Kota Lama


:untuk sahabat Arif Relano Oba & Kamilus Nara Odung yang Pergi

 

Teater Kota Lama dikremasi usia
Dikafani masa silam renta
Jalanan umpama lingkaran gaib
Janji ajaib jawaban menyalib

Dulu diputar film hitam putih
Orang-orang dari labirin tatih
Menuruni bukit dilumuri lakon sedih
Bagai mengungkit hidup pipih

Ada adegan komedi bagi hidup terkebiri
Agar nasib bukan semata dirongrong nyeri
Sebongkah batu terkurung
Terus dirundung murung

Kini diputar film melankolis
Tubuh renta dikafani gamis
Ada yang melambai arif serupa darwis
Inggomiu1, coblos aku nasibmu berubah drastis

Emas berwarna pucat di rumah Tiongkhoa
Mengerut di ruko-ruko tua lara
Los-los rawan dan rumah Wuna
Terpana dan tertawan rencana dunia

Siapa yang abai setitik Nur
Kepada siapa tertambat doa leluhur
Siapa lalai silsilah airmata tercucur
Kepada siapa kami bertanya duhai pak gubernur?

Kaki-kaki Ode mengayuh waktu
Peluh-peluh doa untuk nasib piatu
Oh kota kata dan wajah bebal
Hidup dilumuti proklamasi banal

Kapan hidup berbaju baharu
Mata ruhani semakin ragu
Anak-cucu bangun gedung baru
Kami semakin layu dianggap sambil lalu

Kami bentangkan warna-warni tabere2
Dari selendang cinta Puteri Konawe3
Oheo hidup kau kutuk warna satu
Satu Sultra untuk Sultra satu4

Di teater, berpusar ribuan lelakon
Penoton tertawa, sedih dikibuli lelucon
Kota Lama disihir jadi cantik konon
Ama5, kami sudah tua dalam sejarah jargon

Ina menjual ikan dari lorong ke lorong
Ode panggul karung dari dermaga ke kapal
Siapa hidupnya bergulir dari bohong ke bohong
Ale, alamat terlunta di sirene ajal

Siang terawang uang malam kenangan utang
Ale, hidup semata bukan malam dan siang
Anak cucu jangan dimabuk kefanaan
Dipersunting kekuasaan terpesona keduniawian

Sope-sope berlayar sendiri
Angkut kopra, ikan, dan nasib sendiri
Di Tapitapi, Bajo pelihara laut sendiri
Wakil rakyat dan pemerintah bualan sendiri

Matahari memang yang itu-itu saja
Tetapi waktu bergulir, nasib bergilir
Orang tua uzur dan fakir
Anak-cucu tertawan janji selamanya

Anaway engkau lahir dari rahim yang papa
Tumbuh dalam gendongan Konawe yang nestapa
Setelah besar engkau hijrah ke bungalo
Engkau ke mana, aku hanya menemukan senyummu dari baliho ke baliho

Kota Lama sejarah tua air mata dan nasib bangkrut
Kota baru tak kunjung lahir dan punya nama
Jika Teluk Kendari bersolek lumpur jadi kubur rencana
Nafasku nafasmu jadi ranum laut harum maut

Kota Lama masa silam kenangan
Kota kanak-kanak belulang nenek moyang
Kawan, jika jembatan Talia terbentang
Aku menua kau menua, namaku namamu jadi titian

Kota Lama makam keemasan
Di pucuk gereja, genta mengirim ayat-ayat ke lautan
Di menara masjid, azan serukan firman ke daratan
Di pekuburan, doa-doa diam, namamu namaku meleleh dalam kefanaan

 

Kota Lama, Kendari, 21 Desember 2009 &18 Februari 2013

 

[1] Inggomiu adalah sapaan halus dalam bahasa Tolaki yang berarti kalian atau kamu
[2] Kain khas suku Tolaki yang dirajut dari perca-perca kain aneka warna
[3] Puteri Konawe yang dimaksud adalah Anaway Ngguluri dalam mitos Oheo
[4] Jargon politik salah satu pasangan cagub di Sultra
[5] Panggilan khas Tolaki untuk ayah

Lima Sajak Saya Versi Bahasa Inggris


PRAYERS BOILED IN LONGING

Translated by Annie Tucker

 

1
deserted sea
silent coral
the wave stops its froth from making love on the banks
in the distance, the winged boats of remembrance, contemplation
treasure the fish returning home.

 

the wind’s fingers cling to theveins of mangrove
splash-splash drops of water dive down to the wreck
fallen from flying gulls

 

the praise poems of raindrops thatusually wander
amidst the lusty waves are gone
and black children, coral fathers
vacation in beds blanketed by a shining mist
that penetrates the walls of palm.

 

2
alas Beloved
longing boils prayers and wanderers
invokes rainbows and the lilac light that plunges into the depths.

 

deserted sea.
longing and distress churn
like these waves
chasing You to the sky to the
limitless firmament.

 

my prayers, my recitations
concoct You who are immeasurable.
while my prayer beads dissolve with the waves.

 

Kendari, May 24, 2006

 

 

THE EDGE OF LIFE

Translatedby Annie Tucker

my heart is wind my eyes sky
a thousand typhoons of mortar i am a million grains of sand

 

exploding heads exalt gaza
i am as tough as steel you in fact are foam
from your mouth wounds are blown to bits

 

in burrows of sand at the western edge
rancid explosions reach the brink of death

i am again amongst corpses
in allegiance in prayers of armed intercession
i resist you to the verge of apocalypse

 

you uproot bloody soil
you gulp it down again in cups of hell

 

the growing flames in gaza
the fertile souls in palestine

 

Kendari, January 23, 2009

 

 

MAGRIB WIND FLOWER MARKET

Translated by Annie Tucker

 

:for koto and thendra

 

 

a magrib1 wind carries the scent of black
ushers us to a valley of revelation
that is aflame and singing
in the mortal halls, goddesses and gods
grey beetles and white moths
burn the air and assert themselves in celebration
a whip’s tail catches and tethers a calf
the body mourned the walk bereft
body and passion are boiled by seduction, words and glass tussle
and break, wounding the night’s back

 

oh!
a lash rakes at the heart
a shred wanders in our skin and bones

 

our bodies are withered by the fire
sprawled out boiling in a solar mire

 

magrib wind flower market
wobbling towards the crowds of malioboro
the melancholy season grows ever longer
fluttering all the way to solo
our hair is covered with a sleepless fog
then a single rose smelling of pepsi tempts, hello

 

we predict the future in the gray yogya sky
moved and bombarded by its blue eye

 

in the nape of the sidewalk, the sunken footprints of a sufi
stumble on a wall of poetry, brought by the gods of bali

 

in a hazy market we utter supplication
pray in between the flask of magrib and the dance of isa
there is falling rain a full moon

 

we drive a hearse
speeding to a sleman burial
a magrib wind collapses
sobbing on the doorstep of subuh

 

good morning

 

 

Yogyakarta-Kendari, 2009

 

1Observant Muslims pray five times a day, at designatedintervals. Subuh are prayers at dawn, zuhur are mid-morningprayers when the sun is at its zenith, asar is observed in earlyafternoon, magrib is at dusk as the sun sets, and isa soonfollows about an hour after magrib.

