HIMPUNAN PENULIS SASTRA INDONESIA (HIPSI)

Standar

Deklarasi HIPSI

Pada hari Selasa 7 Oktober 2014, bertempat di Grand Clarion Hotel Kendari, telah disepakati berdirinya Himpunan Penulis Sastra Indonesia, disingkat HIPSI.

HIPSI didirikan dengan tujuan sebagai tempat berhimpun para penulis sastra Indonesia tanpa memandang asal suku, ras, golongan, kepercayaan dan usia.

HIPSI memilih untuk berdomisili di Kendari, Sulawesi Tenggara, dengan alasan-alasan historis, mengingat peran kepulauan Sulawesi sebagai tempat lahirnya para pemikir, ulama, cendekiawan dan sasterawan, yang karya-karyanya telah menjadi milik dunia.

HIPSI memiliki iktikad baik mendorong kreativitas dan produktivitas para anggotanya sekaligus sebagai sarana keorganisasian untuk memfasilitasi kesejahteraan para anggotanya.

Pada sisi lain, HIPSI juga didirikan dengan iktikad baik sebagai tempat mencari perlindungan hukum bagi para anggotanya.

HIPSI tidak berafiliasi dengan kelompok atau partai politik apa pun.

HIPSIS

Naskah Deklarasi HIPSI

Deklarator HIPSI

Deklarator HIPSI (dari kiri ke kanan): Ilham Q.Moehiddin, Cecep Syamsul Hari, Syaifuddin Gani, Ahid Hidayat.

Disepakati di:
Kendari, 7 Oktober 2014
Jam 21.10 WITA

Ketua Umum:
Ilham Q. Moehiddin

Koordinator Dewan Pembina:
Cecep Syamsul Hari

Sekretaris Jenderal:
Syaifuddin Gani

Koordinator Dewan Pakar:
Ahid Hidayat

Festival Taman Bacaan Masyarakat di Kendari, Literasi Sultra Sosoito!

Standar

Oleh Syaifuddin Gani
Ketua Forum Taman Bacaan Masyarakat (FTBM) Sulawesi Tenggara
Bergiat di Idea Profect, Rumah Pengetahuan, dan Teater Sendiri

Bholimo arataa somanamo karo
Bholimo karo somanamo lipu
Bholimo lipu somanamo sara
Bholimo sara somanamo agama
Biarlah rusak harta benda, asal jangan rusak diri (pribadi/rakyat)
Biarlah rusak diri, asal jangan rusak negara
Biarlah rusak negara, asal jangan rusak pemerintah
Biarlah rusak pemerintah, asal jangan rusak agama
(Falsafah Buton)

|1|
Puluhan tenda putih memenuhi sepertiga Alun-alun Tugu Persatuan Kota Kendari. Dari jauh, ia serupa ombak putih yang mengirim doa ke cakrawala, memohon agar cuaca yang terik, sesekali saja diganti dengan hujan gerimis. Sudah masuk bulan kedua, Kota Lulo dan sekitarnya didera kemarau yang terasa sangat panjang. Sejak tanggal 16 September 2014, tenda-tenda tersebut sudah mulai didirikan untuk memeriahkan Festival Taman Bacaan Masyarakat (FTBM) Tingkat Nasional, sekaligus perayaan Hari Aksara Internasional (HAI) ke-49. Puluhan tenda yang menyerupai kediaman jemaah haji di Mekah ini, seperti mengerubuti sebuah “alif” yang kokoh dan panjang yaitu Tugu Persatuan, sebuah ikon Sulawesi Tenggara yang berdiri di tengah-tengah Kota Kendari, menunjuk ke langit tak terkira. Yah, meski kini sering diabaikan oleh pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara di dalam proses keberlanjutan pembangunannya, tugu yang didirikan oleh Ali Mazi saat jadi Gubernur Sultra sepuluh tahun silam, sering menjadi pusat kegiatan berskala nasional dan internasional sehingga dengan sendirinya menjadi ikon Sulawesi Tenggara.

10696216_10203887207052215_5250267051890308971_n

Peta HAI ke-49 dan Festival TBM ke-3 tahun 2014

Di tengah deraan panas yang menyengat, peserta FTBM sudah mulai berdatangan pada tanggal 17 September 2014. Semangat literasi yang diusung peserta membuat suasana di Alun-alun Tugu Persatuan tersebut menjadi teduh. Boleh saja matahari bertengger lebih dekat dari biasanya, tetapi tenda-tenda sudah didirikan, buku-buku sudah ditata di rak, kain rentang sudah mengembang, baliho sudah tegak, dan umbul-umbul literasi sudah berkibar menyapa setiap tamu yang datang.

Ratusan orang sudah mengerumuni area Eks. MTQ Kendari, nama lain dari Alun-alun Tugu Persatuan. Selain peserta dan panitia, tidak luput pula pedagang kali lima mulai menggelar tikarnya di tempat yang disediakan panitia. Senja datang. Lampu-lampu mulai berkilapan. Di atas, gemintang bertaburan. Tugu Persatuan yang kerap sepi, kini ceria dan tampak merapikan pakaian kemurungan menjadi pakaian kebahagiaan.

Di antara ratusan orang-orang itu, di antaranya ada saya dan empat belas tim kecil yang dibentuk oleh panitia pusat untuk turut melempangkan jalan kesuksesan acara yang sudah digelar tiga kali tersebut. Sebagai orang yang dipercaya sebagai Ketua Forum TBM Sultra, saya memiliki tanggung jawab moral tersendiri untuk menyukseskan acara tersebut. Empat belas orang yang menjadi tim kecil tersebut adalah Ashari Amrullah (Idea Project), Iwan Konawe (Rumah Pengetahuan), Asidin La Hoga (Rumah Pengetahuan), Andika (Rumah Pengetahuan), Mulyadi (Teater Rakyat Anamolepo), Waode Nuriman (Komunitas Andakara), Zainal Suryanto (Komunitas KopiPaste), Frans Patadungan (Komunitas KopiPaste), Rendra Manaba (Kendari Kreatif), Al Ichlas Imran (Gerakan Kendari Mengajar), Juharisman (FLP Kendari), Asmin M. Garusu (TBM Sayap Garuda), Salim/Akhir Al Muna (Laskar Sastra), dan Didul (FLP Kendari).

|2|
Rabu siang, 17 September 2014, rombongan sastrawan dan panitia dari Kemdikbud tiba di Kendari. Langit Kendari yang terik menyambut kedatangan mereka. Di antara rombongan itu adalah Gol A Gong (Presiden FTBM Indonesia dan Pimpinan Rumah Dunia), Firman Venayaksa (Pengurus PP FTBM), Dr. Wartanto (Direktur PAUDNI), Muh. Ngasmawi (Kepala Subdit Sarana dan Prasarana), Sekar Hamdi, Virgina Veryastuti, Agus Munawar, Wien Muldian (Sekjen PP FTBM), dan Ganda. Mereka adalah orang di dalam dan di luar (pemerintah) yang memiliki visi yang sama: membangkitkan budaya literasi di Indonesia melalui FTBM di Kendari, Sulawesi Tenggara.

Lalu menyusul sastrawan/penulis dari berbagai kota, menyerbu Kendari. Mereka adalah garda depan di dalam merawat literasi. Neni Muhidin dari Palu, Anwar Jimpe Rahman dari Makassar, Faiz Ahsoul dari Yogyakarta, Ali Muakhir, Ariful Amir, Adil Tambono dari Sulbar. Selain tentunya Gol A Gong dan Firman Venayaksa dari Banten.

5296_1028909861160_1777768273_58227_3659117_n

Alun-alun Tugu Persatuan. Foto: Arif Relano Oba

Usai rapat teknis di Swissbell Hotel, Rabu, 17 September 2014, pukul 17.00, panitia dan peserta langsung terjun ke lokasi festival yaitu Alun-alun Tugu Persatuan. Banyak peserta yang kagum dengan lokasi festival karena di tengahnya terdapat tugu yang menjulang dan langsung menjadi penanda khas kegiatan tersebut: Tugu Persatuan. Sebuah karya besar yang didirikan oleh Ali Mazi sewaktu menjadi Gubernur Sultra sepuluh tahun silam. Nasib tidak mujur menerpa sang tugu karena Ali Mazi tidak terpilih lagi di perode kedua, sementara gubernur terpilih tidak terpanggil—paling tidak sampat tulisan ini dibuat—merampungkan gagasan mulia dan kebanggaan masyarakat Sultra itu.

