Pengumuman Pemenang Sayembara Cipta Puisi Se-Sulawesi Tenggara dan Catatan Pertanggungjawab Dewan Juri


 

Setelah melalukan pembacaan yang cermat atas ke-59 puisi dari 39 peserta yang dikirimkan oleh panitia, dewan juri memutuskan pemenang Sayembara Cipta Puisi (SCP) Se-Sulawesi Tenggara Tahun 2014 sebagai berikut:

Juara I, Kaghati Kolope, karya Deasy Tirayoh

Juara II, Andabia dan Aku Terbakar, karya Iwan Konawe

Juara III, Sangiano Wuna, karya Betwan Betty

Harapan I, Anggaberi, karya Iwan Konawe

Harapan II, Tokotua, karya Mas Jaya

Harapan III, Nyanyian Batu, karya Ima Lawaru

Berdasarkan ketentuan panitia, masing-masing pemenang akan mendapatkan sebagai berikut:

Pemenang I    : Rp 2.000.000,- + sejumlah buku + sertifikat

Pemenang II    : Rp 1.500.000,- + sejumlah buku + sertifikat

Pemenang III   : Rp   1.000.000,- + sejumlah buku + sertifikat

Harapan I        : Rp    750.000,- + sejumlah buku + sertifikat

Harapan II       : Rp    600.000,- + sejumlah buku + sertifikat

Harapan III      : Rp    400.000, + sejumlah buku + sertifikat
Hadiah dalam bentuk uang akan ada pemotongan pajak sebesar 15%

 

Catatan Pertanggungjawab Dewan Juri

Secara kuantitas naskah yang masuk dalam SCP 2014, lebih sedikit dibandingkan dengan lomba tahun sebelumnya. Akan tetapi dari segi kualitas, lomba tahun ini sedikit lebih menggembirakan. Jumlah puisi yang masuk ke meja juri sebanyak 59 judul dari 39 peserta. Pada saat menentukan urutan pemenang cukup menyulitkan karena karya yang dinominasikan masing-masing juri memiliki kekuatan yang hampir sama. Namun setelah menimbang hal-hal estetik dan tematik dengan lebih cermat, ketiga juri mendapatkan urutan pilihan dan keputusan yang disepakati bersama.

Hal itu berati bahwa juri tidak menemukan puisi dari para peserta yang benar-benar bisa diunggulkan dan melejit melampaui yang lain dengan segala aspek pembentuknya. Oleh karena itu, dengan segala ikhtiar, juri berusaha untuk merangkingnya sebagai hasil akhirnya.Keenamnya sebenarnya bisa dikatakan sebanding. Namun, karena ini ajang sayembara, tentu diperlukan penjenjangan. Inilah catatan ketiga juri untuk puisi-puisi peserta yang menjadi pemenang.

Juri menemukan puisi yang istiqomah. Fokus pada apa yang diungkapkannya, tentang layang-layang dan angin, meskipun tampak juga godaan untuk meloncat dari fokus tersebut, tapi si penyair berhasil menipiskannya. Terdapat juga persajakan yang menarik di dalamnya.Selain itu, secara puisi-puisi tersebut  kuat merujuk pada ke-Sulawesi Tenggara-an. Ada puisi yang kuat dimula-mula, tapi kemudian intensitasnya terganggu dua kata yang tidak perlu ada. Puisi ini menyodorkan ikatan kuat falsafah layang-layang Kolope pada masyarakat Muna. Perjalanan sejarah layang-layang tertua di dunia yang ditemukan di Muna itu, diselaraskan dengan kesejatian hidup orang Muna itu sendiri.  Sajak tersebut mengangkat permainan layang-layang tradisional Muna secara indah, meskipun sasaran yang dituju bukan permainan itu sendiri, melainkan nilai dan makna yang dikandungnya. Juga sejarah dan silsilah. Ia, sajak yang bersifat simbolik yang menggambarkan pergulatan kehidupan orang Muna, sejarah dan silsilahnya. Karena berhasil membangun nilai simbolik lewat ungkapan yang bersahaja, maka boleh dikatakan sajak ini sangat kaya dalam kesederhanaannya.

Pada puisi yang lain, juri mencatat terdapat puisi ini jernih, runut dan utuh. Puisi tersebut tidak menggebu oleh metafora dan irama, namun justru di sinilah letak keistimewaannya. Di tengah dominannya metafor dan irama dalam tampilan sajak mutakhir kita, yang membuatnya kadang kabur dan kehilangan alur, puisi tersebut menawarkan ungkapan yang wajar dan bahasa yang cenderung lugas—tapi tak kehilangan unsur puitiknya. Kosakata daerah dipungut seperlunya, pada bagian-bagian yang memang dianggap perlu.

Namun, apapun, upaya memotret para pemecah batu, khususnya yang melibatkan anak-anak, merupakan persfektif sosial yang sangat tajam dari kehidupan masyarakat Sulawesi Tenggara, dan pemecah batu di Sanggula berhasil menjadi potret/representasi dari kehidupan yang keras itu. Kritik sosial muncul dalam ironi yang tak kalah tajam, dan memuncak pada akhir baris (penutup).

Lalu di mana letak ke-Sultra-annya? Selain dengan jelas mengambil latar sebuah kampung di Sultra, orang bisa saja beranggapan bahwa kehidupan pemecah batu seperti itu ada di mana-mana, dan akan begitu-begitu saja. Di berbagai tempat di tanah air, ada kehidupan masyarakat pemecah batu dengan segala suka dukanya, mulai dari Batu Putih di Madura, penambang belerang di kawah Ijen, di Pegunungan Kendeng dan Kidul, dan seterusnya. Apa istimewanya penambang batu di Sanggula?

Di sinilah menurut juri ada hal yang istimewa. Bahwa dalam setiap lomba tematik menyangkut suatu daerah, peserta dengan serta-merta akan disergap oleh bayangan dan hal-hal yang sepenuhnya bersifat lokal. Secara spontan akan muncul unsur-unsur sakral, adat istiadat, upacara, kuliner, permainan, dan seterusnya, terlebih jika ada pula embel-embel budaya. Etos kerja, ketersisihan nasib, dan seterusnya seolah bukan bagian dari potret budaya suatu daerah/masyarakat. Nah, puisi tersebut tampak melakukan pembalikan sikap dari kecenderungan itu; aku-lirik justru mengambil hal yang “umum” untuk menyatakan sesuatu yang “spesifik” dengan nilai universal. Sementara dalam puisi lainnya, hal yang spesifik atau khusus, ditampilkan untuk menggambarkan sesuatu yang umum.

Dewan juri juga mendapatkan puisi yang mengambil latar di sebuah kampung di Konawe. Sajak ini berhasil membawa pembaca masuk dan seolah terhantar di lokasi yang digambarkan penyairnya. Boleh jadi ini jenis sajak suasana tentang tempat dan kenangan, namun berbeda dengan sajak suasana yang umumnya “sentimentil” dalam irama berlarat, suasana dalam sajak ini terasa kuat dan menggetarkan. Alam dengan segala geliatnya terasa hidup bukan oleh irama mendayu, tapi kepaduan kata sehari-hari yang sangat efektif dan tepat penggunaannya sebagaimana terlihat di bait pertama. Potret sosial masyarakat kampung hadir dengan empati yang wajar, sebagaimana terlihat pada bait kedua. Material (alam) yang mungkin terancam oleh berbagai eksplorasi/eksploitasi, muncul dalam simpatik pada bait ketiga. Nilai-nilai dan warisan adat yang juga tinggal “sisa” diapresiasi dengan empati yang kuat dalam bait keempat. Dan akhirnya, pada bait penutup, aku-lirik sampai ada puncak yang tak lagi terkatakan “Andabia dan Aku terbakar” yang merupakan representasi dari kuatnya ikatan batin dan keberpihakan aku-lirik dengan sebuah kampung, tanah kelahiran.

Juri menyukai rasa puitik pada puisi dimaksud. Penyajak cukup konsisten mengawal larik-larik puisinya. Kekuatan puisi ini berpijak pada kemampuan memilih diksi. Puisi tersebut memendam spirit. Proses internalisasi pada tema cukup asyik. Beberapa istilah lokal yang disebut semakin memberi nuansa setempat, meski harus diakui ada beberapa istilah/tempat yang terkesan asal sebut tanpa ada ikhtiar untuk mendalami penyebutan tersebut.

Pada sayembara ini, terdapat puisi yang secara kulturatif, penyajak mengajak masuk lebih dalam ke jantung budaya Muna. Penyajak tampak sekali hendak memasukkan semua hal yang ditangkap inderanya ke dalam puisi. Ini menarik sekali. Sebenarnya ia tampak berusaha tetap berada dalam rima, namun gagalnya upaya itu tertutupi dengan intensitas puitiknya yang terjaga. Perbendaharaan kata bahasa Indonesia memang tak begitu cukup, namun ungkapan-ungkapan lokal yang ia tata dalam larik padat menjalin dengan baik. Penyair belum berani eksploratif. Juri menangkap keindahan dalam larik-larik yang ia bentuk. Puisi ini dinilai berhasil menjelaskan Muna dari banyak sisi. Muna yang bermula, Muna yang agamis, Muna yang lokal eksotik, Muna yang falsafah.

Selain itu, sebagai sebuah sajak naratif yang panjang dan detail, sajak dimaksud berhasil memotret “pesta rakyat” Muna, dan kaya akan referensi. Hidup Suasana terasa dekat dan akrab. Namun sembari itu, seperti tercipta jarak antar generasi, maupun antara pemakai tradisi dan tradisi itu sendiri: keakraban dan kehilangan seolah tarik-menarik. Puisi hadir seperti mewadahi kegamangan, paradoks yang mendatangkan renungan. Puisi jenis ini menarik. Sayangnya, terlalu bernafsu untuk merengkuh begitu banyak arketipe budaya lokal Muna. Secara kosmologis, penulis melakukan pembagian yang arketipel antara daratan dan laut dalam bait puisi, meskipun beberapa hadir secara tidak konsisten.

Dewan juri juga menilai terdapat puisi yang “sabar”. Tak ada pretensi mengejar keindahan yang tampak. Ia bermain dengan dirinya sendiri.  Aku dan alam sekeliling hadir serentak, saling terkait. Masa lalu dan masa kini berjalin kelindan, membentuk ruang-ruang puitis yang tercipta tanpa perlu bersandar kaku pada sarana verbal kebahasaan. Ruang itu hadir tanpa disadari. Selain itu, puisi tersebut mengambil latar sebuah kampung di Konawe, lengkap dengan segala sisi hidupnya. Ungkapannya yang naratif terbilang lancar mengalir, jernih, namun selalu ada riak yang mengejutkan: kenangan akan bau dapur, pendar cahaya templok, kubah masjid, dan seterusnya. Siklus waktu dihadirkan secara lengkap dari pagi ke siang, ke malam sampai pagi lagi. Boleh dikatakan “reportase 24 jam” pada sebuah kampung Sultra, mempresentasikan banyak hal.

Sayembara tahunan Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara tahun 2014 ini juga semakin menarik dan kaya akan pengucapan puisi. Ada puisi ini berkisah tentang kondisi ril Sulawesi Tenggara hari ini yang ia wakilkan pada sebuah daerah yang bernama Tokotua. Sulawesi Tenggara yang dirapun aktivitas pertambangan, kerusakan alam dan ancaman pada kultur, begitu mewakili semua daerah di wilayah ini. Dari kesan puitik, juga tampak si penyajak berusaha keras menaklukkan kata-kata dan hendak berima. Namun ia tersandung pada pengejaan. Tanpa catatan kaki pun, puisi ini mengantarkan pada kesedihan yang membalun. Kerusakan yang diakibatkan aktivitas pertambangan tidak saja merusak alam namun juga merusak tata adat peristiadatan masyarakat lokal yang dirujuk. Pada orang Tokotua, tanaman dan hewan adalah elemen adat dan peristiadatan yang penting. Ini tipe puisi puisi yang baik. Repetisi dan persajakannya terjaga. Namun, karena itu, terkesan beberapa rima yang hadir tidak karena diperlukan dan terkesan dipaksakan.

Demikianlah hasil penilaian kami yang diikuti dengan pertangggungjawaban. Kami berharap semoga sayembara ini menjadi ajang tahunan Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara, sebagai bagian dari kontribusi lembaga ini terhadap kehidupan perpuisian khususnya dan kesastraan umumnya di Sulawesi Tenggara. Kami yakin, upaya-upaya untuk menghidupkan sastra, sayembara ini salah satunya, akan turut menggerakkan roda kehidupan sastra di suatu tempat. Untuk hal ini, Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara telah melakukannya. Selamat dan salam sastra selalu.