 

TO A THOUSAND PORTS

Translatedby Annie Tucker

 

from mandar bay
i drop thousands of anchors in thousands of ports
i am sprawled out and awakened, shivering and burned
in the combusting afternoon

 

i pronounce blessings upon the full moon, lunge from dawn to dawn
love cannot be measured as if counting cryptic signs
before i understand, fate and prayers
thunder in a linear embrace

 

Kendari, April 23, 2008

 

 

 

MAGRIB BANQUET

Translatedby Annie Tucker

 

1
my wife. the call to magrib suckles your eyes
your awakened eyebrows crumple
your sunset prayer hair sleeps soundly on my neck
i savour its ripeness as if caressing prayer beads
the red outside our room mingles on your forehead
your eyes open like a wounded dawn
the muezzin9 invites us to the magrib banquet
to partake of the marrow of alfatiha10 and the wine of arrahman11

 

my husband. arise from the bindings of rest
the muezzin’s poetry wanders across your chest
faithful, never failing to send enduring love
your eyes are foggy the madrasa welcomes
evening twilight comes quickly, with every single visiting star
outside, worshipers stroll to the garden of prayer
before iqamah12 comes before revelation draws near

 

2
a husband and wife
open their room open the gate
and then are burned
their shuffling feet recite poems
of pleasure and gratitude to the tunnel of magrib
worshipers turbaned and veiled by the sky
swarm towards mecca, then the imam sings
oi, alangkah mawar allah akhbar
bidder for the bruised souls
bowed and collapsed in the thunder of prayer

 

Kendari, August 12, 2008

 

9The muezzin, also sometimes called a bilal,calls worshippers to prayer at designated times. This call, which often soundslike a lilting song, can be heard projected over loudspeakers in many cities,towns, and villages across Indonesia.
10The Al-Fatiha is the first chapter of the Kor’an, which in sevenverses speaks of Allah’s Lordship and Mercy. It is recited as part of dailyprayers.
11Ar-Rahman and Ar-Rahim are two names of Allah often recitedtogether, meaning The Most Gracious and The Most Merciful; they are alsorecited in daily prayers.
12There are two calls before every set of daily prayers, the firstis adhan, which calls believers to the mosque, and the second is iqamah,which indicates the prayers are about to begin.

 

 

RINDU MEREBUS SEMBAHYANG

 

1

laut lengang

karang diam

ombak hentikan buih-buihnya bercumbu di tepian

nun, perahu bersayap zikir, tafakur

menghikmati ikan-ikan pulang.

 

jemari-jemari angin bergelantungan di urat-urat bakau

cis-cis butir air menyelam ke karam

jatuh dari camar yang terbang

 

tak ada kasidah hujan yang biasa mengelana

di birahi-birahi gelombang

dan anak-anak hitam, ayah-ayah karang

berlibur di ranjang berselimutkan gerimis cahaya

yang menembus dinding lontar.

 

2

wahai Kekasih

rindu merebus sembahyang dan tualang

menjelma bianglala dan cahaya lila yang cebur ke air.

 

laut lengang.

rindu dan galau bergelora

seumpama gelombang ini

memburuMu ke langit ke cakrawala

tiada kira.

 

zikirku, takbirku

mereka-reka Engkau yang tak terkira.

sementara tasbih mencair bersama gelombang.

 

 

Kendari, 24 Mei 2006

 

 

 

TEPI HAYAT

 

Jantungku angin mataku langit

Seribu taifun mortir aku sejuta pasir

 

Ledakan-ledakan kepala menyoraki Gaza

Aku seliat baja engkau sebetulnya busa

Dari mulutmu luka dirajah tuba

 

Di liang-liang pasir Tepi Barat

Meletus anyir sampai ke tepi hayat

 

Aku kembali ke tengah mayat

Dalam baiat dalam rakaat berpeluru safaat
kusongsong engkau sampai tepi kiamat

 

Kau renggut tanah darah

Kau reguk kembali di cangkircangkir neraka

 

Nyala yang tumbuh di Gaza

Nyawa yang subur di Palestina

 

Kendari, 23 Januari 2009

 

 

ANGIN MAGRIB PASAR KEMBANG

:Untuk Koto dan Thendra

 

Angin magrib geleparkan bau hitam

Mengantar kami ke lembah ilham

Yang bernyanyi dan berapi.

Di lorong-lorong fana, dewa dewi

Laron-laron putih dan kumbang-kumbang abu

Membakar udara dan menandaskan diri dalam pesta

Rambut cemeti membetot betis Itali

Ditangisi badan jalan papa

Badan dan gairah terebus rayu, kaca dan kata beradu

Pecah, melukai punggung malam

 

Aduh

Sebuah lecutan membabat jantung

Irisan senar mengelana di daging tulang

 

Tubuh kami ranggas sepanjang api

Terkapar mendidih dalam lumpur matahari

 

Angin magrib pasar kembang

Menggeletar ke jasad Malioboro

Musim haru makin panjang

Menggelepar sampai ke Solo

Rambut kami dirambati kabut begadang

Lalu sekuntum mawar berbau pepsi menggoda, hallo

 

Kami meramal langit Yogya yang abu

Terharu diberondong mata biru

 

Di tengkuk trotoar, terbenam jejak seorang sufi

Terbentur di dinding puisi, dibopong dewata Bali

 

Kami berzikir di pasar samar

Berdoa di antara botol magrib dan tarian Isa

Adakah gugur hujan badar

 

Kami berkendara keranda

Melaju ke pemakaman sleman

Angin magrib jatuh

Tersungkur di pintu subuh

 

Selamat pagi

 

Yogyakarta-Kendari, 2009

 

 

PADA RIBUAN BANDAR

 

Dari teluk Mandar

Aku labuhkan ribuan jangkar pada ribuan bandar

Aku terkapar dan tersadar, gigir dan terbakar

Dalam pembakaran Asar

 

Aku lafazkan salawat badar, merangsek dari fajar ke fajar

Cinta tak kuasa ditakar seperti menghitung alamat yang samar

Sebelum aku mafhum, takdir dan takbir

Bergeluruh dipeluk Banjar

 

Kendari, 23 April 2008

 

PERJAMUAN MAGRIB

1

Istriku. Azan magrib mengulum matamu

Alismu rebah terbangun

Rambutmu yang magrib lelap di leherku

Kuhikmati ranumnya seperti menyuntuki batubatu tasbih

Merah di luar kamar bercengkerama di keningmu

Matamu terbuka seumpama fajar terluka

Bilal mengundang ke perjamuan Magrib

Menyantap sumsum alfatiha dan anggur Arrahman

 

Suamiku.bangunlah dari bebatan istirah

Syair bilal mengelana di dadamu

Penyetia yang tak lekang mengirim hubbu

Matamu berkabut surau menyambut

Temaram isya segera datang, satusatu bintang bertandang

Di luar, jamaah melenggang ke taman sembahyang

Sebelum iqamah datang sebelum kiamat jelang

 

2

Sepasang suami istri

Membuka kamar membuka pagar

Lalu terbakar

Kakikakinya lariklarik puisi

Hikmat dan nikmat ke terowongan Magrib

Jamaah bersorban berkerudung langit

Mengerubung kiblat, lalu imam berkidung

Oi, alangkah mawar allahu akbar

Penawar jiwa-jiwa memar

Rubuh dan rukuk dalam geluruh sembahyang

 

Kendari, 12 Agustus 2008

 

 

 

 

Pengumuman Pemenang Sayembara Cipta Puisi Se-Sulawesi Tenggara dan Catatan Pertanggungjawab Dewan Juri


 

Setelah melalukan pembacaan yang cermat atas ke-59 puisi dari 39 peserta yang dikirimkan oleh panitia, dewan juri memutuskan pemenang Sayembara Cipta Puisi (SCP) Se-Sulawesi Tenggara Tahun 2014 sebagai berikut:

Juara I, Kaghati Kolope, karya Deasy Tirayoh

Juara II, Andabia dan Aku Terbakar, karya Iwan Konawe

Juara III, Sangiano Wuna, karya Betwan Betty

Harapan I, Anggaberi, karya Iwan Konawe

Harapan II, Tokotua, karya Mas Jaya

Harapan III, Nyanyian Batu, karya Ima Lawaru

Berdasarkan ketentuan panitia, masing-masing pemenang akan mendapatkan sebagai berikut:

Pemenang I    : Rp 2.000.000,- + sejumlah buku + sertifikat

Pemenang II    : Rp 1.500.000,- + sejumlah buku + sertifikat

Pemenang III   : Rp   1.000.000,- + sejumlah buku + sertifikat

Harapan I        : Rp    750.000,- + sejumlah buku + sertifikat

Harapan II       : Rp    600.000,- + sejumlah buku + sertifikat

Harapan III      : Rp    400.000, + sejumlah buku + sertifikat
Hadiah dalam bentuk uang akan ada pemotongan pajak sebesar 15%

 

Catatan Pertanggungjawab Dewan Juri

Secara kuantitas naskah yang masuk dalam SCP 2014, lebih sedikit dibandingkan dengan lomba tahun sebelumnya. Akan tetapi dari segi kualitas, lomba tahun ini sedikit lebih menggembirakan. Jumlah puisi yang masuk ke meja juri sebanyak 59 judul dari 39 peserta. Pada saat menentukan urutan pemenang cukup menyulitkan karena karya yang dinominasikan masing-masing juri memiliki kekuatan yang hampir sama. Namun setelah menimbang hal-hal estetik dan tematik dengan lebih cermat, ketiga juri mendapatkan urutan pilihan dan keputusan yang disepakati bersama.

Hal itu berati bahwa juri tidak menemukan puisi dari para peserta yang benar-benar bisa diunggulkan dan melejit melampaui yang lain dengan segala aspek pembentuknya. Oleh karena itu, dengan segala ikhtiar, juri berusaha untuk merangkingnya sebagai hasil akhirnya.Keenamnya sebenarnya bisa dikatakan sebanding. Namun, karena ini ajang sayembara, tentu diperlukan penjenjangan. Inilah catatan ketiga juri untuk puisi-puisi peserta yang menjadi pemenang.

Juri menemukan puisi yang istiqomah. Fokus pada apa yang diungkapkannya, tentang layang-layang dan angin, meskipun tampak juga godaan untuk meloncat dari fokus tersebut, tapi si penyair berhasil menipiskannya. Terdapat juga persajakan yang menarik di dalamnya.Selain itu, secara puisi-puisi tersebut  kuat merujuk pada ke-Sulawesi Tenggara-an. Ada puisi yang kuat dimula-mula, tapi kemudian intensitasnya terganggu dua kata yang tidak perlu ada. Puisi ini menyodorkan ikatan kuat falsafah layang-layang Kolope pada masyarakat Muna. Perjalanan sejarah layang-layang tertua di dunia yang ditemukan di Muna itu, diselaraskan dengan kesejatian hidup orang Muna itu sendiri.  Sajak tersebut mengangkat permainan layang-layang tradisional Muna secara indah, meskipun sasaran yang dituju bukan permainan itu sendiri, melainkan nilai dan makna yang dikandungnya. Juga sejarah dan silsilah. Ia, sajak yang bersifat simbolik yang menggambarkan pergulatan kehidupan orang Muna, sejarah dan silsilahnya. Karena berhasil membangun nilai simbolik lewat ungkapan yang bersahaja, maka boleh dikatakan sajak ini sangat kaya dalam kesederhanaannya.

Pada puisi yang lain, juri mencatat terdapat puisi ini jernih, runut dan utuh. Puisi tersebut tidak menggebu oleh metafora dan irama, namun justru di sinilah letak keistimewaannya. Di tengah dominannya metafor dan irama dalam tampilan sajak mutakhir kita, yang membuatnya kadang kabur dan kehilangan alur, puisi tersebut menawarkan ungkapan yang wajar dan bahasa yang cenderung lugas—tapi tak kehilangan unsur puitiknya. Kosakata daerah dipungut seperlunya, pada bagian-bagian yang memang dianggap perlu.

Namun, apapun, upaya memotret para pemecah batu, khususnya yang melibatkan anak-anak, merupakan persfektif sosial yang sangat tajam dari kehidupan masyarakat Sulawesi Tenggara, dan pemecah batu di Sanggula berhasil menjadi potret/representasi dari kehidupan yang keras itu. Kritik sosial muncul dalam ironi yang tak kalah tajam, dan memuncak pada akhir baris (penutup).

Lalu di mana letak ke-Sultra-annya? Selain dengan jelas mengambil latar sebuah kampung di Sultra, orang bisa saja beranggapan bahwa kehidupan pemecah batu seperti itu ada di mana-mana, dan akan begitu-begitu saja. Di berbagai tempat di tanah air, ada kehidupan masyarakat pemecah batu dengan segala suka dukanya, mulai dari Batu Putih di Madura, penambang belerang di kawah Ijen, di Pegunungan Kendeng dan Kidul, dan seterusnya. Apa istimewanya penambang batu di Sanggula?

Di sinilah menurut juri ada hal yang istimewa. Bahwa dalam setiap lomba tematik menyangkut suatu daerah, peserta dengan serta-merta akan disergap oleh bayangan dan hal-hal yang sepenuhnya bersifat lokal. Secara spontan akan muncul unsur-unsur sakral, adat istiadat, upacara, kuliner, permainan, dan seterusnya, terlebih jika ada pula embel-embel budaya. Etos kerja, ketersisihan nasib, dan seterusnya seolah bukan bagian dari potret budaya suatu daerah/masyarakat. Nah, puisi tersebut tampak melakukan pembalikan sikap dari kecenderungan itu; aku-lirik justru mengambil hal yang “umum” untuk menyatakan sesuatu yang “spesifik” dengan nilai universal. Sementara dalam puisi lainnya, hal yang spesifik atau khusus, ditampilkan untuk menggambarkan sesuatu yang umum.

Dewan juri juga mendapatkan puisi yang mengambil latar di sebuah kampung di Konawe. Sajak ini berhasil membawa pembaca masuk dan seolah terhantar di lokasi yang digambarkan penyairnya. Boleh jadi ini jenis sajak suasana tentang tempat dan kenangan, namun berbeda dengan sajak suasana yang umumnya “sentimentil” dalam irama berlarat, suasana dalam sajak ini terasa kuat dan menggetarkan. Alam dengan segala geliatnya terasa hidup bukan oleh irama mendayu, tapi kepaduan kata sehari-hari yang sangat efektif dan tepat penggunaannya sebagaimana terlihat di bait pertama. Potret sosial masyarakat kampung hadir dengan empati yang wajar, sebagaimana terlihat pada bait kedua. Material (alam) yang mungkin terancam oleh berbagai eksplorasi/eksploitasi, muncul dalam simpatik pada bait ketiga. Nilai-nilai dan warisan adat yang juga tinggal “sisa” diapresiasi dengan empati yang kuat dalam bait keempat. Dan akhirnya, pada bait penutup, aku-lirik sampai ada puncak yang tak lagi terkatakan “Andabia dan Aku terbakar” yang merupakan representasi dari kuatnya ikatan batin dan keberpihakan aku-lirik dengan sebuah kampung, tanah kelahiran.

Juri menyukai rasa puitik pada puisi dimaksud. Penyajak cukup konsisten mengawal larik-larik puisinya. Kekuatan puisi ini berpijak pada kemampuan memilih diksi. Puisi tersebut memendam spirit. Proses internalisasi pada tema cukup asyik. Beberapa istilah lokal yang disebut semakin memberi nuansa setempat, meski harus diakui ada beberapa istilah/tempat yang terkesan asal sebut tanpa ada ikhtiar untuk mendalami penyebutan tersebut.