Malam itu, alun-alun pesta cahaya, pesta gerak oleh ratusan manusia. Buku-buku diangkut. Rak dan lemari diturunkan dari mobil. Kabel panjang diulur. Balon dipasang. Panggung ditegakkan. Kursi dideretkan. Taman-taman ditata dalam sekejap. Setelah sempat mati lampu, malam itu Alun-alun Tugu Persatuan lahir dalam wajah yang tersenyum dan segar. Sang tugu mengenakan pakaian baru. Esok, Festival Taman Bacaan Masyarakat akan dibuka secara resmi.

10699811_10152607782535379_2120121891536031089_o

Tugu Persatuan. Foto: Firman Venayaksa

|3|
Pagi yang cerah. Langit Kendari benar-benar biru dan bersih. Matahari terasa cepat saja datangnya. Jika Anda memasuki lokasi kegiatan dari belakang, yang pertama kali dimasuki adalah bangunan berkubah satu yang memiliki lima anak kubah. Semuanya disaput dalam balutan warna hijau. Di bagian depan bangunan di area wilayah luas Alun-alun Tugu Persatuan itu terdapat rumah panggung beratap daun rumbia, dibuat khusus untuk kegiatan ini. Inilah rumah adat Suku Tolaki yang diperuntukkan bagi tamu undangan saat peringatan HAI ke-49 nantinya. Nah, antara Rumah Tolaki dan Tugu Persatuan yang berjarak kira-kira 100 meter, berdiri tenda-tenda yang berfungsi sebagai stan literasi dari TBM se-Indonesia. Di tengah-tengahnya terdapat dua panggung: Panggung Hari Aksara Internasional (HAI) dan Panggung Festival TBM. Panggung HAI menghadap ke Rumah Tolaki sedangkan Panggung Festival TBM memandang kokohnya Tugu Persatuan.

Bukan hanya stan TBM dari berbagai kota di Indonesia yang menghiasa lokasi, stan dari berbagai dinas di lingkup Kota Kendari dan Pemda Sultra, mengelilingi dari bagian samping. Hurut-huruf wukuf. Kata-kata tawaf mengelilingi puluhan tenda. Kendari hening dalam aura literasi.

Kamis, 18 September 2014. Saat arus lalu lintas Kota Kendari sudah mulai ramai, kursi di bawah tenda Panggung FTBM sudah padat terisi. Di atas panggung, Dr. Wartanto selaku Direktur PAUDNI Kemdikbud duduk berdampingan dengan Kadis Dikbud Sulawesi Tenggara, H. Damsik. Gol A Gong selaku Presiden TBM Indonesia dan Ngasmawi sebagai Kepala Subdit Sarana dan Prasarana PAUDNI juga hadir.

Acara yang dipandu oleh dua perempuan cantik, Waode Nuriman dan Yati Nurhayati segera dimulai.
Gol A Gong memberikan sambutan selaku Presiden TBM Indonesia mengatakan membaca adalah menunda umur, sementara menulis berarti memperpanjang umur. Ketika seseorang hanya membaca dan tidak menulis, saat ia tiada akan dilupakan namanya begitu selesai dikuburkan. “Tapi jika menulis, maka usia kita barang kali seperti yang dikatakan Chairil Anwar, “Aku mau hidup seribu tahun lagi”. Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Tenggara, Damsid menuturkan, kegiatan semacam ini diharapkan dapat menjadi ‘embun pagi’ untuk pengembangan peradaban di Indonesia. “Semoga melalui TBM, kita dapat terus mengembangkan kemampuan literasi kita, tidak hanya membaca, tetapi juga menulis. Menulis apa yang kita lihat, rasakan, sehingga bisa memberikan semangat serta inspirasi bagi orang lain,” katanya. Literasi, lanjutnya, adalah kunci menuju peradaban. Untuk membangun Sulawesi Tenggara ke arah peradaban tinggi, harus disokong oleh budaya literasi yang dimulai sejak usia dini.

Sementara itu, Wartanto mengatakan, saat ini TBM didirikan tidak hanya sebagai tindak lanjut dari program penuntasan niraksara, tetapi telah berkembang untuk memberdayakan masyarakat Indonesia yang gemar belajar dan masyarakat yang senang dengan perkembangan ilmu pengetahuan. “Maka sekarang TBM tidak hanya ada di pedesaan, tetapi juga sudah tersedia di tempat-tempat umum, seperti mal, rumah sakit, atau terminal,” ujar pria berkacamata tersebut.

IMG_20140908_173815

Saat serah terima pimpinan Forum TBM Sultra dari Siti Mimi kepada Syaifuddin Gani, Senin, 8-9-2014, Pukul 16:00 di Warung Bang Reza, Kendari. (Foto: Koleksi FTBM Sultra)

Usai memberi sambutan, Wantarto lalu memukul Gong, alat musik khas Sulawesi Tenggara. Gemanya menelusup ke setiap tenda yang berdiri kokoh, ke telinga setiap peserta dan pengunjung. Festival TBM 2014 secara resmi dibuka.

Adalah Adil Tambono dipanggil ke panggung untuk membacakan puisinya yang berjudul “Merayakan Literasi Membangun Imajinasi”. Penyair dari Mandar, Sulbar tersebut mengajak hadirin untuk memberi tempat bagi imajinasi sebagai sayap untuk mengepakkan burung literasi. Berikutnya, penulis (Syaifuddin Gani) turut menyumbang sebuah puisi yang berjudul “Konawe, Pintu yang Terbuka”, mengetengahkan keseharian hidup masyarakat Konawe (Tolaki) yang setiap hari pintu rumahnya selalu terbuka, sebagai tanda bahwa hidup begitu tenang, bahagia, dan rukun.

|4|
Tidak perlu menunggu lama, usai kunjungan ke stand TBM oleh Wantarto dan rombongan, rangkian acara festival pun digelar. Anwar Jimpe Rahman (Ininnawa Makassar), Tirta Nursari (TBM Warung Pasinaon), dan Ridwan (Qoryah Thoyibah) tampil dalam sesi diskusi. Sebagai orang yang bergelut dengan dunia literasi, mereka mendiskusikan berkenaan dengan Penerbitan Buku dan Terbitan Berkala. Mereka berbagi pengalaan sebagai orang yang selama ini hidup bersama buku dan karya.

DSC_0069

Presiden TBM Indonesia (Gol A Gong), Kep. Dinas Dikbud Sultra (Damsik), Kepala Subdis Sarana dan Prasarana (Ngasmawi), Direktur PAUDNI, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Wartanto), Kamis (18/9/2014).

Diskusi selanjutnya memilih tema Memanfaatkan Media Sosial Untuk Penulisan. Indra Widjaya, dari Gagas Media Malang dan Dicky Senda dari Flobamora hadir sebagai pembicara. Sesi tersebut dipandu dengan baik oleh Mahmudin. Mereka berbagi pengalaman tentang media sosial sebagai dunia “baru” yang menjadi sarana pengejewantahan ide dan imajinasi mereka. Kedua sesi tersebut mendapat apresiasi yang sangat antusias dari peserta. Apalagi, ratusan siswa dan mahasiswa Kota Kendari hadir mengikuti acara demi acara, berkat kerja sama antara FTBM Sultra, pihak kampus, dan sekolah. Mereka mendapatkan “sesuatu” yang sangat sosoito yaitu bertemu sastrawan, mendapat buku gratis, ikut workshop penulisan dan dongeng, dan menikmati diskusi literasi.

Tengah hari, sastrawan D. Zawawi Imron dan Cok Sawitri dari bandara langsung menuju lokasi. Setelah bersilaturrahmi dengan para peserta FTBM, sastrawan, dan panitia Zawawi langsung menuju hotel untuk istirahat. Cok Sawitri yang lebih muda, mengawal penyair “Celurit Emas” itu di dalam mobil. Jelang sore hari, Cok Sawitri bersama Firman Venayaksa berbagi pengalaman dan pengetahuan kepada peserta. Cok yang dari Bali mengupas Literasi sebagai Gerakan Budaya Lokal, Firman Venayaksa yang dari Banten menyampaikan proses perjuangan gerakan literasi di Banten bersama Rumah Dunia. Suasana diskusi yang santai mengalir hingga sore menjelang. Tugu Persatuan seperti takzim mengikuti setiap momen yang terjadi di sekitarnya. Sekar Chamdi yang bertindak sebagai moderator menutup acara itu yang diikuti tepuk tangan panjang peserta.