 

Kendari, Yogyakarta, Surabaya; 1 Juni 2014

Dewan juri,

Ilham Q. Moehiddin (Kendari)

Raudal Tanjung Banua (Yogyakarta)

Mashuri (Surabaya)

 

Diketahui oleh panitia SCP Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara,

Syaifuddin Gani
Mulawati
Asrar Catar Mangkalang

SAYEMBARA CIPTA PUISI 2014 SESULAWESI TENGGARA KANTOR BAHASA PROV. SULAWESI TENGGARA


Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara yang memiliki visi antara lain berupaya memajukan dunia perpusian Sulawesi Tenggara, menyelenggarakan Sayembara Cipta Puisi 2014 Se-Sulawesi Tenggara. Sayembara ini diharapkan dapat menjadi wadah penyaluran penulisan puisi, mengapresiasi karya penulis puisi, dan turut mendukung dunia perpuisian menjadi lebih baik lagi di Sulawesi Tenggara. 

1.   Ketentuan Lomba

 – Sayembara bertema “Sulawesi Tenggara dalam Puisi”.

- Peserta terbuka untuk masyarakat SulawesiTenggara tanpa batasan usia.

- Peserta dapat menyertakan lebih dari1(satu) puisi, maksimal 2 (dua) judul puisi.

- Puisi ditulis dalam bahasa Indonesia.

- Puisi ditulis dalam rentang waktu tahun 2012 – 2014.

- Puisi karya asli, belum pernah dipublikasikan di media cetak, belum dibukukan, dan tidak sedang diikutsertakan dalam lomba sejenis.

- Puisi yang sudah pernah diikutkan pada sayembara cipta puisi tahun 2013 yang lalu, tidak dapat lagi diikutsertakan.

- Puisi tidak mengandung unsurSARA.

- Peserta wajib menyertakan, fotokopi KTP atau sejenisnya, foto, biodata lengkap dan nomor kontak yang dapat dihubungi.

- Puisi yang keluar sebagai pemenang lomba menjadi hak milik panitia dengan hak cipta nama peserta.

 

2. Tema

Tema Sayembara Cipta Puisi ini adalah “Sulawesi Tenggara dalam Puisi”, dalam pengertian peserta dapat meneropong dan menggali Sulawesi Tenggara dalam berbagai sudut pandang dan beragam tema, seperti budaya, sosial, religi, adat istiadat, kemanusiaan, kekinian, lingkungan alam, laut, dan kearifan lokal. Tema umum ini dimaksudkan agar peserta bebas mengeksplorasi hal ihwal yang berkenaan dengan Sulawesi Tenggara secara lahir dan batin.

3.   Dewan Juri

     Dewan juri kegiatan berjumlah tiga orang yang berasal dari kalangan sastrawan/penyair yaitu Raudal Tanjung Banua, Ilham Q.Moehiddin, dan Mashuri.

 4.     Waktu Pelaksanaan

      Sayembara Cipta Puisi 2014 Se-Sulawesi Tenggara dibukamulai 10 Maret–10Mei 2014. Pengumuman pemenang dilaksanakan pada tanggal 25 Mei 2014.

5.   PengirimanPuisi

     Puisi dikirim dalam bentuk fileattachment melalui pos-el: puisisultra2014@yahoo.com dan di-CC ke: om_puding@yahoo.com, dengansubjek: SCP (spasi) Nama lengkap (spasi) Judul Puisi. Peserta dapat juga mengirim atau mengantar langsung ke sekretariat panitia: Kantor Bahasa Prov. Sulawesi Tenggara, Jalan Haluoleo, Kompleks Bumi Praja, Anduonohu Kendari. Puisi yang dikirim disertai biodata lengkap, foto (file), dan nomor HP.

  6.   KriteriaPenilaian

     Kriteria penilaian merujuk pada kriteria yang dipakai secara nasional pada berbagai sayembara cipta puisi di Indonesia. Unsur utama yang dinilai adalah: 1.Craftmanshipatau keterampilan berbahasa (yang meliputi metafora, gaya bahasa, rimadan nada, daya ungkap dan kejernihan); 2. Keutuhan gagasan (berupa perspektif penyair dalam sajaknya, keluasan, dan kedalaman wawasannya, dan lain-lain); 3. Konteks budaya (dalam hal ini dilihat berdasarkan konteks budaya di SulawesiTenggara).

 7.   Teknik Penilaian

 – Setiap puisi yang dikirim peserta melalui pos-el (email), hanya boleh dibuka/diterima oleh panitia lomba.

- Panitia menghilangkan nama penulis dan memberinya sebuah kode baru sebagai penanda. Hal ini dimaksudkan agar juri hanya menilai puisi saja tanpa ”terpengaruh” oleh nama penulis.

- Panitia mengirim semua puisi peserta (yang tanpa nama itu) kepada masing-masing dewan juri untuk dinilai

- Juri hanya menilai judul dan(isi) teks puisi

- Setelah juri selesai melakukan tugas penilaian dan telah menyepakati pemenangnya, panitia mengembalikan nama sang penulisnya.

- Apabila di kemudian hari, ada pemenang yang karyanya terbukti jiplakan, statusnya sebagai pemenang akan digugurkan panitia dan diberikan kepada peserta yang nilainya berdekatan.

 8.       Hadiah

      Hasil sayembara ini adalah Pemenang I, II, III, dan harapan I, II, dan III. Semua pemenang berhak memperoleh hadiah berupa uang tunai. Selain itu, setiap peserta akan mendapatkan sertifikat dari panitia. Pajak ditanggung pemenang. Pemenang juga mendapat sertifikat dari panitia. Adapun jumlah hadiah yang akan diperoleh pemenang adalah sebagai berikut:

Pemenang I     : Rp 2.000.000,-

Pemenang II     : Rp 1.500.000,-

Pemenang III   : Rp   1.000.000,-

Harapan I         : Rp   750.000,-

Harapan II       : Rp   600.000,-

Harapan III       : Rp   400.000,-

 

9.       Narahubung

     Untuk informasi lebih lanjut, Anda dapat menghubungi panitia pelaksana: Syaifuddin Gani (085247877676)

 

10.     Alamat Panitia

Sekretariat Panitia Penyelenggara: Kantor Bahasa Prov. Sulawesi Tenggara, Jalan Haluoleo, Kompleks Bumi Praja, Anduonohu Kendari, Telepon (0401) 3135289 dan faksimile (0401) 3135286, dan HP 085247877676.

 MOHON DISEBARLUASKAN INFORMASI INI.

Fotografi, Kesetiaan, dan Jalan Cinta


Jika bukan karena kesetiaan, tidak ada Cinta. Atau sebaliknya, tanpa Cinta, kesetiaan pun tiada. Demikianlah, untuk merengkuh cita-cita, dibutuhkan kesetiaan dan cinta. Di tengah jalan menuju penggapaian cita-cita itu, ada rintangan. Jika rapuh seseorang akan cepat rubuh. Kesetiaan memompa tekad. Tekad yang teguh membuka jalan menuju keberhasilan. Bahkan, untuk meraih sang cita, seseorang harus meninggalkan tanah air, keluarga, dan kerabat. Bukankah hijrah menjadi perintah Sang Nabi untuk dapat berkembang maju?

Kira-kira seperti itulah gambaran kesetiaan dan jalan cinta yang kini ditempuh oleh Arif Relano Oba. Fotografi adalah dunia yang ditekuninya dua belas tahun silam. Ia istiqamah atas pilihannya itu. Makanya, meski ia adalah seorang Sarjana Pertanian yang diraihnya di Universitas Haluoleo, tetapi panggilan dunia fotografi lebih membuat ia terpesona sehingga harus meninggalkan Kendari menuju Yogyakarta untuk kuliah di MSD (Modern School of Design). Katanya, untuk menentukan pilihan, seseorang harus merdeka. Bukan “merdeka dari” tetapi “merdeka untuk”, yakni merdeka untuk berbuat dan berkarya. Dua tahun ia mendalami fotografi dan desain grafis di Yogya, tidak membuatnya lantas berpuas diri. Panggilan kembali ke haribaan orang tua dan kampung halaman, kadang terasa kuat. Akan tetapi, lambaian tangan kemerdekaan lebih menyentuhnya lagi, sehingga tahun 2010 ia meninggalkan tanah air menuju sebuah negara di Eropa: Jerman.

Kepergiannya ke Jerman, bukan semata-mata karena anggapan bahwa Jerman dan Eropa adalah kiblat pengetahuan, sebagaiman anggapan Ikal dan Lintang dalam novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Tidak. Baginya, setiap negara atau setiap daerah adalah kiblat itu sendiri. Berangkat ke Jerman adalah pilihan dengan pertimbangan tertentu. Jerman, sangat mungkin bukan negara terakhir yang akan didatanginya. Ia bisa saja bertualang ke negara lain seperti Turki, Mesir, Irak, Argentina, Spanyol, Pantai Gading, atau Timur Leste, di suatu saat.

Arif mengatakan, untuk melahirkan karya foto yang berkualitas, harus ditempuh dengan berbagai cara. Salah satunya adalah ke Gottingen, Jerman. Itulah sebabnya, sesampainya di negerinya Hitler tersebut, ia segera bergabung dengan salah satu grup fotografi dan pameran tunggal. Pemaparan tersebut, adalah sekilas dari yang disampaikan sang fotografer saat menjadi pembicara di acara Bincang-bincang Foto: Fotografi, Kesetiaan, dan Jalan Cinta di Kloter-B, tanggal 6 November 2012 lalu.

Hal menarik yang disampaikan Arif adalah ketika menjawab pertanyaan peserta tentang apa yang diimpikan setelah tinggal dan kuliah di Jerman? Dengan nada berkelakar, ia menjawab, sebenarnya saya ingin kaya raya yang lalu diikuti tawa, baik dirinya maupun penonton. Kemudian ia serius menjawab, baginya, ini semacam perjudian. Ia sendiri tidak tahu seperti apa ujung dari pengembaraannya. Apakah ia akan menjadi fotografer yang menghasilkan karya foto yang dikagumi banyak orang? Ia sendiri tidak ambil pusing dengan itu semua. Begitu pula dengan motif ekonomi yang akan diraihnya nanti. Baginya, kesetiaan, ketekunan, belajar, dan pantang menyerah adalah faktor determinan yang harus ia tempuh. Hal ini penting disampaikan Arif, mengingat motif ekonomi dalam dunia fotografi dan kesenian lainnya kadang lebih dipentingkan atau tujuan utama daripada karya itu sendiri.

Suasana diskusi berlangsung menarik. Apalagi dipandu oleh seorang presenter Kendari, Kiky Reskiyana Ilyas dengan gaya santai, humoris, dan berguyon. Alhasil, kesan sersan (serius tapi santai) sangat kuat di acara kelima Kloter-B dalam tahun 2012 ini. Kiky, berhasil mengulik lebih dalam dan mendasar proses kreatif sang fotografer.

Kiki menanyakan awal proses kreatif Arif. Ketika tamat tahun 2000 sebagai Sarjana Pertanian di Universitas Haluoleo, kegelisahan segera membetot batinnya. Ia tidak merasa “selesai” dengan status S.P. yang melekat di ujung namanya. Mungkin sudah terlalu banyak Sarjana Pertanian, kali yah. Atau mungkin ia tak siap bergumul dengan tanah dan ladang. Lelaki kelahiran 1974 yang juga mahir bermain musik ini kemudian menggeluti dunia fotografi. Artinya, ia lebih merdeka bergumul dengan warna, cahaya, komposisi, dan bentuk. Maka ia pun lebih dikenal sebagai fotografer daripada Sarjana Pertanian.

Di Kendari ia memanfaatkan kamera analog milik ayahnya sebagai benda penyalur talenta sebagai fotografer. Ia mulai bergabung dengan fotografer Kendari dan jatuh cinta pada dunia ini.

Akan tetapi, kegelisahan terus menggerogoti batin dan pikirannya. Apakah saya hanya sebatas mengandalkan naluri dan otodidak sebagai jalan menuju fotografer yang baik? Tidak! Dunia fotografi lebih memanggil. Maka tahun 2002 ia minggat, meninggalkan Kendari menuju Yogyakarta dan kuliah di MSD. Satu tahun ia menekuni mata kuliah fotografi. Setahun kemudian ia mendalami mata kuliah desain grafis. Foto berjenis BW (black-white) merupakan favoritnya. Akan tetapi, ia menjadi lulusan terbaik seangkatannya justru untuk kategori foto warna.

Ia kemudian memanfaatkan waktunya di Kota Pendidikan itu untuk menimba sumur ilmu sebanyak mungkin. Kamar kost-nya jarang ia tempati. Hanya berfungsi sebagai tempat istirah, selebihnya, Yogya, menjadi rumahnya. Banyak sudut-sudut kota Yogya ia potret. Salah satu momen yang tidak ia lupakan adalah ketikaia pergi bersama teman-teman seangkatannya mengabadikan kegiaatan yang diadakan Rumah Langgeng di Magelang. Ia meng-klik performance art yang memukau dari Tisna Sanjaya berjudul “Aborsi”. Tidak lupa mengabadikan pidato kebudayaan yang dikumandangkan almarhum Rendra. Foto-foto kegiatan itu bersama sepucuk surat, ia kirim ke Kendari, tepatnya ke Teater Sendiri, tempatnya juga berproses.

