Serah Terima Ketua Forum TBM Wilayah Sultra Periode 2014-2019

Standar

Bertempat di Warung Beken Bang Reza, Kendari, disaksikan Presiden Forum TBM Indonesia, Mas Gol A Gong, alhamdulillah, Forum TBM Sultra periode 2014-2019 berhasil dibentuk, Senin, 8-9-2014, Pukul 16:00. Ibu Mimi dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Prov. Sulawesi Tenggara, Ketua FTBM Sultra sebelumnya menyerahkan kursi kepada Syaifuddin Gani. Semoga literasi di Sultra bangkit. Diharapkan semua teman-teman penggiat literasi Sultra ikut mendukung kemajuan literasi di Sulawesi Tenggara. Selanjutnya, kegiatan pertama FTBM Sultra adalah menyongsong Hari Aksara Internasional (HAI) yang ditempatkan di Alun-alun Tugu Persatuan Kota Kendari, 17–21 September 2014.

IMG_20140908_165530

IMG_20140908_173815

IMG_20140908_165517

IMG_20140908_165514

Teluk Bahasa: Antologi Puisi (Seri Menulis Kreatif) (Volume 1) (Indonesian Edition) (Indonesian) Paperback – August 4, 2014

Standar

Teluk Bahasa: Antologi Puisi (Volume 1)
Indonesian Edition, Paperback – August 4, 2014
by Ilham Q. Moehiddin (Author, Editor), Syaifuddin Gani (Preface)

Series: Seri Menulis Kreatif
Paperback: 70 pages
Publisher: CreateSpace Independent Publishing Platform; 1 edition (August 4, 2014)
Language: Indonesian
ISBN-10: 1499566409
ISBN-13: 978-1499566406
Product Dimensions: 9 x 6 x 0.2 inches
Shipping Weight: 5.6 ounces

Untuk pembelian dapat dilakukan di:
http://www.amazon.com/Teluk-Bahasa-Antologi-Menulis-Indonesian/dp/1499566409

10635789_858283294189811_6707746674340641531_n

Jurnal Sastra No. 03: The Indonesian Literary Quarterly No. 03/2014 (Volume 3) (Indonesian Edition)

Standar

Jurnal Sastra No. 03: The Indonesian Literary Quarterly No. 03/2014 (Volume 3) (Indonesian Edition) (Indonesian) Paperback – January 1, 2014
by Cecep Syamsul Hari (Author, Editor), Syaifuddin Gani (Editor), Arif Relano Oba (Photographer), Dimas Saputera (Designer)

Rubrik Nusasastra Jurnal Sastra (The Indonesian Literary Quarterly) No. 3/2014, menampilkan syair kabhanti, “Bula Malino”, karya Sultan Laode Muhammad Idrus Kaimuddin, yang ditulis kembali oleh sastrawan asal Sulawesi, Syaifuddin Gani. Secara khusus, Jurnal Sastra No. 3 yang terbit pada Januari 2014 ini menampilkan dua belas penyair generasi terkini Sulawesi yang dipilih oleh penyair Syaifuddin Gani. Mereka adalah: Sartian Nuryamin, Laode Gusman Nasiru, Wa Ode Rizki Adiputri, Mariati Atkah, Fitriawan Umar, M. Dirgantara, Jamil Massa, Abdul Muttalib, Hanz Algebra, Jean Kalalo, Ima Lawaru, dan Abed El Mubarak. Rubrik Kajian menampilkan tiga esai yang masing-masing ditulis Ian Campbell, Ganjar Hwia, dan Laora Arkeman. Sementara Rubrik Prosa menampilkan sebuah cerpen yang ditulis Sori Siregar. Jurnal Sastra adalah sebuah penerbitan dalam bentuk jurnal yang memublikasikan puisi, prosa, kajian, karya terjemahan, dan memublikasikan sosok, proses kreatif, dan karya sastrawan yang menulis dalam bahasa daerah. Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi: Cecep Syamsul Hari. Redaktur Tamu Edisi Ini: Syaifuddin Gani. Foto Sampul Jurnal Sastra No. 3/2014: “Lelaki dan Laut” oleh Arif Relano Oba.