10386371_935413689806931_6434529270857309254_n

Dari kiri: SG, Gol A Gong, Zawawi Imron, Jilbab Putih, Firman Venayaksa, dan Siti Mimi di stan I:Boekoe

|5|
Di waktu yang bersamaan tetapi di tempat/stan berbeda, workshop penulisan novel oleh Gol A Gong, berlangsung. Di stan kriya, pelatihan membuat aneka ketrampilan seperti origami, dan pompom dipandu Virgina, Dwi, dan Sekar Hamdi. Kendari seperti mendapatkan hujan berkah di tengah deraan panas yang menyengat. Peserta juga diajak mengenali penulisan di stan penulisan oleh Firman Venayaksa, Agus Irkham, Ali Muakhir. Bagi peserta dan pengunjung pameran yang menyenangi dongeng, bersua dengan Reni dan Mahmudin di stan dongeng. Selain itu, terdapat wisata gambar melukis, writing clinic, pemutaran film dokumenter di stan Rumah Dunia. Bagi yang ingin menyelami digitalisasi buku ke dalam format siaran radio, pengunjung akan menyambangi i:boekoe yang dipimpin Faiz Ahsoul.

Khusus Sulawesi Tenggara, FTBM Sultra diberi kewenangan untuk mengisi enam stan. Tiga stan untuk masing-masing Kantor Bahasa Sultra, Perpustakaan Daerah Sultra, dan Dinas Dikbud Sultra. Tiga stan lainnya diisi oleh TBM dan komunitas sastra yaitu Idea Project/Rumah Pengetahuan, KopiPaste, Laskar Sastra, Gerakan Kendari Mengajar, TBM Sayap Garuda, Forum Lingkar Pena, dan Kendari Kreatif. Masing-masing komunitas menyuguhkan sajian yang menarik dan khas sesuai dengan minat dan jalan kreatif yang mereka tempuh selama ini.

Rumah Pengetahuan yang dipimpin Ashari Amrullah dan diberi sentuhan artistik oleh Iwan Konawe, tampil dengan sentuhan Kafe Buku. Lewat penataan rak berwarna gelap yang dipenuhi buku, stan ini memiliki daya tarik tersediri bagi pengunjung. Di dalamnya terdapat meja dan kursi kayu satu set sebagai tempat diskusi kecil tapi masif. Saat hari terakhir acara, Deasy Tirayoh tampil sebagai pembicara berbagi pengalaman menulis skenario film kepada mahasiswa sastra Indonesia, Universitas Halu Oleo, Kendari. Sastrawan Zawawi Imron, Gol A Gong, Firman Venayaksa, Cok Sawitri dan Agus Munawar singgah dan berbagi pengalaman di sini. Bahkag Agus Munawar, mempertemukan saya dengan staf Perpustakaan Daerah Kab. Konawe di dalam bilik Rumah Pengetahuan untuk rencana saling bekerja sama mengembangkan minat baca dan daya tulis.

|6|
Magrib tiba. Azan membelah angkasa Kendari yang kelam. Suasana sunyi tiba sampai ketika Isya datang. Banyak peserta yang menunaikan ibadah sembahyang di tenda dan masjid terdekat. Pukul 19.30, sastrawan D.Zawawi Imron hadir di panggung melakukan orasi budaya dan diskusi dengan penonton. Zawawi banyak memberikan wejangan mengenai puisi, kemanusiaan, dan kehidupan. Puisi harus digali dari inti kehidupan. Puisi harus dapat menghikmati “suara air yang terisak membelah batu” meminjam judul buku puisi terbarunya. Saat sesi diskusi, peserta antusias bertanya dan peraih penghargaan The S.E.A Write Award dari Raja Thailand tahun 2012 tersebut melayani pertanyaan dengan semangat dan kearifan. Penyair yang jatuh cinta kepada Tana Bugis ini banyak mengisahkan pengalaman bersastranya. Ibu adalah sumber utama penciptaan puisinya, sehingga salah satu sajak terkenalnya adalah “Ibu”. Sesi Zawawi malam itu menjadi penutup acara. Akan tetapi, tenda-tenda tetap tegak. Para penghuninya semakin malam semakin asik dalam diskusi dan berbagi pengalaman.

Acara selanjutnya adalah penampilan syair dari seorang ibu tua dari Jambi. Ia menampilkan syair bertutur yang berjudul “Dideng”. Ibu tua tersebut bersyair, bernyanyi dalam kesyahduan yang sangat menyentuh. Walau berbahasa Jambi tetapi makna dan sugestinya sampai di hati penonton. Melihat ia bernyanyi seperti itu, saya langsung teringat almarhumah ibu yang sangat fasih mendongengkan kami anak-anaknya setiap malam tiba sebelum tidur. Yah, syair Dideng dan ibu tua malam itu menjadi oase yang lain bagi Festival TBM di Kendari dan akan dikenang peserta dalam waktu yang lama.

|7|
Hari kedua festival tiba. Jumat, 19 September 2014 datang membawa matahari pagi yang sangat segar. Pagi itu, diskusi digelar di hadapan puluhan peserta. Tema diskusi adalah Kemitraan Perpustakaan dengan TBM yang menhadirkan Asep Saiful Rochman (IISIPI), Agus Munawar (SBS), Muldian (Dewan Perpustakaan Jakarta), yang dimoderatori Agus Irkham. Diskusi hangat tersebut mengetengahkan gagasan yang ditimba dari pengalaman yaitu sinergitas antara pemerintah dan pegiat literasi untuk menggalakkan budaya baca dan tulis. Suasana diskusi sangat menarik karena para pemateri duduk di Panggung Festival TBM, di tengahnya terdapat tenda dan kursi peserta, dan di belakang adalah tenda/stan besar PAUDNI Kemdikbud yang berisi buku, pernak-pernik, dan beragam info yang menarik. Selain itu, juga ada sesi diskusi yang menampilkan Jabo Nurfajrin, Arif Bedel, David, dan Danil Syafruddin. Mereka berbagi pengalaman dan penghikmatan di dalam membangkitkan budaya baca, tulis, dan diskursus kesenian dalam sentuhan lokal d daerahnya masing-masing.

Usai salat Jumat, mulai pukul 15.00—17.45 panggung Forum TBM Sultra disemarakkan dengan sajian dari Sulawesi Tenggara. Acara yang khusus diberikan bagi literasi Sultra ini bertajuk “Literasi Sultra, sosoito! Sesi pertama dimulai dengan bedah buku puisi Gol A Gong, Air Mata Kopi. Pembedahnya adalah Rahmad, S.Pd seorang guru Bahasa Indonesia di MAN 1 Kendari. Menurut Rahmad, kopi dalam puisi Gol A Gong adalah metafora dari kepahitan hidup kaum petani kopi yang bertungkus lumus dengan perjuangan menanam, merawat, dan menghidupkan budidaya kopi. Akan tetapi nasib mereka tidak pernah benar-benar baik dibanding kapitalis yang justru mengambil peran besar di dalam produksi dan industri kopi. Sementara itu, air mata adalah simbol kepedihan yang tiada kunjung mengering para petani kopi yang terus berkeringat agar warisan nenek moyang tersebut terus hidup di tengah gempuran globalitas dan janji bombastis pemerintah yang tiada kunjung terealisasi untuk memakmurkan petani.

Di sela acara, Gol A Gong mengatakan bahwa kelahiran buku tersebut berkat “penyepiannya” selama lima puluh hari di Aceh dan bagian lain Sumatera untuk meresapi kehidupan sesungguhnya para petani kopi di sana. Gong harus meninggalkan tanah air batinnya, Banten, karena mendapat intimidasi dari penguasa “ratu berkepala ular” di sana. Sebagai penyair, Gong tidak sekadar hijrah fisik belaka, tetapi hijrah sepenuh jiwa raga sehingga ia dapat membaca dan merekam “air mata kopi” di Sumatera, sebuah kepedihan lain yang tak terkira, yang bisa jadi melampaui kepedihan Gol A Gong saat meninggalkan Banten. Dengan demikian, kepedihan “air mata kopi” di Sumatera adalah luka sosial, sementara kepedihan Gol A Gong sebagai pendorong untuk meninggalkan Banten adalah luka personal. Luka sosial dan luka personal bertemu dalam sungai penderitaan yang panjang, mewujud dalam buku puisi Air Mata Kopi.

|8|
Para penggiat literasi Sulawesi Tenggara, terutama yang tinggal di Kota Kendari, tampil di Panggung FTBM dengan kekhasan penampilan. Dimulai dengan Stand Up Comedy oleh Zayn Al dari KopiPaste. Komedi yang dibalut dengan muatan literasi tersebut mengocok perut peserta, di tengah deraan panas matahari yang seolah-olah berjumlah tiga di langit Kendari. Pendongeng kecil bernama Inggrid Ananda dari MTsN Kendari mengisi jadwal berikutnya lewat dongeng “Liu dan Mawar Kuning” berkisah tentang seorang Raja Buton yang seakit keras dan hanya mampu disembuhkan oleh serbuk Mawar Kuning. Liu anak yang taat pada orang tua berhasil memenukan mawar di atas makam ibunya yang ia asuh sampai meninggal. Usai Inggrid tampil, Mbak Reni sang pendongeng ulung, memberi masukan baginya agar dapat tampil lebih memukau lagi.