Salah satu sesi diskusi yang menarik adalah ketika Arif menyampaikan saat-saat berkesan baginya, ketika pertama kalinya berada di ruang kuliah MSD. Sang dosen menyuruh mahasiswa baru mengeluarkan masing-masing kamera andalannya. Sebagian besar mahasiswa meletakkan kamera keluaran terbaru, di meja. Dengan perasaan berat dan malu, ia pun meletakkan sang kamera analog bermerek Ricoh KR5, milik (pemberian) bapaknya di Kendari, di atas meja. Akan tetapi, penegasan dosen menguatkan hatinya bahwa yang menentukan kualitas sebuah foto bukan kameranya, tetapi orangnya! Saat itu kepercayaan dan keyakinan dirinya semakin kuat.

Usai kuliah di Yogya, ia balik lagi ke Kendari dan sempat menjalani profesi sebagai wedding fofografer. Bersama teman-teman fotografer, ia membentuk RPK atau Release Photografer Kendari yang terus eksis sampai sekarang dan memiliki grup di dunia maya (facebook). Bahkan lelaki murah senyum dan baik hati ini, masih sempat memperlihatkan talentanya yang lain yaitu menggarap musik, khususnya musikalisasi puisi. Maka ia pun membentuk Kompi (Komunitas Musikalasisasi Puisi) Sulawesi Tenggara tahun 2006. Tahun 2008 ia bersama anggotanya, pentas di Taman Ismail Marzuki. Sebagian besar komposisi lagu lahir dari tangannya. Di Kendari, bersama Kompi ia sempat manggung di RRI Regional I Kendari yang diapresiasi banyak kalangan. Sebelumnya, tahun 2006, ia menggarap musik teater untuk pertunjukan Teater Sendiri di Pusat Bahasa, Jakarta, dalam lakon Malam Jahanam karya Motinggo Busye, sutradara Achmad Zain. Karya musiknya diapresiasi penonton karena kekhasannya yang menggali musik etnik Sulawesi Tenggara.

Sebagaimana lazimnya seorang seniman, Arif terus gelisah. Ia tidak puas dengan posisinya sekarang. Karya fotonya sudah dimuat di berbagai majalah, misalnya Majalah Gong, dan juga sudah dimuat di berbagai buku sastra. Penyair Sapardi Djoko Damono memiliki ketertarikan sendiri pada foto Arif. Bahkan foto dirinya yang di-klik Arif sewaktu Sapardi memberi ceramah sastra di Kantor Bahasa Prov. Sultra, ia minta isin untuk dijadikan sampul bukunya yang diterbitkan Editum. Begitu pula buku terbarunya yang diterbitkan dalam edisi Bahasa Inggris oleh Penerbit Lontar, ia minta iain ke Arif untuk dijadikan foto biodata. Arif pun menerima satu buah buku. Maka kemudian, ia pamit kepada kedua orang tua dan sahabat-sahabatnya. Tahun 2010 ia meninggalkan Kendari dan tanah air Indonesia, menuju Jerman. Niatnya hanya satu, menjadikan karya fotonya lebih baik!

Di Jerman ia tidak langsung bertungkus-lumus dengan dunia fotografi. Mulanya ia kursus bahasa Jerman sebagai pintu utama. Sambil kursus ia kemudian melakoni hidup sebagaimana pendatang lainnya dari Indonesia yaitu bekerja. Dan pekerjaan yang dipilihnya adalah loper koran. Sambil mengantar koran ke rumah pembaca yang masih tidur, ia menghikmati dan menghirup udara dan iklim Jerman. Iklim Eropa.

Setelah beberapa lama, ia kemudian mulai membuka komunikasi dengan fotografer Gottingen, tempat ia bermukim. Diskusi dan komunikasi pun berjalan. Dan sebagai persyaratan masuk di sekolah fotografi, ia harus menyertakan tiga seri foto untuk dinilai, yang salah satunya tentang perempuan. Ia pun memotret salah seorang temannya yang dari Aceh, bernama Masyitah, sebagai salah satu foto itu. Bersama Masyitah, ia “memasuki” Gottingen dan memotretnya. Dan, pucuk dicinta, cinta tiba. Eh maaf, pucuk dicinta, ulam tiba. Begitulah pepatah yang kini mendatangi Arif. Sebuah sayembara foto dilakukan Universitas Gottingen. Sayembara yang bertema facing diversity, ia ikuti. Ketiga foto sebagai syarat masuki di sekolah fotografi, ia ikutkan. Ia memanfaatkan momentum ini sebagai langkah awal memasuki dunia fotografi Jerman, khususnya Gottingen.

Pada saat pengumuman, Arif dinyatakan sebagai Juara Pertama. Foto tersebut berisi seorang perempuan berjilbab (Masyitah) yang menunduk sebagai representasi inferiorotas atas kebudayaan di Jerman yang diwakili oleh dua gambar gaun perempuan yang dipajang di sebuah supermarket. Sang perempuan, di sini cerdasnya Arif sebagai fotografer, seakan berada di sebuah kotak yang membatasi dengan latar gaun “you can see” yang memperlihatkan celana dalam dan BH. Di ruang diskusi Kloter-B malam itu, suasana sangat menarik karena foto yang memenangi sayembara bersama foto-foto lain, ditayangkan di layar besar, sebagai tontonan dalam bentuk essayfhoto. Pemutaran essayfhoto itu semakin menarik karena disertai narasi. Dan semakin menarik lagi karena naratornya adalah Masyita sendiri. Menurut Arif, perekamannya dilakukan dengan menggunakan fasilitas skype dari Kendari ke Jerman. Memang yah, apa sih yang tidak bisa dilakukan sekarang? Perangkat elektronik membuat sesuatu menjadi lebih mudah. Usai memenangi sayembara foto itu, Arif kemudian menyelenggarakan Pameran Tunggal yang bertema Goettingen di Mata Pendatang. Yah, karena sudah dipercaya oleh pihak kampus, ia pun menggelar Pameran Tunggal di kampus tersebut, Stadtandichten des Indonesischen Fotografen Arif Relano Oba, Ab. 15 Mai 2012, in der Cafetaris SUB.
Tanya-jawab antara Arif dan peserta yang sebagian besar fotografer Kendari sangat bernas. Ketika ada peserta yang bertanya, apa yang ada di benak Arif saat tengah menyorot suatu objek dan kemudian meng-klik-nya menjadi foto? Katanya, foto baginya adalah sarana komunikasi. Saya ingin mengomunikasikan kepada orang apa yang saya tangkap dan hendak disampaikan ke haribaan apresiator.

Seorang peserta juga bertanya, mengapa Arif memilih jenis BW untuk essayphoto-nya tinimbang berwarna? Apa kelebihan BW dibanding warna? Arif memjawab dengan filosofis bahwa foto BW memungkin seorang penikmat langsung bermuka-muka dengan bentuk dan muatan/makna foto. Seseorang tidak lagi terpengaruh oleh warna. Ia juga menambahkan bahwa ia tidak semata-mata menghasilkan foto hitam-putih, tetapi juga berwarna. Banyak foto-fotonya yang dipublikasi dalam bentuk warna. Foto-fotonya yang dimuat di beberapa majalah justru yang berwarna.

Hal lain yang menarik adalah pengalamannya bersentuhan langsung dengan fotografer Gottingen, Jerman. Universitas Gottingen mengundang beberapa fotografer di kota itu dalam rangka pembuatan kalender. Karya foto mereka akan menghiasi kalender dimaksud. Pada hari H pertemuan, semua fotografer sudah hadir termasuk Arif. Tidak lupa, Arif membawa dan menyiapkan foto, sebagai bahan referensi untuk kalender. Akan tetapi pihak kampus dan fotografer lain sama sekali tidak membawa foto-foto sebagaimana Arif. Mereka “membawa’ foto dalam kepala mereka sebagai bentuk gagasan atau konsep. Jadi yang dibicarakan adalah konsep mengenai pembuatan kalender dan konsep tentang foto yang akan dimuat di situ. Artinya, mereka menawarkan konsep dalam bentuk gambaran visual dalam benak. Karya foto hanyalah efek atau tanda lahiriah belaka dari konsep-konsep itu.

Di hadapan peserta diskusi, Arif ingin mengatakan bahwa hal mendasar dari forografi adalah konsep. Setiap seseorang akan meng-klik suatu objek terlebih dahulu diawali dengan sebuah konsep. Konsep yang matang menghasilkan foto yang matang. Konsep yang tidak jelas, akan melahirkan foto yang tidak jelas pula.

Pukul 22.00, diskusi berakhir. Kegiatan yang dilaksanakan Kloter-B pun usai. Para pelaksananya yang terdiri atas anak-anak muda: Kiki, Ari, Iram, Comcom, Pipin, Galih, Puding segera menyalami Arif dan para peserta.

Akan tetapi, sebagaimana yang disampaikan sang moderator, Kiky, diskusi intim boleh berlanjut usai acara selesai, maka segera terbentuk lingkaran yang di dalamnya ada Arif dan fotografer Kendari. Mereka berbicara lebih leluasa dan akrab dari hati ke hati sampai di atas jam dua belas malam.

Pada saat sebelum diskusi berakhir, sempat pula ditayangkan foto Arif yang berjudul “Masyrik di Saponda”. Dalam pandangan saya, foto ini amat berkesan lalu saya buatkan puisi, yang pada malai itu, saya diberi kesempatan untuk membacakannya.

MASYRIK DI SAPONDA
Untuk Arif Relano Oba

Langit disulap jadi biru
Bagai rindu yang haru mengairmata memandang bayi waktu yang terlahir
Gulungan awan berkobar di ujung laut, mengusir maut
Untuk dua laskar nelayan yang menghadapi teka-teki gelombang

Tiang-tiang berwarna malam, menyangga rahim gubuk
Yang melahirkan anak matahari
Yang menggeliat di dalam ayunan
Rintihan suaranya meletuskan serbuk-serbuk cahaya
Menjelma masyrik di saponda

Pasir-pasir coklat dirembesi darah cahaya
Dan dua laskar nelayan merayakan hari lahir matahari

Tiang-tiang rawan adalah tangga bagi kaki-kaki cuaca
Laut letih untuk pelayaran pertama
Awan gurih bagi angin musim perjalanan
Sepi rekah pagi terbuka bagi ketabahan sampan

Di balik temaram bayang-bayang
Di antara cengkrama sunyi tiang-tiang
Dua laskar nelayan
Mengundi nasib laut
Menerka alamat maut
Sambil melayarkan sampan doa-doa
Merayakan masyrik di saponda

Kendari, 15 Maret 2011

Kini, Arif sudah kembali ke Gottingen, Jerman. Di sana, ia kembali bersua dengan Masyitah, juga sesama fotografer, dan warga Gottingen. Ia telah melakukan sebuah sunnah Nabi, yaitu hijrah. Hijrah lahir dan batin.

Arif telah memberikan pelajaran yang bermakna bagi kita bahwa ia ke Jerman, bukan sebagai turis belaka yang menikmati sebuah tempat dalam kacamata turistik, di mana kebahagiaan dan kepuasan lahiriah menjadi tujuan. Tidak. Perjalanannya adalah sebentuk wisata spiritual, kultural, dan eksistensial. Suatu perjalanan ketika kebahagiaan dan penderitaan berpilin jadi satu untuk merengkuh makna, gairah, ilmu, kearifan, dan berkah. Ia juga mengajarkan kepada kita, bagaimana kesabaran itu benar-benar diterapkan dalam kehidupannya.

Mengutip pernyataan Arif sendiri, bahwa baginya hidup ini atau katakanlah, pilihannya untuk tinggal di Jerman adalah sebuah “perjudian”.Yah, hidup ini tidak lain dan tidak bukan adalah “perjudian”, dalam tanda kutip. Dibutuhkan keberanian dan juga visi yang kuat agar keluar sebagai pemenang. Sebagaimana jamaknya perjudian, mengutip satu lagu termashur Bang Haji Rhoma Irama, modal dasar dan utama adalah uang, lagi…lagi uang. Itulah sebabnya, seorang penjudi dapat merayakan kekayaan atau meratapi kebangkrutan.

Dan perjudian Arif, lelaki berdarah Butuni ini, tidak bermodalkan UANG, tetapi cita-cita, Cinta, dan kesetiaan!

Sebelum jam dua belas malam, saya pulang ke rumah. Di depan dan belakang, malam semakin legam saja. Di atas, gerombolan bintang berpendaran, menyoraki cakrawala.

