwa kesenian (katakanlah teater dan sastra) adalah suara lain, mungkin ganjil dan kecil, yang memiliki daya untuk bernegoisasi dengan suara (budaya/kuasa) dominan yang seringkali menghegemoni keadaan. Suara dominan antara lain modernisasi atau globalisasi yang datang dari berbagai penjuru dunia, utamanya semangat kapitalisme dari negara-negara Barat. Saya katakan “antara lain”, karena suara dominan dapat saja berupa “ideologi pusat” bernama Jakarta, bahkan budaya tradisi yang tidak selalu berisi “kearifan-kearifan lokal”.

Suara dominan agaknya sudah menjadi “wataknya” sendiri melakukan kooptasi, hegemoni, dominasi yang pada ujungnya “penaklukan” pada suara-suara kecil yang disisihkan. Sebagai manusia/ masyarakat yang pernah mengalami pahit-getirnya penjajahan dunia Barat (kolonialisme), adakalanya kita melestarikan watak kolonial, selain tentu menumbuhkan kesadaran dan kewaspadaan. Sementara itu sebagai bangsa yang lahir dari keragaman budaya, bahkan keragaman kerajaan di masa lampau, tidak jarang kita mewarisi sifat chauvinis (membanggakan masa silam kerajaan/etnisitas) yang gilirannya menumbuhkan rasisme dan penindasan terhadap si liyan (the other). Oleh karena itu setiap suara dominan, dari manapun sumbernya, harus dikritisi bahkan dilawan.

Dapatkah kesenian, sastra dan teater khususnya, melawan suara dominan? Bukankah kesenian, hampir di manapun dan kapanpun, selalu menjadi suara sunyi yang kesepian? Dengan kata lain tidak dapat mengalahkan non-kesenian, katakanlah politik dan ekonomi?

Tentu saja kita tidak bicara soal “mengalahkan” melalui kerja kesenian karena ambisi mengalahkan bagian dari sifat penindasan. Kesenian, dengan suara sunyinya, beritikad untuk “menghilangkan” penindasan, sekurang-kuranya suara dominan dapat mempertanyakan kembali dominasinya. Selebihnya, suara dominan akan menghargai suara-suara sunyi terpinggirkan, melakukan interaksi intensif, dan pada gilirannya suara-suara sunyi terpinggirkan mampu turut serta membangun kompleksitas budaya dan masyarakat. Dengan kata lain interaksi suara dominan dan suara-suara terpinggirkan menghasilkan budaya kreatif dan produktif.

Tapi apa yang saya ketahui tentang Kendari? Suara dominan macam apa yang “menguasai” Kendari? Suara-suara terpinggirkan apa pula yang sedang berinteraksi, bahkan melawan, suara dominan?

Sekali lagi lagi pengetahuan saya tentang Kendari amat terbatas. Dalam dua kali kunjungan ke kota di Tenggara Sulawesi ini saya hanya tahu bahwa di Kendari ada banyak toko menjual makanan lezat biji jambu mente. Di beberapa titik lokasi teluk Kendari ada komunitas Bajo. Di teluk Kendari ada keramaian malam muda-mudi berkencan, restoran terapung, jalan-jalan lebar lengang di kanan-kirinya melayah hutan bakau, kapal-kapal jet-foil di Pelabuhan Kendari, warung remang-remang dengan musik hingar bingar, pasar Wua-wua di salah satu bagian kota, mini market dan supermarket, restoran-restoran fast-food, warung-warung tenda malam hari menjajakan sea-food, lalu lintas angkot berseliweran dengan mobil-mobil pribadi seperti di banyak kota di Indonesia umumnya, kampus luas tetapi asrama mahasiswanya kurang terurus, perumahan dosen di mana Ahid Hidayat tinggal, perusahaan tambang dan penyeberangan ke Makasar di Kolaka, pelabuhan fery di Tampo yang menghubungkan Kendari dengan Muna dan Buton. Ah apalagi ya? Pengetahuan saya tentang Kendari benar-benar terbatas.