Adalah Aslam Galileo, seorang deklamator cilik dari salah satu SD di Kendari. Ia tampil baca puisi dengan meyakinkan dan mengundang decak kagum penonton dewasa. Ia baru saja pulang dari Istana Negara dan bertemu Pak SBY saat acara Festival Sastra Nasional. Puisi yang konon ia buat sendiri berisi anjuran agar mencintai budaya daerah sendiri. Perayaan literasi Sultra terus berlanjut. Giliran La Ode Akhir dari Laskar Sastra yang bermain gambus Muna. Isi syairnya tentang pergaulan muda-muda mendapat respon langsung dari penonton. Bakat bermain gambus dan bersyair Muna dari Akhir sangat diapresiasi penonton karena memberi peluang hidupnya musik dan syair lokal. Penyair muda, Astikasari Muses tampil berikutnya membacakan sebuah puisi. Vokalnya yang berkarakter mampu membuat penonton terhenyak. Beda dengan Astika yang tampil dengan vokal dan gestur yang bergerak, Diyanti Alamiah Rahmad membuat diam penonton dengan suara yang lembut. Penyair dan cerpenis muda dari FLP Kendari tersebut memberi fokus penampilannya pada suara dan teks puisi.

Panggung Literasi Sultra Sosoito masih terus dikerubuti penonton. SMAN 1 Kendari tidak ketinggalan mempertunjukkan kemampuannya dalam musikalisasi puisi. Asuhan Zatiar Ifha tersebut memang memiliki keunggulan tersendiri di dalam bermusikalisasi puisi dibanding sekolah lainnya di Kendari. Bukan hanya musikalisasi puisi, pembacaan puisi pun mereka tampilkan lewat Ayu Aurelia. Suaranya serak-serak lembut, membuat penonton harus bertahan lama di arena. Dua pewara cantik, Iman dan Yati, menyudahi suguhan penampilan kesenian yang dimediasi oleh Forum TBM Wilayah Sultra tersebut. Kini, acara yang tidak kalah menarik adalah diskusi buku dan literasi yang mengadirkan penyair Irianto Ibrahim, novelis/cerpenis Ilham Q. Moehiddin, dan penyair/penulis skenario film Deasy Tirayoh. Sesi ini dipandu oleh Papi Asidin.

Irianto Ibrahim menyampaikan proses kelahiran buku puisinya Buton, Ibu, dan Sekantung Luka yang di dalamnya terdapat kritik terhadap klaim “Buton Basis PKI 1969” yang mengakibatkan Bupati M. Kasim saat itu, meninggal di dalam penjara akibat dituduh terlibat “Si Merah”. Irianto juga memaparkan bahwa dalam bukunya itu terdapat puisi yang berkisah soal Kota Lama di Kendari yang terancam hilang akibat rencana pembangunan sebuah jembatan oleh Gubernur Sultra, Nur Alam.

Ilham Q. Moehiddin seorang novelis dan cerpenis Kendari membeberkan proses kelahiran novelnya Garis Merah di Rijswijk. Novel yang masuk dalam 10 besar Novel Terbaik Republika memiliki latar, salah satunya adalah Kabaena sebuah etnik di Kabupaten Bombana, kampung halaman sang penulis. Ilham juga seorang pengerang cerpen yang produktif dan karyanya menghiasi banyak media di tanah air. Selain cerpen dan novel, Ilham adalah seorang penyair dan penulis esai-kritik sastra. Ilham dan irianto Ibrahim, keduanya pernah mengikuti Ubud Writers dan Readers Festival (UWRF.

Deasy Tirayoh seorang penyair muda Kendari, tampil membeberkan proses kreatif penulisan skenario yang kini sementara digarap filmnya oleh TVRI Sulawesi Tenggara. Deasy yang juga mengelola sebuah PKBM, di tengah belitan urusan sebagai ibu rumah tangga, ia mampu menata waktu untuk menulis puisi, membuka jaringan di media sosial, dan menulis skenario film. Saat sesi diskusi, ketiga pemateri diserbu pertanyaan dari peserta yang begitu antusias ingin mengetahui lebih dalam lagi ilmu dan pengalaman sang pengarang Kendari ini. Usai salat Isya, Pengurus FTBM Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Tengah, dilantik oleh Presiden TBM Indonesia, Heri Hendrayana Harris, yang dikenal sebagai Gol A Gong.

Di sela kesibukan dan keramaian acara, Gol A Gong, Firman Venayaksa, Pengurus FTBM Sultra, dan beberapa peserta bertandang ke Komunitas KopiPaste untuk menyampaikan visi dan misi Forum TBM, sekaligus mengharapkan dukungan ke beragam komunitas untuk mendukung kepengurusan dan program FTBM Wilayah Sulawesi Tenggara.

Malam tak dapat ditolak, siang tak dapat bertahan. Peserta kembali ke peraduan masing-masing. Ada yang masih bertahan di tenda dalam diskusi ramai tapi sepi, ada yang memilih ke hotel untuk meluruskan jalan darah, jalan kenangan.

|9|
Sabtu, 20 September 2014.
Ratusan mobil, plat hitam dan merah, memenuhi parkiran Alun-alun Tugu Persatuan. Tenda-tenda raksana dipenuhi manusia. Panggung utama tak goyah diberondong angin laut. Rumah Tolaki sesak oleh tamu undangan. Di dalamnya ada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan beserta istri, Gubernur dan Wagub Sultra, dan beberapa gubenur dan walikota yang akan mendapat penghargaan keaksaraan dari menteri saat itu. Peringatan Hari Aksara Internasional (HAI) ke-49 segera dimulai. Seluruh peserta yang ada di dalam kompleks Alun-alun Tugu Persatuan, memusat di arena HAI.

Setelah Gubernur Sultra memberikan sambutan dan apresiasi kepada menteri atas dukungannya ke Sultra sebagai tuan rumah HAI ke-49, kini giliran Muhammad Nuh memberikan sambutan sekaligus membuka puncak HAI ke-49 yang ditandai dengan pemukulan gong. Gong menggema ke seluruh tenda-tenda literasi. Siswa menyemut mengerumuni pak menteri. Pak menteri berkeliling tenda menyapa dan memasuki setiap stan dan memberi masukan dan apresiasi. Semoga bagi pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara, perayaan HAI ke-49 bukan sekadar seremoni belaka, tetapi segera mengejewantahkan di dunia nyata program keberaksaraan. Di tataran komunitas dan pelaku sastra, keberaksaraan sudah menjadi denyutan karya.

Usai salat Zuhur, pukul 11.30—12.30 diskusi selanjutnya digelar di Stan Workshop yang berpendingin. Udara Kendari yang menyengat menjadi dingin di dalam ruangan yang berukuran kira-kira 8×10 meter itu. Saya membawakan materi yang cukup berat “Literasi Sulawesi Tenggara dari Zaman Prasejarah sampai Era Digital”. Adapun Faiz Ahsoul dari Yogyakarta membahas proses digitalisasi dan pengarsipan karya sastra, sejarah, dan beragam naskah lama di i:boekoe yang ia kelola bersama Muhidin M. Dahlan.

|10|
Untuk membicarakan era prasejarah, saya memulainya dari Liang Kabori, sebuah situs budaya yang berusia 4000—10.000 tahun lalu. Menurut perkiraan para ahli, gambar-gambar di Liang Kabori dibuat abad ke 12. Pembuatan gambar tersebut terbuat dari tanah liat dicampur getah pohon, sehingga tidak pudar ditelan masa dan tidak mampu hilang hingga masa kini. Sekitar sepuluh liang dan ceruk memiliki lukisan dan 23 gua tanpa lukisan. Diperkirakan gua-gua tersebut menjadi tempat tinggal manusia prasejarah Suku Muna. Sepuluh liang dan ceruk bergambar yaitu, di Metanduno 310 lukisan, Liang Kabori 130 lukisan, Lakolambu 60 lukisan, Toko 58 lukisan, Wabose 48 lukisan, La Tanggara tujuh lukisan, Pamisa 300 lukisan, Lasaba 35 lukisan, Pinda 50 lukisan dan liang Sugi Patani juga tujuh lukisan. Khusus di liang Sugi Patani, terdapat lukisan layang-layang yang dalam bahasa Muna disebut Khagati Kolope yang berarti Layang-layang Kolope.