Kendari, 21 November 2012

Sayembara Cipta Puisi Se-Sulawesi Tenggara 2013


Sayembara Cipta Puisi Se-Sulawesi Tenggara 2013

SAYEMBARA CIPTA PUISI 2013
KANTOR BAHASA PROV. SULAWESI TENGGARA

1. LATAR BELAKANG
Sastra merupakan cermin kehidupan masyarakat pendukungnya, bahkan sastra menjadi ciri identitas suatu bangsa. Melalui sastra, orang dapat mengidentifikasikan perilaku kelompok masyarakat, mengenali perilaku, kepribadian, dan spritulitas masyarakat pendukungnya. Sastra Indonesia merupakan cermin kehidupan masyarakat Indonesia dan identitas bangsa Indonesia. Demikian pula sastra daerah sebagai cermin kehidupan masyarakat dan identitas masyarakat daerah.
Puisi sebagai salah satu genre sastra merupakan karya imajinatif dan kreatif dari seorang penyair dengan menggunakan bahasa sebagai mediumnya. Banyak pengalaman yang dapat dituangkan dan diperoleh melalui sebuah puisi. Menciptakan sebuah puisi bagi penyair adalah kesempatan untuk mengungkapkan pandangan, perasaan, kritik, dan lain sebagainya.
Jika puisi dianggap sebagai jati diri suatu kelompok masyarakat, maka puisi yang ditulis oleh penyair Sulawesi Tenggara pun, diharapkan merepresentasikan keunikan dan kekhasan Sulawesi Tenggara, baik dari segi bentuk maupun tematis, dalam beragam sudut pandang. Itulah sebabnya, puisi dikatakan mengandung sejuta makna yang sarat dengan ungkapan jiwa dan rasa penyair yang khas.
Berdasarkan latar belakang tersebut, Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara yang memiliki visi antara lain berupaya memajukan dunia perpusian Sulawesi Tenggara akan menyelenggarakan Sayembara Cipta Puisi 2013. Sayembara bertemakan “kesulawesitenggaraan”. Sayembara ini secara nyata dapat menjadi wadah bagi pengembangan kreativitas sekaligus sebagai bentuk apresiasi karya-karya penyair Sulawesi Tenggara.

2. TUJUAN
Sayembara Cipta Puisi ini bertujuan memberi kesempatan kepada masyarakat umum untuk berpartisipasi aktif dan berkontribusi menyukseskan visi dan misi Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara dalam hal program keberaksaraan. Menulis puisi adalah jantung keberaksaraan itu sendiri. Kami mengundang para penyair, penggiat puisi, dan peminat puisi di Sulawesi Tenggara untuk mengikuti sayembara ini.

3. TEMA
Tema Sayembara Cipta Puisi ini adalah “kesulawesitenggaraan” dalam pengertian peserta dapat meneropong Sulawesi Tenggara dalam berbagai sudut pandang dan beragam tema, seperti budaya, sosial, religi, adat istiadat, kemanusiaan, lingkungan alam, laut, dan kearifan lokal. Tema umum ini dimaksudkan agar peserta bebas mengeksplorasi hal ihwal yang berkenaan dengan Sulawesi Tenggara secara lahir dan batin.

4. SASARAN DAN KRITERIA PESERTA
Sayembara Cipta Puisi Se-Sulawesi Tenggara 2013 memiliki sasaran peserta, yaitu semua komponen masyarakat Sulawesi Tenggara yang memiliki bakat dan
kemampuan menulis puisi, baik dari kalangan penyair, penggiat puisi, dan peminat puisi tanpa batasan usia. Peserta berproses dan tinggal di Sulawesi Tenggara. Peserta dapat juga tinggal sementara waktu di luar Sulawesi Tenggara untuk kepentingan tertentu, seperti sekolah.

5. DEWAN JURI
Dewan juri kegiatan berjumlah tiga orang yang berasal dari kalangan kritikus sastra dan sastrawan yaitu Raudal Tanjung Banua, Ilham Q. Moehiddin, dan Tia Setiadi.

6. WAKTU PELAKSANAAN
Sayembara Cipta Puisi 2013 dibuka mulai 1 Juni – 31 Agustus 2013. Pengumuman pemenang pada 23 September 2013.

7. PENGIRIMAN PUISI
Puisi dikirim dalam bentuk file attachment melalui pos-el: sayembaraciptapusi_kbhs@yahoo.com dan di-CC ke uni3q_genit@yahoo.com dengan subjek: SCP (spasi) Nama lengkap (spasi) Judul Puisi. Peserta dapat juga mengirim atau mengantar langsung ke sekretariat panitia: Kantor Bahasa Prov. Sulawesi Tenggara, Jalan Haluoleo, Kompleks Bumi Praja, Anduonohu Kendari, Telepon (0401) 3005581 dan 3005584, faksimile (0401) 3194249. Puisi yang dikirim disertai biodata lengkap, foto (file), dan nomor HP.

8. KETENTUAN LOMBA
 Peserta terbuka untuk masyarakat umum tanpa batasan usia.
 Peserta diizinkan menyertakan lebihdari 1(satu) puisi, maksimal 3 (tiga) judul puisi.
 Puisi ditulis dalam bahasa Indonesia.
 Puisi ditulis dalam rentang waktu tahun 2012 – 2013.
 Puisi karya asli, belum pernah dipublikasikan di media cetak, belum dibukukan, dan tidak sedang diikutsertakan dalam lomba sejenis.
 Puisi tidak mengandung unsur SARA.
 Peserta wajib menyertakan, fotokopi KTP atau sejenisnya, foto, biodata lengkap dan nomor kontak yang bisa dihubungi.
 Puisi yang keluar sebagai pemenang lomba menjadi hak milik panitia dengan hak cipta nama peserta.
 Puisi ditulis dalam rentang waktu tahun 2012—2013.

9. KRITERIA PENILAIAN
Kriteria penilaian merujuk pada kriteria yang dipakai secara nasional di berbagai tempat di Indonesia. Unsur utama yang dinilai adalah kesesuaian isi dengan tema, penggunaan diksi, gaya bahasa, dan unsur estetik lainnya.

10. TEKNIK PENILAIAN
 Setiap puisi yang dikirim peserta melalui pos-el (email), hanya boleh dibuka/diterima oleh panitia lomba.
 Panitia menghilangkan nama penulis dan memberinya sebuah kode baru sebagai penanda. Hal ini dimaksudkan agar juri hanya menilai puisi saja tanpa ”terpengaruh” oleh nama penulis.
 Panitia mengirim semua puisi peserta (yang tanpa nama itu) kepada masing-masing dewan juri untuk dinilai
 Juri hanya menilai judul dan (isi) teks puisi
 Setelah juri selesai melakukan tugas penilaian dan telah menyepakati pemenangnya, panitia mengembalikan nama sang penulisnya.
 Apabila dikemudian hari, ada pemenang yang karyanya terbukti jiplakan, statusnya sebagai pemenang akan digugurkan panitia dan diberikan kepada peserta yang nilainya berdekatan.

11. HADIAH
Hasil sayembara ini adalah Pemenang I, II, III, dan harapan I, II, dan III. Semua pemenang berhak memperoleh hadiah berupa uang tunai. Selain itu, setiap peserta akan mendapatkan sertifikat dari panitia. Pajak ditanggung pemenang. Pemenang juga mendapat sertifikat dari panitia

Adapun jumlah hadiah yang akan diperoleh pemenang adalah sebagai berikut:

Pemenang I : Rp 1.000.000,-
Pemenang II : Rp 800.000,-
Pemenang III : Rp 650.000,-
Harapan I : Rp 450.000,-
Harapan II : Rp 350.000,-
Harapan III : Rp 250.000,-

12. PENUTUP
Untuk informasi lebih lanjut, Anda dapat menghubungi panitia pelaksana:
Uniawati (081341577717)

Sekretariat Panitia Penyelenggara:
Kantor Bahasa Prov. Sulawesi Tenggara,

Pulang Kampung, Salubulung, Perjalanan Spritual, dan Kefanaan


dari kolong rumah, alu beradu

anak dara anak jejaka diguyur peluh

mengoyak bulirbulir padi dalam lesung gaharu

aku rindu pulang kampung memanggul kayu

puasa pertama dalam linangan air mata ibu

 

 

            Larik-larik puisi di atas, saya tulis di Kendari, 20 Agustus 2008 yang silam.  Puisi yang diguratkan ketika kerinduan datang memanggil. Memanggil untuk pulang kampung, ke haribaan tanah air, ke pangkuan ayah dan bunda. Puisi yang lahir ketika Ramadan akan segera datang dan saat ibu masih hidup.

Yah, pulang kampung selalu berada dalam rencana paling mulia seorang anak dan seorang perantau untuk kembali ke rangkulan orang tua dan kepada tanah air yang melahirkannya. Tahun 2008 silam itu, saya tidak pulang kampung, karena jarak, waktu, dan juga kesempatan.

Kini, ketika menjelang Lebaran Idul Fitri 1433 H, 2012 M, kesempatan pulang kampung itu datang dan tak tertahankan. Salah satu rencana paling memanggil adalah mengunjungi dan berdoa di makam ibu tercinta. Tanggal 24 April 2010 yang lalu, ia kembali ke haribaan Ilahi. Dan, baris terakhir sajak di atas, tidak lagi membuat saya puasa pertama dalam linangan air mata ibu, tetapi puasa ke dua puluh empat dalam guyuran air mata ayah, yang sudah uzur, 85 tahun.

            Maka, 9 Agustus 2012, usai salat Magrib, saya bersama anak dan istri, segera meninggalkan Bandar Udara Haluoleo, Kendari, menuju Makassar, menumpangi Merpati Airlines. Ada pernyataan klise, bahwa bukan Indonesia jika jadwal penerbangannya tidak tertunda. Hal ini juga saya alami, yang tertunda lebih dua jam. Maka, pesawat pun meninggalkan Kendari, yang sementara menggelorakan azan ke jagat raya. Karena sudah masuk waktu Magrib, saya melaksanakan salat di udara, di tengah suara deru pesawat membelah langit kirmizi Kendari. Membelah kefanaan cakrawala.

            Pulang kampung bagi saya, bukan sekadar rutinitas belaka, sebagai wujud kerinduan seorang anak rantau. Bukan pula sebagai ajang bermaaf-maafan semata dengan handai taulan. Juga bukan hanya ingin melihat kampung sejak tahun 2006 silam. Pulang kampung adalah wujud keimanan seorang perantau, demikian kata Buya Hakma, seorang ulama yang sastrawan. Dengan demikian, pulang kampung adalah sebuah perjalanan spritual. Sebuah proses menyelusuri kembali masa silam, masa kanak-kanak, dan masa remaja. Merenungi yang telah berlalu itu untuk menjadikannya sebagai jalan penghikmatan dan memetik buah hikmahnya. Membayangkan kembali handai taulan yang telah berpulang ke rahmatullah sebagai keniscayaan sunnatullah. Sudah banyak generasi tua yang telah tiada dan kini diganti generasi termuda, berupa segerombolan anak-anak yang masih berumur di bawah sepuluh tahun. Pulang kampung, sebuah perjalanan “ke dalam” diri sekaligus “ke luar” diri. Sebuah wisata lahir dan batin untuk merenungi eksistensi jagat mikrokosmos dan makrokosmos.

            Pesawat mendarat dengan tenang, 45 menit kemudian di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar. Bandara terbaik kedua di Indonesia, setelah  Bandara Juanda, Surabaya, yang memperoleh penghargaan dari Menteri BUMN, Dahlan Iskan, setahun silam. Bandara ini dirancang dengan sentuhan modern dan minimalis yang dipadu dengan akar budaya Sulawesi Selatan & Barat. Salah satu wujud kelokalannya adalah motif langit-langit cekung bandara yang “mengambil” motif sarung khas Mandar. Jika Anda memasuki bandara, patung Sultan Hasanuddin sang perkasa yang melawan Belanda, berdiri megah menyongsong kedatangan Anda. Ia menggenggam keris di pinggang sebelah kiri, tetapi percayalah tidak akan menarik dan menghunusnya. Keris itu, kata penyair yang ulama, asal Madura, D. Zawawi Imron, menjelma keris martabat, keris spiritual.

            Kami istirahat tidak jauh dari gerbang masuk bandara, persis di sisi baliho raksasa yang menampangkan wajah gubernur dan wagub Sulsel, H. Syahrul Yasin Limpo danH. Agus Arifin Nu’mang. Di situ tertulis sebuah slogan politiknya, Don’t Stop Komandan. Kira-kira lima belas meter lagi, sebuah baliho besar memperkenalkan calon gubernur yang juga Wali Kota Makassar sekarang dan cawagubnya, Ilham Arief Sirajuddin & Aziz Qahhar Mudzakkar, dengan slogan yang apik, Semangat Baru Sulawesi Selatan. Kedua pasangan ini akan bertarung di pilgub Sulawesi Selatan periode 2013—2018 yang akan datang. Kurang lebih tiga jam menanti, atau sekitar pukul 22.00 Wita, mobil yang akan mengangkut kami ke Polewali, Sulbar akhirnya datang juga. Sopirnya bernama Bondan. Ia humoris dan selalu melayani kemauan penumpang. Salah kekhasan orang Mandar.