Kadang menyesal mengapa sewaktu di Kendari tidak banyak “berpetualang” untuk mengetahui kekhasan Kendari. Saya belum sempat secara mendalam bertanya pada kawan-kawan mengenai empat etnis (Tolaki, Muna, Buton, dan Morunene) dominan di Kendari. Saya belum sempat bertanya sejarah, mitos, dan cerita-cerita rakyat Kendari. Saya belum tahu bagaimana lembaga adat menyelesaikan jika ada konflik antar-entnis atau sesama etnis. Meski saya bersyukur sedikit tahu bagaimana caranya orang luar Kendari kalau ingin meminang gadis Kendari.

Saya berharap bisa datang lagi ke Kendari. Selain untuk mengenal lebih jauh Kendari, saya juga ingin jalan-jalan ke Buton. Dari beberapa buku sejarah dan filologi, kesultanan Buton sering menjadi bahan pembicaraan, terutama dalam kontaknya dengan kerajaan di Makasar, Bima, kerajaan di Jawa dan Sumatera, dan kolonial Belanda di masa silam. Kontak-kontak yang selain menunjukkan awal modernisasi/ globalisasi, juga kontak-kontak menyangkut negoisasi (perkawinan putra-putri antar-kerajaan misalnya) untuk menghindar konflik dan perang (meski konflik dan perang terjadi juga). Semua itu agaknya penting untuk lebih mengenal, menghayati, dan memahami Kendari.

Tapi saya beruntung sempat menyeberang ke Raha/ Muna, meskipun saya iri kepada penyair Cecep Syamsul Hari yang begitu tiba di Raha sebuah sajak berjudul “Raha” lahir dari tangannya. Oleh pemilik hotel (hotel yang sebenarnya rumah) di Raha saya diantar ke sebuah desa, malam-malam, untuk melihat kain tenun khas Muna. Pada kedatangan kedua, saya lebih beruntung karena sepanjang malam ditemani Gani, Roy, dan Inal (yang pertama seniman Kendari asal Mandar, yang lainnya seniman Raha) jalan-jalan ke pantai/ pelabuhan Raha. Bersama mereka saya menikmati lampu-lampu neon berderet sepanjang pelabuhan, menikmati debur ombak pelahan, serbuan angin laut, dan kesibukan malam pelabuhan. Mereka bicara banyak tentang Muna, meski sebagian tak terekam dalam ingatan. Mereka bercerita tentang tugu pembatas Raha, tentang kebersahajaan seorang ibu tokoh politik di negeri ini, tentang kontu kowuna (batu berbunga), tentang rencana pembangunan hotel di tepi pantai menjelang PORDA, tentang sumber minyak di bawah tanah Raha, dan tentang penebangan kayu jati yang terus berlangsung hingga kini.

Ah kayu jati? Dengan sedih malam itu saya saksikan bagaimana truk-truk mengangkut kayu jati yang sudah diikat rapi dan langsung dimasukkan ke kapal-kapal yang akan menyeberangkannya entah kemana. “Kayu jati Raha kualitasnya nomor wahid,” begitu kata Roy. Saya terhenyak sejenak: kayu jati, nomor wahid! Betul-betul spiritual: kayu jati kayu yang hebat (makanya kita menggunakan ungkapan “jati diri” untuk mengungkapkan etos bangsa) dan wahid bukankah ahad (satu)? Pulau Muna ini pulau yang menyimpan “jati” kualitas ahad! Tentu tak elok jika penggerogotan atasnya (baik alam maupun kebudayaan) dibiarkan. Pada kesempatan ini saya ingin meminta sesuatu pada Roy dan Inal: jaga pulaumu dengan seluruh dayamu. Dapatkah kesenian berperan dalam hal ini?