Layang-layang Muna (Kaghati Kolope) menjadi pembicaraan dunia ketika mengundang perhatian penggemar layang-layang dari Jerman bernama Wolfgang Bieck. Ia mengunjungi Muna dan mangabadikannya dalam bentuk foto. Sepulang ke Jerman ia kemudian menuliskan hasil kunjungannya dalam artikel berjudul ”The First Kiteman” di sebuah majalah Jerman tahun 2003. Bieck meyakini, layangan pertama di dunia berasal dari Muna, bukan dari China. Bahkan jarak usia antara layang-layang Muna dan Cina cukup jauh, 1.600 tahun!

Selanjutnya, di Kesultanan Wolio, pada tahun 1564, 450 tahun lalu, Sultan Murhum mengajak rakyatny masuk Islam (Sumber: La Ode Malim, Membara di Api Tuhan, 1961). Kebijakan sultan tersebut meneruskan apa yang dilakukan oleh Raja Mulae Sangia i-Gola yang memeluk Islam tetapi belum mengjak serta rakyatnya, pada tahun 1412. Pengislaman Kesultanan Wolio berdampak pula pada kerja keberaksaraan di wilayah tersebut. Syair-syair yang dibuat oleh La Ode Idrus Kaimuddin bernafaskan Islam sebagai media penyebaran agama. Karyanya yang sangat fenomenal adalah Kabanti Bula Malino.Syair Ajonga Yinda Malusya ‘Pakaian yang Tidak Luntur” karya Abdl Ganiu, juga adalah karya metaforis yang memiliki pesan keagamaan.

Khusus naskah-naskah Kesultanan Wolio, kini dipelihara dengan baik di Rumah Abdul Mulku Zahari, di dalam lingkungan Keraton Wolio. Naskah tersebut dijaga oleh anak bungsunya bernama Al Mujazi Mulku Zahari. Di masa silam, baik ketika manusia berada dalam era prasejarah maupun ketika berada dalam kerajaan/kesultanan, Orang Sulawesi Tenggara telah memberi dan meletakkan jalan literasi yang kaya dan penting. Setiap suku di Sulawesi Tenggara (Buton, Muna, Morunene, Tolaki) memiliki kelisanan dan keberaksaraannya sendiri-sendiri, baik yang terangkum dalam surat-surat kerajaan, falsafah kerajaan, maupun dalam bentuk dongeng dan syair. Jika dipaparlan lebih luas, akan terpampang betapa cakrawala karya itu sangat berwarna dan butuh kajian tersendiri untuk memetik nilai dan pesan di dalamnya.

Sastra dan sejarah Tolaki sudah banyak yang mengangkatnya dalam bentu buku antara lain Kebudayaan Tolaki oleh Abdurrauf Tarimana, Sejarah Kota Kendari oleh Anwar Hafid, Kota Pelabuhan Kolaka di Teluk Bone 1906—1942 oleh Basrin Mellamba, Arsitektur Tradisional Suku Tolaki di Sulawesi Tenggara oleh Basrin Melamba dan Tasman Taewa. Khusus Moronene, lebih banyak digeluti oleh generasi muda seperti Ilham Q Moehiddin, Sahrul, dan Anton Ferdinan. Selain itu, seorang pemerhati bahasa dari SIL (Summer Institute Linguistic) bernama David Anderson memiliki kepedulian terhadap bahasa Moronene, bahkan sudah menerjemahkan Injil ke dalam bahasa Moronene.

Sekilas, era kesusastraaan modern di Kendari saya mulai kenal sejak tahun 1997, ketika saya tiba di ibukota Sulawesi Tenggara tersebut sebagai calon mahasiswa Universitas Haluoleo. Ketika saya lulus sebagai mahasiwa Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia dan ikut bergabung di Teater Sendiri (TS) yang dipimpin Achmad Zain Stone, membuka jalan untuk mengetahui sastra dan teater Kendari dan ikut pula terlibat dalam menggeliatkannya. Saya membaca antologi puisi Dengung terbitan Teater Sendiri tahun 1995. Di dalamnya memuat penyair Kendari antara lain Saleh Hanan, Ar Rasyidi Budiman, Achmad Zain, Ahid Hidayat, La Ode Jagur Bolu, Asidin La Hoga, dan lain-lain. Lalu sejak tahun 2003—2005, Teater Sendiri menerbitkan antologi puisi Sendiri 1, Sendiri 2, dan Sendiri 3. Tahun 2004 Teater Sendiri mengadakan Malam Bulan Puisi, Pertemuan Penyiar Sulawesi Tenggara dan menerbitkan buku puisi Malam Bulan Puisi. Antologi puisi yang diterbitkan teersebut, meskipun dicetak secara manual, tetapi menjadi peletak dasar bagi perkembangan puisi selanjutnya di Kendari. Upaya penerbitan puisi tersebut tidak dapat dilepaskan dari sosok Acmad Zain Stone yang menginisiasi dan merencanakannya.

|11|
Di Teater Sendiri, saya mengenal anggota yang lebih dulu bergabung seperti Abdul Razak Abadi ‘Adhy Rical’, Irianto Ibrahim, Sendri Yakti, Asidin La Hoga, Sainal Sembarang, Sumarlan Rasyid, Didit Marsel Mardiman, dan lain-lain. Lalu datang pula anggota baru seperti Iwan Konawe, Carmil Edo, Sulprina Rahmin Putri, dan Galih. Teater Sendiri dalam perjalanannya banyak memberi warna dan andil bagi gerakan kesenian di Sultra, khususnya teater dan sastra. Bertahun-tahun bertungkus-lumus dengan proses menulis dan berteater di dalam dan di luar Kendari, seiring dengan selesainya masa kuliah, banyak anggota TS yang pulang kampung dan membuat sanggar. Adhy Rical beberapa waktu lamanya tinggal di Lambuya, Kab. Konawe dan membentuk Teater Anawula Menggaa. Didit Marsel pulang kampung dan membentuk Teater Rakyat Anamolepo i Uepai, Konawe. Irianto Ibrahim lebih awal membentuk Pekerja Puisi Sultra (Eksis) di kampus yang lalu berubah menjadi Komunitas Arus dan kini berubah lagi menjadi Komunitas KopiPaste. Ketiga komunitas yang saya sebut terakhir ini, kini banyak memberi sumbangsih bagi jagat teater dan sastra di Kendari, selain tentunya Teater Sendiri. Kini, meskipun Teater Sendiri sudah tidak seaktif dulu, banyak anggotanya yang berkiprah dan membentuk sanggar sastra. Salah satu komunitas (selain yang saya sebut di atas) yang kini aktif sebagai ruang buku, diskusi, seni, dan pendidikan adalah Rumah Pengetahuan yang didirikan oleh Idea Project, Kendari.

Salah satu nama yang kini cukup produktif menulis cerpen adalah Ilham Q. Moehiddin, salah seorang pendiri Komunitas Settung. Dalam catatan saya, ia tidak lahir dari proses dialektika komunitas sastra di Kendari, tetapi dilahirkan oleh dunia jurnalisme yang ia tekuni baik di Kendari maupun ketika ia hijrah ke Jakarta. Karena ketekunan di dunia jurnalisme dan persentuhannya dengan wartawan dan sastrawan di aktivitas pers, membentuk dirinya menjadi sastrawan. Sejak ia hijrah kembali ke Kendari, ia lebih suntuk menulis dan karya (terutama) cerpennya menghiasi media tanah air. Nama lain yang menulis cerpen adalah Galih, kini menjabat sebagai Ketua Teater Sendiri.

|12|
Karya sastra Kendari sejak tahun 2000-an mulai dimuat di koran dan majalah sastra seperti Republika, Majalah Gong, Majalah Horison, Kedaulatan Rakyat, Pedoman Rakyat, Lampung Post, Jawa Pos, Suara Merdeka, Fajar, Rumah Lebah, Pedoman Rakyat, Jurnal Sundih, Jurnal Sajak, dan Seputar Indonesia. Irianto Ibrahim dan Ilham Q. Moehiddin adalah dua sastrawan Kendari yang namanya banyak menghiasi media cetak nasional. Antologi puisi Indonesia juga sudah banyak memuat karya sastra (cerpen dan puisi) dari Kendari. Sebutlah Sendri Yakti, Galih, Irianto Ibrahim, Ilham Q. Moehiddin, Deasy Tirayoh, Adhy Rical, La Ode Gusman Nasiru, Iwan Konawe, dan Sartian Nuryamin. Selain itu, festival dan temu sastra Indonesia juga sering mengikutkan sastrawan Kendari.