Pada sayembara ini, terdapat puisi yang secara kulturatif, penyajak mengajak masuk lebih dalam ke jantung budaya Muna. Penyajak tampak sekali hendak memasukkan semua hal yang ditangkap inderanya ke dalam puisi. Ini menarik sekali. Sebenarnya ia tampak berusaha tetap berada dalam rima, namun gagalnya upaya itu tertutupi dengan intensitas puitiknya yang terjaga. Perbendaharaan kata bahasa Indonesia memang tak begitu cukup, namun ungkapan-ungkapan lokal yang ia tata dalam larik padat menjalin dengan baik. Penyair belum berani eksploratif. Juri menangkap keindahan dalam larik-larik yang ia bentuk. Puisi ini dinilai berhasil menjelaskan Muna dari banyak sisi. Muna yang bermula, Muna yang agamis, Muna yang lokal eksotik, Muna yang falsafah.

Selain itu, sebagai sebuah sajak naratif yang panjang dan detail, sajak dimaksud berhasil memotret “pesta rakyat” Muna, dan kaya akan referensi. Hidup Suasana terasa dekat dan akrab. Namun sembari itu, seperti tercipta jarak antar generasi, maupun antara pemakai tradisi dan tradisi itu sendiri: keakraban dan kehilangan seolah tarik-menarik. Puisi hadir seperti mewadahi kegamangan, paradoks yang mendatangkan renungan. Puisi jenis ini menarik. Sayangnya, terlalu bernafsu untuk merengkuh begitu banyak arketipe budaya lokal Muna. Secara kosmologis, penulis melakukan pembagian yang arketipel antara daratan dan laut dalam bait puisi, meskipun beberapa hadir secara tidak konsisten.

Dewan juri juga menilai terdapat puisi yang “sabar”. Tak ada pretensi mengejar keindahan yang tampak. Ia bermain dengan dirinya sendiri.  Aku dan alam sekeliling hadir serentak, saling terkait. Masa lalu dan masa kini berjalin kelindan, membentuk ruang-ruang puitis yang tercipta tanpa perlu bersandar kaku pada sarana verbal kebahasaan. Ruang itu hadir tanpa disadari. Selain itu, puisi tersebut mengambil latar sebuah kampung di Konawe, lengkap dengan segala sisi hidupnya. Ungkapannya yang naratif terbilang lancar mengalir, jernih, namun selalu ada riak yang mengejutkan: kenangan akan bau dapur, pendar cahaya templok, kubah masjid, dan seterusnya. Siklus waktu dihadirkan secara lengkap dari pagi ke siang, ke malam sampai pagi lagi. Boleh dikatakan “reportase 24 jam” pada sebuah kampung Sultra, mempresentasikan banyak hal.

Sayembara tahunan Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara tahun 2014 ini juga semakin menarik dan kaya akan pengucapan puisi. Ada puisi ini berkisah tentang kondisi ril Sulawesi Tenggara hari ini yang ia wakilkan pada sebuah daerah yang bernama Tokotua. Sulawesi Tenggara yang dirapun aktivitas pertambangan, kerusakan alam dan ancaman pada kultur, begitu mewakili semua daerah di wilayah ini. Dari kesan puitik, juga tampak si penyajak berusaha keras menaklukkan kata-kata dan hendak berima. Namun ia tersandung pada pengejaan. Tanpa catatan kaki pun, puisi ini mengantarkan pada kesedihan yang membalun. Kerusakan yang diakibatkan aktivitas pertambangan tidak saja merusak alam namun juga merusak tata adat peristiadatan masyarakat lokal yang dirujuk. Pada orang Tokotua, tanaman dan hewan adalah elemen adat dan peristiadatan yang penting. Ini tipe puisi puisi yang baik. Repetisi dan persajakannya terjaga. Namun, karena itu, terkesan beberapa rima yang hadir tidak karena diperlukan dan terkesan dipaksakan.

Demikianlah hasil penilaian kami yang diikuti dengan pertangggungjawaban. Kami berharap semoga sayembara ini menjadi ajang tahunan Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara, sebagai bagian dari kontribusi lembaga ini terhadap kehidupan perpuisian khususnya dan kesastraan umumnya di Sulawesi Tenggara. Kami yakin, upaya-upaya untuk menghidupkan sastra, sayembara ini salah satunya, akan turut menggerakkan roda kehidupan sastra di suatu tempat. Untuk hal ini, Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara telah melakukannya. Selamat dan salam sastra selalu.

 

Kendari, Yogyakarta, Surabaya; 1 Juni 2014

Dewan juri,

Ilham Q. Moehiddin (Kendari)

Raudal Tanjung Banua (Yogyakarta)

Mashuri (Surabaya)

 

Diketahui oleh panitia SCP Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara,

Syaifuddin Gani
Mulawati
Asrar Catar Mangkalang

Sayembara Cipta Puisi 2014 Se-Sulawesi Tenggara Kantor Bahasa Prov. Sultra


Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara yang memiliki visi antara lain berupaya memajukan dunia perpusian Sulawesi Tenggara, menyelenggarakan Sayembara Cipta Puisi 2014 Se-Sulawesi Tenggara. Sayembara ini diharapkan dapat menjadi wadah penyaluran penulisan puisi, mengapresiasi karya penulis puisi, dan turut mendukung dunia perpuisian menjadi lebih baik lagi di Sulawesi Tenggara.

1.   Ketentuan Lomba

- Sayembara bertema “Sulawesi Tenggara dalam Puisi”.

- Peserta terbuka untuk masyarakat SulawesiTenggara tanpa batasan usia.

- Peserta dapat menyertakan lebih dari1(satu) puisi, maksimal 2 (dua) judul puisi.

- Puisi ditulis dalam bahasa Indonesia.

- Puisi ditulis dalam rentang waktu tahun 2012 – 2014.

- Puisi karya asli, belum pernah dipublikasikan di media cetak, belum dibukukan, dan tidak sedang diikutsertakan dalam lomba sejenis.

- Puisi yang sudah pernah diikutkan pada sayembara cipta puisi tahun 2013 yang lalu, tidak dapat lagi diikutsertakan.

- Puisi tidak mengandung unsur SARA.

- Peserta wajib menyertakan, fotokopi KTP atau sejenisnya, foto, biodata lengkap, dan nomor kontak yang dapat dihubungi.

- Puisi yang keluar sebagai pemenang lomba menjadi hak milik panitia dengan hak cipta nama peserta.

 

2. Tema

Tema Sayembara Cipta Puisi ini adalah “Sulawesi Tenggara dalam Puisi”, dalam pengertian peserta dapat meneropong dan menggali Sulawesi Tenggara dalam berbagai sudut pandang dan beragam tema, seperti budaya, sosial, religi, adat istiadat, kemanusiaan, kekinian, lingkungan alam, laut, dan kearifan lokal. Tema umum ini dimaksudkan agar peserta bebas mengeksplorasi hal ihwal yang berkenaan dengan Sulawesi Tenggara secara lahir dan batin.

3.   Dewan Juri

Dewan juri kegiatan berjumlah tiga orang yang berasal dari kalangan sastrawan/penyair yaitu Raudal Tanjung Banua, Ilham Q.Moehiddin, dan Mashuri.

4.     Waktu Pelaksanaan

Sayembara Cipta Puisi 2014 Se-Sulawesi Tenggara dibukamulai 10 Maret–10Mei 2014. Pengumuman pemenang dilaksanakan pada tanggal 25 Mei 2014.