Pada sebuah pagi, Roy dan Inal mengantar saya ke Pasar Raha. Sebuah kehidupan cukup ramai dibandingkan jalan-jalan kota Raha yang lengang dan lebih banyak dilintasi sepeda motor. Wa Ode Erawaty, gadis Raha yang juga menemani, mampu membuat sejuk kota Raha yang panas. Kulitnya yang putih kehitaman seperti kulit roti tak matang di pembakaran: mengingatkan saya pada sebuah film Prancis yang tokohnya (orang kulit putih) ingin berkulit coklat sebagai bentuk negoisasi budaya terhadap tempat tinggalnya: sebuah kota di Amerika Latin, bekas jajahan Prancis!
Penyeberangan ke Raha (sekali melalui Tampo, sekali lagi melalui pelabuhan Kendari) juga menyimpan kenangan. Dari laut lepas yang tidak terlalu keras ombaknya dapat terlihat bagaimana indahnya tepi-tepi Sulawesi Tenggara. Di selat cempedak ombak memang membuat jantung agak berdetak, tetapi pada saat itulah tercipta sebuah sajak:….jantung berdetak di selat cempedak/ pulau-pulau meminta untuk kudekap/ superjet melaju ke laut biru/ memburu yang kita tuju…(2004)

Apa yang kita tuju? Siapakah “kita”? Pada saat itu yang ada: saya, Era, dan Gani, selebihnya penumpang lain. Tapi dalam konteks tulisan ini, izinkan saya memaknainya secara lain: apa yang kita tuju dengan berkesenian, entah itu berteater atau bersajak sebagaimana dilakukan kawan-kawan yang dihimpun Teater Sendiri ini?

***
Betapa senang ketika Syaifuddin Gani mengirim sms kepada saya yang intinya meminta saya mengantari sajak-sajak yang diantologikan menjadi buku Sendiri 3. Buku ini akan diluncurkan/ dibacakan dalam pembukaan Festival Teater Pelajar (FTP) Se-Sulawesi Tenggara dalam rangka 14 tahun Teater Sendiri yang diasuh Achmad Zain, sebuah kelompok teater yang aktif mementaskan garapannya, baik di kota Kendari, Sulawesi Tenggara umumnya, Makasar, Banjarmasin, Samarinda, Surabaya, Yogyakarta, maupun Jakarta. Sesuai namanya, meski mungkin “sendiri”, mereka terus berproses, sebagaimana ditekadkan Achmad Zain melalui sajaknya: Din/ melangkahlah selama kaki kanan/ dan kaki kiri belum menyatu (sajak “Sembilan Anak Tangga”). Ungkapan sederhana yang mengejutkan, sekaligus simbolik mengingat judul “Sembilan Anak Tangga” mengisyaratkan keharusan tuntasnya menempuh perjalanan untuk mencapai tangga sepuluh: dan di puncak tangga ada cahaya membias/ biarkan menerpa wajah kita. Sejenis puncak pencerahan atau spiritual hasil proses perjalanan yang akan menjelmakan “jati diri” para pejalan budaya.

Pengalaman dua kali menikmati Kendari (dan Raha) ternyata tidak sama dengan pengalaman membaca lebih dari 100 sajak dari 11 penyair dalam buku ini. Itu adalah bukti bahwa Kendari dalam pencerapan saya adalah segugus versi dan Kendari yang direspons/ dihadirkan 11 penyair adalah versi yang lain. Keberagaman pencerapan, juga tafsir, amat tergantung pada pengetahuan dan pengalaman setiap orang, baik secara kuantitatif maupun terutama kualitatif. Setiap individu adalah perspektif dan karena itu akan melahirkan gambar yang beragam. Dari asumsi ini saja sudah muncul keharusan berkomunikasi, bahkan bernegoisasi, dalam merespons hal-ihwal yang hadir baik secara diakronis (perspektif waktu) maupun sinkronis (perspektif ruang). Uraian ini tidak lain sebentuk komunikasi dan negoisasi dalam perspektif ruang dan waktu pencerapan.