Tahun 2009, antologi tunggal puisi Irianto Ibrahim, Buton, Ibu, dan Sekantung Luka terbit. Menyusul antologi tunggal Surat dari Matahari karya Syaifuddin Gani tahun 2010. Keduanya masuk dalam 5 besar Cecep Syamsul Hari Award 2009—2010. Tahun 2013, novel Ilham Q. Moehiddin Garis Merah di Rijswijk masuk dalam 10 besar novel terbaik Republika dan diterbitkan penerbit yang sama. Sementara itu, di genre sastra populer, nama Krisni Dinamita dan Arham Kendari muncul. Novel Krisni Cintai Aku Sekali Lagi dan Beloved terbit. Tiga buku cerita bergambar Arham Kendari juga terbit yaitu Jakarta Under Kompor, dll. Masih pada tahun 2009, Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Haluoleo menerbitkan kumpulan puisi dan cerpen Dua Sisi Mata Cinta. Buku yang dieditori Zainal Surianto dan Fransiskus Patadungan tersebut adalah hasil Sayembara Cipta Puisi dan Cerpen yang dilaksanakan Hima Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia. Banyak puisi dan cerpen bermutu di dalamnya, sebagai bagian dari khazanah sastra Kendari.

Tahun 2012, di Prodi Bahasa Indonesia, Universitas Haluoleo, Ahid Hidayat selaku dosen matakuliah Penulisan Kreatif menerbitkan antologi puisi mahasiswanya yang berjudul Pagi yang Mendaki Langit. Sebagai salah satu penyunting, saya banyak menemukan puisi bagus di dalamnya. Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara juga tidak ketinggalan memberi kontribusi bagi sastra Kendari. Selain bentuk pelatihan penulisan sastra, kantor bahasa juga sudah dua tahun berturut-turut mengadakan Sayembara Cipta Puisi Se-Sulawesi Tenggara (2013 dan 2014) dan Sayembara Cipta Cerpen Se-Sulawesi Tenggara tahun 2013. Beberapa peserta memperlihatkan karya yang bermutu dan indah seperti Iwan Konawe, Ima Lawaru, Deasy Tirayoh, La Ode Gusman Nasiru, Salim Al Muna, Sartian Nuryamin, Masjaya, Amaya Kim, Ungke, Wa Ode Nur Iman, Amiruddin Ena, dan Betwan Betty. Tahun 2015 yang akan datang, karya sastrawan Sulawesi Tenggara akan diterbitkan oleh Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara. Sebelumnya pada tahun 2005 di masa kepemimpinan Dad Murniah, kantor yang berdiri tahun 2004 tersebut sudah menerbitkan antologi puisi Kendari yang memuat puisi penyair Kendari. Tahun 2013 lalu, Diyanti Alamia Rahmad seorang penggiat FLP Kendari menerbitkan secara terbatas buku kumpulan cerpennya Cinta Sebening Embun.

|13|
Lalu seperti apakah literasi Sulawesi Tenggara di era digital? Hal ini belum terlalu banyak saya ketahui. Medio 1990-an dulu ada sebuah situs sastra yang dikelola oleh Medi Loekito, Saut Situmorang, dan Nanang Suryadi. Situs sastra ini membuka lembaran baru bagi sastra Indonesia, karena mampu memberi ruang bagi demokratisasi sastra. Jika selama ini sastra identik dengan koran dan majalah dan terpusat di Jakarta, kehadiran situs tersebut mampu meretas jalan publikasi sastra yang baru bagi pegiat sastra tanah air. Seingat saya, Abdul Razak Abadi adalah satu-satunya penyair Kendari yang karyanya dimuat di sana. Usai turunnya Soeharti tahun 1998 sebagai Presiden RI, Adhy Rical adalah sosok yang paling getol merambah dunia maya/digital. Bukan hanya soal pemuatan karya, tetapi era digital ia manfaatkan untuk membuka jaringan, komunikasi, dan kerja sama. Dampak langsung yang ia raih adalah sanggar teaternya, Teater Anawula Menggaa, sering diundang pentas ke luar Kendari.

Sekitar tahun 2000-an ke atas, pegiat literasi di Kendari semakin memanfaatkan dunia digital sebagai sarana penyimpanan data dan publikasi karya. Blog dan facebook adalah dua jenis layanan di media sosial yang paling banyak diminati. Ilham Q. Moehiddin selain facebook, ia memiliki blog http://theindonesianwriters.wordpress.com/. Adhy Rical adalah sosok yang paling aktif di dunia virtual dengan menggunakan beberapa media sosial sekaligus (blog, facebook, twitter, kompasiana, youtube) untuk membuka jaringan seluas mungkin dan merengkuh manfaat sebanyak mungkin. Irianto Ibrahim juga memanfaatkan facebook sebagai sarana publikasi karya, selain ia memiliki blog http://komunitas-arus.blogspot.com/.

Pegiat lain yang menyadari fungsi sarana digital adalah Iwan Konawe lewat facebook dan blog http://iwancomcom.blogspot.com/ yang memuat karya dan fotonya. Arham Kendari, untuk saat ini, barangkali sosok paling intens menggeluti dunia maya. Selain karena tugas kesehariannya di salah satu koran Kendari, ia juga menjadikan media sosial (blog, situs, facebook, twitter, kaskus, goodreads, dll) untuk publikasi dan promosi karya. Buku pertamanya Jakarta Under Kompor lahir dari publikasi di media sosial.Status-statusnya di facebook (yang kemudian jadi isi bukunya) selalu mendapat komentar di atas 50 kali. Blognya: http://arhamkendari.wordpress.com/.
Yusran Darmawan adalah seorang pengarang Buton yang cukup enerjik, produktif, dan mampu memanfaatkan dunia digital dengan baik. Blognya di http://www.timur-angin.com sudah dikunjungi lebih sejuta kali. Bukunya Kopi Sumatera di Amerika mendapat apresiasi yang luas. Ia dan beberapa pemuda Buton menulis buku Menyibak Kelabu di Keraton Buton, mendapat sambutan yang cukup luas. Nama lain yang cukup intens menulis di dunia maya adalah Sumiman Udu, La Yusri, dan Camar Wakatobi. Ketiganya adalah putra Buton yang sangat peduli kepada lokalitas dan kelisanan daerahnya.Sumiman Udu mengelola http://pusatstudiwakatobi.blogspot.com, sebagai pusat informasi budaya Waktobi dan tulisannya. La Yusri mengelola blog di http://layusriemendogu.blogspot.com. Blog tersebut berisi berbagai hal mengenai Baubau, Wolio, dan kebudayannya. Camar Wakatobi menggunakan facebook sebagai sarana utama informasi mengenai kelisanan dan pernaskahan di Buton. Ia menyuntuki terutama kabanti sebuah syair yang selain hidup di Keraton Wolio juga hidup di tengah keseharian masyarakat Buton secara umum. Komunitas yang juga intens menjadikan sarana dunia maya sebagai pusat informasi dan publikasi program dan karya adalah Kendari Kreatif. Lewat situs http://www.kendarikreatif.com/ mereka menyebar info dan kegiatan kreatif yang mereka lakukan. Kendari Kreatif kini dikelola oleh Fior Yasrin Polingay, Rendra Manaba, dan Derlin M. Noor.

Salah satu situs sastra yang secara berkala memuat sastra setiap bulan adalah Sastra Digital yang didirikan dan dikelola Cecep Syamsul Hari. Awal kemunculan situs tersebut mendapat sambutan yang cukup meriah di kalangan sastra tanah air. Sudah ada tiga penulis Kendari yang dimuat karyanya di sana yaitu La Ode Gusman Nasiru, Ilham Q. Moehiddin, dan Syaifuddin Gani. Menariknya, situs tersebut tidak terbatas pada penayangan karya secara maya yang hanga dapat dibaca dan dipandang, tetapi ia juga menjual buku yang dapat dibeli sacara daring atau online bekerja sama dengan Amazon.com. Lagi-lagi Kendari mendapat tempat di Sastra Digital. Teluk Bahasa adalah kumpulan puisi hasil workhsop puisi yang diselenggarakan Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara. Kegiatan ini, Cecep Syamsul Hari bertindak sebagai narasumber.