Saya tiba-tiba ingat Baharuddin Lopa, sang pemberani dari Pamboang, Mandar. Sebelum meninggal di Tanah Haram, Mekah, saya membaca wawancaranya di Kompas, bahwa Soeharto harus diproses secara hukum dengan cepat. Jika tidak, ia dapat jatuh “sakit” dan mengganggu proses hukumnya. Pernyataanya terbukti benar. Mantan Presiden yang berkuasa 32 tahun itu, sakit-sakitan dan tidak pernah “diurus” secara serius. Keduanya kini, Soeharto dan Baharuddin Lopa telah kembali ke hariabaan Ilahi.

Deru mobil segera meninggalkan Makassar. Selamat datang di Maros, kabupaten pertama usai ibu kota Sulsel ini. Di sini, berdiri megah nan memesona, Masjid Agung yang peresmiannya diikuti Ustaz Aa Gym, sebelum ia poligami. Kata Aa, semoga masjid ini tidak menjadi bagian dari kritik Nabi bahwa pada suatu masa banyak masjid yang berdiri, tetapi orang yang salat di dalamnya hanya dapat dihitung jari. Masjid ini persis berhadapan dengan Kantor Bupati Maros. Mungkin Pak Bupati ingin mendekatkan para stafnya dengan masjid agar menjadi hamba pemakmur rumah Tuhan itu. Sebagai info, Maros adalah salah satu kabupaten ”model” ESQ versi Majalah Nebula tahun 2008, karena nuansa religius yang dibangun pemkabnya.

Saya kemudian melewati Kabupaten Pangkep, Barru, Pare-pare, dan Pinrang. Faiz, anak saya, karena kepanasan di dalam mobil, menghibur dengan nyanyian tangisnya. Untung ibunya,  sabar menidurkan di pangkuannya. Karena kelelahan, kami tertidur di perjalanan. Jalan provinsi atau antrakabupaten di Sulses begitu mulus dan luas yang terbuat dari beton. Luas jalan kurang lebih 30 meter yang terbagi dua lajur. Saya terbangun ketika, mobil sudah berada di tikungan tajam Mirring di Kab. Polmas. Sebuah tikungan yang langsung berhadapan dengan pantai nan indah. Di kawasan inilah, setiap yang datang ke Polewali, menyempatkan dirinya untuk menikmati keindahan laut yang benar-benar biru, perahu Sandeq khas Mandar, dan bukit-bukit hijau yang berdiri di tengahnya.

Tepat pukul 03.26 Wita, kami tiba di rumah kakak, Syamsuddin Gani. Di rumah inilah tempat saya tinggal ketika menempuh pendidikan di SMAN 1 Polewali dulu. Di rumah ini pula, ayah dan ibu saya yang sudah tiada, selalu tinggal dan menginap, jika datang dari kampung Salubulung, dari pegunungan.

 

Berdoa di Pemakaman, Berdoa karena Kefanaan

            Pagi harinya, Ahad, 10 Agustus 2012, niat untuk mengunjungi makam ibu, segera kutunaikan. Mengendarai sepeda motor milik kakak, saya ajak istri dan anak untuk mengunjungi makam mertua dan nenek mereka. Di hadapan makam, kami berdoa, agar almarhumah dikarunia kebahagiaan di alam kubur sampai kiamat kelak. Diampuni dosa-dosanya dan dilapangkan kuburnya. Tidak lupa pula berdoa agar anak dan cucunya dijadikan generasi saleh, beriman, berkarya, dan diselamatkan dari jilatan api neraka.

            Kami melangkah ke makam kakak tertua saya, Hasanuddin Gani, yang wafat Juni 2011 akibat serangan jantung di perjalanan, usai salat Jumat, usai menjenguk saudara sepupunya yang baru saja meninggal pagi harinya. Ia berpulang di tengah sumbangsihnyasebagai Ketua Panitia Pernikahan Kurnia, anak dari sepupu sekali kami. Di undangan pernikahan yang sudah beredar, namanya ikut mengundang sebagai keluarga wanita, keluarga kami. Akan tetapi, kehendak Sang Kuasa yang sudah disuratkan di Lauhul Mahfuz, menggarisakan bahwa beliau berpulang sehari sebelum pernikahan yang mulia itu. Di tengah kebahagiaan pernikahan, ada guratan duka. Atau dengan lain kata, di balik nuansa duka karena kematian, ada tersirat rona kebahagiaan karena pernikahan. Kebahagiaan dan kedukaan telah berpilin jadi satu. Semoga pintu Surga yang dibuka oleh Allah Sang Kuasa karena pernikahan hamba-Nya, dibukakan pula bagi kakak kami di Alam Sana. Amin.

Kini, makam ibu dan anak pertama kami itu, berdampingan. Saya juga mendoakan mereke berdua, juga kepada ibunda Rijaluddin (istri dari saudara ibu saya), yang saya tidak tahu letak makamnya, semoga dikaruniai Surga dan ampunan. Tidak lupa, saya singgah di makam sepupu saya, Alm. Fachruddin D.M. (Papa Pipi) semoga diampuni dan diberi Surga. Amin. Saya baru ingat saat menulis catatan perjalanan ini, di kompleks itu juga terdapat makam sepupu saya, Abdul Latif atau Papa Desi, yang menghadap ke haribaan Ilahi tahun 1997 silam. Doa segera saya kirimkan untuknya. Mengunjungi makam adalah penting, untuk mengingatkan kita akan kematian, akan kefanaan, akan dosa-dosa.

            Sebelum bertolak ke kampung, terlebih dahulu, kami menginap di rumah tante istri saya, Mama Ifah. Di rumahnya telah menanti Ifah dan suami, Rahmy, Ani, dan juga Ida. Mereka cukup humoris dan dikaruniai kebaikan hati. Sewaktu buka puasa, kami dihidangkan ayam masakan khas Salubulung yang tidak berkuah.

Saya juga singgah bertemu saudara ibu, Ambokna Ahi di rumah Mama Ari. Beliau kurang lebih sudah berumur 80 tahun. Saya salami dan cium tangannya yang sudah keriput dan menanyakan kabarnya. Katanya, ia sudah tidak sanggup lagi puasa, sebagaimana tahun-tahun sebelumnya. Ketuaan tidak lagi memungkinkan melakukannya. Niat baik dan bentuk tanggung jawabnya sebagai hamba Allah adalah membayar fidyah kepada yatim piatu, sebagai pengganti puasanya. Ambo juga menceritakan ihwal kematian sang istri tercinta. Almarhumah, pada sore harinya masih menyempatkan diri berkeliling dari rumah ke rumah anak dan cucunya yang tidak jauh dari tempatnya menginap. Ia masih menyapa dan bersilaturrahmi, sebuah pertanda bahwa tidak lama lagi ia akan berpulang.

Indo, demikian kami biasa memanggil, masih sempat menunaikan salat Magrib. Ketika salat Isya tiba, beliau pun masih melaksanakannya. Usai salat Isya itulah, tiba-tiba ia merasakan sesak di dadanya. Ambo yang baru datang dari masjid, pun memangku Indo di pangkuannya. Sebelum berpulang, Ambo masih sempat membisikkan kalimah Syahadat dan Indo mengikutinya. Beberapa detik kemudian, Indo menghadap haribaan Allah, di pangkuan suami tercinta. Inna lillahi wainna ilaihi rajiun.

 

Aspal “Baje Tanggoreng” Baliho, dan Janji-janji

             Maka, Ahad, 16 Agustus 2012, Pukul 13.30 Wita, Zuzuki Kijang, mobil angkutan umum, segera mengangkut kami ke kampung yang berjarak kurang lebih 150 kilometer. Ini adalah mobil milik ponakan, anak dari sepupu sekali saya. Sopir yang humoris bernama Baba, adik Halijah, teman sekelas saya sewaktu duduk di SMPN 1 Mambi. Kami duduk di deretan kursi tengah. Di ujung kanan, istri saya yang memeluk Faiz, saya di tengah, dan di sisi kiri, Mama Ani,  mertua perempuan pemilik mobil. Selama perjalanan ia banyak bercerita yang mengundang senyum dan tawa seluruh penumpang, kecuali Faiz yang kebanyak menangis karena kepanasan.

            Meninggalkan Kota Polewali menuju pegunungan yang perlahan-lahan dibalut dingin, saya tersadar bahwa jalan menuju kampung kami, tidak pernah benar-benar mulus. Sejak saya masih SD, ketika Mamasa masih satu kabupaten dengan Polewali (Kab. Polewali Mamasa) sampai ketika keluar dan membentuk Kabupaten Mamasa, aspalnya hanya berusia muda, setelah itu kembali menjadi “baje tanggoreng”, meminjam istilah Mama Ani yang duduk di sebelah kiri saya. Baje Tanggoreng adalah penganan yang terbuat dari kacang tanah yang diluluri gulan merah lalu digoreng. Begitulah pengandaian aspal ke kampung kami yang mudah hancur dan bercerai-berai. Sekali tergilas ban mobil, ia segera lumer dan tercecer.

            Salah satu pemandangan yang menyita perhatian kami ketika memasuki wilayah Kab. Mamasa adalah terpampangnya baliho-baliho politik di sepanjang jalan sampai di Mambi. Begitu banyak wajah yang senyum manis di sana, menyatakan diri sebagai Calon Bupati Mamasa 2013—2018. Baliho-baliho pencitraan itu dipancangkan di pinggir jalan yang aspalnya rapuh dan ta’hambur. Ada yang berslogan Ayo Bangun Mamasa, Pemimpin Masa Depan Mamasa, Hanya Mau Bekerja, Sudah Terbukti, Percayakan kepada Kami, dan sebagainya. Baliho-baliho yang berukuran besar itu, juga kadang terpasak di antara rumah miskin warga yang menyedihkan. Padahal semua orang tahu bahwa Kab. Mamasa menjadi salah satu daerah otonom terkorup di Indonesia. Sekarang ini, ada beberapa mantan anggota DPRD Mamasa yang meringkuk di balik jeruji besi, karena kasus suap dan korupsi.

 

Bukit Kehijauan dan Sungai Kehidupan

Di balik rasa sedih melihat jalan dan baliho-baliho politik itu, saya masih dihibur oleh bukit-bukit hijau dan sungai-sungai kehidupan yang berjajar dan mengalir sepanjang jalan. Inilah salah satu kekayaan Kab. Mamasa yang diberikan langsung oleh Tuhan. Mendaki jalan yang melingkar-memutar di Tumonga dan Pasapa, di sisi kiri dan kanan adalah bukit yang melahirkan hutan-hutan natural.

Segera ketika menjelajahi jalan datar di Messawa lalu Sumarorong, engkau akan merasakan sapaan angin gunung yang purbawi. Sumarorong adalah kota gunung yang diberkahi hutan lindung dan sungai besar yang selalu berganti warna: coklat dan bening. Jika penghujan, warnanya coklat dan jika kemarau tiba, kejernihan airnya sangat memukau para pelancong. Di sini, engkau dapat langsung menyentuh untaian rerumputan yang merunduk ke jalan, melalui jendela mobil.

Di Sindagamanik engkau boleh menangis dan terharu menyaksikan hutan-hutan pinus yang berdiri rapi di bukit jauh sana. Konon, pinus adalah hutan bawaan Belanda sewaktu memasuki wilayah ini, pada zaman penjajahan. Keterharuanmu masih akan bertambah ketika memandang pucuk Gereja yang menyembul di antara tajamnya puncak pinus. Pada bagian paling atasnya, terdapat ayam jago, salah satu simbol gereja. Jika melewati kampung ini jelang malam hari, engkau akan melihat warga yang duduk atau berdiri di pinggir jalan atau di rumah sambil mengkammuk atau membungkus diri dengan sarung khas Mamasa yang berwarna dan tebal, untuk mengusir dingin.

Belum sempurna perjalananmu jika belum membeli dan menikmati buah markisa yang dijual di pinggir jalan. Jika bernasib baik, engkau akan melihat ibu atau bapak tua yang duduk di depan pintu sambil mengunyah daun sirih dan buah pinang. Senyumnya yang merah akan mengantarmu melanjutkan perjalanan.

Perjalanan menuju kampung memang terasa melelahkan, karena sejak meninggalkan Polewali, mobil terus mendaki pegunungan sekitar 100 kilimeter. Pendakian terhenti ketika sampai di kota kecil, Malabo. Inilah tempat persinggahan legendaries bagi mobil angkutan sejak tahun 1970-an sampai sekarang. Penumpang akan turun dan makan di warung-warung pinggir jalan. Bagi yang beragama Islam, sekaligus menunaikan salat, lalu makan siang. Penumpang yang dimabuk kendaraan, akan memuntahkan isi perutnya, karena guncangan jalan berlubang dan berbelok-belok.