Negoisasi budaya niscaya tak terelakkan. Pengalaman-pengalaman pahit di masa silam (sejarah) karena ulah kolonialisme dan kenyataan kini yang jauh dari harapan adalah kontradiksi yang menuntut negoisasi. Sekurang-kurangnya respons bila solusi belum mungkin dilakukan. Lagi pula sajak tidak ada urusan dengan solusi, jika pun ada biarlah pembaca yang bicara. Kontradiksi itu sering membuat para penyair gelisah sebagaimana diungkapkan Syaifuddin Gani dalam “Langit Tak Terjangkau” yang merespons Losari (pantai di Makasar): sepanjang losari/ kau sabdakan cerita-cerita silam/ dan kau tikamkan lagu asing…..dan si mata biru itu/ telah lama berlalu// suatu saat aku akan datang lagi, katanya/ tak lagi memanggul senjata/ tapi mendulang sejarah dan pusaka.

Negeri ini memang sudah merdeka, tapi apakah betul merdeka sebenar-benar merdeka? Tentu belum. Selain beragam kuasa dari berbagai belahan penjuru dunia terus mengintai, kita juga harus berhadapan dengan para penindas dari negeri dan lingkungan sendiri. Kau lirik dalam sajak di atas bereaksi atas keasingan di kotanya:…kalau kau datang, kuberondong kau/ dengan sebilah siri’/ katamu, sambil pasakkan pagar dan pugar. Cukup tegas bahwa kuasa lokal, mungkin kearifan lokal (siri’) dalam sajak itu dihadapkan pada suara dominan (modernisasi/ globalisasi yang berbau Barat) yang representasinya “anak dara berbaju bodo/ menari di atas panggung” di tengah “kecapi yang merintih dan teriris”.

Dalam cara berpikir dikotomis atau oposisi biner adalah lumrah bila hitam dihadapkan pada putih, tradisi ditentangkan pada modernisasi. Akan tetapi kuasa dominan tidak selalu datang dari Barat dan tradisi tidak selalu menjadi harapan. Sering muncul kebimbangan dan persoalan di sini. Meski dengan sajak yang anasirnya kurang terjaga, dalam sajak “Kekalahan Dini Hari” Sendri Yakti mengungkapkan persoalan itu: Malam marut, kata-kata mengerucut/ menerobos sejarah yang menggumuh di sudutsudut/ di udara merambat musik bingar, igau yang riuh/ percakapan jadi liat dan menoreh pedih/ sudah kulupa, kapan negeri ini merdeka…. kita berdebat tentang feodal yang kataku belel/ tapi masih kau panggil ayahmu ode/ tak seperti kudecak lidah/ dan memanggil kucingku sultan…

Dua sajak di atas, meski bukan sajak terbaik dari kedua mereka, melukiskan situasi masyarakat poskolonial, di mana sisa kolonialisme masih mengganjal, modernisasi dan globalisasi tak bisa membuat manusia tentram, tetapi pada saat bersamaan tradisi lokal belum mampu menaungi manusia dalam rasa betah. Kembali ke tradisi lokal belakangan dianggap sebagai jalan untuk menyikapi keadaan. Tentu saja bukan tradisi asal tradisi, melainkan kearifan lokal yang dapat membantu menyelesaikan banyak soal kehidupan dewasa ini yang kian kompleks. Sayangnya seperti diungkapkan Irawan Tinggoa tradisi sebatas ritus belum dapat berbuat banyak. Perhatikan sajak “Ritus Mosehe”, terutama bait terakhir: sepejam mata/ taawu dihunuskan:/ kerbau putih sebagai tumbal/ darahnya bercecer mengusir sesal/ ia lemas telah mengusir tikai/ yang tak padam.