Kantor Bahasa Prov. Sulawesi Tenggara tentunya memiliki peran tersendiri bagi penyelematan dan penjagaan sastra lama dan sastra modern Kendari. Lewat situs http://bastrapediasultra.org/home.php, kantor bahasa berupaya menyelamatkan sastra daerah, sastra modern, naskah lama, hasil penelitian (skripsi, tesis, dan desertasi) yang berkenaan dengan Sulawesi Tenggara. Situs tersebut sudah dapat dikunjungi dan sampai saat ini masih terus dilakukan pemutakhiran data di dalamnya. Bagi yang ingin mengetahui dongeng, puisi, cerpen, novel, penelitian, dan budaya Sultra dapat mengunjungi situs tersebut.

|14|
Faiz Ansoul, pembicara dari i:boekoe Yogyakarta menyampaikan betapa pentingnya digitalisasi dan pengarsipan. Naskah lama dan buku yang sudah berusia tua terancam kepunahan jika tidak ada sentuhan baru di dalam upaya pelestariannya. Salah satu cara efektif adalah pengarsipan dalam bentuk digital. Sebagai contoh, Faiz mengatakan bahwa pernah ia akan mengarsipkam sebuah naskah kuno tetapi ukurannya lebih panjang dari biasa. Untuk mengarsipkannya harus butuh mesin fotokopi yang besar. Alhasil, suatu waktu naskah kuno tersebut dapat difotokopi di mesin besar dari Jerman. Apa yang disampaikan Faiz adalah sebuah isyarat betapa berharganya kegiatan yang mereka lakukan di i:boekoe, tidah hanya untuk mereka sendiri etapi untuk Indonesia. Sebuah kerja penyelamatan naskah-naskah lama Indonesia yang turut serta membantu negera ini menjadi republik yang merdeka.

Usai diskusi bersama saya dan Faiz, di Panggung FTBM, pengarang yang dikenal dengan mottonya Man Jadda Wa Jada¸Ahmad Fuadi berbagi pengalaman menulis dan traveling. Menulis adalah panggilan dari dalam, katanya. Akan tetapi panggilan itu harus tulus dan disertai usaha dan niat yang kuat. Siapa yang berusaha, dia akan mendapatkan hasilnya, demikian katanya. Pengarang Negeri 5 Menara tersebut berhasil memukau penonton dengan kisah penulisan bukunya serta masa-masa ia di Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo. Karya-karyanya dinilai dapat menumbuhkan semangat untuk berprestasi.

tbm fest

Peserta Festival TBM berfoto bersama di Panggung FTBM.

|15|
Sabtu, 20 September 2014, sore hari. Festival TBM ditutup secara resmi. Pak Ngasmawi menyampaikan pidato penutupan yang menggugah. Ia mengatakan FTBM 2014 adalah festival terbaik dari yang pernah dilakukan dua kali berturut-turut di Jakarta. Hal ini terwujud berkat dukungan semua pihak yaitu panitia, peserta, narasumber, pengurus FTBM Sultra, pengurus PP TBM, dan masyarakat pengunjung. Ia mengundang ke panggung panitia yang bekerja ikhlas pada kegatan ini seperti Gol A Gong, Sekar Hamdi, Virgina Evi Veryastuti, Ganda, Agus Munawar, Mep Yusran, Firman Venayaksa, dan Ketua FTBM Sultra sebagai bentuk penghargaan atas kerja selama ini. Secara tersirat, Pak Ngasmawi ingin mengatakan bahwa dunia literasi dan pemberdayaan TBM memang membutuhkan dedikasi dan kesetiaan agar ia menjadi budaya di masyarakat. Alhamdulillah, sebagai Ketua Forum TBM Sultra saya diberi kesempatan berbicara. Saya mengatakan, Festival TBM adalah berkah bagi Kendari. Literasi Kendari yang sudah menggeliat selama ini, akan semakin menggeliat dengan sentuhan FTBM. Di ujung pembiacaraan, saya baca sajak “Konawe Pintu yang Terbuka”. Pak Ngasmawi menutup acara, Festivam TBM pun selesai.

|16|
Saat panitia dan peserta berkemas, sastrawan dan fotografer Firman Venayaksa meminta kepada saya untuk menemaninya ke Pantai Nambo, mengbadikan senja yang tidak lama lagi tiba. Berkendara motor baru saya, kami menembus udara Kendari yang berdebu dan panas. Tidak lupa kami beli dua gelas kopi Haji Anto dan Songkolo Pulut Merah. Tiba di Pantai Nambo yang dikerubuti sunyi, senja tak pernah datang. Ia sudah raib di pangkal Teluk Kendari sebelum menyapa tepi laut Nambo. Akhirnya Firman mengabadikan warna laut yang temaram menuju haribaan malam. Katanya, Kendari selalu ngangenin. Ketika ia ke sini tahun 2013 silam, lambaian tangan Kendari selalu datang. Setelah cukup banyak sudut Nambo yang terabadi, kami beranjak. Kami tinggalkan Nambo yang permai.

Akan tetapi, aktivitas para pegiat literasi belum berhenti. Pada saat sebagian ada yang mencari cinderamata untuk sanak saudara dan sang kekasih, beberepa seniman berkunjung ke Rumah Pengetahuan. Mereka antara lain adalah Jabo, Arief, Daniel, dan Faiz Ahsoul menghabiskan malam di Rumah Pengetahuan. Di sana telah ada Ari Ashari selaku pimpinannya dan Iwan Konawe sebagai staf ahli bidang artistik. Mereka berbicara tentang sastra, puisi, buku, festival TBM yang baru usai, dan Cinta. Menurut mereka, ruang-ruang seperti inilah yang mereka cari selama FTBM berlangsung dan akan menghidupkan TBM dan literasi di setiap kota. Akan tetapi karena kesibukan membuka jaringan, diskusi, dan menerima tamu di stan masing-masing sehingga tidak sempat keluar. Sambil menyuruput kopi dan menghirup harumnya asap rokok, sebuah tekad muncul di Rumah Pengetahuan: setia di jalan literasi!
Yah, semoga Rumah Pengetahuan dan komunitas lain di Kendari mampu memberi seuatu yang sosoito bagi literasi Sulawesi Tenggara, kata Ari.

|17|
Pukul 02.00 subuh dini hari, mereka pulang ke peraduan masing-masing. Sebagai tuan rumah kegiatan ini, kami yang di Kendari berharap semoga kota ini melekat lama di sanubari Anda semua. Di akun facebook tanggal 24 September 2014, Mep Yusron menulis “HAWA panas Kendari sering menyandera. Bahkan seolah membelenggu setiap gerak dan langkah. Tetapi hati yang teduh, sikap saling harga menghargai, senyum lebar keikhlasan panitia dan peserta, telah melepaskan belenggu itu. Hawa panas seolah jadi teduh, karena senyum sapa di setiap langkah. Sosok Presiden TBM Gol A Gong dan Pak Asmawi adalah dua tokoh yang menyatukan hati semua pihak. Mbak Sekar, Pak Ganda dkk yang sibuk saat peserta masih di rumah masing-masing, adalah personifikasi kerja keras yang tak terlihat, dengan panduan dan kerjasama pak Bambang Windoko dkk yang berada dibalik layar tetapi kesibukannya tak bisa lagi diukur dengan ukuran birokrat. Saya pernah menulis di FB personifikasi Bindikmas– FTBM Pusat–TBM di daerah, ibarat Ayah-Ibu dan Anak. Kayaknya, situasi itu terjawab dalam keindahan di Kendari. Mas Gong yang dulu “menolak” tesis saya soal personifikasi itu, tampaknya diam-diam sudah mewujudkan sebagai “ayah” yang baik, sabar dan telaten. Meski kadang tampak masih membawa dirinya sebagai novelis dengan nama besarnya. Tetapi wajar, manusiawi. Kawan-kawan Bindikmas, juga mulai memposisikan sebagai ibu. Harus sabar menghadapi ragam watak anak-anaknya, bahkan kadang harus diam dan tenang menghadapi ayahnya” demikian tulis Mep Yusran yang saya kutip di sini sebagai bagian dari respon atas penyelenggaraan Festival TBM 2014.

|18|
Selamat jalan semuanya. Kendari panas memang. Akan tetapi lebih panas lagi jika tiada aktivitas literasi di sini. Insya Allah energi Festival TBM Se-Indonesia menjadi angin segar bagi dunia literasi di Sulawesi Tenggara. Amin.
Sebagai penghargaan kepada para tamu yang datang, saya kutipkan sebuah sajak “Konawe, Pintu yang Terbuka” yang saya tulis saat bersama sahabat Firman Venayaksa di Konawe, tahun 2013 silam. Semoga Kendari, selalu tertaut di hati sahabat semua yang telah datang di Kendari.