Saat di kota persimpangan menuju Mambi dan Mamasa ini, saya kaget karena ibu tua pemilik warung yang kami singgahi adalah dia yang sejak saya SD dulu, pemilik dan pelayan warung tersebut. Bedanya, dulu ia masih gadis manis, sekarang sudah dibelit waktu dan ketuaan.Kesetiaannya menjaga warung dan melayani penumpang, adalah kesetiaannya menjaga Malabo dan kehidupan. Sebuah keteladanan yang patut ditiru.

Mobil meniti di atas jembatan Malabo yang agak rawan. Ketika SD dulu, setiap penumpang melewati jembatan ini, diturunkan demi mengurangi beban mobil. Di bawahnya, mengalir sungai Malabo yang deras dan berbatu besar.

Inilah fase kedua perjalanan pulang kampung. Sejak meninggalkan Malabo, jalan beraspal baje tanggoreng benar-benar mengguncang mobil yang kami tumpangi. Salah satu perbedaan mendasar jalanan ini tahun-tahun silam, adalah ruas jalan yang jadi lebar karena sisi bukit yang dikeruk oleh Pemda Mamasa. Akan tetapi, kualitas jalan tidak pernah berubah. Mobil melenggang kiri dan kanan dan kadang terperosok ke jalan berlubang. Ironisnya, menurut pak sopir, jalan Malabo-Mambi baru saja diaspal oleh pemerintah, tetapi seakan-akan baru pengerasan belaka. Kerikil-kerikil aspal terhamburan ke tepi selokan. Badan jalan yang selalu digilas ban mobil, menjadi dalam dan tidak beraspal sama sekali. Meskipun demikian, La Tahzan¸jangan bersedih, kata penulis buku best seller Aidh Al Qarni, karena banyak senyuman, lambaian tangan, dan kata-kata “penyejuk” kalbu yang terpampang di baliho yang berderet sepanjang jalan. Di situ ada kata-kata “penenang” perjalanan, Mari Bersatu Membangun Mamasa, Pemimpin Muda Pembaharuan, Jika Tuhan Berkenan, Kita Pasti Bisa, Atas Permintaan Masyarakat Saya Siap Membangun Mamasa. Kita Wujudkan Mamasa yang Jaya, Aman, Damai, Sejahtera, dan Bermartabat. Semoga…

Tepat pukul 18.35 Wita, kami tiba di Mambi. Mama Ani, mengajak saya dan istri singgah di rumah anaknya dan salat Magrib di sana. Oh Mambi, sebuah kota kecil tempat menempuh pendidikan di SMPN 1 Mambi. Malam ini, salah seorang alumnimu datang, ingin pulang kampung lahir dan batin. Ingin melakukan penyucian diri, sebelum kembali lagi ke negeri rantau.

 

Menyusuri Jalan ke Salubulung

            Dari Mambi, ibu kota kecamatan, sekitar lima kilo lagi tanah kelahiran saya, Salubulung. Usai salat Magrib, mobil datang lagi, setelah pak sopir singgah di rumah istri untuk buka puasa bersama.

            Mobil meluncur perlahan meninggalkan Mambi yang sudah mengumandangkan Salawat dari menara masjid besar. Suara riak air dari sungai Mambi segera terdengar, menzikirkan kebesaran Ilahi. Semua makhluk di bumi ini berzikir kepada Pencipta, kata Ustaz Arifin Ilham. Mobil segera meniti Jembatan Mambi. Lampu mobil menerangi dengan jelas gambar-gambar kandidat Bupati Mamasa yang terpampang di baliho pada Pertigaan Mambi-Aralle-Salubulung. Ini adalah tempat paling strategis pada para calon pemimpin Kab. Mamasa untuk tampil sebaik mungkin di hadapan warga yang datang dan pergi ke kampung masing-masing. Dari Mambi belok kiri, adalah warga dari kampung Pada, Salubulung, Salubua, Kampuang, Lombongan, Maerang, Pepana, Saluang, dan Pamoseang. Jika belok kanan, maka warga dari kampung Loka, Saluassing, Salukepopo, Lemo, Tapalinna, Uhailanu, Ralleanak, Aralle, dan Lingku yang akan memelototi wajah-wajah di baliho itu. Mambi adalah ibu kota Kecamatan Mambi yang menjadi pusat ekonomi dan perdagangan. Di Mambi terdapat pasar tradisional yang dibuka setiap Senin dan Kamis. Pada hari itu ribuan warga dari berbagai pelosok kampung datang menjual hasil bumi dan membeli kebutuhan pokok.

            Menyusuri jalan menuju Salubulung, bagi saya adalah memasuki kembali kenangan masa silam. Di jalan inilah, setiap harinya bersama lebih sepuluh teman saya, pulang-pergi ke Mambi untuk menempuh sekolah di SMPN 1 Mambi. Saat itu belum ada jembatan. Kami harus menyeberangi sungai Mambi yang deras itu. Jika musim kemarau, airnya jernih dan bersahabat. Jika penghujan tiba, airnya kecoklatan dan membesar. Kadang kami harus membuka celana sekolah untuk menyeberang, jika airnya besar. Tinggal celana kolor yang harus basah untuk melindungi “sesuatu”. Teman perempuan mengenakan rok ganti saja. Akan tetapi, jika air sungai meluap, hari itu kami batal ke sekolah karena tidak dapat menyeberang. Hal ini kami lewati selama tiga tahun sekolah di Mambi. Itu artinya, setiap hari kami menempuh perjalanan delapan kilometer, pulang dan pergi.

 

Menyusuri Kenangan Masa Silam

Ketika mobil menuruni lembah Kalasumpiang, saya ingat lagi teman seperjalanan dulu. Hajir yang kini bekerja di Pelabuhan Samarinda, dikaruniai beberapa anak dari dua istri tersayang. Abang yang diangkat jadi polisi di Samarinda. Anaknya dua dari istri yang manis. Kami aktif ber-cating ria di facebook. Acang, kuliah di Universitas Muslim Indonesia Makassar (UMI), tetapi saat KKN di sebuah perusahaan di Pasir, Kalimantan Timur, ia meninggal bertabrakan dengan sepeda motor. Ia anak pintar dan agak pendiam. Tulisannya indah.

Mamuk yang kini bekerja di pantai Tarakan, Kaltim, sebagai pedagang minyak. Istrinya satu, anaknya dua. Ahi, sepupu sekali saya, yang juga jadi guru SD di Tanjung Selor, Kaltim. Ia mendalami agama dan saat bersua terakhir, jenggotnya bersih dan senyumnya ramah. Ia juga sudah menikah dan memiliki anak. Bia yang ceria, kini tinggal di Mamuju sebagai pengusaha jeruk yang sukses. Ada juga Lia yang kini bermukim di Topoyo, Mamuju. Anaknya sudah tiga, suaminya tetap satu. Saat bertemu di Polewali lebaran ini, ia sudah mengenakan jilbab. Mama Sandi, demikian ia dipanggil, ke Polewali untuk mengganti beberapa giginya yang sudah mulai rapuh. Matuang tau, katanya. Kita sudah tua, maksudnya.

Saya juga ingat Dakma yang kini jadi istri kakak saya, Salahuddin Gani. Dakma adalah siswi termungil dari Salubulung. Bersama kakak, mereka diberi anak lima oleh Tuhan. Tiga pria, dua wanita. Kelimanya mengikuti “bakat” ibunya: mungil semua. Immang adalah teman seperjalanan yang bertubuh kecil. Akan tetapi, sejak ia tinggal di Tarakan dan menggarap tambak, tubuhnya jadi lebih besar daripada saya. Ia pemain sepak takraw yang lincah dan gesit. Ia menikahi gadis dari Kampung Pada yang rupawan.

Saya juga tidak dapat melupakan Takbi, teman seperjalanan yang agak nakal. Hampir semua siswa laki-laki dari Salubulung, pernah berkelahi dengannya di perjalanan, kecuali Acang (alm.) dan Ahi. Ia sekolah di MTsN Mambi, kami di SMPN 1 Mambi. Hingga kini, Takbi masih dalam “proses” menyelesaikan perkuliahan di sebuah universitas di Kota Daeng, Makassar. Jika dihitung, mungkin ia sudah semester kedua puluh satu. Saat ketemu terakhir di Polewali baru-baru ini, sebuah masker tidak lepas di mulutnya, meskipun kita bercaka-cakap dengannya di ruang tamu. Ternyata ia menutupi gigi serinya yang patah akibat terjatuh dari motor.

            Satu kelebihan saya dibanding teman-teman seusia saya yang sekolah di Mambi yaitu soal menulis surat cinta. Di antara teman-teman sebaya itu, sayalah yang dianggap paling menarik gaya bahasa surat cintanya. Makanya, semua surat cinta teman lelaki saya, sayalah yang membalasnya. Artinya, surat-surat itu, saya baca terlebih dahulu lalu kemudian menulis balasannya. Artinya lagi, rahasia teman-teman soal cinta monyetnya itu, saya ketahui semuanya. Sebagai imbalan jasa, saya mendapat secara cuma-cuma minyak rambut bermerek Rivon, Tancho, atau Minyak Kemiri.

            Kini, anak-anak usia SMP tidak perlu khawatir akan sungai yang meluap. Sudah ada jembatan beton. Tidak perlu jalan kaki, karena sudah banyak pake motor. Soal surat cinta itu, mereka mungkin sudah tidak mengenalnya, karena sudah ada SMS yang lebih praktis dan cepat.

 

Akhirnya Sampai di Tanah Kelahiran, Salubulung

            Assalamu Alaikum. Akhirnya kami sampai di Salubulung, tepat sebelum salat Isya dilaksanakan. Mobil berhenti tepat di depan rumah. Anak-anak berkopiah dan berkerudung datang mengerumuni mobil. Alhamdulillah, saya sampai juga di tanah kelahiranku. Kampung tempat dilahirbesarkan. Diasuh ayah dan ibu.

            Papa Faiz lambik siola baine anna anaakna (Papa Faiz datang bersama istri dan anaknya). Demikian terdengar suara-suara. Ohhhh Faiz, kasallengngia todak. Faiz sudah besar, maksudnya. Kebahagiaan meluap dalam dada. Saya buka pintu mobil dan segera menyalami handai taulan yang datang. Ada Papa Farhan atau Salahuddin Gani bersama istrinya. Datang juga Papa Azisah bersama istrinya, kakak saya. Juga datang handau taulan, jamaah Masjid Nurul Hidayah yang bersebelahan rumah kami.

            Salubulung adalah tanah spiritual pertama. Sejauh mana raga berkelana, di sana juga batin ini mengenang. Ia adalah bumi tempat saya dilahirkan. Darah saya yang pertama ditumpahkan. Darah kelahiran seorang anak manusia ke Bumi Allah. Di sebuah rumah panggung sederhana 35 tahun silam, azan pertama dan iqamah perdana berkumandang di kedua telinga saya. Di sana juga bahasa pertama dari ibu dan ayah masuk di telinga: bahasa Cinta! Di sana juga adalah tempat pertama kali saya melaksanakan ruku’ dan sujud. Di Masjid Nurul Hidayah menjadi tempat menunaikan sembahyang bersama teman sebaya. Di masjid ini juga belajar mengaji Al Quran dilaksanakan, memeriahkan malam-malam Salubulung sepanjang tahun. Salubulung-lah tempat saya menempuh pendidikan Sekolah Dasar.

            Jika Salubulung adalah tanah spiritual pertama, Kendari menjadi kedua. Jika Salubulung menjadi pondasi seorang manusia dari bayi sampai remaja, Kendari menjadi tiang-tiang sebuah bangunan. Pondasi dan tiang kemudian bersatu membentuk rumah, Rumah Kehidupan. Adapun isinya adalah hasil dari pengelanaan atau pengembaraan lahir dan batin.

 

Memeluk dan Mencium Ayah yang sudah Tua

            Memasuki rumah, saya mendapati ayah duduk di atas ranjang. Ia sudah tidak terlalu kuat lagi berdiri dan berjalan. Ia kini telah menggunakan tongkat untuk menopang jizimnya yang renta. Tuhan telah mengambil banyak limpahan nikmat yang pernah ia berikan padanya kurang lebih 85 tahun lamanya. Kusalami dan kucium tangannya, kukecup keningnya, dan kurangkul tubuhnya yang renta. Begitu pula istri saya, melakukan hal serupa. Faiz kududukkan di kedua pahanya yang pualam. Jika air mata adalah wujud bahasa Cinta, maka malam itu, bahasa Cinta mengalir dahsyat, disaksikan Sang Ramadan yang tidak lama lagi berangkat menuju haribaan Ilahi.