5.   PengirimanPuisi

Puisi dikirim dalam bentuk fileattachment melalui pos-el: puisisultra2014@yahoo.com dan di-CC ke: om_puding@yahoo.com, dengansubjek: SCP (spasi) Nama lengkap (spasi) Judul Puisi. Peserta dapat juga mengirim atau mengantar langsung ke sekretariat panitia: Kantor Bahasa Prov. Sulawesi Tenggara, Jalan Haluoleo, Kompleks Bumi Praja, Anduonohu Kendari. Puisi yang dikirim disertai biodata lengkap, foto (file), dan nomor HP.

6.   KriteriaPenilaian

Kriteria penilaian merujuk pada kriteria yang dipakai secara nasional pada berbagai sayembara cipta puisi di Indonesia. Unsur utama yang dinilai adalah: 1.Craftmanshipatau keterampilan berbahasa (yang meliputi metafora, gaya bahasa, rimadan nada, daya ungkap dan kejernihan); 2. Keutuhan gagasan (berupa perspektif penyair dalam sajaknya, keluasan, dan kedalaman wawasannya, dan lain-lain); 3. Konteks budaya (dalam hal ini dilihat berdasarkan konteks budaya di SulawesiTenggara).

7.   Teknik Penilaian

- Setiap puisi yang dikirim peserta melalui pos-el (email), hanya boleh dibuka/diterima oleh panitia lomba.

- Panitia menghilangkan nama penulis dan memberinya sebuah kode baru sebagai penanda. Hal ini dimaksudkan agar juri hanya menilai puisi saja tanpa ”terpengaruh” oleh nama penulis.

- Panitia mengirim semua puisi peserta (yang tanpa nama itu) kepada masing-masing dewan juri untuk dinilai

- Juri hanya menilai judul dan(isi) teks puisi

- Setelah juri selesai melakukan tugas penilaian dan telah menyepakati pemenangnya, panitia mengembalikan nama sang penulisnya.

- Apabila di kemudian hari, ada pemenang yang karyanya terbukti jiplakan, statusnya sebagai pemenang akan digugurkan panitia dan diberikan kepada peserta yang nilainya berdekatan.

8.       Hadiah

Hasil sayembara ini adalah Pemenang I, II, III, dan harapan I, II, dan III. Semua pemenang berhak memperoleh hadiah berupa uang tunai. Selain itu, setiap peserta akan mendapatkan sertifikat dari panitia. Pajak ditanggung pemenang. Pemenang juga mendapat sertifikat dari panitia. Adapun jumlah hadiah yang akan diperoleh pemenang adalah sebagai berikut:

Pemenang I     : Rp 2.000.000,-

Pemenang II     : Rp 1.500.000,-

Pemenang III   : Rp   1.000.000,-

Harapan I         : Rp   750.000,-

Harapan II       : Rp   600.000,-

Harapan III       : Rp   400.000,-

 

9.       Narahubung

Untuk informasi lebih lanjut, Anda dapat menghubungi panitia pelaksana: Syaifuddin Gani (085247877676)

 

10.     Alamat Panitia

Sekretariat Panitia Penyelenggara: Kantor Bahasa Prov. Sulawesi Tenggara, Jalan Haluoleo, Kompleks Bumi Praja, Anduonohu Kendari, Telepon (0401) 3135289 dan faksimile (0401) 3135286, dan HP 085247877676.

MOHON DISEBARLUASKAN INFORMASI INI.

Fotografi, Kesetiaan, dan Jalan Cinta


Jika bukan karena kesetiaan, tidak ada Cinta. Atau sebaliknya, tanpa Cinta, kesetiaan pun tiada. Demikianlah, untuk merengkuh cita-cita, dibutuhkan kesetiaan dan cinta. Di tengah jalan menuju penggapaian cita-cita itu, ada rintangan. Jika rapuh seseorang akan cepat rubuh. Kesetiaan memompa tekad. Tekad yang teguh membuka jalan menuju keberhasilan. Bahkan, untuk meraih sang cita, seseorang harus meninggalkan tanah air, keluarga, dan kerabat. Bukankah hijrah menjadi perintah Sang Nabi untuk dapat berkembang maju?

Kira-kira seperti itulah gambaran kesetiaan dan jalan cinta yang kini ditempuh oleh Arif Relano Oba. Fotografi adalah dunia yang ditekuninya dua belas tahun silam. Ia istiqamah atas pilihannya itu. Makanya, meski ia adalah seorang Sarjana Pertanian yang diraihnya di Universitas Haluoleo, tetapi panggilan dunia fotografi lebih membuat ia terpesona sehingga harus meninggalkan Kendari menuju Yogyakarta untuk kuliah di MSD (Modern School of Design). Katanya, untuk menentukan pilihan, seseorang harus merdeka. Bukan “merdeka dari” tetapi “merdeka untuk”, yakni merdeka untuk berbuat dan berkarya. Dua tahun ia mendalami fotografi dan desain grafis di Yogya, tidak membuatnya lantas berpuas diri. Panggilan kembali ke haribaan orang tua dan kampung halaman, kadang terasa kuat. Akan tetapi, lambaian tangan kemerdekaan lebih menyentuhnya lagi, sehingga tahun 2010 ia meninggalkan tanah air menuju sebuah negara di Eropa: Jerman.

Kepergiannya ke Jerman, bukan semata-mata karena anggapan bahwa Jerman dan Eropa adalah kiblat pengetahuan, sebagaiman anggapan Ikal dan Lintang dalam novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Tidak. Baginya, setiap negara atau setiap daerah adalah kiblat itu sendiri. Berangkat ke Jerman adalah pilihan dengan pertimbangan tertentu. Jerman, sangat mungkin bukan negara terakhir yang akan didatanginya. Ia bisa saja bertualang ke negara lain seperti Turki, Mesir, Irak, Argentina, Spanyol, Pantai Gading, atau Timur Leste, di suatu saat.

Arif mengatakan, untuk melahirkan karya foto yang berkualitas, harus ditempuh dengan berbagai cara. Salah satunya adalah ke Gottingen, Jerman. Itulah sebabnya, sesampainya di negerinya Hitler tersebut, ia segera bergabung dengan salah satu grup fotografi dan pameran tunggal. Pemaparan tersebut, adalah sekilas dari yang disampaikan sang fotografer saat menjadi pembicara di acara Bincang-bincang Foto: Fotografi, Kesetiaan, dan Jalan Cinta di Kloter-B, tanggal 6 November 2012 lalu.

Hal menarik yang disampaikan Arif adalah ketika menjawab pertanyaan peserta tentang apa yang diimpikan setelah tinggal dan kuliah di Jerman? Dengan nada berkelakar, ia menjawab, sebenarnya saya ingin kaya raya yang lalu diikuti tawa, baik dirinya maupun penonton. Kemudian ia serius menjawab, baginya, ini semacam perjudian. Ia sendiri tidak tahu seperti apa ujung dari pengembaraannya. Apakah ia akan menjadi fotografer yang menghasilkan karya foto yang dikagumi banyak orang? Ia sendiri tidak ambil pusing dengan itu semua. Begitu pula dengan motif ekonomi yang akan diraihnya nanti. Baginya, kesetiaan, ketekunan, belajar, dan pantang menyerah adalah faktor determinan yang harus ia tempuh. Hal ini penting disampaikan Arif, mengingat motif ekonomi dalam dunia fotografi dan kesenian lainnya kadang lebih dipentingkan atau tujuan utama daripada karya itu sendiri.

Suasana diskusi berlangsung menarik. Apalagi dipandu oleh seorang presenter Kendari, Kiky Reskiyana Ilyas dengan gaya santai, humoris, dan berguyon. Alhasil, kesan sersan (serius tapi santai) sangat kuat di acara kelima Kloter-B dalam tahun 2012 ini. Kiky, berhasil mengulik lebih dalam dan mendasar proses kreatif sang fotografer.