Wahai jika ada yang bertandang
Orang Tolaki molulo, mengekalkan kedatangan
Bergenggaman jari-jari, bersahutan mata kaki
Mata dan tubuh beradu dalam rakaat gerak
Kelenjar hayat memuih bersama dengusan keringat
Lenguhan gulita memekat, merajam malam yang sekarat
Seumpama bumi andaikan matahari
Merayakan hari Penciptaan

Wahai jika ada yang pergi
Pongasih amsal kepahitan sang kekasih, kebeningannya yang tandas
mengair jadi rasa belati
Direguk, mengabadikan kehilangan
Tapi di tiap pertemuan dan perjamuan
Namamu disebut sebagai Oheo sebagai Anaway
Menjelma Oanggo, lagu abadi dalam darah dalam sejarah Konawe

Konawe, 24 Juni 2013

BTN Puri Tawang Alun 2, Blok H. No 11
Keluahan Padaleu, Kec. Kambu
23 September—1 Oktober 2014

Serah Terima Ketua Forum TBM Wilayah Sultra Periode 2014-2019

Standar

Bertempat di Warung Beken Bang Reza, Kendari, disaksikan Presiden Forum TBM Indonesia, Mas Gol A Gong, alhamdulillah, Forum TBM Sultra periode 2014-2019 berhasil dibentuk, Senin, 8-9-2014, Pukul 16:00. Ibu Mimi dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Prov. Sulawesi Tenggara, Ketua FTBM Sultra sebelumnya menyerahkan kursi kepada Syaifuddin Gani. Semoga literasi di Sultra bangkit. Diharapkan semua teman-teman penggiat literasi Sultra ikut mendukung kemajuan literasi di Sulawesi Tenggara. Selanjutnya, kegiatan pertama FTBM Sultra adalah menyongsong Hari Aksara Internasional (HAI) yang ditempatkan di Alun-alun Tugu Persatuan Kota Kendari, 17–21 September 2014.

IMG_20140908_165530

IMG_20140908_173815

IMG_20140908_165517

IMG_20140908_165514

Teluk Bahasa: Antologi Puisi (Seri Menulis Kreatif) (Volume 1) (Indonesian Edition) (Indonesian) Paperback – August 4, 2014

Standar

Teluk Bahasa: Antologi Puisi (Volume 1)
Indonesian Edition, Paperback – August 4, 2014
by Ilham Q. Moehiddin (Author, Editor), Syaifuddin Gani (Preface)

Series: Seri Menulis Kreatif
Paperback: 70 pages
Publisher: CreateSpace Independent Publishing Platform; 1 edition (August 4, 2014)
Language: Indonesian
ISBN-10: 1499566409
ISBN-13: 978-1499566406
Product Dimensions: 9 x 6 x 0.2 inches
Shipping Weight: 5.6 ounces

Untuk pembelian dapat dilakukan di:
http://www.amazon.com/Teluk-Bahasa-Antologi-Menulis-Indonesian/dp/1499566409

10635789_858283294189811_6707746674340641531_n

Jurnal Sastra No. 03: The Indonesian Literary Quarterly No. 03/2014 (Volume 3) (Indonesian Edition)

Standar

Jurnal Sastra No. 03: The Indonesian Literary Quarterly No. 03/2014 (Volume 3) (Indonesian Edition) (Indonesian) Paperback – January 1, 2014
by Cecep Syamsul Hari (Author, Editor), Syaifuddin Gani (Editor), Arif Relano Oba (Photographer), Dimas Saputera (Designer)

Rubrik Nusasastra Jurnal Sastra (The Indonesian Literary Quarterly) No. 3/2014, menampilkan syair kabhanti, “Bula Malino”, karya Sultan Laode Muhammad Idrus Kaimuddin, yang ditulis kembali oleh sastrawan asal Sulawesi, Syaifuddin Gani. Secara khusus, Jurnal Sastra No. 3 yang terbit pada Januari 2014 ini menampilkan dua belas penyair generasi terkini Sulawesi yang dipilih oleh penyair Syaifuddin Gani. Mereka adalah: Sartian Nuryamin, Laode Gusman Nasiru, Wa Ode Rizki Adiputri, Mariati Atkah, Fitriawan Umar, M. Dirgantara, Jamil Massa, Abdul Muttalib, Hanz Algebra, Jean Kalalo, Ima Lawaru, dan Abed El Mubarak. Rubrik Kajian menampilkan tiga esai yang masing-masing ditulis Ian Campbell, Ganjar Hwia, dan Laora Arkeman. Sementara Rubrik Prosa menampilkan sebuah cerpen yang ditulis Sori Siregar. Jurnal Sastra adalah sebuah penerbitan dalam bentuk jurnal yang memublikasikan puisi, prosa, kajian, karya terjemahan, dan memublikasikan sosok, proses kreatif, dan karya sastrawan yang menulis dalam bahasa daerah. Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi: Cecep Syamsul Hari. Redaktur Tamu Edisi Ini: Syaifuddin Gani. Foto Sampul Jurnal Sastra No. 3/2014: “Lelaki dan Laut” oleh Arif Relano Oba.

Selanjutnya, pembelian dapat dilakukan di:
http://www.amazon.com/dp/1494863383

1538666_10202158109648455_1069308849_n

Dua Sajak Indah Penyair Iwan Konawe

Standar

Perawan Gunung

Kendari di gigir malam
Denting waktu
Gemuruh jalanan
Tiada henti beradu, seperti saling berperang
Mengumbar kegelisahan

Perawan gunung dengan matanya yang api
Menerkam bulan sabit di atas tugu menara
Yang mati

Bunga kembang yang tumbuh di rok dan bajunya
Yang menguncupkan putik birahi di bibir dan alis
Meruntuhkan gemuruh pasar malam
Menaklukan hingar diskotek
Café-café, hotel-hotel sepanjang pantai by pass

Jam dinding kota dan kerlap-kerlip lampu reklame
Masih terus berlarian, memburu yang hampa
Mengejar yang tiada
Tapi bunga kembang telah gugur sebelum waktunya
Cinta telah mati lebih dulu

Perawan gunung, berlumuran getir
Di sudut taman kota
Pada sepi bangku gelagar
Matanya yang api
Dipadamkan dengan kembang roknya yang berdarah

Kendari, Mei 2014

 

Pesta Kenang

Di ujung takbiran
Beduk dan gong bergemelentam
Kita senyawa di sana, menggirang

Untuk musim panen ke depan
Kita merencanakan pesta kenang
Bukan untuk pesta arak dan perang tanding

Di selubung malam
Pesta kenang yang kita cipta
Tiba jua
Sebelum orang hanyut bergenggaman
Anak-anak muda lebih awal menerjang kegembiraan
Sebagian menjerumus ke gumbang pongasih
Sebagian lagi mengasah parang dan busur

Lalu
Malam memuncak
Anak muda berang
Ditebang saung
Melarungkan jantungnya yang ikut berdentam
Ke dalam riang-riang malam
Ke dalam riuh pesta
Sudah poranda dan bercecer luka

Di selubung malam
Di sela anyir malam
Masih juga kita tuturkan
Kisah dari pesta yang sudah tenggelam

Konawe, Juni 2009

SAMSUNG DIGITAL CAMERA

Iwan Konawe, 2007 (Foto: SG)

Ummati

Standar

Sang Pencipta Kegelapan dan Kebenderangan, mengutusku untuk menyongsongmu, wahai Penghulu Zaman. Tetapi jika engkau tiada berkenan, bagaimana mungkin aku gegabah? Begitu Ia, Sang Maha Lezat berpesan. Fatimah, sang wanita bening, dirundung gulana. Siapa ia wahai Ayahanda. Dialah pencerai segala kelezatan duniawi. Ibunda Husain r.a terisak menyentuh bibir langit ketujuh. Padang pasir Arabia tersedu jadi badai isak. Bagaimana baginda, bidari-bidari Langit siap menyongsong dan mengawal harum ruhmu menuju Singgasana Ilahi. Apabila engkau berkenan? Wahai sahabatku Sang Maut, ini bukan soal berkenan atau tidak. Bagiku, keikhlasan sudah mengurat dalam usia, dalam jantung Arabia, dalam denyut dunia. Ummati.

Sang cahaya di atas cahaya itu, akhirnya menyerahkan ruhnya di rangkulan Sang Kekasih. Apakah langit diam. Apatah bumi golak dalam deru isak?
Lalu keluarlah cemas kata-kata Ya Nabi. Ummati, ummati, ummati.

Sang terkasih, sang tiada dua, sang pengharum padang pasir kebenderagan itu, berpulang. Ummati.

 

Yah Baginda, akulah di antara milyaran ummati, ummati, ummati itu. Kini tergopoh-gopoh, kemaruk, terlunta, terjerembab, bangkit dan rubuh lagi, mencari wajahmu.

Ummati.

Kendari, 28 Agustus 2014