Di antara penyair dalam buku ini, Irawan Tinggoa menunjukkan hasrat besar merespons banyak soal dengan pendekatan tradisi lokal. Sekurang-kurangnya banyak istilah-istilah lokal dibaurkan ke dalam komposisi sajaknya yang cukup lancar mengalir. Kepekaannya pada momen dan hasratnya untuk “mengucapkan” tradisi berpotensi untuk melahirkan sajak sederhana tetapi mendalam. Responsnya terhadap suasana kota terasa sederhana dan jenaka: selokan kota gerah berpenuh cena/ di tepi-tepi rumah kumuh membuncah// mengepul bau kemenyan/ menebar aroma kematian// seorang dukun kota/ sesaat meringis diserang bala diare (sajak “Kota”).

Hiruk pikuk kota siang malam di banyak daerah di negeri ini sering menjadi tema dan kegelisahan para penyair ketika memaknai diri dan kehidupan di sekitarnya. Memang kontradiksi (harapan dan kenyataan berbeda) adakalanya menarik direspons dengan sederhana dan jenaka sebagaimana dilakukan Irawan dalam sajak “Kota” di atas. Lihat pulalah sajak Karmil Edo Sendiri yang berjudul “Gelap”. Sajaknya yang merespons kota dimainkan lincah dengan wacana Edison (penemu listrik) dan Einstein (penemu teori relativitas) dalam ikatan persoalan gelap dan terang keadaan. Bait akhir sajak ini jelas merupakan kritik terhadap perilaku sebagian masyarakat yang suka melakukan “transaksi” di “tempat gelap”.
Saya tidak tahu apakah di Kendari dan sekitarnya ada tradisi lisan yang mengandalkan kekuatan irama dan bunyi kata. Yang jelas Didit Marshel tampak kuat memainkan irama dan bunyi kata-kata, sebagian mirip pantun bahkan mantra, meski pada sebagian sajak terasa dipaksakan. Kekuatan memainkan irama dan bunyi kata tampak tegas dalam “Negeri Batu” misalnya. Banyak kata batu yang tentu bukan sembarang batu digunakan Didit untuk mengkritisi kehidupan kita sekarang yang memang sudah membatu. Sebuah keadaan yang meminta dipecahkan, oleh sejenis “kapak” (idiom Sutardji Calzoum Bachri) atau oleh benda khas di lingkungan Kendari dan sekitarnya.

Sajak pada umumnya memang suara lain, suara aneh yang ganjil, yang sunyi dan kesepian, di tengah riuh kota, manusia dan masyarakat batu yang berkata-kata bukan atas kesadaran. Suara penyair dikekalkan dalam kata. Dan kata, sebagaimana diungkapkan Irianto Ibrahim, meski diambil oleh orang tidak akan pernah kehilangan hakikatnya. Bacalah “Sajak untuk Dhani” yang menghidupkan kata-kata dalam permainan dan renungan:…Tetaplah bersama kata/ Biarkan ia tumbuh dan tegak berdiri/ Ketika satu orang mengambil satu daunnya/ tidak berarti ia kehilangan nama pohonnya.
Kata, itulah harta penyair yang paling berharga. Jika penyair kehilangan kata, habis sudahlah eksistensinya. Itu sebabnya setiap saat penyair bergulat dengan kata. Tentu saja bukan semata bermain sekedar memainkan kata-kata, melainkan menggali kemungkinan kata-kata. Ironisnya sekarang ini penyair hidup di masyarakat yang nyaris kehilangan kata-kata. Benda-benda telah menggantikan komunikasi sehari-hari. Benda-benda merebut posisi kata sebagai citra. Benda-bendalah yang kini menjadi citra: rumah, mobil, handphone, pakaian, dan benda-benda produk industri lainnya. Teater mutakhir di negeri ini, juga di dunia, menyikapi kenyataan ini dengan menghadirkan pergelaran tanpa kata-kata. Teater kembali ke akarnya semula: tubuh dan segala kemungkinan potensi tubuh.