            Bagi saya, pertemuan dengan ayah, kembalinya ke kampung halaman, berjumpa dengan saudara dan handai taulan ibarat berkah Lailatul Qadar. Sebuah kegembiraan dan kebahagiaan yang tak terkatakan. Samar-samar terdengar suara keok ayam. Ternyata, kami disembelihkan seekor ayam jantan, sebagai wujud kesyukuran. Demikianlah, maka pada Subuh hari, kami merayakan kebahagiaan itu dalam Sahur bersama.

            Subuh harinya, kening kurekatkan ke lantai Masjid Nurul Hidayah bersama jamaah yang lain. Jika tidak belajar sembahyang dan mengaji di masjid ini, mungkin akan jadi kebingungan di negeri rantauan.

            Pagi harinya, Faiz, anak saya yang berumur 3,6 tahun tiba-tiba merasa bebas bermain. Ia seakan mendapatkan lapangan luas tak berujung. Ia larut bermain dengan sepupu-sepupunya dan teman-teman sebayanya di Salubulung. Bermain bola di jalan tak beraspal, memburu bebek, mandi di sungai, dan ikut membuat kue di dapur. Ia begitu fasih memanggil teman barunya, Furkon, Ica, Fatur, Taufik, Fika, Fifa, si kecil Zabila dan Zaki yang ia sebut Adik Manis, Kakek Ambo (untuk kakeknya), dan lain-lain.

 

Ke Salumato, Kahaleang, dan Sawah

            Hari pertama tiba di kampung, saya ikut kakak ke Salumato, yang berada di balik bukit hijau. Ia akan memberi makan ayam-ayamnya di sana, karena di kampung, ayam-ayam pada banyak mati akibat penyakit. Salumato tidak dapat dipisahkan dengan Salubulung, bagi kami sekeluarga. Di daerah yang diapit bukit ini, terdapat kali yang dialiri sungai yang langsung mengalir dari ketiak gunung. Pada tahun-tahun 1970—1980-an, saat musim paceklik mendera kampung-kampung, kami membuka lahan ini dan menanaminya dengan padi ladang. Sebuah gubuk bambu berdiri di tengah-tengah pohon coklat dan tanaman pelindung. Ibu adalah pekerja keras dan sangat ulet menghidupi delapan anaknya. Alhamdulillah ayah bekerja sebagai Kepala Sekolah di Madrasah Tsanawiah Mambi. Akan tetapi, gajinya kadang tidak selalu cukup menopang hidup selama sebulan. Namun, kondisi yang lebih parah mendera sebagian besar masyarakat yang terserak di berbagai kampung yang mengandalkan alam sebagai sumber kehidupan. Musim paceklik adalah sahabat setia yang selalu menemani sepanjang tahun. Inilah keadaan masyarakat selama berpuluh-puluh tahun di pelosok, dalam kekuasaan pemerintah Orde Baru Soeharto.

            Tidak henti-hentinya saya mengucap rasa syukur di dalam batin, ketika menapaki jalan berbukit ke Salumato. Saya langsung menghirup udara segar dari hijaunya pohon-pohon. Saya kembali dapat melihat pohon popo, lemarra, lebanik, rakdak, dan pune.

            Dada saya bergetar mendengar suara burung-burung hutan yang memilukan hati. Persis di atas puncak bukit, saya mendengar lagi suara burung Kedasih yang masyhur itu. Burung yang menggugah pena para pujangga menjelma syair yang indah. Belum usai suara sang kedasih, terdengar pula suara burung khas Salubulung, Tuo. Suaranya dibangun dari satu kata yang terus diulang, semakin lama semakin meninggi, menyayat hati. Beginilah bunyinya, tuo…tuo….tuo….tuo….tooooo. Suara burung kedasih yang menghasilkan kesan rindu dan suara burung tuo yang terluka, kni terus bergema dalam ingatan. Salah satu jenis burung yang identik dengan hutan Salubulung adalah burung Lohi. Suaranya juga khas, sebagaimana yang saya dengar di atas bukit, yakni berbunyi uuk…uuk…uuk. Dari segi makna bahasa kampung, “uuk” berarti “ia”.

            Belum usai kebahagiaan saya mendengar suara burung, saya baru sadar dikelilingi bukit-bukit dan gunung-gunung yang hijau. Bukit yang hanya boleh dijamah tangan manusia dan gunung yang hanya disentuh awan-awan. Di hadapan saya, gerombolan pepohonan yang memelihara air di akar-akarnya. Di belakang, adalah bukit kokoh yang menyanggah keteduhan langit. Jauh di sana. Gunung Pepana dan Gunung Lemo yang menyediakan kakinya jadi perladangan dan pesawahan warga. Di bawah sana, kampungku Salubulung terasa jadi kecil di tengah maha besar Alam Raya. Salubulung hanya dipelihara 27 rumah warganya. Merekalah yang setia menghidupi dan memelihara kampung. Merekalah yang melahirbesarkan anak-anaknya, seperti saya ini. Di tengah kekaguman ini, segera kuabadikan momen tersebut melalui sebuah kamera. Mengawetkan sesuatu yang bakal fana.

                       

Mendatangi Keluarga, dari Rumah ke Rumah

            Tidak lupa saya mendatangi keluarga dari rumah ke rumah. Saya menanyakan kabar para orang tua yang renta itu lalu foto bersama. Saya menanyakan kesehatan dan kabar anak-anaknya di rantau. Saya ke rumah Mama Munni yang sudah ditinggal pergi sang suami. Ia sementara menyapu halaman rumah, di bawah pohon cengkeh yang besar. Saya ke rumah Mama Basi yang tinggal sendiri. Suaminya sudah meninggal di Pare-pare beberapa tahun silam, saat menjenguk anaknya. Ia tidak melihat suaminya meninggal dan dimakamkan. Saya ke rumah Indona Daeng, yang sudah meninggal pula bersama suaminya. Di rumah ini, tinggal dua anaknya bersama keluarga. Saya terhenyak ketika melihat tanah bekas gubuk Iba si janda tua. Berpuluh-puluh tahun ia tinggal sendiri di sini. Saya singgah di halam rumah Papa Roha yang sudah tua bersama istri. Beruntung, karena ada anaknya yang tinggal di kampung, yaitu Mama Wana.

            Saya bersama istri lalu ke rumah Mama Imran.. Ini adalah rumah almarhumah tante saya yang akrab disapa Adila, yang juga sudah meninggal, bersama suami yang akrab disapa Ambo. Sedangkan bagi istri saya, ini adalah rumah kakek dan neneknya. Ambo adalah sosok berjasa dalam mengislamkan ratusan generasi di Salubulung dan kampung-kampung lainnya. Ia satu-satunya sosok yang menyunat anak laki-laki, termasuk saya sampai beberapa generasi setelah saya. Rumah Papa Sainal, Papa Dakma, Papa Wana, dan Papa Ogi tidak lupa saya kunjungi. Begitu pula rumah Tuangguru Papa Nussang, saya masuk bersama istri. Beliau adalah kepala sekolah sewaktu saya sekolah di SDN 1 Salubulung. Anaknya, almarhum Acang, adalah satu kelas dengan saya sejak SD sampai SMP. Istrinya baru saja meninggal dua bulan sebelum Ramadan. Anak pertamanya, Nursalam, adalah orang yang membawa saya ke Kendari mendaftar di Universitas Haluoleo tahun 1997.

            Rumah Papa Eka juga saya masuki. Ada istri dan kedua anaknya. Ia bertetangga dengan rumah kakak saya, Papa Farhan yang bekerja di Topoyo, Mamuju, sebagai guru di sebuah Sekolah Dasar. Anak Papa Farhan berjumlah lima orang. Anak pertama, Farhan, baru masuk kelas satu SMA. Sedangkan yang terakhir, Zaki, baru setahun lebih umurnya. Di hadapan rumahnya, adalah bekas perumahan Papa Nakrung yang kini hijrah ke Topoyo, Mamuju. Istrinya meninggal di sana. Anak ketiganya, Anting, teman sepermainan saya ketika kecil dulu, juga meninggal di sana. Adalah rumah Papa Enni yang kini sudah kosong juga, di sebelah rumah kakak saya. Papa Enni dan istrinya sudah berpulang ke rahmatullah. Anak-anaknya kini tinggal di rantauan. Saya masih sempat ke kolong rumahnya, menghirup kenangan dan kefanaan.

            Persis di samping masjid adalah rumah almarhum dan almarhumah Ambo Hajir dan Mama Hajir. Keduanya meninggal di Mamuju, daerah rantauan. Untung masih ada anaknya bernama Ali, juga sepermainan dulu, kini pulang kampung dan menggarap sawah peninggalan orang tuanya. Di sebelahnya adalah bekas perumahan Papa Sabil yang sudah rata dengan tanah. Pemiliknya kini bermukim di Polewali, sejak diangkat jadi PNS di sana. Salah satu rumah unik adalah rumah Ibu Hani karena bagian depannya diukir bermotif burung dan daun-daun. Sejak ditinggal pergi saudaranya, Manda, ke haribaan Ilahi lebih sepuluh tahun silam, ia kini tinggal sendiri ditemani ponakannya. Rumahnya yang besar dan halaman luas, mengesankan kesunyian.

            Rumah Bakdu Lota, juga sudah kosong. Bakdu Lota dan keluarga memilih Kampuang Tanga (kampung tengah) sebagai tempat tinggal. Ia dikenal sebagai sosok yang ulet bekerja. Gabah satu karung goni ia pikul sendiri. Satu batang kayu besar ia pikul sendiri.  Dulu ia jadi terkenal karena terjun ke bisnis ora-ora yakni manusia mumi, yang ternyata palsu, membuatnya sempat masuk “DPO” pihak tertentu. Anak pertamanya, Ralli, meninggal dunia setelah terjatuh dari pohon rambutan, sekitar tahun 1995. Sayang sekali, saya tidak sempat bertemu dengannya. Padahal saya sangat akrab dan ingin mewawancarainya.

            Di sebelah rumah Bakdu Lota adalah rumah keluarga almarhum dan almarhumah Ambena dan Indona Dira. Rumah ini kini ditinggali ketiga anak perempuannya, Lina, Sia, dan Jani. Mereka bertiga yang menjaga dan meneruskan warisan sawah. Anak pertamanya, guru mengaji kami dulu, Ibu Dira, membuat rumah sendiri bersama anaknya. Suaminya, Papa Enni, telah meninggal beberapa tahun silam. Ibu Dira adalah istri kedua Papa Enni, setelah istri pertamanya meninggal dunia. Saya terkesan ketika Mama Takdir, sapaan akrab Ibu Dira, menceritakan proses kematian suaminya. Suaminya yang sakit-sakitan pamit kepadanya untuk berobat ke Polewali. Sampai di Polewali, penyakitnya dan meninggal dalam perjalanan menuju Makassar.

            Di samping rumah kami, terdapat bekas perumahan Papa Aco yang kini tinggal di Polewali. Kini sudah rata dengan tanah, tinggal bak mandi yang tersisa. Juga ada Loko Bolong (Lumbung Hitam) di depan rumahnya yang kini sudah reot. Saya juga singgah di rumah imam muda Masjid Nurul Hidayah, Muzakkir atau Papa Rahman. Ia adalah anak terakhir Ambena Dira. Suaranya yang indah nan merdu menjadi penarik tersendiri bagi warga untuk datang salat berjamaah.

            Rumah Ambona Hama, suami dari tante saya, tidak lupa saya singgahi. Istri tercintanya meninggal sekitar setahun silam. Ia tinggal bersama anak perempuannya, Hakmi bersama keluarga. Di sana juga ada Mama Afdal dari Mamuju. Kami lalu bercerita ihwal kematian ibu saya dan ibunya. Kami memperbincangkan sebuah tema, kefanaan. Ritual mengunjungi keluarga juga dilakukan Papa Ryan yang banyak bertanya soal pa’neneang atau silisilah keluarga kepada tetua kampung.

            Pembaca yang budiman, ketika saya meninggalkan kampung menuju Kendari tahun 1997, semua yang sudah meninggal di atas masih sehat wal afiat. Pada saat saya di rantau itulah, mereka kemudian dipanggil menghadap Sang Maha Kuasa, satu per satu.

 

Anak Rantau Berdatangan,MampapiaiPassadangan, dan Manggerek Saping Kamba

            Dua hari sebelum lebaran, kakak Burhanuddin Gani dan Bayanuddin Gani, juga tiba di Salubulung. Mereka bersama cucu ayah kami: Ryan, Fitri, Kiki, dan Indra. Tidak lama, datang cucu dari Loka, Fadli, Alawiyah, Aco, dan Ikra. Kebahagiaan di mata Ambo semakin tampak.  Malam itu, di rumah kami dikaruniai kebahagiaan yang tidak dapat ditukar dengan sesuatu yang bendawi. Kebahagiaan dan pertemuan keluarga yang akan dikenang dalam waktu yang panjang.