Selanjutnya, pembelian dapat dilakukan di:
http://www.amazon.com/dp/1494863383

1538666_10202158109648455_1069308849_n

Dua Sajak Indah Penyair Iwan Konawe

Standar

Perawan Gunung

Kendari di gigir malam
Denting waktu
Gemuruh jalanan
Tiada henti beradu, seperti saling berperang
Mengumbar kegelisahan

Perawan gunung dengan matanya yang api
Menerkam bulan sabit di atas tugu menara
Yang mati

Bunga kembang yang tumbuh di rok dan bajunya
Yang menguncupkan putik birahi di bibir dan alis
Meruntuhkan gemuruh pasar malam
Menaklukan hingar diskotek
Café-café, hotel-hotel sepanjang pantai by pass

Jam dinding kota dan kerlap-kerlip lampu reklame
Masih terus berlarian, memburu yang hampa
Mengejar yang tiada
Tapi bunga kembang telah gugur sebelum waktunya
Cinta telah mati lebih dulu

Perawan gunung, berlumuran getir
Di sudut taman kota
Pada sepi bangku gelagar
Matanya yang api
Dipadamkan dengan kembang roknya yang berdarah

Kendari, Mei 2014

 

Pesta Kenang

Di ujung takbiran
Beduk dan gong bergemelentam
Kita senyawa di sana, menggirang

Untuk musim panen ke depan
Kita merencanakan pesta kenang
Bukan untuk pesta arak dan perang tanding

Di selubung malam
Pesta kenang yang kita cipta
Tiba jua
Sebelum orang hanyut bergenggaman
Anak-anak muda lebih awal menerjang kegembiraan
Sebagian menjerumus ke gumbang pongasih
Sebagian lagi mengasah parang dan busur

Lalu
Malam memuncak
Anak muda berang
Ditebang saung
Melarungkan jantungnya yang ikut berdentam
Ke dalam riang-riang malam
Ke dalam riuh pesta
Sudah poranda dan bercecer luka

Di selubung malam
Di sela anyir malam
Masih juga kita tuturkan
Kisah dari pesta yang sudah tenggelam

Konawe, Juni 2009

SAMSUNG DIGITAL CAMERA

Iwan Konawe, 2007 (Foto: SG)

Ummati

Standar

Sang Pencipta Kegelapan dan Kebenderangan, mengutusku untuk menyongsongmu, wahai Penghulu Zaman. Tetapi jika engkau tiada berkenan, bagaimana mungkin aku gegabah? Begitu Ia, Sang Maha Lezat berpesan. Fatimah, sang wanita bening, dirundung gulana. Siapa ia wahai Ayahanda. Dialah pencerai segala kelezatan duniawi. Ibunda Husain r.a terisak menyentuh bibir langit ketujuh. Padang pasir Arabia tersedu jadi badai isak. Bagaimana baginda, bidari-bidari Langit siap menyongsong dan mengawal harum ruhmu menuju Singgasana Ilahi. Apabila engkau berkenan? Wahai sahabatku Sang Maut, ini bukan soal berkenan atau tidak. Bagiku, keikhlasan sudah mengurat dalam usia, dalam jantung Arabia, dalam denyut dunia. Ummati.

Sang cahaya di atas cahaya itu, akhirnya menyerahkan ruhnya di rangkulan Sang Kekasih. Apakah langit diam. Apatah bumi golak dalam deru isak?
Lalu keluarlah cemas kata-kata Ya Nabi. Ummati, ummati, ummati.

Sang terkasih, sang tiada dua, sang pengharum padang pasir kebenderagan itu, berpulang. Ummati.

 

Yah Baginda, akulah di antara milyaran ummati, ummati, ummati itu. Kini tergopoh-gopoh, kemaruk, terlunta, terjerembab, bangkit dan rubuh lagi, mencari wajahmu.

Ummati.

Kendari, 28 Agustus 2014

Konawe dan Ritus Puisi

Standar

Catatan Penyunting

 

IWAN Konawe, seorang penyair Kendari yang amat fasih membaca dan mengucapkan kembali hal-ihwal yang berkenaan dengan dunia Tolaki. Di tangannya, Tolaki sebagai kampung antropologis dan sosiologis yang melahirkannya, tidak semata hadir secara sentimentil dan romantis, tetapi lebih dalam dari itu semua, ia mampu menimbang ulang, mempertanyakan yang sudah mapan, bahkan mengkritisi tradisi yang sudah berurat-berakar di dunia Tolaki.