Kiki menanyakan awal proses kreatif Arif. Ketika tamat tahun 2000 sebagai Sarjana Pertanian di Universitas Haluoleo, kegelisahan segera membetot batinnya. Ia tidak merasa “selesai” dengan status S.P. yang melekat di ujung namanya. Mungkin sudah terlalu banyak Sarjana Pertanian, kali yah. Atau mungkin ia tak siap bergumul dengan tanah dan ladang. Lelaki kelahiran 1974 yang juga mahir bermain musik ini kemudian menggeluti dunia fotografi. Artinya, ia lebih merdeka bergumul dengan warna, cahaya, komposisi, dan bentuk. Maka ia pun lebih dikenal sebagai fotografer daripada Sarjana Pertanian.

Di Kendari ia memanfaatkan kamera analog milik ayahnya sebagai benda penyalur talenta sebagai fotografer. Ia mulai bergabung dengan fotografer Kendari dan jatuh cinta pada dunia ini.

Akan tetapi, kegelisahan terus menggerogoti batin dan pikirannya. Apakah saya hanya sebatas mengandalkan naluri dan otodidak sebagai jalan menuju fotografer yang baik? Tidak! Dunia fotografi lebih memanggil. Maka tahun 2002 ia minggat, meninggalkan Kendari menuju Yogyakarta dan kuliah di MSD. Satu tahun ia menekuni mata kuliah fotografi. Setahun kemudian ia mendalami mata kuliah desain grafis. Foto berjenis BW (black-white) merupakan favoritnya. Akan tetapi, ia menjadi lulusan terbaik seangkatannya justru untuk kategori foto warna.

Ia kemudian memanfaatkan waktunya di Kota Pendidikan itu untuk menimba sumur ilmu sebanyak mungkin. Kamar kost-nya jarang ia tempati. Hanya berfungsi sebagai tempat istirah, selebihnya, Yogya, menjadi rumahnya. Banyak sudut-sudut kota Yogya ia potret. Salah satu momen yang tidak ia lupakan adalah ketikaia pergi bersama teman-teman seangkatannya mengabadikan kegiaatan yang diadakan Rumah Langgeng di Magelang. Ia meng-klik performance art yang memukau dari Tisna Sanjaya berjudul “Aborsi”. Tidak lupa mengabadikan pidato kebudayaan yang dikumandangkan almarhum Rendra. Foto-foto kegiatan itu bersama sepucuk surat, ia kirim ke Kendari, tepatnya ke Teater Sendiri, tempatnya juga berproses.

Salah satu sesi diskusi yang menarik adalah ketika Arif menyampaikan saat-saat berkesan baginya, ketika pertama kalinya berada di ruang kuliah MSD. Sang dosen menyuruh mahasiswa baru mengeluarkan masing-masing kamera andalannya. Sebagian besar mahasiswa meletakkan kamera keluaran terbaru, di meja. Dengan perasaan berat dan malu, ia pun meletakkan sang kamera analog bermerek Ricoh KR5, milik (pemberian) bapaknya di Kendari, di atas meja. Akan tetapi, penegasan dosen menguatkan hatinya bahwa yang menentukan kualitas sebuah foto bukan kameranya, tetapi orangnya! Saat itu kepercayaan dan keyakinan dirinya semakin kuat.

Usai kuliah di Yogya, ia balik lagi ke Kendari dan sempat menjalani profesi sebagai wedding fofografer. Bersama teman-teman fotografer, ia membentuk RPK atau Release Photografer Kendari yang terus eksis sampai sekarang dan memiliki grup di dunia maya (facebook). Bahkan lelaki murah senyum dan baik hati ini, masih sempat memperlihatkan talentanya yang lain yaitu menggarap musik, khususnya musikalisasi puisi. Maka ia pun membentuk Kompi (Komunitas Musikalasisasi Puisi) Sulawesi Tenggara tahun 2006. Tahun 2008 ia bersama anggotanya, pentas di Taman Ismail Marzuki. Sebagian besar komposisi lagu lahir dari tangannya. Di Kendari, bersama Kompi ia sempat manggung di RRI Regional I Kendari yang diapresiasi banyak kalangan. Sebelumnya, tahun 2006, ia menggarap musik teater untuk pertunjukan Teater Sendiri di Pusat Bahasa, Jakarta, dalam lakon Malam Jahanam karya Motinggo Busye, sutradara Achmad Zain. Karya musiknya diapresiasi penonton karena kekhasannya yang menggali musik etnik Sulawesi Tenggara.

Sebagaimana lazimnya seorang seniman, Arif terus gelisah. Ia tidak puas dengan posisinya sekarang. Karya fotonya sudah dimuat di berbagai majalah, misalnya Majalah Gong, dan juga sudah dimuat di berbagai buku sastra. Penyair Sapardi Djoko Damono memiliki ketertarikan sendiri pada foto Arif. Bahkan foto dirinya yang di-klik Arif sewaktu Sapardi memberi ceramah sastra di Kantor Bahasa Prov. Sultra, ia minta isin untuk dijadikan sampul bukunya yang diterbitkan Editum. Begitu pula buku terbarunya yang diterbitkan dalam edisi Bahasa Inggris oleh Penerbit Lontar, ia minta iain ke Arif untuk dijadikan foto biodata. Arif pun menerima satu buah buku. Maka kemudian, ia pamit kepada kedua orang tua dan sahabat-sahabatnya. Tahun 2010 ia meninggalkan Kendari dan tanah air Indonesia, menuju Jerman. Niatnya hanya satu, menjadikan karya fotonya lebih baik!

Di Jerman ia tidak langsung bertungkus-lumus dengan dunia fotografi. Mulanya ia kursus bahasa Jerman sebagai pintu utama. Sambil kursus ia kemudian melakoni hidup sebagaimana pendatang lainnya dari Indonesia yaitu bekerja. Dan pekerjaan yang dipilihnya adalah loper koran. Sambil mengantar koran ke rumah pembaca yang masih tidur, ia menghikmati dan menghirup udara dan iklim Jerman. Iklim Eropa.

Setelah beberapa lama, ia kemudian mulai membuka komunikasi dengan fotografer Gottingen, tempat ia bermukim. Diskusi dan komunikasi pun berjalan. Dan sebagai persyaratan masuk di sekolah fotografi, ia harus menyertakan tiga seri foto untuk dinilai, yang salah satunya tentang perempuan. Ia pun memotret salah seorang temannya yang dari Aceh, bernama Masyitah, sebagai salah satu foto itu. Bersama Masyitah, ia “memasuki” Gottingen dan memotretnya. Dan, pucuk dicinta, cinta tiba. Eh maaf, pucuk dicinta, ulam tiba. Begitulah pepatah yang kini mendatangi Arif. Sebuah sayembara foto dilakukan Universitas Gottingen. Sayembara yang bertema facing diversity, ia ikuti. Ketiga foto sebagai syarat masuki di sekolah fotografi, ia ikutkan. Ia memanfaatkan momentum ini sebagai langkah awal memasuki dunia fotografi Jerman, khususnya Gottingen.