Lalu apa yang akan dilakukan penyair ketika kata telah direbut iklan dan retorika politik? Haruskan kita hanya dan hanya berkawan sunyi sebagaimana diungkapkan Iqbal Oktavian dalam sajak “Bersama Kesunyian”? Atau “kita hanya kuasa/ menunggu kapan saat itu tiba/ di mana waktu berhenti/ dan kita ditagih pertanggungjawaban/ sang waktu (sajak “Perjalanan Waktu” karya Tongis Alamsyah)? Dan karenanya kita tak perlu melakukan apa-apa karena kata yang kita cipta akan sia-sia, karena waktu dan tempat kita berdiam telah melakukan segalanya, dan kita cukup “melekat pada tubuhmu” (sajak “Kota Muna” karya Royan Ikmal”). Dan kemudian alam memberi musibah karena kita melalaikannya seperti diungkapkan Royan Ikmal dalam “Syair Muna yang Terbang”?

Saya kira saya tak perlu pesimis. Meski sajak-sajak para penyair di buku ini lebih banyak menyampaikan gambaran muram, tetapi kesetiaannya untuk terus berkata-kata membuat saya cukup optimis. Kesanggupan mereka bertahan di “negeri batu” dan keriangan mereka “memainkan” kata-kata tentu menambah optimisme saya. Pasti saya akan lebih optimis jika mereka lebih serius belajar membaca dalam pengertiannya yang luas, lebih khusuk mempelajari masa silam dan masa kini, baik di Kendari maupun di luar Kendari.

Masalah penyair tentu bukan sekedar kata-kata. Jika kata-kata itu representasi kehidupan, interaksi kehidupan, dan unsur pembentuk kehidupan, maka persoalan mendasar penyair adalah kehidupan itu sendiri. Menyelami kehidupan tidak selalu harus melulu langsung, melainkan bisa melalui kata-kata para penjelajah kehidupan. Untuk memuliakan kata-kata, seorang penyair dapat memulainya dengan serius membaca karya-karya penyair lain dalam bentangan sejarah sastra Indonesia, sejarah sastra dunia, bahkan sejarah sastra di Kendari dan sekitarnya.
***
Secara jujur harus dikatakan, sejauh terlihat dari sajak-sajak dalam buku ini, pergulatan para penyair selayaknya diintensifkan. Pada sejumlah sajak mereka tidak jarang masih terdapat kelemahan dasar komposisi yang mungkin disebabkan karena belum utuhnya pengalaman puitik, belum pekanya pada kata-kata, belum tajamnya menciptakan ungkapan segar, atau belum terlatih mengontrol logika imajinasi yang membuat anasir sajak tidak saling mendukung makna atau kegelisahan penyairnya. Adakalanya pula hasrat untuk menyampaikan sesutu terlalu kuat sehingga baris/ bait sajak menjadi pengap oleh kata-kata abstrak.

Menulis sajak barangkali ibarat mendaki puncak. Pada awalnya kita berjalan di keriuhan banyak orang, berkawan kata-kata klise, lalu memasuki kampung-kampung sunyi, pematang-pematang lengang, lembah yang membuat hati gelisah, rumpun-rumpun rimbun di mana hanya ada satu dua orang melintas, menaiki tebing terjal atau licin, berkenalan dengan akar dan juntaian pohon-pohon besar, gelap dan dingin, matahari tak terlihat, bulan entah di mana, hingga akhirnya sampai di puncak setelah pori-pori tubuh meneteskan jutaan keringat.

Atau seperti menuju samudera dengan gelombang tak terkira. Pada mulanya kita bertamasya saja di bibir pantai, berenang di tepian, agak ke tengah dan mulai merasakan gelombang di permukaan dan kedalaman, terus berenang ke tengah hingga akhirnya menyatu dengan samudera di mana segala jenis karang, gelombang, ikan, topan, dan badai lautan menjadi bagian diri dan kehidupan.