Rasa rindu dan panggilan dari masa silam di dalam sajak-sajak Iwan Konawe teras kuat bahkan akut. Akan tetapi ia masih mampu menjaga jarak, sehingga Tolaki, muasal etnisitas sang penyair sendiri mampu ia pandang dengan mata, dengan kata yang sangat awas. Demikianlah, bukan puja-puji yang diketemukan di dalamnya, tetapi sebentuk kesadaran ontologis dan kesadaran kritis mengenai kenyataan yang kini membetot rumah kebudayaannya itu.

Di etnis Tolaki mengenal berbagai ritual dan tradisi yang terus hidup sampai kini seperti tari Lulo, tolak bala Mosehe Wonua, minuman lokal Pongasih, kain Tabere, dan mitos yang saling menyatu dengan laku hidup kekiniannya. Iwan Konawe memandang warisan tersebut tidak sebagai sesuatu yang perlu dipertahankan, tetapi justru diolok-olok dengan bahasa yang halus dan liris, dijadikan sumur penciptaan puisinya yang tiada kunjung habis. Lokalitas, di tangan Iwan Konawe tidak meluluh bersangkut-paut dengan kearifan, tetapi juga dengan feodalisme sebagai warisan kesilaman yang kadang hidup“rukun” dan “bahagia” bersama dengan kekinian. Lokalitas dan feodalitas ibarat “jodoh” kebudayaan yang kadang dianggap sebagai keniscayaan, tetapi justru harus diurai dan dikritisi.

Copy of foto Iwan Konawe

Iwan Konawe (Koleksi Syaifuddin Gani)

Iwan Konawe adalah seorang pengelana, sehingga sajak-sajaknya memperlihatkan jejak pengembaraan yang mengasikkan. Wilayah luas yang dikembarai terutama adalah wilayah daratan Sulawesi Tenggara yang masih masuk di dalam etno-budaya Tolaki. Sebagaimana yang kita tahu, Tolaki adalah etnis yang mendiami sebagian besar wilayah daratan Sulawesi Tenggara. Iwan Konawe berupaya memasuki dunia batin, dunia spiritual, dunia tradisional Tolaki sedalam mungkin. Di sini, sebagai anak kandung kebudayaan yang melahirkannya, penyair pun kadang berada dalam tegangan antara larut dalam arus tradisionalitas dan arus modernitas Tolaki. Aku lirik dalam sajak-sajaknya berada dalam tarikan keluar dan masuk rengkuhan tradisional atau betotan modernitas.

Ritus mendapat tempat tersendiri di dalam sajak Iwan Konawe. Ritus dalam banyak laku dan bentuk dalam dunia Tolaki mengalami penghikmatan dan penafsiran pada sajak-sajak Iwan. Ia dapat bermula dari ritus Lulo, ritus pongasih, ritus mosehe, dan ritus upacara adat menjelma ritus luka, ritus tikai, dan ritus darah yang mengekal dalam ritus sejarah yang terluka dan terlunta. Itulah sebabnya, buku ini memilih “Ritus Konawe” sebagai judul.

Mengumpulkan, membaca, dan menyunting ratusan sajak-sajak Iwan Konawe ibarat mengumpulkan kembali masa silam kebersamaan kami di Teater Sendiri sejak tahun 1998 silam. Di komunitas yang dibina Achmad Zain Stone tersebut, setiap anak-anak Teater Sendiri digembleng tidak hanya dalam soal keaktoran, tetapi juga kepenulisan. Sehingga sampai kini, selain yang berkhidmat di teater, banyak anak-anak Teater Sendiri yang bergiat di kesusastraan. Uniknya, selain berteater dan bersastra, Iwan Konawe juga jatuh cinta pada tata artistik dan tata cahaya. Itulah sebabnya, di sebagian sajak-sajaknya banyak yang mengetengahkan hal-ihwal dunia tata cahaya pertunjukan, sesuatu yang sangat jarang dirambah dunia perpuisian Indonesia.

Selamat kepada kawan Iwan Konawe. Lebih seratus sajak kau serahkan kepada saya, saya memilih 81 untuk masuk ke dalam buku. Sajak-sajakmu akan segera menyapa pembaca yang luas dan tak terkira. Biarkanlah ia menemui nasibnya sendiri.

 

 

Kendari, 26 Agustus 2014

 

Syaifuddin Gani