Pada saat pengumuman, Arif dinyatakan sebagai Juara Pertama. Foto tersebut berisi seorang perempuan berjilbab (Masyitah) yang menunduk sebagai representasi inferiorotas atas kebudayaan di Jerman yang diwakili oleh dua gambar gaun perempuan yang dipajang di sebuah supermarket. Sang perempuan, di sini cerdasnya Arif sebagai fotografer, seakan berada di sebuah kotak yang membatasi dengan latar gaun “you can see” yang memperlihatkan celana dalam dan BH. Di ruang diskusi Kloter-B malam itu, suasana sangat menarik karena foto yang memenangi sayembara bersama foto-foto lain, ditayangkan di layar besar, sebagai tontonan dalam bentuk essayfhoto. Pemutaran essayfhoto itu semakin menarik karena disertai narasi. Dan semakin menarik lagi karena naratornya adalah Masyita sendiri. Menurut Arif, perekamannya dilakukan dengan menggunakan fasilitas skype dari Kendari ke Jerman. Memang yah, apa sih yang tidak bisa dilakukan sekarang? Perangkat elektronik membuat sesuatu menjadi lebih mudah. Usai memenangi sayembara foto itu, Arif kemudian menyelenggarakan Pameran Tunggal yang bertema Goettingen di Mata Pendatang. Yah, karena sudah dipercaya oleh pihak kampus, ia pun menggelar Pameran Tunggal di kampus tersebut, Stadtandichten des Indonesischen Fotografen Arif Relano Oba, Ab. 15 Mai 2012, in der Cafetaris SUB.
Tanya-jawab antara Arif dan peserta yang sebagian besar fotografer Kendari sangat bernas. Ketika ada peserta yang bertanya, apa yang ada di benak Arif saat tengah menyorot suatu objek dan kemudian meng-klik-nya menjadi foto? Katanya, foto baginya adalah sarana komunikasi. Saya ingin mengomunikasikan kepada orang apa yang saya tangkap dan hendak disampaikan ke haribaan apresiator.

Seorang peserta juga bertanya, mengapa Arif memilih jenis BW untuk essayphoto-nya tinimbang berwarna? Apa kelebihan BW dibanding warna? Arif memjawab dengan filosofis bahwa foto BW memungkin seorang penikmat langsung bermuka-muka dengan bentuk dan muatan/makna foto. Seseorang tidak lagi terpengaruh oleh warna. Ia juga menambahkan bahwa ia tidak semata-mata menghasilkan foto hitam-putih, tetapi juga berwarna. Banyak foto-fotonya yang dipublikasi dalam bentuk warna. Foto-fotonya yang dimuat di beberapa majalah justru yang berwarna.

Hal lain yang menarik adalah pengalamannya bersentuhan langsung dengan fotografer Gottingen, Jerman. Universitas Gottingen mengundang beberapa fotografer di kota itu dalam rangka pembuatan kalender. Karya foto mereka akan menghiasi kalender dimaksud. Pada hari H pertemuan, semua fotografer sudah hadir termasuk Arif. Tidak lupa, Arif membawa dan menyiapkan foto, sebagai bahan referensi untuk kalender. Akan tetapi pihak kampus dan fotografer lain sama sekali tidak membawa foto-foto sebagaimana Arif. Mereka “membawa’ foto dalam kepala mereka sebagai bentuk gagasan atau konsep. Jadi yang dibicarakan adalah konsep mengenai pembuatan kalender dan konsep tentang foto yang akan dimuat di situ. Artinya, mereka menawarkan konsep dalam bentuk gambaran visual dalam benak. Karya foto hanyalah efek atau tanda lahiriah belaka dari konsep-konsep itu.

Di hadapan peserta diskusi, Arif ingin mengatakan bahwa hal mendasar dari forografi adalah konsep. Setiap seseorang akan meng-klik suatu objek terlebih dahulu diawali dengan sebuah konsep. Konsep yang matang menghasilkan foto yang matang. Konsep yang tidak jelas, akan melahirkan foto yang tidak jelas pula.

Pukul 22.00, diskusi berakhir. Kegiatan yang dilaksanakan Kloter-B pun usai. Para pelaksananya yang terdiri atas anak-anak muda: Kiki, Ari, Iram, Comcom, Pipin, Galih, Puding segera menyalami Arif dan para peserta.

Akan tetapi, sebagaimana yang disampaikan sang moderator, Kiky, diskusi intim boleh berlanjut usai acara selesai, maka segera terbentuk lingkaran yang di dalamnya ada Arif dan fotografer Kendari. Mereka berbicara lebih leluasa dan akrab dari hati ke hati sampai di atas jam dua belas malam.

Pada saat sebelum diskusi berakhir, sempat pula ditayangkan foto Arif yang berjudul “Masyrik di Saponda”. Dalam pandangan saya, foto ini amat berkesan lalu saya buatkan puisi, yang pada malai itu, saya diberi kesempatan untuk membacakannya.

MASYRIK DI SAPONDA
Untuk Arif Relano Oba

Langit disulap jadi biru
Bagai rindu yang haru mengairmata memandang bayi waktu yang terlahir
Gulungan awan berkobar di ujung laut, mengusir maut
Untuk dua laskar nelayan yang menghadapi teka-teki gelombang

Tiang-tiang berwarna malam, menyangga rahim gubuk
Yang melahirkan anak matahari
Yang menggeliat di dalam ayunan
Rintihan suaranya meletuskan serbuk-serbuk cahaya
Menjelma masyrik di saponda

Pasir-pasir coklat dirembesi darah cahaya
Dan dua laskar nelayan merayakan hari lahir matahari

Tiang-tiang rawan adalah tangga bagi kaki-kaki cuaca
Laut letih untuk pelayaran pertama
Awan gurih bagi angin musim perjalanan
Sepi rekah pagi terbuka bagi ketabahan sampan

Di balik temaram bayang-bayang
Di antara cengkrama sunyi tiang-tiang
Dua laskar nelayan
Mengundi nasib laut
Menerka alamat maut
Sambil melayarkan sampan doa-doa
Merayakan masyrik di saponda

Kendari, 15 Maret 2011

Kini, Arif sudah kembali ke Gottingen, Jerman. Di sana, ia kembali bersua dengan Masyitah, juga sesama fotografer, dan warga Gottingen. Ia telah melakukan sebuah sunnah Nabi, yaitu hijrah. Hijrah lahir dan batin.

Arif telah memberikan pelajaran yang bermakna bagi kita bahwa ia ke Jerman, bukan sebagai turis belaka yang menikmati sebuah tempat dalam kacamata turistik, di mana kebahagiaan dan kepuasan lahiriah menjadi tujuan. Tidak. Perjalanannya adalah sebentuk wisata spiritual, kultural, dan eksistensial. Suatu perjalanan ketika kebahagiaan dan penderitaan berpilin jadi satu untuk merengkuh makna, gairah, ilmu, kearifan, dan berkah. Ia juga mengajarkan kepada kita, bagaimana kesabaran itu benar-benar diterapkan dalam kehidupannya.

Mengutip pernyataan Arif sendiri, bahwa baginya hidup ini atau katakanlah, pilihannya untuk tinggal di Jerman adalah sebuah “perjudian”.Yah, hidup ini tidak lain dan tidak bukan adalah “perjudian”, dalam tanda kutip. Dibutuhkan keberanian dan juga visi yang kuat agar keluar sebagai pemenang. Sebagaimana jamaknya perjudian, mengutip satu lagu termashur Bang Haji Rhoma Irama, modal dasar dan utama adalah uang, lagi…lagi uang. Itulah sebabnya, seorang penjudi dapat merayakan kekayaan atau meratapi kebangkrutan.

Dan perjudian Arif, lelaki berdarah Butuni ini, tidak bermodalkan UANG, tetapi cita-cita, Cinta, dan kesetiaan!

Sebelum jam dua belas malam, saya pulang ke rumah. Di depan dan belakang, malam semakin legam saja. Di atas, gerombolan bintang berpendaran, menyoraki cakrawala.