Baik dalam mendaki puncak maupun menembus samudera, perkara latihan tentu penting. Akan tetapi keberanian memasuki pahit-getir kehidupan dan kejujuran mengungkapkan kepada orang lain tidak kalah pentingnya. Mungkin kita tidak menjadi apa-apa, tidak menjadi pahlawan atau pujaan, tidak diberi hadiah seperti para pendaki gunung atau peloncat indah dan perenang dalam perlombaan. Akan tetapi kita telah berdialog dengan mereka, dengan yang menjangkau samudera di atas kapal atau melihat puncak dari helikopter: meyakinkan mereka bahwa kata, suara lain yang aneh dan ganjil itu, bisa “sekuasa” benda-benda. Itulah kira-kira negoisasi budaya.

Selamat berulangtahun Teater Sendiri. Karena engkau telah “bernegoisasi” dengan berbagai suara, termasuk suara dominan, di Kendari, percayalah diri engkau tidak akan pernah sendiri. ***

Cipocok-Serang, 15 Agustus 2006
Pukul 01.16 WIB

Wan Anwar, penyair dan esais. Bekerja sebagai editor di majalah sastra Horison dan sebagai dosen di FKIP Untirta Banten. Bukunya yang sudah terbit: Sebelum Senja Selesai (2002), Sepasang Maut (2004), dan Kuntowijoyo dan Dunianya (2006). Tinggal di Cipocok-Serang, Banten.

Sejumlah Sajak Henrik Ras, Penyair Berbakat dari Kolaka, Sulawesi Tenggara

Standar

11201160_1060617447287107_111828573208036429_o

Penyair Henrik Ras (di tengah) diapit dua penyair lainnya, Wa Ode Rizki Adi Putri dan Isno Nhois, saat Pertemuan Penyair Muda Sulawesi Tenggara, Kantor Bahasa Prov. Sulawesi Tenggara, tahun 2015.

DEBU TANAH MERAH

Jasadnya menangis lagi
Saat hujan membelah-belah tubuhnya
Telah berceceran tumbal membayangi kota
Di perairan
Di dermaga
Di terminal
Bahkan di atap rumahmu ia termenung mencari kubur

Jasadnya kini mengendapi kota
Mengembarai cuaca
Tugu pemanggul pacul berdoa
Merasa dirinya dianggap boneka

Ia tumbal dari orang orang
Pewaris tahta yang salah

Jangan kau cari kuburan kita
Sebab ia telah terjual
Bahkan karena doa orang mati
Kita masih hidup hari ini

Kolaka, 2014

SELAMAT DATANG

Para tamu masuk tanpa menyelundup
Menyapu sampe gubuk-gubuk
Melotot melihat pulau-pulau
Hingga berani menawar perkilo
Perkantong, perkarung, permeter
Bahkan pertelunjuk, katanya menjadi sampel

Sampel di iring-iringan truk?

Sementara tuan rumah mendadak haji
Tapi mereka yang tak sekamar
Masih mengayuh roda tiga menjajal malam
Mereka terpaku menopang dagu
Melihat truk gandeng terbungkus
Saling mengandeng, gandeng menuju dermaga Kolaka

Seketika aku menjelma
Pusaran angin di perkumpulan debu cerobong
Ingin kubanjiri kota dengan tanah merah
Agar abadi darah Kongga

Kolaka, 2015

KENANG AKU

Kau menyamar gelap ke ruang kosong
Dalam sukmaku
Duka yang kau hidang telah mendidih
Dalam dadaku
Senandung itu telah hilang menerka
Senyuman itu
Manis lidahmu menyapa
Namun lidahmu berkata-kata

Setiap celah lidah menikam langkah
Hingga tubuhku membusuki pasar
Tersiar kematianku sampai ke pelosok
Telah merangkai sebuah lagu

Saat kurindukan masa
Di mana tawa tak ditawar
Semakin saja cabikan mencari gumpalan sisa
Kukerkah ingatan saat rasa wajar bertanya

Sengaja aku berdiri meski jasadku telah kau bagi
Pintaku hanya kuburan suci dalam catatan kecilmu

Kendari, 2015

TERIMA KASIH PAGI
: untuk Wa Ode saja

Terima kasih pagi
Ia telah datang menyapa sepi
Membungkam resahku pada gerimis
Kerudungnya melekat di embun waktu yang sejuk
Pukul enam Kendari