            Kebahagiaan itu juga dirasakan keluarga yang lain di Salubulung. Ambona Hama didatangi anak dari Samarinda dan Mamuju: Syamsul Mudir dan Jumiati. Ambokna Santi kedatangan ponakan dan iparnya dari Tarakan: Nenek Andar dan Hasan Basri. Mama Munni berbahagia karena anak pertamanya, Haidir, ikut hadir. Mama Basi yang sendiri, menjadi ramai karena Alling dan Adi datang dari Makassar. Papa Eka senang karena anak gadisnya, Eka, juga lebaran di kampung. Papa Nursalam sangat bahagia karena tiga anaknya dating jelang hari raya: Nukmi, Jaya, dan Fadli. Hampir semua anak Papa Roha juga datang di rumahnya. Itulah sebabnya ia berbinar-binar. Tuangguru Hakim cukup senang karena anak pertamanya, Sainal, S.Pd., yang mendalami agama di Makassar, datang di kampung. Nirwana juga dating yang membahagiakan ayah dan ibunya, Papa Wana dan Mama Wana.

            Tentunya, selain ada yang berbahagia karena orang-orang tercintanya datang, juga ada yang sedih karena yang dinanti tak kunjung hadir. Tetapi yang paling diliputi kehilangan adalah mereka yang tidak menanti siapa pun datang, karena yang dinantinya telah “duluan” pergi ke “kampung” yang lain: haribaan Allah yang Maha Kuasa.

            Alhamdulillah, Salubulung kini sudah terang pada malam hari oleh listrik, setelah berpuluh-puluh tahun diberi cahaya gratis oleh Tuhan: Bulan Purnama. Beberapa tahun silam, Almarhum Papa Munni—semoga Allah memberi  hidayah baginya di Alam Kubur—pernah merintisnya dengan mesin pembangkit tenaga listrik yang disambung ke rumah warga. Untuk pertama kalinya pula saat itu, warga menikmati sang kotak ajaib, televisi. Akan tetapi, sumbangsih yang mulia tidak bertahan lama. Nah, tahun 2011 lalu, Salubulung menerima proyek bantuan PNPM Mandiri berupa Pembangkit Listrik Tenaga Air yang menggunakan tenaga mesin turbin. Bulan purnama pun diganti menjadi balon “purnama”.

            Nah, usai lebaran, hujan lebat mengguyur Salubulung. Passadangan atau bendungan yang menampung air pembangkit listrik, terhalang oleh pasir dan kayu. Warga pria pun berbondong-bondong memperbaiki bendungan dalam suasana gotong royong dan kekeluargaan. Di sana ada Papa Eka, Nussang, Jukda, Papa Farhan, Papa Ryan, Papa Dakmaliana, Papa Nisa, Amma Jalek, Papa Rahman, Papa Asizah, dan Daeng La Sigi. Pemerintah memberi bantuan, warga menjaganya. Sebuah kearifan khas kampung.

            Salah satu peristiwa yang menyertai Lebaran kali ini adalah manggerek saping kamba atau menyembelih sapi mandul milik Papa Roha. Karena sang sapi sudah tidak mungkin memberi anak, maka pemiliknya menyembelih di seberang sungai. Kepada warga ditawarkan harga yang murah, seratus ribu per satu engeang atau tempat. Cara pembayarannya pun tidak mengikat, dapat diangsur sampai bulan November 2012. Semua bagian sapi ada di setiap tempat itu seperti tulang, daging, dan jeroan. Suasana penyembelihan sangat ramai karena selain disaksikan bapak-bapak, juga sebagian ibu-ibu, terutama anak-anak, dan sebagian balita. Kaki sapi diikat lalu dipegang dan ditarik beberapa lelaki kekar. Pak Imam Masjid bertindak sebagai tukang jagal dan sebagai imbalannya, ia mendapatkan secara cuma-cuma, panggere’ang, atau leher sapi bekas sembelihan. Ini adalah tradisi di kampung sebagai bentuk penghormatan kepada orang yang menyembelih. Orang yang menyembelih pun tidak sembarangan. Kalau bukan pak imam, adalah orang yang “faham” agama.

 

Mamburak Bau di Loka

            Mamburak bau adalah salah satu tradisi menangkap ikan di kampung sebagai suatu kearifan, menghargai kerabat yang datang dari jauh. Sehari setelah lebaran, kami ke rumah kakak, Nazaruddin Gani, di Loka, sebuah kampung berjarak lima kilometer. Bersama istri, ia telah memelihara khusus ikan mas, nila, dan lele untuk kami. Suasana sangat ceria dan penuh tawa saat menangkap ikan mas yang besar dan licin. Beberapa kerabat juga hadir memanfaatkan momen tahunan tersebut. Pagi itu juga, Bayanuddin Gani harus balik ke Kendari karena istri dan anaknya sakit. Ia pulang bersama keluarga kami yang lain, Nenek Andar dan Hasan Basri ke Tarakan, Kaltim. Suasana keberangkatan mereka diliputi rasa haru dan kehilangan. Rasa bahagia dan sedih menyatu dalam air mata yang sama. Mereka pulang kembali, kami berangkat ke Loka.

            Loka adalah sebuah kampung yang secara kultural dan genealogis, tidak dapat dipisahkan dengan Salubulung. Orang tua ibu saya berasal dari Ibu kota desa Sondong Lajuk tersebut. Bahkan saudara nenek dari ibu saya, masih hidup sampai sekarang dan telah berusia lebih seratus tahun. Ia masih sehat wal afiat, dikarunia umur panjang Sang Ilahi. Saat bertemu dengan Mama Marda dan Mama Nalo, keduanya sepupu sekali ibu saya, keduanya menangis melihat kami dan mengenang ibu kami. Yah, mereka termasuk kerabat yang secara lahir dan batin sangat dengan kami. Tidak lupa, kami sekeluarga bersilautrrahmi ke rumahnya dan bercerita tentang masa silam, masa ketika semuanya masih hidup. Silaturrahmi juga kami lakukan ke beberapa rumah kerabat di sana.

 

Lebaran 1 Syawal Tiba

            Geluruh takbir, tahlil, dan tahmid memecah angkasa Salubulung. Masjid Nurul Hidayah diliputi kebahagiaan. Sambil bertumpu pada tongkat, Ambo pun ke masjid, bersama-sama kami. Muzakkir menggelorakan suara indahnya sebagai imam salat yang berbahagia itu. Usai salat ia memimpin takbir. Jamaah mengikuti dengan suara yang penuh makna. Pagi itu, adalah pagi kemenangan. Tampil sebagai khatib Idul Fitri 1433 Hijriah adalah Burhanuddin Gani yang menyampaikan pesan-pesan kemenangan umat Islam pada 1 Syawal. Katanya, mengutip Qurais Syihab, kesucian pada hari 1 Syawal itu bermakna benar, baik, dan indah.

            Jamaah kemudian saling bermaafan dan berangkulan. Tidak ketinggalan pula, air mata turut hadir menyaksikan kebahagiaan itu. Anak bersimpuh di hadapan orang tuanya. Para orang tua menerima permaafan dari anaknya. Cucu-cucu tidak lupa lekat dalam rangkulan nenek dan kakek. Menantu dan ponakan juga tidak melewatkan hari kemenangan ini. Mereka luruh dalam pelukan mertua dan paman-pamannya. Yah kehidupan memang singkat. Kebahagiaan pun tidak panjang. Lebaran adalah momentum untuk mengabadikan kefanaan, merekatkan jarak, merangkul waktu, dan melepaskan kerinduan.

            Makanan terbaik dihidangkan. Hamba-hamba Allah menikmati daging ayam, burasa, bale tedong, dan suguhan kue-kue aneka warna, aneka rasa, aneka aroma. Hari itu tiada yang merasa lebih kaya, tiada yang merasa miskin. Semuanya luluh dalam kebahagiaan, dalam kemenangan.

            Meskipun demikian, ada juga yang merasa kehilangan. Yakni bagi mereka yang tidak lagi lebaran bersama orang-orang terkasih: ayah, ibu, anak, dan cucu. Dan kami juga merasakan itu, bahagia di tengah rasa kehilangan seorang ibu dan kakak tertua, Hasanuddin Gani. Bagaimana yang kehilangan kedua orang tua, atau orang tua yang kehilangan anaknya? Ya begitulah, kebahagiaan dalam kefanaan.

 

Akhirnya, Hari Kepulangan Datang Juga

            Jika ada pertemuan, ada pula perpisahan. Demikian sebuah pepatah lama yang hari itu juga kami alami dan amini. Rabu, 22 Agustus 2012, kami meninggalkan Salubulung, kampung kenangan, kampung kelahiran. Usai salat Subuh hari itu, kugunakan kesempatan untuk membaca  Kitab Syarah Rhadiatus Shalihin yang dibaca setiap Subuh, sebagai bentuk pertautan terakhirku dengan Salubulung dan warga. Isinya tentang cinta, kasih sayang, dan persaudaraan.

Mobil sudah menanti di jalan. Suasana haru melingkupi seisi rumah. Sejak pagi, mata Ambo berkaca-kaca. Ia pun sempat membacakan doa keselamatan dan keberkatan bagi kami, anak cucunya. Pertemuan dan kebersamaan terasa singkat saja. Akan tetapi, datang dan pergi adalah sebuah sunnatullah. Ia bagian dari gerak-gerik kehidupan dan perubahan umat manusia. Warga pun berdatangan ingin menjadi bagian dari perpisahan itu. Kilatan cahaya kamera mengabadikan suasana.

Salam-salaman dengan Ambo sudah dilakukan. Ambo yang sudah tidak terlalu sehat, sudah agak pelupa, dan pendiam, hanya mengantar kami dengan satu bahasa: bahasa air mata. Begitu juga dengan sesama warga, yang tak lain dan tak bukan adalah handai taulan, keluarga besar Salubulung.

 

Lambik borang koak le. Kalehai lolong kang kami kasi’ mai di kampung le.

Kalian datang lagi yah. Ingatlah selalu kami yang tinggal di kampung.

Demikianlah pesan-pesan saudara-saudara yang kami tinggalkan.

 

Kami masuk ke dalam mobil. Mesin dihidupkan. Ban mobil mulai bergerak. Lambaian tangan menyertai kami. Senyum kesedihan mengiringi. Doa-doa mengalir dari hati Ambo, juga saudara sekampung. Mobil semakin melaju saja. Salubulung pun kami tinggalkan. Jika ada rezeki, waktu, dan kesempatan tentu kita akan bersua lagi.

Selamat tinggal Salubulung. Selamat tinggal hutan dan bukitku. Selamat tinggal sungaiku. Selamat tinggal saudara-saudaraku. Selamat tinggal masjidku. Selamat tinggal…

 

 

Kendari, 1—4 September 2012

Angin Merah


Surono

 

 

Tiga tangisan tiga letusan meleleh di wajahmu

Dari lereng merapi merayap ke lembah-lembah mati

Cairan api meranggaskan tanah merampungkan nyawa

Air matamu longsoran mata air lava

 

Di balik dinding vulkanologi, matamu menangkap rahasia warna tembaga

Menangisi keindahan awan panas, katamu

Alam menandaskan keraguan menjadi abu

Dan langit membukakan pintu alamat mati

Sebagian menjauh memberi jalan bagi perjalanan lava

Sebagian yang lain dikafani abu

Dalam dinginnya maut

 

Katamu, kita telah mereguk ribuan butir air

Menghirup keikhlasan udara

Memanen kesegaran pohon-pohon

Maka berilah jalan bagi penyucian ini

Jika tak, kita dikutuk jadi abu batu

Jadi patung lava

 

Tiga tangisan tiga letusan meleleh di wajahmu

Di matamu berkelebat angin merah, berkibar di langit Yogyakarta.

Tak ada juru kunci

Bagi segala penjuru pintu

Karena kunci itu, katamu

Ada di jantung masing-masing

Manusia

 

Kendari, 14—20 November 2010

Finalis (Lima Besar) Anugerah Puisi CSH 2010-2011


Berikut adalah lima buku puisi yang terpilih sebagai finalis (lima besar) Anugerah Puisi CSH 2010-2011. Disusun secara alfabetis: 

Buton, Ibu dan Sekantong Luka karya Irianto Ibrahim. Penerbit Framepublishing, DIY, Mei 2010.

Hantu Kata karya Ook Nugroho. Penerbit Kiblat, Bandung, Juni 2010.

Hikayat Pemanen Kentang karya Mugya Syahreza Santosa. Penerbit Tajug, Bandung, Oktober 2011.

Surat dari Matahari karya Syaifuddin Gani. Penerbit Komodo Books, Depok, April 2011.

Yang karya Abdul Wachid B.S. Penerbit Cinta Buku, DIY, April 2011.

Satu buku puisi akan dipilih sebagai pemenang Anugerah Puisi CSH 2010-2011 dan akan diumumkan pada awal Juni 2012.

Cimahi, 18 Mei 2012

Cecep Syamsul Hari

Dikutip dari: http://cecepsyamsulhari.webs.com/cshpoetryaward.htm

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.