Kendari, 21 November 2012

Sayembara Cipta Puisi Se-Sulawesi Tenggara 2013


Sayembara Cipta Puisi Se-Sulawesi Tenggara 2013

SAYEMBARA CIPTA PUISI 2013
KANTOR BAHASA PROV. SULAWESI TENGGARA

1. LATAR BELAKANG
Sastra merupakan cermin kehidupan masyarakat pendukungnya, bahkan sastra menjadi ciri identitas suatu bangsa. Melalui sastra, orang dapat mengidentifikasikan perilaku kelompok masyarakat, mengenali perilaku, kepribadian, dan spritulitas masyarakat pendukungnya. Sastra Indonesia merupakan cermin kehidupan masyarakat Indonesia dan identitas bangsa Indonesia. Demikian pula sastra daerah sebagai cermin kehidupan masyarakat dan identitas masyarakat daerah.
Puisi sebagai salah satu genre sastra merupakan karya imajinatif dan kreatif dari seorang penyair dengan menggunakan bahasa sebagai mediumnya. Banyak pengalaman yang dapat dituangkan dan diperoleh melalui sebuah puisi. Menciptakan sebuah puisi bagi penyair adalah kesempatan untuk mengungkapkan pandangan, perasaan, kritik, dan lain sebagainya.
Jika puisi dianggap sebagai jati diri suatu kelompok masyarakat, maka puisi yang ditulis oleh penyair Sulawesi Tenggara pun, diharapkan merepresentasikan keunikan dan kekhasan Sulawesi Tenggara, baik dari segi bentuk maupun tematis, dalam beragam sudut pandang. Itulah sebabnya, puisi dikatakan mengandung sejuta makna yang sarat dengan ungkapan jiwa dan rasa penyair yang khas.
Berdasarkan latar belakang tersebut, Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara yang memiliki visi antara lain berupaya memajukan dunia perpusian Sulawesi Tenggara akan menyelenggarakan Sayembara Cipta Puisi 2013. Sayembara bertemakan “kesulawesitenggaraan”. Sayembara ini secara nyata dapat menjadi wadah bagi pengembangan kreativitas sekaligus sebagai bentuk apresiasi karya-karya penyair Sulawesi Tenggara.

2. TUJUAN
Sayembara Cipta Puisi ini bertujuan memberi kesempatan kepada masyarakat umum untuk berpartisipasi aktif dan berkontribusi menyukseskan visi dan misi Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara dalam hal program keberaksaraan. Menulis puisi adalah jantung keberaksaraan itu sendiri. Kami mengundang para penyair, penggiat puisi, dan peminat puisi di Sulawesi Tenggara untuk mengikuti sayembara ini.

3. TEMA
Tema Sayembara Cipta Puisi ini adalah “kesulawesitenggaraan” dalam pengertian peserta dapat meneropong Sulawesi Tenggara dalam berbagai sudut pandang dan beragam tema, seperti budaya, sosial, religi, adat istiadat, kemanusiaan, lingkungan alam, laut, dan kearifan lokal. Tema umum ini dimaksudkan agar peserta bebas mengeksplorasi hal ihwal yang berkenaan dengan Sulawesi Tenggara secara lahir dan batin.

4. SASARAN DAN KRITERIA PESERTA
Sayembara Cipta Puisi Se-Sulawesi Tenggara 2013 memiliki sasaran peserta, yaitu semua komponen masyarakat Sulawesi Tenggara yang memiliki bakat dan
kemampuan menulis puisi, baik dari kalangan penyair, penggiat puisi, dan peminat puisi tanpa batasan usia. Peserta berproses dan tinggal di Sulawesi Tenggara. Peserta dapat juga tinggal sementara waktu di luar Sulawesi Tenggara untuk kepentingan tertentu, seperti sekolah.

5. DEWAN JURI
Dewan juri kegiatan berjumlah tiga orang yang berasal dari kalangan kritikus sastra dan sastrawan yaitu Raudal Tanjung Banua, Ilham Q. Moehiddin, dan Tia Setiadi.

6. WAKTU PELAKSANAAN
Sayembara Cipta Puisi 2013 dibuka mulai 1 Juni – 31 Agustus 2013. Pengumuman pemenang pada 23 September 2013.

7. PENGIRIMAN PUISI
Puisi dikirim dalam bentuk file attachment melalui pos-el: sayembaraciptapusi_kbhs@yahoo.com dan di-CC ke uni3q_genit@yahoo.com dengan subjek: SCP (spasi) Nama lengkap (spasi) Judul Puisi. Peserta dapat juga mengirim atau mengantar langsung ke sekretariat panitia: Kantor Bahasa Prov. Sulawesi Tenggara, Jalan Haluoleo, Kompleks Bumi Praja, Anduonohu Kendari, Telepon (0401) 3005581 dan 3005584, faksimile (0401) 3194249. Puisi yang dikirim disertai biodata lengkap, foto (file), dan nomor HP.

8. KETENTUAN LOMBA
 Peserta terbuka untuk masyarakat umum tanpa batasan usia.
 Peserta diizinkan menyertakan lebihdari 1(satu) puisi, maksimal 3 (tiga) judul puisi.
 Puisi ditulis dalam bahasa Indonesia.
 Puisi ditulis dalam rentang waktu tahun 2012 – 2013.
 Puisi karya asli, belum pernah dipublikasikan di media cetak, belum dibukukan, dan tidak sedang diikutsertakan dalam lomba sejenis.
 Puisi tidak mengandung unsur SARA.
 Peserta wajib menyertakan, fotokopi KTP atau sejenisnya, foto, biodata lengkap dan nomor kontak yang bisa dihubungi.
 Puisi yang keluar sebagai pemenang lomba menjadi hak milik panitia dengan hak cipta nama peserta.
 Puisi ditulis dalam rentang waktu tahun 2012—2013.

9. KRITERIA PENILAIAN
Kriteria penilaian merujuk pada kriteria yang dipakai secara nasional di berbagai tempat di Indonesia. Unsur utama yang dinilai adalah kesesuaian isi dengan tema, penggunaan diksi, gaya bahasa, dan unsur estetik lainnya.

10. TEKNIK PENILAIAN
 Setiap puisi yang dikirim peserta melalui pos-el (email), hanya boleh dibuka/diterima oleh panitia lomba.
 Panitia menghilangkan nama penulis dan memberinya sebuah kode baru sebagai penanda. Hal ini dimaksudkan agar juri hanya menilai puisi saja tanpa ”terpengaruh” oleh nama penulis.
 Panitia mengirim semua puisi peserta (yang tanpa nama itu) kepada masing-masing dewan juri untuk dinilai
 Juri hanya menilai judul dan (isi) teks puisi
 Setelah juri selesai melakukan tugas penilaian dan telah menyepakati pemenangnya, panitia mengembalikan nama sang penulisnya.
 Apabila dikemudian hari, ada pemenang yang karyanya terbukti jiplakan, statusnya sebagai pemenang akan digugurkan panitia dan diberikan kepada peserta yang nilainya berdekatan.

11. HADIAH
Hasil sayembara ini adalah Pemenang I, II, III, dan harapan I, II, dan III. Semua pemenang berhak memperoleh hadiah berupa uang tunai. Selain itu, setiap peserta akan mendapatkan sertifikat dari panitia. Pajak ditanggung pemenang. Pemenang juga mendapat sertifikat dari panitia

Adapun jumlah hadiah yang akan diperoleh pemenang adalah sebagai berikut:

Pemenang I : Rp 1.000.000,-
Pemenang II : Rp 800.000,-
Pemenang III : Rp 650.000,-
Harapan I : Rp 450.000,-
Harapan II : Rp 350.000,-
Harapan III : Rp 250.000,-

12. PENUTUP
Untuk informasi lebih lanjut, Anda dapat menghubungi panitia pelaksana:
Uniawati (081341577717)

Sekretariat Panitia Penyelenggara:
Kantor Bahasa Prov. Sulawesi Tenggara,