Berdetak kembali palung bisu
Setelah tiga putaran Februari
Ingin kubermuka-muka
Bersandar sebelum pamit

Tapi
Jika hanya menjadi abu
Dari arang matamu yang menyala

Kembalikan saja sukmaku
Yang terkait senyummu
Karena malam akan membantaiku
Saat wajahmu menggeliuk-liuk di bawah bantal

Para nelayan akan mencarimu
Saat pasang surut
Karena pesanku dalam kaleng susu
Akan mencemari Teluk Kendari

Kendari 2015

Hendrik Ras, lahir pada tanggal 14 Februari 1996. Saat ini masih menjadi pelajar di SMK Negeri 1 Kolaka. Ia merupakan merupakan anggota Sanggar Lentera Kolaka yang didirikan oleh Dedy Swandi. Selain itu, ia juga aktif di sanggar Teko (Teater Kolaka) yang didirikan oleh Iwan Konawe. Kini, lelaki yang hobbi membaca, tidur, dan menghayal ini, tinggal di Balandete, No.33, Lorong Bendungan, Kab.Kolaka, Sulawesi Tenggara.

Inawa, Sebuah Sajak “Spiritualitas Lokal” dari Salim Kramat

Standar

10302168_873569482669610_5583300167942103964_n

Salim Al Kramat (sebelah kiri) seorang penyair muda terkini Sulawesi Tenggara.

Sebelum nyawa itu ada maka hidup telah ada

tetapi nyawa menyunting hidup biar ada pengakuan yang makin bergema sampai kini, maka berucap sederet kata yang beruntun mengalir dalam tubuh, sampai Malaikat sujud hormat menjalani isyarat yang tak bisa dihalaunya dan teruslah mengungkap isi bumi yang utuh lagi perawan membawa martabatnya pada sisi yang tersendiri dan disebut itu paling mulia di sisNya

teriaklah di setiap waktu nyawa yang baru, meraung ampun pada hidup yang dijumpainya Namun erat kepalan tangan terlalu rahasia adanya sambil membawa tangis dari langit ketujuh. Tepat dua setengah purnama lampu minyak kampua menyala-nyala mengikuti lantunan barasandi pertanda perang telah dimulai dengan selamat

Karena waktu, ubun-ubun mulai membatu dan canda itu mulai mengigit tubuh malaikat, terlihatlah sifat baru di hadirat Tuhan, maka dupa dibakar dalam empat unsur bumi yang menyertai bacaan modhi mengelus pundak guna menyapa ruh titipan Tuhan lewat malaikat nyata yang bernama Ina

Kini usia semakin matang menantikan kawan yang hendak menemunya, turunlah cinta dari langit tenggelam dalam batinnya melahirkan perasaan yang sama di antara mereka, kehadiran cinta mengenalkan pada kesepian, maka sunyi mulai menikam hati

Di seberang dunia turunlah api yang membara hinggap di antara angan, menguji cinta yang asing, lalu rasa itu bertasbih buat menepis baranya yang jatuh di antara langit dan bumi

Kendari 15 – 4- 2013

Inawa : bahasa Muna yang artinya nyawa
Kampua : upacara adat pengguntingan rambut suku Muna pada anak usia 44 hari
Barasandi : puji-pujian kepada Nabi Muhammad SAW
Modhi : sebutan suku Muna kepada orang tua pembaca do’a
Ina : panngilan suku Muna kepada Ibu

Salim Al Kramat adalah seorang penyair muda terkini Sulawesi Tenggara. Bergiat di Laskar Sastra (Lastra) Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, Universitas Halu Oleo (UHO), Kendari. Selain menyuntuki puisi, ia juga mahir memadukan gambus Muna dan puisi menjadi musikalisasi puisi yang khas. Usai tamat di UHO, kini ia berkhidmat sebagai tenaga pengajar di Universitas Sebelas November (USN) Kolaka.